Halo Pak David!

Senang berkenalan dengan Bapak.

Wow, menarik sekali apa yang bapak ceritakan tentang kisah Bapak.

Hmmm...saya perlu tahu lebih detil untuk bisa membantu nih. But, kalau Bapak
keberatan, bisa japri via email ke saya.

mungkin berhasil, mungkin tidak. Tapi mungkin kan intinya :-) ?

Anyway, dalam NLP kita belajar bahwa "Behind every behavior there always
positive intention". di balik setiap perilaku, seburuk apapun bagi kita,
pasti ada maksud baik yang melatarbelakanginya. Nah, perilaku boleh kita
latih untuk berubah, namun tetap harus ada pengganti untuk maksud baik ini.

Hal lain lagi, kita juga belajar di NLP bahwa "The meaning of the
communication is in the response you get". Kita boleh merasa sudah
mengatakan sesuatu dengan baik, tapi kita baru bisa tahu kalau pesan kita
diterima dengan baik adalah ketika kita sudah mendapatkan respon sesuai
dengan keinginna kita. Caranya? Berlatihlah untuk peka dalam berkomunikasi,
baik terhadap pesan2 verbal maupun non verbal dari orang lain. Baik yang
tersurat maupun tersirat. Dalam NLP ini namanya presuppositions, asumsi
dalam setiap komunikasi. Kapan2 saya tulis mengenai cara praktisnya.

Salam,

Teddi

On Nov 29, 2007 11:25 PM, David Lesmana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Teddi,
>
> Artikelnya bagus loch...
> Saya sangat suka matematika tetapi sangat sulit bicara.
> Sulit bicara adalah kadang maksud yang disampaikan seringkali bisa
> menyakiti seseoang. Gmana yach caranya supaya mengatur kata-kata yang baik.
>
> Dalam hati saya sebenarnya , tidak ada terbenak benci/marah tetapi si
> penerima/lawan bicara merasa kesal apabila berbicara dengan saya...
>
> Thx,
> David
>
> ----- Original Message ----
> From: Teddi Prasetya Yuliawan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> inspirasiindonesia <[EMAIL PROTECTED]>; trainer-indonesia
> <[EMAIL PROTECTED]>; hypnosis-indonesia <
> [EMAIL PROTECTED]>; Penulis Bestseller <
> [EMAIL PROTECTED]>;
> [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [email protected]
> Sent: Thursday, November 29, 2007 10:25:01 AM
> Subject: [Bicara] Article: Think Out of the Box dengan "Cartesian
> Coordinate"
>
>  *Think Out of the Box dengan "Cartesian Coordinate"*
>
> *Read More*? http://i-coachlink. com <http://i-coachlink.com/> dan 
> http://idnlpsociety
> .wordpress. com <http://idnlpsociety.wordpress.com/>
>
> *Join the Community*? indonesia-coach- community- subscribe@ googlegroups.
> com <[EMAIL PROTECTED]>dan idnlpsociety-
> subscribe@ yahoogroups. com <[EMAIL PROTECTED]>
>
> *Upcoming Event*? *NLP Adventure: Self Leadership Mastery, 15-16 Desember
> 2007 *
>
>
> Saya bukanlah seorang penggemar matematika. Setidaknya, demikian keyakinan
> saya terhadap subyek yang satu ini sebelum saya mempelajari NLP.
>
> Wah, apakah karena saya telah mengubah keyakinan saya dengan NLP?
>
> He..he..sayangnya, tidak seheroik itu. Saya hanya menemukan sebuah
> pelajaran NLP yang menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan saya kepada
> guru matematika SMA saya beberapa tahun lalu. Sedikit bernostalgia, saya
> sempat terkena omelan karena bertanya, "Pak, apa sih gunanya kita
> mempelajari logika matematika?"
>
> Dan, menemukan bahwa pengalaman itu masih teringat dengan detil sampai
> sekarang, tentu *unconscious* saya menganggap itu adalah hal yang penting
> untuk diingat dan dimaknai.
>
> Demikianlah, tahun pun berlalu. Saya mendengar bahwa subyek yang satu itu
> konon bermanfaat bagi mereka yang mempelejari ilmu komputer, terutama yang
> berkaitan dengan desain perangkat lunak. Alhasil, saya yang tidak terlalu
> berminat dengan dunia perkomputeran (kecuali sebatas yang saya butuhkan) pun
> kembali tidak tertarik untuk mengetahui sampai di mana manfaatnya.
>
> OK, cukup nostalgianya. Ya, NLP mengajarkan saya tentang aplikasi
> "Cartesian Coordinate" dalam komunikasi. Sebelum melangkah lebih lanjut,
> saya ingin mengingatkan kepada Anda semua: ilmu ini SANGAT POWERFULL! Jadi,
> berhati-hatilah jika akan menggunakannya. Tidak saja ia akan membuat Anda
> bingung, tapi juga mengobok-obok keyakinan lama yang bertahun-tahun
> bersarang di dalam diri Anda.
>
> Wuih, tampak menyeramkan? Tenang, tidak segitunya kok J . Lihat saja
> sendiri.
>
> Omong-omong, Anda ingat kan Cartesian Coordinate (CC) ini? Itu loh, yang
> ada garis X dan Y membentuk sumbu. Memang, ada yang sampai Z, tapi kita
> tidak gunakan itu kali ini. Nah, jika Anda menggambar kedua garis tersebut,
> Anda tentu akan mendapati gambar seperti di bawah ini.
>
> Bagian yang paling kanan atas, biasa disebut sebagai kuadran I, dengan
> nilai positif semuanya (+,+). Bergeser ke kiri, Anda akan menemui kuadran
> II, dengan nilai positif dan negatif (-,+).Ke bawah, Anda akan melihat
> kuadran III, dengan nilai negatif dan positif (-,-). Terakhir, ke kanan,
> berujung pada kuadran IV, dengan nilai (+,-).
>
> Cukup pusing? Eit, jangan buru-buru. Kita belum masuk ke bagian yang
> mengasyikkan.
>
> Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan CC ke dalam komunikasi?
>
> Mari kita ambil contoh kalimat berikut:
>
> *          **Saya merasa sulit berkomunikasi dengan rekan kerja saya*.
>
> Jika kita pecah kalimat tersebut menjadi 2 premis yang terpisah, maka kita
> bisa melihatnya seperti ini:
>
>           *Saya merasa sulit berkomunikasi*
>
> dan
>
> *dengan rekan kerja saya*
>
> Sekarang, kita anggap keduanya masuk ke dalam kuadran I. Nah, bagaimana
> kita bisa *think out of the box* dengan pernyataan seperti ini? Mudah,
> cukup mainkan ia dengan cara memindahkannya ke dalam kuadran-kuadran yang
> lain.
>
> Contoh, kita mainkan di kuadran II. Karena rumus di kuadran II adalah
> (-,+), maka kita tetap mempertahankan premis pertama dan menegasikan premis
> kedua.
>
>           *Saya tidak merasa sulit berkomunikasi, dengan rekan kerja saya
> *
>
> Sedikit modifikasi, kita bisa membantu rekan yang mengeluarkan pernyataan
> ini dengan pertanyaan, "Oh ya? Kapan kamu pernah merasa tidak kesulitan
> berkomunikasi dengan rekan kerjamu?"
>
> Dan, BOOM! Ia yang sedang menikmati *state* masalah di 'kotak'-nya pun
> akan mulai 'melirik' ke luar kotak dan bertanya-tanya, "Mmmm...kapan ya aku
> pernah merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan rekan kerjaku?"
>
> Belum puas? Mainkan lagi di kuadran III. Ingat rumusnya? Yak, (-,-). Maka
> ia menjadi:
>
>           *Saya tidak merasa sulit berkomunikasi, tidak dengan rekan kerja
> saya*
>
> Bagaimana modifikasinya? Tepat! Bisa seperti ini, "Hmm...coba kamu
> ingat-ingat pengalamanmu berkomunikasi dengan orang lain selain rekan
> kerjamu. Bagaimana menurutmu kamu bisa begitu *smooth* berkomunikasi
> dengan mereka?"
>
> Dan, Dhuar!!! Ia pun melirik ke 'kotak' yang lain sembari bertanya-tanya,
> "Eh, sama si Anto sih aku selalu bisa *smooth*. Gimana caranya ya?"
>
> Masih ingin bermain? OK, kita pindahkan ia lagi ke kuadran IV sekarang.
> Dengan rumus (+,-) maka kalimatnya menjadi:
>
>           *Saya merasa sulit berkomunikasi, tidak dengan rekan kerja saya*
>
> Agar tidak membingungkan, kita lakukan modifikasi sehingga menjadi, "Oh,
> apakah kamu juga merasa sulit berkomunikasi dengan *selain *rekan kerja
> kamu?" Dan ia pun akan bertanya-tanya, "Eh, iya ya. Sama orang lain, apakah
> aku punya kesulitan komunikasi juga?"
>
> Aha! Asyik, bukan? OK, kita ambil satu contoh lagi.
>
>           *Saya sering merasa gugup ketika ingin melakukan presentasi*
>
> Kita bisa mainkan, modifikasi, dan jadilah:
>
> *Kapan kamu pernah tidak gugup ketika melakukan presentasi?*
>
> *Coba kamu ingat-ingat pengalamanmu melakukan sesuatu dengan sangat
> percaya diri. Apa menurutmu yang bisa membuatmu demikian?*
>
> *Apakah kamu juga merasa gugup ketika melakukan hal lain selain
> presentasi?*
>
> Mudah, kan? *Easy*, *but really really powerfull*!
>
> Saya banyak menggunakan ini jika sedang berada dalam mode seorang coach.
> Berbeda dengan terapi, dalam coaching kita tidak pernah memberikan saran
> apapun. Seorang Coach hanya boleh bertanya dan memfasilitasi klien sampai ia
> bisa menemukan solusinya sendiri.
>
> Loh, mengapa?
>
> Terapi menempatkan seseorang dari kondisi minus ke titik nol, sedangkan
> coaching menempatkannya dari titik nol ke titik plus mana pun yang ia
> inginkan. Dari titik minus ke nol, klien pasti sudah memiliki motivasi yang
> tinggi untuk berubah karena mereka telah merasakan kepedihan berada dalam
> kondisi tersebut. Sementara untuk mencapai titik plus yang diinginkan,
> motivasi dan komitmen serupa bisa jadi belum terlalu besar disebabkan oleh
> kondisi nyaman yang dialami. Inilah yang menjadi dasar seorang Coach harus
> menggelitik klien dengan berbagai pertanyaan sehingga ia terinspirasi dan
> terdorong menemukan pencerahan sendiri.
>
> *So* ,  sudah siap mencoba SEKARANG?
>
>
> --
> Salam Street Smart NLP!
>
> Teddi Prasetya Yuliawan
> Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety .wordpress. 
> com<http://idnlpsociety.wordpress.com/>
> >
> Indonesia Coach Community < http://i-coachlink. com<http://i-coachlink.com/>
> )
>
>
> ------------------------------
> Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try
> it 
> now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51731/*http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ%0A>
> 
>



-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke