*Ali**gned Leader* *Read More*? http://antzforlead.com dan http://portalnlp.com
*Upcoming Event*? *Reading People with NLP <http://antzforlead.com>, 26-27 Januari 2008* Seorang manajer harus mendatangi anak buahnya setiap hari untuk mengingatkan penyelesaian tugas yang rutin dan sudah terstandardisasi. Ia merasa tidak punya cara lain untuk membuat anak buahnya dapat menjalankan pekerjaan sesuai yang ia inginkan. Jadilah ia harus meluangkan waktu 1 jam setiap harinya hanya untuk pekerjaan cek mengecek ini. Sang manajer berpendapat bahwa ia harus menjaga kinerja tim yang ia kelola, sehingga setiap target dapat tercapai pada waktunya dan tidak merugikan perusahaan. Sisi lain, si anak buah pun gerah melihat perilaku manajernya. Ia merasa diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Tidak lewat satu hari tanpa ia harus mendengar pertanyaan, "Sampai mana progresnya?", dengan nada yang menurutnya kurang bersahabat. Kualitas baginya jauh lebih penting daripada * leadtime*. Ia tidak rela menyelesaikan sebuah pekerjaan sesuai *deadline*jika tidak menunjukkan kualitas yang ia inginkan. *Well*, tidakkah keduanya memiliki maksud yang baik? Ya, bukan? Perilaku sang manajer barangkali kurang pas sebagai seorang pemimpin yang bijak, namun maksudnya melakukan hal itu adalah yang sangat benar. Sementara itu, perilaku si anak buah bisa jadi juga tidak tepat bagi kinerja perusahaan secara keseluruhan, tapi niatnya menyelesaikan pekerjaan dengan cara itu juga amat benar. Lalu, yang mana kah yang benar jika kondisi seperti ini terjadi di perusahaan Anda? "Selalu ada maksud baik di balik setiap perilaku", demikian ujar salah satu *NLP Presuppotitions*. Ditambah lagi, "Manusia itu lebih dari sekedar perilakunya", maka berarti selalu ada kemungkinan bagi setiap orang untuk melakukan perubahan dalam dirinya. Nah, apa hubungannya dengan cerita tadi? Begini. Saya termasuk orang yang kurang setuju jika ada yang serta merta mengatakan bahwa, "Segala sesuatu itu tergantung niatnya". Ya, niat memang penting, DAN niat yang tereksekusi menjadi perilaku yang sesuai jauh lebih penting. Menilik kembali cerita di atas, niat sang manajer dan si anak buah tentu amat baik, tapi apakah perilaku mereka pas selaras dengan niat tersebut? Di titik ini, saya pun bertanya-tanya, "Bagaimana agar perilaku saya sebagai seorang pemimpin memang benar-benar mencerminkan niat saya yang sesungguhnya?" Menggunakan istilah yang sedikit teknis, NLP menyebut hal seperti ini dengan *kongruen*. Tidak bisa tidak, seorang pemimpin yang efektif adalah mereka yang selaras. *Walk the talk*. Sangat teruji integritasnya, karena apa yang ia niat dan katakan, itulah pula yang ia jalankan. Meminjam istilah yang banyak digunakan dalam *law of attraction*, orang yang kongruen memiliki *vibrasi energi* yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. Adakah yang istimewa dari kata-kata seorang pemimpin besar seperti Mandela, misalnya? Ya dan tidak. Namun membayangkan sosoknya, mendengar kata-kata tersebut diucapkan darinya sendiri, muncul perasaan yang amat berbeda dibandingkan jika kata-kata itu diucapkan oleh orang lain. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi pemimpin yang seperti ini? Salah satu teknik dalam NLP yang menurut saya pas untuk menjawab pertanyaan ini adalah *Neurological Level*. Dikembangkan pertama kali oleh *Robert Dilts*, teknik ini menjadi salah satu teknik yang mengutamakan pendekatan sistemik untuk memahami manusia. Ia disusun untuk menjawab kebutuhan para praktisi NLP yang ingin memahami bagaimana menggunakan NLP secara sistemik dan tidak terpisah antara satu teknik dengan teknik lainnya. Neurological Level mengajak kita untuk memahami proses berpikir dan merasa manusia menjadi beberapa level, yaitu: - *Environment* - *Behavior* - *Capability* - *Belief/Values* - *Identity, *dan* * - *Spiritual* Untuk lebih mudah memahami, perhatikan contoh di bawah ini. Ketika membaca, *tekankan* pada kata yang *bercetak tebal*, dan *rasakan* bedanya ketika Anda membacanya dengan penekanan tersebut. Saya tidak bisa melakukan hal seperti itu *di sini* Saya tidak bisa melakukan *hal seperti itu* di sini Saya tidak bisa *melakukan* hal seperti itu di sini Saya *tidak bisa* melakukan hal seperti itu di sini *Saya* tidak bisa melakukan hal seperti itu di sini Anda bisa merasakan perbedaannya bukan? Dari sisi Neurological Level, kalimat-kalimat tersebut mengindikasikan perhatian kita terhadap level yang berbeda. Saya tidak bisa melakukan hal seperti itu *di sini *(*Environment*) Saya tidak bisa melakukan *hal seperti itu* di sini (*Behavior*) Saya tidak bisa *melakukan* hal seperti itu di sini (*Capability*) Saya *tidak bisa* melakukan hal seperti itu di sini (*Belief/Value*) *Saya* tidak bisa melakukan hal seperti itu di sini (*Identity*) Mencermati penekanan yang terdapat dalam kalimat yang kita ucapkan, kita bisa menandai pada level mana kah kita sedang berbicara, dan karenanya memudahkan untuk melakukan identifikasi masalah. Contoh, jika Anda mengatakan, "Sebenarnya saya bukanlah seseorang yang detil dalam mengerjakan pekeraan", pada level mana kah masalah Anda berada? Aha, tepat! *Identitas*. Maka tidak akan banyak berguna jika Anda mengembangkan diri untuk mengatasi kekurangmampuan Anda dalam hal detil melalui berbagai pelatihan atau penugasan. Anda membutuhkan sebuah perubahan yang lebih mendalam sehingga tidak muncul pertentangan antara keterampilan detil Anda dengan identitas yang Anda miliki. Lain lagi ceritanya jika Anda mengatakan, "Saya merasa tidak terlalu baik dalam menyusun sebuah konsep global". Dalam kondisi demikian, Anda memang membutuhkan pengembangan yang bersifat peningkatan *perilaku*. Anda barangkali sudah memiliki pengetahuan yang cukup, namun membutuhkan peluang lebih banyak agar pengetahuan tersebut mewujud menjadi keterampilan. Agar lebih mudah lagi untuk diterapkan, saya akan berikan kata kunci untuk melakukan eksplorasi Neurological Level Anda. Ini dia: - Environment. Informasi tambahan mengenai lingkungan apa yang saya butuhkan? - Behavior. Saya punya informasi yang cukup, tapi bagaimana saya bisa menggunakannya? - Capability. Saya tahu apa yang harus saya lakukan, tapi bagaimana agar saya bisa menggunakannya dengan baik secara konsisten? - Belief/Values. Saya bisa melakukannya, tapi maukah saya melakukannya? Apakah bagi saya itu penting? - Identity. Apakah hal itu bermakna bagi saya? Sesuaikah dengan identitas yang saya miliki? - Spiritual. Apakah hal itu sesuai dengan keyakinan saya yang paling dalam? Dengan agama yang saya anut? Dengan misi saya hidup di dunia? Nah, jika sudah selesai melakukan identifikasi di tiap level, Anda bisa menjalankan latihan berikut untuk menyelaraskan setiap levelnya. Amat baik jika Anda memiliki seorang partner untuk menjadi pembimbing selama Anda menjalaninya. *Neurological Level Alignment* Mulailah dengan berdiri di sebuah tempat yang memungkinkan Anda untuk melangkah 5 langkah ke belakang. Pikirkan sebuah situasi yang Anda ingin mempunyai lebih banyak pilihan, yang Anda memiliki keraguan bahwa Anda sudah menggunakan semua sumber daya yang Anda miliki, yang Anda merasa bahwa Anda bukanlah Anda yang sebenarnya. Anda juga bisa menggunakan latihan ini untuk lebih memastikan bahwa Anda sudah menyelaraskan semua sumber daya yang Anda miliki. Mulailah dengan lingkungan di tempat Anda merasakan munculnya masalah tersebut. Deskripsikan lingkungan tempat Anda berada. Di manakah Anda? Siapa saja yang ada di sekeliling Anda? Apa saja hal yang bisa tandai di tempat ini? Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasa di tempat tersebut. Ambil satu langkah ke belakang. Anda berada pada level perilaku. Apa saja yang sedang Anda lakukan? Pikirkan Anda sedang bergerak, mengambil tindakan, dan berpikir. Pikirkan bagaimana perilaku Anda menyesuaikan diri dengan lingkungan Anda. Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasa demi melakukan hal-hal tersebut. Ambil satu langkah lagi ke belakang, yang membawa Anda pada level kemampuan. Pikirkan berbagai keterampilan yang Anda miliki. Apa saja kah keterampilan itu? Bagaimana sikap mental yang Anda miliki? Bagaimana kualitas berpikir Anda? Kemampuan komunikasi dan interpersonal apa saja yang Anda miliki? Kualitas apa saja yang Anda miliki yang sejauh ini sudah menjadikan hidup Anda lebih baik? Hal apa saja—dalam konteks apapun—yang dapat Anda lakukan dengan baik? Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasa demi melakukan hal-hal tersebut. Melangkah ke belakang lagi, berefleksilah kepada keyakinan dan nilai-nilai yang Anda miliki. Apa saja yang penting bagi Anda? Apa saja yang bermakna bagi Anda? Keyakinan yang membangun apa saja yang Anda miliki terhadap diri Anda sendiri? Keyakinan yang membangun apa saja yang Anda miliki terhadap orang lain? Prinsip apa saja yang sangat Anda pegang teguh? Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang Anda rasa demi melakukan hal-hal tersebut. Anda bukanlah perilaku Anda, pun bukan pula keyakinan Anda. Ambil satu langkah ke belakang, dan pikirkan keunikan personal Anda (level identitas). Apa misi Anda dalam hidup? Orang seperti apa kah Anda? Rasakan menjadi diri Anda sendiri sepenuhnya, dan apa yang ingin Anda capai dalam hidup. Ekspresikan dalam metafora—simbol atau apapun yang muncul dalam pikiran Anda yang dapat menggambarkan diri Anda. Ambil langkah terakhir, level spiritual. Pikirkan bagaimana Anda terhubung dengan semua makhluk hidup lain dan apapun yang Anda yakini ada dalam hidup Anda. Metafora apakah yang tepat untuk menggambarkan hal ini? Ambil perasaan terhubung ini sembari Anda melangkah maju ke lokasi tempat level identitas (satu langkah di depan), dengan tetap mempertahankan posisi tubuh persis seperti pada langkah terakhir (spiritual). Perhatikan, dengarkan, dan rasakan perubahan yang muncul. Sekarang, ambil perasaan diri Anda yang baru ini, berikut metaforanya, untuk melangkah ke lokasi tempat keyakinan dan nilai-nilai berada. Pertahankan posisi tubuh Anda seperti sebelumnya. Apa saja yang penting bagi Anda sekarang? Apa saja yang Anda yakini sekarang? Apa yang Anda inginkan untuk Anda anggap penting? Apa yang Anda inginkan untuk Anda yakini? Keyakinan dan nilai-nilai apa saja yang menggambarkan identitas Anda? Ambil perasaan keyakinan yang baru ini dan melangkahlah ke level keterampilan, dengan tetap mempertahankan posisi tubuh sebelumnya. Bagaimana menurut Anda, keterampilan Anda akan bertransformasi dan semakin meningkat serta semakin dalam? Bagaimana Anda akan menggunakan keterampilan tersebut dalam level yang paling maksimal? Pertahankan posisi tubuh Anda, dan melangkahlah ke level perilaku. Bagaimana Anda akan berperilaku sehingga menggambarkan keselarasan yang sudah Anda rasakan sekarang? Terakhir, melangkahlah ke level lingkungan. Bagaimana semuanya terasa berbeda ketika Anda membawa keselarasan ini ke lingkungan tempat Anda berada? Tandai perasaan Anda demi membawa keselarasan ini. Dan sekarang, jika Anda bawa keselarasan ini untuk menyelesaikan permasalahan yang Anda alami, atau tujuan yang ingin Anda capai, semuanya akan berubah! Selamat mencoba! -- Salam Street Smart NLP! Teddi Prasetya Yuliawan Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>
