Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Melapangkan jalan bagi lawan kita. Tidak terdengar seperti gagasan 
yang  cerdas, bukan?  Orang yang mempunyai kecanggihan berpikir 
pasti tahu bahwa melapangkan jalan bagi lawan-lawan kita hanya akan 
menyebabkan kita kalah dalam persaingan. Kalaupun kita melakukannya, 
maka harus dipastikan terlebih dahulu bahwa jalan yang kita 
lapangkan untuk lawan-lawan kita itu menuju ke sebuah jurang 
kehancuran. Jika jalan itu menuju kepada kejayaan, mengapa mesti 
dilapangkan untuk sang lawan? Logika berpikir kita seharusnya justru 
mengatakan untuk menjegal setiap langkah lawan dijalan itu. Kita 
harus memastikan bahwa jalan menuju kejayaan semacam itu hanya boleh 
dilewati oleh kita saja. 

Melapangkan jalan bagi lawan kita. Agak terdengar seperti sebuah 
perumpamaan. Mungkin memang itu tidak lebih dari sekedar kiasan 
belaka. Bisa iya. Bisa tidak. Secara harfiah bisa berarti 
melapangkan jalan dalam arti sebenarnya. Kebalikannya, menjegal 
jalan lawan dalam arti sesungguhnya. Hari senin yang lalu, saya 
mendapatkan contoh nyata tentang hal ini. Kantor tempat saya bekerja 
terletak didaerah Semanggi. Daerah three in one dong, ya kan. Setiap 
mobil yang berpenumpang kurang dari 3 orang, tidak boleh melewati 
jalur utama dikawasan itu pada jam 07.00 – 10.00 pagi, dan jam 
16.30 -19.00 sore. Untuk masuk atau keluar gedung (Y) pada jam-jam 
seperti itu, kami harus memutar, dan melintas didepan gedung lain 
(Z) yang terletak dalam satu komplek. Oleh karena itu, sistem 
parkirpun dikelola dalam sistem yang sama.

Senin itu, tidak seperti biasanya. Ketika saya melintas didepan 
gedung Z, saya dicegat Satpam. Dengan heran saya bertanya: "Ada apa 
Mas?" Dan dengan ragu-ragu Satpam itu berkata: "Maaf Pak, Bapak 
sudah tidak boleh melintasi jalan ini lagi...." Dari caranya 
berbicara, saya tahu; hati nurani Pak Satpam itu sedang berperang 
sendirian. Tapi, dia kan hanya menjalankan tugas. Jadi saya dapat 
memahaminya. Saya tidak ingin bertengkar, toh bukan hanya saya yang 
diperlakukan seperti itu. Semua pengendara yang melintas didepan 
gedung Z itu juga diperlakukan sama.

Ketika saya memutar, saya menyadari, bahwa sepanjang jalur yang 
biasa kami lewati, ternyata sudah dipasang tiang besi yang disemen 
ke lantai. Wuah, saya pikir; ada apa nih? Saya tidak mendapatkan 
jawaban apapun hingga pada sore harinya, management gedung Y 
mengirim surat resmi kepada seluruh penghuni. Intinya meminta maaf 
bahwa hari ini ada penutupan akses yang biasa kami gunakan. Menurut 
surat itu, penutupan dilakukan managment gedung Z setelah selama 
seminggu sebelumnya negosiasi tidak membuahkan kesepakatan positif. 
Deg! Hati saya berdegup. Ada perselisihan antar management gedung, 
rupanya. Dan perselisihan itu sampai menutup jalan masuk bagi orang-
orang yang perlu lewat.

Dipagi hari, masih ada alternatif jalan memutar untuk masuk ke 
gedung Y. tetapi, disore hari, sama sekali tidak ada akses, kecuali 
berhadapan langsung dengan polisi yang menjaga ketat jalur three in 
one. Karena jalur keluar satu-satunya melewati bagian belakang 
gedung Z sama sekali tidak bisa dilewati mobil. Alhasil, management 
gedung Y membongkar pagar hidup meski mesti mengorbankan beberapa 
pohon menghijau ditumbangkan. Lalu, melalui jalur curam, sempit lagi 
miring itulah orang-orang bisa melintas. Jika tidak terampil, 
pengendara bisa tergelincir. Apalagi mobil-mobil besar seperti truk 
para pemasok barang yang benar-benar harus menanggung resiko 
terbesar.

Begitulah gambaran harfiah jegal menjegal jalan lawan berlangsung. 
Gedung-gedung perkantoran paling mahal sekalipun tidak luput dari 
kejadian semacam itu. Biarpun dihuni oleh perusahaan-perusahaan 
besar kelas dunia. Bahkan beberapa diantaranya listed dalam Fortune 
500. Ada beberapa konsulat negara-negara tetangga juga disana. Hal 
semacam itu bisa terjadi juga. 

Mari sekarang kita lihat makna kiasannya. Dalam bisnis, persaingan 
tidak jarang diwarnai oleh saling jegal antar kompetitor. Dan 
rupanya, masih banyak pelaku bisnis yang berpikir bahwa cara terbaik 
untuk memenangkan persaingan adalah dengan mengalahkan lawan-lawan 
bisnis mereka. Logika berpikir seperti ini, sekilas ada benarnya 
juga. Tetapi, bagi orang-orang tercerahkan seperti Professor Chan 
Kim; kemenangan tidak selalu bisa diraih melalui pertarungan 
berdarah-darah seperti itu. Bahkan, kemenangan terbesar sebenarnya 
tidak terletak pada pertarungan saling mengalahkan, melainkan saling 
menumbuhkan satu sama lain. Melalui prinsip saling menjegal untuk 
mengalahkan, semua orang hanya akan memperebutkan kue kecil meski  
mesti berlumuran darah. Dan dengan darah itu, lautan pun bisa 
berubah menjadi merah. Menjadi the red ocean.

Sedangkan, dengan prinsip saling melapangkan jalan untuk menumbuhkan 
satu sama lain; kemenangan menjadi milik semua orang. Untuk menang, 
kita tidak harus menumpahkan darah. Sehingga setiap orang bisa sama-
sama untung pula. Market berhasil dikembangkan, dan total bisnis 
menjadi semakin besar. Lautan, tidak akan menjadi keruh karena 
pertempuran. Airnya akan tetap terlihat biru, sebagai tanda 
tersimpannya potensi yang nyaris tak berbatas. Karena setiap orang 
yang bersedia melapangkan jalan bagi lawan-lawannya, sesungguhnya 
tengah berenang dalam sebuah dunia luas yang disebut blue ocean. Dan 
bahtera tempatnya mengarungi samudera biru itu bernama the blue 
ocean strategy. Begitulah yang diajarkan oleh Profesor Kim kepada 
kita. 

Dalam hubungan antar manusia, kita juga sering melihat orang yang 
saling jegal. Entah karena persaingan memperebutkan calon pasangan 
hidup. Atau perebutan kursi kekuasaan. Atau sekedar ingin 
mendapatkan pujian dari atasan; orang bisa menjegal orang lain. 
Fanatisme terhadap seseorang atau kelompok tertentu, bisa juga 
menjadi penyebab lainnya. Percayalah, kita tidak akan pernah 
kehabisan alasan untuk menjegal lawan. Tetapi, apakah kita mesti 
selalu demikian? 

Memberi jalan kepada lawan. Mengapa tidak? Jika setiap orang 
berpikiran demikian, maka didunia ini tidak akan pernah ada orang 
yang terjegal, lalu terjungkal. Setiap orang, justru akan 
mendapatkan jalan sesuai haknya masing-masing. Bahkan, ketika setiap 
orang saling mempersilakan lawannya untuk melintas dijalan miliknya; 
permusuhan berubah menjadi persaudaraan yang menghasilkan 
kesejahteraan bersama.

Ada yang bilang; jika kita berdada lapang, orang lain bertindak 
curang! Mungkin bisa demikian. Tetapi, jika dengan lapang dada itu 
kita mencapai kemuliaan, hingga Tuhan berkenan menyukai jalan yang 
kita tempuh; mengapa kita harus takut dengan kecurangan orang? 
Karena, konon Tuhan pernah berfirman bahwa sesungguhnya orang-orang 
yang berbuat curang, tidak mencurangi siapapun kecuali dirinya 
sendiri. 

Kita tidak ingin mencurangi diri sendiri, bukan?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Lapangkan jalan bagi lawanmu, maka Tuhan melapangkan jalanmu menuju 
keabadian cinta dan kasih-sayangnya.....

<a href="http://www.feedburner.com/fb/a/emailverifySubmit?
feedId=886379&amp;loc=en_US"> Daftar Untuk Update Artikel Terbaru 
Dari Dadang Kadarusman Melalui Email </a>


Kirim email ke