*Leadership Modeling*

*Read More*? Portal NLP <http://portalnlp.com> dan AntZ for
LEADERSHIP<http://antzforlead.com>

*Upcoming Event*? *Self Leadership Mastery*, *15-16 Desember 2007*,
with Indonesia
NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>


*"Anda adalah seorang pemimpin sejati jika setiap orang tidak memerlukan
kehadiran Anda untuk membuat mereka bergerak"*

Tiba-tiba saya teringat seorang *general manager* di tempat saya bekerja
setahun yang lalu. Awal tahun 2006, ia yang sebelumnya banyak berkutat
dengan pekerjaan di ranah bisnis tiba-tiba didaulat untuk menggawangi *human
resource* (HR). Tidak ada yang terkejut dengan penunjukan ini, karena ia toh
memang dikenal sebagai seorang pribadi yang humanis.

Secara kasat mata, saya tidak melihat adanya hal yang teramat baru yang ia
lakukan terhadap tim kami. Pun, tidak ada kebijakan yang terlalu
revolusioner layaknya yang pernah ia lakukan dulu.

Dan, tahun 2006 pun berakhir. Praktis, ia hanya setahun memimpin tim kami,
untuk kemudian menjadi presiden direktur di salah satu anak perusahaan grup
tempat perusahaan kami bernaung. Tim kami pun kembali dipimpin oleh GM yang
lama.

Namun, sesuatu yang aneh baru saya rasakan di tahun 2007 ini. Tidak ada lagi
seseorang yang ketika ada sebuah proyek dadakan mengatakan, "Hey, kita dapat
*challenge* nih!" sambil tersenyum senang. Tidak ada lagi suara yang masuk
ke ruangan ketika kami lembur sembari menepuk punggung dan bercengkrama
membicarakan impian masa depan. Tidak ada lagi orang yang begitu bersegera
bertindak ketika ada karyawan—apapun levelnya—yang keluarganya meninggal.
Tidak ada lagi orang yang begitu sering menyebutkan judul buku yang sudah
ditulisnya, "Jangan cuma bermimpi, mulai saja!".

Hey! Saya memang amat merasa kehilangan semua itu. Tapi mengapa ingatan
tentang kata-kata, perilaku, dan perasaan bangga bersamanya tidak pernah
hilang? Kami sudah sangat jarang bersua, namun begitu banyak memori tidak
mau pergi dari ingatan saya. Ketika saya merasa bosan dengan beberapa tugas,
seolah ada sebuah suara yang langsung berkata di telinga saya, "*Track
record* adalah metode pemasaran yang terbaik", persis seperti yang pernah ia
katakan.

Dan, ketika saya bercerita kepada beberapa rekan kerja saya, ternyata saya
tidak sendiri! Mereka pun merasakan hal yang sama, meski dengan pengalaman
yang berbeda. Wow!

Sejurus kemudian sebuah pertanyaan pun muncul dalam benak saya, "Apa yang
membuat seorang pemimpin begitu merasuk dalam hati para pengikutnya? Apa
persisnya yang mereka lakukan sehingga tanpa kehadiran fisik setiap orang
tetap dapat merasakan dukungan yang ia berikan?"

Ingatan saya pun melambung kepada berbagai kisah para pemimpin dunia yang
pernah saya pelajari. Adakah Nabi Muhammad hadir secara fisik di hadapan
umat Muslim sekarang? Jika tidak, mengapa mereka begitu bersemangat
mengikuti ajarannya sampai saat ini? Masihkah Mahatma Gandhi bisa dilihat
dan ditemui oleh rakyat India? Tapi mengapa ajarannya menjadi acuan hidup
mereka yang bahkan tidak pernah mengenalnya?

Sebuah suara sayup-sayup pun menyelusup dalam hati saya: seorang pemimpin
tidak berada di hadapan pengikutnya, ia ada di dalam hati mereka.

