*"Membaca" Manusia ala NLP (Part 1)*

*Read More*? http://antzforlead.com dan http://idnlpsociety.wordpress.com

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *Reading People with NLP, 26-27 Januari 2008 (AntZ for
LEADERSHIP)*

**



*Seorang agen asuransi sedang menjelaskan mengenai keuntungan produknya
kepada seorang calon pembeli. Dengan segenap teknik dan pengetahuan produk
yang ia miliki, sekuat tenaga ia berusaha mempengaruhi sang calon nasabah
untuk membeli produknya. Merasa memahami bahwa sang calon pembeli adalah
seorang manajer yang mestinya berorientasi bisnis, ia fokuskan persuasinya
pada keuntungan jangka panjang yang bisa didapat sang manajer. *

*Sepuluh menit berlalu, sang manajer hanya senyum-senyum mendengar
penjelasan dari si agen. Lima menit kemudian, ia melirik jam tangannya dan
seketika memotong pembicaraan, "OK, waktu saya habis. Saya harus kembali
bekerja. Terima kasih atas penjelasannya, namun saya belum tertarik untuk
membelinya sekarang."*

*Dan bisa ditebak reaksi si agen, bukan? Wajah penuh kekecewaan, senyum
pahit dan putus asa pun tampak di wajahnya. Sambil berusaha tersenyum, ia
pun pamit dan menyalami sang manajer. *

*Namun, secara tak sengaja, ia melihat sebuah foto berbingkai indah di meja
calon kliennya ini. Sebuah foto keluarga yang harmonis, sang manajer
didampingi oleh istri dan 2 orang anaknya yang masih kecil. *

*Sembari tetap mempertahankan senyum pahitnya, ia pun berkata kepada foto
tersebut, "Maaf ya Dik, aku tidak bisa membantumu."*

*"Apa maksud Anda?" tanya sang manajer keheranan.*

* "Ya. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk membantu memberikan kepastian
masa depan mereka, hidup mereka, pendidikan mereka, melalui produk yang saya
tawarkan. Namun pada akhirnya, keputusan Anda lah yang menentukan masa depan
mereka akan seperti apa," kata si agen dengan senyum getirnya, kemudian
berbalik ke arah pintu.*

*Serta merta sang manajer pun memanggilnya kembali, "Tunggu! Tolong
terangkan kembali kepada saya produk Anda yang bisa memastikan pendidikan
dan hidup anak-anak saya. Saya masih punya waktu 10 menit lagi."*

*Dan hari itu, si agen asuransi menutup harinya dengan sebuah
**closing**dengan jumlah yang amat mengesankan.
*

Kisah di atas adalah adegan dalam sebuah film Hong Kong yang saya tonton
beberapa tahun lalu. Saya tidak ingat persis baik judul maupun pemain
filmnya, namun entah mengapa adegan tersebut terpatri begitu hebat dalam
ingatan saya. Mempelajari NLP, saya baru memahami alasan *unconcsious* saya
menganggap penting adegan tersebut dan merekamnya dengan cukup baik.

Saya pernah juga seperti Anda, percaya betul bahwa orang akan amat mudah
termotivasi dengan keuntungan. Sayangnya, asumsi tersebut runtuh begitu saya
mempelajari ilmu yang bernama *meta program*.

Ya, orang memang sangat mudah termotivasi oleh keuntungan, pada konteks
tertentu. Dan, ia bisa saja termotivasi oleh ketakutan, pada konteks yang
lain. Masih ingat salah satu asumsi NLP? *We evaluate behavior and change in
terms of context and ecology*, kita harus memahami dan mengubah perilaku
berdasarkan konteksnya.

Omong-omong, Anda sudah pernah dengar tentang meta program? Nah, jika belum,
silakan lanjutkan membaca karena Anda akan segera memahaminya. Dan jika
sudah, silakan lanjutkan membaca sebab Anda akan menemukan pemahaman baru
setelahnya J.

*Apa sih Meta Program itu?*

Anda pasti sering menggunakan komputer kan? Nah, program apa yang akan Anda
gunakan jika Anda ingin membuat presentasi dengan efek visual yang menarik?
Apa pula yang Anda pakai jika Anda akan menyusun sebuah laporan keuangan
dalam bentuk tabel-tabel? Apa juga yang Anda pakai jika Anda ingin menulis
artikel seperti yang saya lakukan sekarang? Kalau Anda ingin membuat *time
line* proyek? Bagaimana dengan menyusun diagram alur?

Aha, Anda tentu bisa menjawab dengan cepat ya. Pertanyaan saya, kalau Anda
ingin membuat presentasi dengan efek visual yang menarik, dan menggunakan
program untuk membuat laporan dalam tabel, akan mudahkah Anda
mengerjakannya? Bagaimana dengan menulis artikel? Praktiskah jika Anda
kerjakan pada program untuk menyusun diagram alur?

Nah, kira-kira demikian lah gambaran meta program. Disebut 'meta' karena ia
adalah program yang menaungi program-program lain yang ada dalam diri kita.
Jika kita punya program untuk bangun pagi, misalnya, maka ia bisa dinaungi
oleh program 'mencari uang' ataupun program 'menghindari jatuh miskin'. Bisa
juga ia dinaungi oleh program 'bangun sendiri' atau 'dibangunkan oleh orang
lain'.

Pada titik tertentu, meta program memiliki kemiripan dengan berbagai metode
untuk melakukan *profiling* dalam psikologi, karena ia berusaha untuk
'membaca' manusia dan 'mengelompokkan' ke dalam beberapa 'tipe'. Bedanya,
pengelompokkan dan tipe dalam meta program tidak dilakukan secara
*geblokan*bahwa seseorang adalah introvert/ekstrovert dll, melainkan
dalam konteks ia
berada. Seseorang bisa saja sangat proaktif dalam mengambil keputusan yang
berhubungan dengan keluarga, tapi amat reaktif dalam keputusan yang
berhubungan dengan pekerjaannya di kantor. Karenanya, proses *profiling* pun
harus lebih spesifik menyasar konteks yang ingin dipahami: karir, pekerjaan,
rumah tangga, hubungan sosial, dll.


Kembali pada kisah di awal artikel ini, sang manajer bisa jadi memiliki
tombol motivasi *mengejar *keuntungan jika bicara bisnis, namun dalam urusan
masa depan anak-anaknya, ia lebih tergerak oleh keinginan untuk *menghindari
* resiko ketidakpastian. Dalam pembahasan kita nanti, meta program ini
disebut dengan *mendekati-menjauhi* atau* toward-away*.


Dengan cara dan pandangan seperti ini, meta program mengajak kita untuk
'membaca' sekaligus secara fleksibel berkomunikasi dengan manusia. Tidak ada
benar salah, yang ada hanyalah di konteks mana sebuah meta program tepat,
dan di konteks mana yang ia kurang efektif.

Loh, apa hubungannya dengan fleksibilitas?


Jelas banyak. Bahkan, *4 pilar NLP* itu pun dapat dijalani dengan mudah jika
kita memahami meta program. Misalnya, *outcome*. Jika Anda penggemar Pak
Tung, tentu sudah sering mendengar kata-kata, "Manusia itu cuma cari nikmat
menjauhi sengsara". Karena itu, Pak Tung selalu mengajarkan untuk merumuskan
goal dengan membuat representasi mengenai kenikmatan yang akan kita dapat
kalau tercapai sekaligus juga kesengsaraan yang akan kita alami kita tidak
tercapai.


Begitu pula dalam soal *rapport*. Memahami meta program memungkinkan kita
untuk berkomunikasi menggunakan 'bahasa' orang yang kita ajak bicara. Dan
dibangun dengan apa kah rapport jika tidak dengan *pacing*?


Bagaimana dengan *sensory acuity*? Kalibrasi akan berjalan lebih mudah dan
sistematis dengan memahami meta program.


Lalu *fleksibilitas*? Alih-alih menetapkan target dengan menggunakan meta
program Anda, cobalah untuk memahami meta program orang lain, dan
mengkomunikasikan target Anda dengan menggukana meta program mereka. Jika
Anda berkomunikasi dengan banyak orang, gunakanlah kalimat yang mencakup
kesemuanya. Inilah sebabnya meta program seringkali disebut sebagai *the
language of influence*.


So, sudah tidak sabar untuk melakukan *profiling*?


Sabar, tunggu artikel berikutnya ya J.


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke