***********************
Your mail has been scanned by InterScan.
PT. AJ Central Asia Raya
***********-***********



Melejitkan Kecerdasan Emosi


Qana`ah tak sekadar sikap pasif menerima apa adanya, tapi ada proses evaluasi 
pembelajaran. Juga, berpotensi meningkatkan kecerdasan emosi.

Moncong senapan yang sewaktu-waktu bisa memuntahkan timah panas tak sedikit pun 
membuat gentar Mahatma Gandhi. Tokoh pejuang kemerdekaan India itu tetap tenang 
dengan tangan kosong. Modalnya kesabaran, anti kekerasan. Bahkan hingga ia 
meregang nyawa, 30 Januari penghujung era 40-an.

Seseorang memberondongnya dengan peluru senapan. Dada pria yang hanya berbalut 
kain putih itu berlubang. Tubuhnya terkapar. Para pengikutnya panik, tapi 
dengan sergap menolong sang pemimpin yang sudah ambruk. Saat itu amarah mereka 
mungkin mendidih di ujun ubun-ubun. Tapi pesan pria yang bernama asli Mohandas 
Karamchand Gandhi ini meredam mereka. Di ujung usianya, pria berkepala plontos 
itu berpesan, agar orang-orang yang menolongnya mau membebaskan dan mengampuni 
sang penembak gelap.

Gandhi dikenal sebagai pembela hak-hak warga India yang masih berada di bawah 
koloni Inggris. Pria kelahiran 2 Oktober 1869 itu adalah pelopor perjuangan 
swadesi, perjuangan berlandaskan spirit cinta dan kasih.

Prinsip perjuangan tanpa kekerasan yang ia gagas, berhasil meledakkan semangat 
perlawanan rakyat untuk memboikot industri-industri Inggris di India. 
Konsistensi perjuangan yang tanpa pamrih membuat rakyat Sungai Gangga patuh, 
lalu membangkang penjajah.

Gandhi bukanlah seorang sufi. Ia pemeluk Hindu yang punya prinsip anti 
kekerasan, tak mudah mengumbar amarah. Komitmen itu dalam agama Islam layaknya 
sikap seorang sufi. Amarah, rakus, dan takabur, adalah pantangan besar bagi 
seorang sufi. Rasulullah saw pernah berpesan, siapapun yang mempunyai tiga 
karakter berikut, maka Allah akan memelihara dan melindungi dengan rahmat-Nya, 
serta memasukkan dalam kecintaan-Nya. Apa itu? "Jika diberi ia bersyukur, jika 
mampu membalas ia memaafkan, dan jika marah ia bersikap tenang," sabdanya 
seperti diriwayatkan al-Hakim.

Sufi besar dari Naisabur, Iran, Abul Qasim al-Qusyairi (986-l073 M), menyebut 
ciri-ciri orang dalam hadis tersebut sebagai karakter qana`ah. Begitu pula 
dalam firman Allah ayat 13 Surat al-Infithar: sesungguhnya orang yang berbakti 
itu pasti berada dalam surga yang penuh kenikmatan. "Kata kenikmatan yang 
dimaksud adalah qana`ah di dunia," tegasnya dalam al-Risalah al-Qusyairiyah fi 
Ilm al-Tashawwuf, kitab al-Qusyairi dalam ilmu tasawuf. Apakah qana`ah itu, kok 
sampai diumpamakan sebagai al-na`îm, surga penuh kenikmatan.

Menerima apa adanya, itulah definisi umum qana`ah. Biasa juga dipahami sebagai 
sikap pasrah dengan kondisi yang dialami. Pasif, lembek, tak berdaya, dan mudah 
menyerah adalah persepsi kebanyakan orang terhadap karakter sifat ini. 
Pemaknaan qana`ah sejatinya tak sesederhana itu. Seorang sufi biasanya 
mempraktikkan sikap "menerima apa adanya" dengan dua cermin.



Yang Lalu Biarlah Berlalu

Pertama, orang yang qana`ah tak akan menyesali apapun yang telah terjadi. 
"Ambillah tiap kejadian itu untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang 
mempunyai pengertian," firman Tuhan. Ayat kedua dalam surat al-Hasyr inilah 
yang dijadikan patokan para sufi dalam menyikapi peristiwa menyedihkan atau 
sebuah kesalahan yang telah berlalu. Nasi sudah menjadi bubur, yang lalu 
biarlah berlalu. Begitu kata pepatah.

Tidak menyesali bukan berarti tidak peduli. Kejadian yang tak diinginkan yang 
telah terjadi itu tak perlu ditangisi. Tapi, dievaluasi. Mengapa sampai 
terjadi? Apa penyebabnya? Bagaimana agar tak terjadi lagi? Itulah antara lain 
pertanyaan yang harus dipecahkan.

Untuk melatih sikap ini kepada muridnya, seorang guru sekolah dasar membawa 
segelas susu manis ke dalam kelas dan menaruhnya di atas meja.
"Siapa yang doyan susu?" tanya guru itu.
"Saya... saya... saya Pak...," suara itu terdengar sahut menyahut.
"Kalau begitu, yang mau susu ambil sendiri ke depan."

Anak-anak langsung berhamburan maju ke depan berebut segelas susu di meja pak 
guru. Dan... "Pyar...!" gelas itu pecah. Semuanya terdiam, bahkan ada yang 
menangis, gara-gara tak jadi kebagian susu kesukaannya itu.

Kejadian ini sengaja didesain guru tersebut untuk memberikan pelajaran kepada 
anak didiknya. Ia kemudian menjelaskan. Gelas yang pecah dan susu yang tumpah 
ke tanah tidak akan kembali lagi. Semua telah terjadi. Karena itu, tidak perlu 
ditangisi dan disesali. Guru tersebut lalu memancing dengan pertanyaan: mengapa 
susu tadi bisa tumpah? Apakah penyebabnya? Bagaimana agar tidak terjadi lagi?

Setelah itu, anak-anak mengerti dan dapat menyimpulkan. Lain kali kalau mau 
mengambil sesuatu mereka mesti hati-hati dan tak berebut. Harus bersabar dan 
bergiliran. Qana`ah, dalam kasus ini, berarti tak hanya menerima kenyataan 
secara pasif, tapi ada proses evaluasi sebagai pembelajaran yang berharga.



Amarah Membawa Petaka

Kedua, orang yang qana`ah tak terbesit sedikit pun niat balas dendam. Amarah 
timbul karena perasaan 'tidak puas' dan 'tidak terima', lalu berubah menjadi 
dendam membara. Dendam tak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah 
masalah baru. "Siapapun yang mampu menahan amarah, Allah akan menahan siksa 
kepadanya, dan siapapun yang mampu menjaga lisannya, Allah akan menutupi 
kekurangannya," tegas Nabi seperti diriwayatkan Thabrani.

Ihwal ini, orang-orang sufi juga meneladani kisah dalam riwayat al-Turmudzi. 
Ada seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. Ia bertanya, ya Rasulullah 
pelayanku telah berbuat kesalahan kepadaku, apakah boleh saya memukulnya? 
"Maafkanlah dia sehari semalam tujuh puluh kali," jawab Nabi.

Hadis ini menandaskan, amarah itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada 
kontrol. Orang yang tak bisa menahan amarah biasanya lepas kontrol dan berujung 
petaka. Jadi, meredakan amarah dengan memaafkan bukan berarti membiarkan 
kesalahan, tapi berstrategi lebih matang menghindar dari petaka.

Ilmu kedokteran juga memandang, amarah justru membawa petaka bagi kesehatan. 
Gara-gara amarah yang tak terkontrol, tubuh manusia akan kehilangan energi. 
Lesu, gugup, letih, dan kesal adalah efek negatif yang ditimbulkan amarah. 
Peredaran darah berjalan cepat, denyut jantung pun bertambah cepat. Akibatnya 
jantung menjadi lemah.

Selain alasan medis, orang yang bersikap qana`ah lebih hati-hati dalam berfikir 
dan lebih matang dalam berstrategi. Ini tercermin dalam kisah Umar dan Yusuf, 
sebut saja begitu. Mereka dua sahabat karib. Saat usia remaja, Umar jatuh cinta 
pada Aminah. Begitupun Yusuf. Laki-laku itu juga menaruh hati pada dara yang 
jadi bunga desa di kampungnya itu. Lantaran adanya persaingan kedua perjaka ini 
persahabatan mereka agak berjarak. Singkat cerita, sang dara yang jadi rebutan 
lebih memilih Yusuf sebagai teman hidup.

Ini pukulan berat buat Umar. Ia naik pitam. Ingin sekali ia meninju muka yang 
dulu jadi sahabatnya sejak kecil itu. Untung ia mengurungkan niat. Ia tak 
meneruskan hasrat yang menjurus ke arah dendam kesumat itu. Haluan hidupnya 
diputar seratus delapan puluh derajat. Ia rela melepas Aminah.

Umar bertekad memacu dirinya dengan berbagai keahlian dan kemampuan. Ia kembali 
melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hingga akhirnya ia menjadi 
seorang doktor. Tidak hanya itu tentunya, teman hidup pun ia peroleh melebihi 
segala-galanya jika dibanding Aminah.

Dua cermin di atas, tidak dendam dan tidak menyesal, merupakan ciri khas 
seorang sufi yang qana`ah, seperti digambarkan ulama dari Universitas Azhar 
Mesir Muhammad Al-Ghazali Al-Saqa dalam Jaddid Hayâtak, perbaruilah 
kehidupanmu. "Jika tamak adalah kezaliman, maka qana`ah adalah sebuah 
kemuliaan," tegas ulama yang wafat tanggal 9 Maret 1996 itu.



Melatih Kecerdasan Emosi

Qana`ah dalam lelakon sufi menduduki tempat yang begitu mendasar. Saking 
pentingnya Nabi pernah mengatakan, "Qana`ah itu laksana harta yang tak pernah 
sirna," katanya dalam riwayat Thabrani. Salah seorang sufi pernah ditanya, 
Siapakah orang yang paling qana`ah di antara umat manusia? Ia menjawab, yaitu 
orang yang paling berguna bagi umat manusia dan tidak rakus.

Abu Yazid al-Bistami juga pernah di tanya seseorang, "Bagaimana anda bisa 
sampai pada kedudukan sekarang ini? "Aku mengumpulkan harta kekayaan dan 
mengikatnya dengan tali qana`ah. Lalu aku menempatkannya dalam ketepil 
keikhlasan, dan setelah itu aku lontarkan ke samudera yang berlimpah maaf dan 
kasih sayang," jawabnya. Berarti, putus asa dan dendam jelas-jelas sirna dalam 
diri seseorang yang mampu bersikap qana`ah. Bisa juga dikatakan, qana`ah adalah 
menghadapi emosi dengan "kepala dingin".

Jika dikaji lebih dalam, menurut ilmu psikologi, ekspresi seperti marah, sebal, 
frustasi, cemburu, iri hati, sedih, gembira, sayang adalah macam-macam emosi. 
Mengenali dan mampu mengendalikan emosi, adalah salah satu ciri manusia dewasa 
dan berkepribadian matang. Anak-anak belum punya kecakapan ini. Karena itu, 
wajar saja jika ada anak yang menunjukkan emosinya dengan meletup-letup, 
seperti menangis meraung-raung di tengah keramaian jika keinginannya tak 
terpenuhi.

Menurut Peter Salovey dan John Mayer, psikolog dari Universitas Harvard dan New 
Hampshire di AS, kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi itulah yang 
dinamakan kecerdasan emosi atau emotional intelligence (EI).

Jadi, orang dewasa yang tidak dapat mengenali dan mengendalikan emosinya 
sendiri adalah orang-orang dengan EI rendah. Untuk pemetaan lebih jelas, ada 
lima wilayah kecerdasan emosi, yaitu: (1) mengenali emosi sendiri, (2) mampu 
mengelola emosi itu sesuai situasi dan kondisi, (3) bisa memotivasi diri dengan 
emosinya, (4) bisa mengenali emosi orang lain, dan (5) mampu membina hubungan 
baik dengan orang lain.

Emosi adalah sesuatu yang liar dalam diri manusia, karena itu harus 
dikendalikan. Pengendalian emosi dalam konteks ini bukan berarti menekan bahkan 
menghilangkan emosi, tapi bagaimana memenej emosi dengan baik. Caranya yaitu, 
pertama, dengan belajar menghadapi sesuatu dengan pertimbangan matang. Setiap 
kejadian harus dipikirkan plus minusnya. Jangan sekali-kali bertindak dengan 
asal-asalan tanpa landasan yang kokoh.

Kedua, memberikan respons terhadap situasi yang dihadapi dengan pikiran maupun 
emosi yang proporsional. Emosi itu harus sesuai dengan situasi dan diekspesikan 
dengan cara yang dapat diterima lingkungan sosial. Jangan seenaknya sendiri. 
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena kita kurang mau bersusah 
payah menimbang sesuatu dengan "kepala dingin".



Life for Success

Regards,

HENDRY RISJAWAN

- Training & Development Dept.

   PT A.J. Central Asia Raya (CAR)

  HYPERLINK "http://www.car.co.id/"www.car.co.id





Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.1/1140 - Release Date: 11/19/2007 
7:05 PM


Kirim email ke