Penasaran dengan hal ini, saya pun mulai bereksperimen dengan menggunakan
NLP. Yah, karena ilmu NLP yang masih cetek, jadilah saya memakai beberapa *
tools* yang sederhana. Setelah berpikir beberapa saat, jadilah saya putuskan
untuk menggunakan Nabi Muhammad, idola terbesar saya. Saya bukan seorang
yang sangat dalam ilmu agamanya, namun sosok Rasulullah ini selalu membuat *
state* saya berubah positif setiap saya mengingat kisah-kisah yang pernah
saya dengar tentangnya.

Saya pun memejamkan mata. Hening…fokus ke dalam…dan perlahan-lahan memanggil
ingatan saya tentang Nabi Muhammad. Karena tidak pernah sekalipun saya
bertemu dengan Rasul, maka saya memulainya dengan mendengarkan kembali salah
satu hadits (kalimat ajaran yang dirumuskan oleh Rasul, bukan wahyu langsung
dari Tuhan) favorit saya, "Shalatlah kamu, sebagaimana kamu melihatku
shalat." Kalimat ini istimewa bagi saya, karena ia NLP banget gitu loh.
Bagaimana tidak, ilmu modeling dirangkum dalam 1 kalimat sederhana.

Dan, petualangan saya pun dimulai. Saya tidak bisa melihat sosok sang Nabi
secara utuh. Beberapa orang mengaku pernah bisa, namun barangkali belum
waktunya untuk saya. Tapi, seperti apapun sosoknya, energi yang saya rasakan
begitu besar, tapi hangat, tepat seperti yang saya harapkan. Tampak sesosok
yang bening, jernih, dikelilingi dengan lingkaran energi berwarna putih.

Dari sejarah, saya tahu ia hidup jauh sebelum saya lahir. Tapi anehnya, saya
bisa melihat ia begitu dekat. Gambar itu berukuran sedang, tepat di hadapan
saya, selayaknya sedang berhadapan dengan saya. Ketika saya mengajukan
tangan untuk memegang tangannya, ada sebuah perasaan yang menyejukkan
mendekati tangan kanan saya, tidak menyentuh secara langsung, tapi
mengalirkan kesejukan itu masuk ke dalam tangan saya, terus hingga seluruh
tubuh.

Ketika saya ulangi kembali hadits tadi, saya bisa mendengar suara itu begitu
jelas, seolah dikatakan langsung kepada saya. Kualitas suaranya pas, dalam,
dan penuh pancaran vibrasi yang merasuk sampai ke dalam relung hati.

Wuih! Ini rupanya yang dimaksud dengan 'pemimpin ada di dalam hati para
pengikutnya'. Mmm…meskipun tidak sepenuhnya tepat, sih, karena pemimpin
tidak saja ada di dalam hati, melainkan juga di dalam pikiran dan tubuh
(melalui perilaku yang muncul karena meneladani mereka).

Saya pun penasaran: bagaimana ya seorang pemimpin bisa melakukan hal yang
demikian?

AHA! Mengapa tidak gunakan cara yang sama? Bukankah tubuh dan pikiran adalah
satu kesatuan sistem yang saling mempengaruhi. Jika saya set 'peta' saya
untuk menjadi seorang pemimpin yang saya inginkan, kemudian mengambil
tindakan yang kongruen dengannya, tidakkah saya bisa menjadi pemimpin
seperti itu? *Well*, tentu *fly watch* tetap penting, namun setidaknya saya
terbang dengan cara yang benar alih-alih dengan cara yang kurang tepat.

OK, saya pun mencobanya. Agar lebih terasa hasilnya, saya fokuskan
*outcome*saya ketika melakukan
*modeling*. Saya amat tertarik dengan keahlian Nabi Muhammad untuk merangkai
kalimat-kalimat singkat yang sarat makna. Konon, menurut Qurasih Shihab,
ilmu ini disebut sebagai Jawami Al Kalim. Dan, hasilnya? LUAR BIASA!
Perlahan-lahan, saya merasakan kemampuan saya merangkai kalimat-kalimat
serupa meningkat. Dengan kemampuan ini, saya dapat mencapai salah satu *
outcome* lain saya, yaitu menyampaikan ide-ide proyek saya kepada tim saya
di kantor dengan resistensi yang minimal.

Mau tahu caranya? Begini…

   1. Duduklah dengan posisi yang nyaman. Carilah tempat yang tenang,
   sehingga Anda dapat berkonsentrasi cukup dalam.
   2. Pejamkan mata, dan nikmati saat Anda duduk dengan mulai merasakan
   keberadaan Anda di ruangan dan kursi yang Anda duduki.
   3. Sembari Anda merasakan itu semua, Anda dapat mulai membayangkan
   sedang duduk di sebuah bioskop dengan layar yang besar di hadapan Anda.
   4. Dan, mulailah untuk memutar film tentang seseorang yang Anda ingin
   model. Putarlah tepat pada adegan ia sedang melakukan suatu hal spesifik
   yang Anda ingin model.
   5. Perindah film tersebut dengan membuat gambarnya lebih riil, lebih
   hidup. Tambahkan warna, efek 3 dimensi, dll. Tambahkan suara-suara seperti
   musik dan kata-kata yang terdengar nyata bagi Anda. Jika adegan sudah
   mencapai akhir, putarlah lagi, dan tambahkan kembali hal-hal yang bisa
   membuat film tersebut lebih hidup. Buat film tersebut begitu nyata,
   sedemikian sehingga Anda dapat merasakan vibrasi yang begitu kuat dari
   bangku penonton.
   6. Sekarang, melayanglah ke dalam fil tersebut. Saya tidak tahu persis
   bagaimana caranya, tapi masuklah ke dalam tokoh utama dalam film tersebut.
   Jadilah ia di dalam film tersebut. Anda melihat dengan mata kepala Anda
   sendiri, mendengar dengan telinga Anda sendiri, dan merasakan sedang
   melakukan hal tersebut dengan tubuh Anda sendiri. Selami dari awal sampai
   akhir…dan rasakan… …seeeepeeeenuuuuhnyaaaa…….
   7. Sekarang, keluarlah dari film, dan kembali lah ke bangku penonton.
   Bagaimana rasanya? Anda puas? Jika belum, Anda bisa mengeditnya sampai ia
   sesuai dengan keinginan Anda. Jika sudah, ulangi kembali langkah 6, dan
   ketika Anda merasakan seeeepeeeenuuuuhnyaaaa… tingkatkan intensitas perasaan
   Anda. Pada saat ia sudah sampai puncak, tarik lah nafas yang dalam, dan
   pasang sebuah *anchor *(pemicu) pada tempat tertentu yang Anda
   inginkan. *Anchor *ini dapat Anda picu ketika Anda ingin memunculkan
   perilaku yang baru saja Anda model.
   8. Kembalilah ke bangku penonton, dan sekarang, buatlah sebuah film
   Anda sedang berada dalam suatu situasi di masa depan yang membutuhkan
   perilaku baru Anda ini. Lihatlah Anda melakukan perilaku tersebut, dengarkan
   apa yang akan Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasakan demi melihat
   hal tersebut. Anda puas? Jika belum, berarti ada yang belum pas dari
   perilaku yang Anda model. Anda bisa mengulangi kembali langkah 4-7. Jika
   sudah, bukalah mata dan kembali lah ke tempat Anda duduk sekarang.

 Mudah, bukan? Namun, sekali lagi, jam terbang Anda belajar dan berlatih
menjadi pemimpin adalah kunci utama dari penguasaan Anda terhadap perilaku
yang Anda model. Tidak ada yang berubah sampai Anda menjalankan apa yang
Anda pikirkan.
*So*, sampai jumpa di artikel berikutnya!

-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke