Begitu mudahnya menebar petuah pada orang lain, dan betapa sulitnya berkaca pada diri sendiri. Pembinaan diri merupakan keniscayaan ditengah kerontangnya ruhiyah serta sangat disayangkan hal tersebut sering dilupakan. Ibarat pepatah gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman disebrang lautan tampak nyata. Pepatah ini amat tepat menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Nasihat dan bimbingan bertaburan dimana-mana, namun sering kali diri sendiri jadi terlupakan. Orang tua kita sungguh bijak merangkai ungkapan diatas, demi mengajarkan anak cucunya tentang pentingnya arti suri tauladan diri, sebelum memuntahkan kata-kata.
Suri tauladan dan bentuk keteladanan memang barang mahal bagi setiap manusia. Setiap orang, dalam banyak waktunya, sering dituntut untuk digugu dan ditiru oleh lingkungan sekitarnya, baik dalam lingkungan keluarga, kantor, sekolah dan masyarakatnya. Hal ini jugalah, hikmah betapa islam menekankan konsep keteladanan dalam banyak hal dan situasi serta implementasinya. Rasulullah SAW sendiri diutus oleh Allah SWT, yang mana disebutkan dalam AlQuran sebagai teladan mulia (uswah hasanah) bagi orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah SWT & hari akhir (QS al-ahzab:21). Namun, harus diakui, pengaruh lingkungan dan godaan duniawi terlampau sering melenakan orang untuk mempertajam visi keteladanan yang dimilikinya. Padahal keteladanan harus diasah, jika tidak ingin tumpul dan berkarat. Dalam kerangka inilah bahwa mendidik diri sendiri merupakan suri tauladan yang harus dibentuk sebelum memberi petuah kepada orang lain. Konsep mendidik sendiri adalah sekumpulan metode edukasi yang dapat mengarahkan setiap individu untuk membangun kepribadiannya secara paripurna. Baik dari segi ilmiah, keimanan, akhlak, sosial dan lain sebagainya. Proses ini bertujuan untuk mengangkat kualitas diri pada derajat kesempurnaan manusiawi, serta menekankan pada potensi dan kemauan diri yang secara fitrah mencintai langkah kearah kebaikan. Sebagai sebuah konsep, proses mendidik diri sendiri tentunya memiliki beragam metode dan cara. Sebagai pilar pertama menurut para ulama adalah instropeksi diri. Instropeksi diri adalah sesuatu yang terjadi secara alami belaka, jika orang mau menggunakan akalnya. Fitrah manusia yang mencintai kebaikan dan membenci keburukan, membuat orang berfikir untuk memilih jalan yang terbaik dalam hidupnya. Bagi seorang muslim, instropeksi diri punya makna tersendiri, sebab orientasi perbuatannya adalah akhirat. Seperti sebuah ungkapan : instropeksilah dirimu, sebelum kalian diperhitungkan, perhatikanlah amal saleh yang telah kalian persiapkan, saat kembali dan mempersembahkannya dihadapan Allah SWT. Selain itu pula proses instropeksi ini sangat bermanfaat jika rutin dilakukan pada waktu tertentu. Kondisi ini adalah kesempatan emas untuk menengok kebaikan yang telah didulang, sembari merunut jumlah keburukan yang telah menjerat diri. Tak dapat di pungkiri, bahwa sikap lalai kebanyakan orang, dilatar belakangi oleh awamnya terhadap manfaat mendidik diri sendiri. Beberapa pakar muslim telah menguraikan manfaat dari hasil proses mendidik sendiri yang menuntut keikhlasan dan kesungguhan, adalah sebagai berikut : 1. Manfaat pertama adalah kejayaan & ganjaran surga di akhirat (QS Al-Kahfi:107). 2. Mendidik diri sendiri yang terwujud dalam kesungguhan, berpegang teguh pada aturan yang hak, dan akan melahiran kebahagiaan serta ketentraman yang tak diperoleh dengan jalan lain (QS Thaha:124). 3. Pribadi-pribadi yang berusaha mengamalkan akhlak baiknya dalam kehidupan sehari-hari, tak ayal akan meraih cinta dan perasaan untuk dapat diterima oleh orang lain. Sebab, setiap manusia sejati berusaha menjauhi perbuatan- perbuatan yang dapat merusak hubungan sesama manusia seperti syirik, fitnah, gosip, zalim dan lain sebagainya. 4. Waktu dan hartapun menjadi berkah. Boleh jadi umur dan harta yang diberikan lebih sedikit dibandingkan orang lain, akan tetapi kesungguhan manusia sejati, yang berusaha mendidik dirinya, akan membuat waktu yang kelihatannya sedikit, akan sarat dengan manfaat. Setiap waktunya adalah upaya untuk meminimalkan tindakan-tindakan bodoh yang dapat merusak nilai Rapotnya dihadapan Allah SWT. 5. Pribadi yang mengasah dirinya juga lebih tahan banting dalam menghadapi persoalan dunia. Jauh dari stres dan putus asa. Saat gembira, ia menabur syukur. Saat nestapa, ia menebar sabar. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh. Kemuliaan hanya dapat diraih dengan susah payah, yang kemudian dikemas dengan keikhlasan yang murni, dan yang tidak boleh di lupakan, bahwa mendidik diri sendiri dapat efektif, apabila manusia tersebut mengupayakan agar ia hidup ditengah lingkungan dan teman-teman yang mendukungnya. Kesempatan untuk berbuat kebaikan makin luas, serta saling mengingatkan secara tulus dan sehat dapat dipupuk sebagai tradisi. Bukan untuk menjatuhkan apa lagi cari muka. Jadi, perhatikan saja kuman yang tampak dipelupuk mata, dan biarkan gajah buram di sebrang lautan. Semoga Tuhan YME mengabulkan doa kita semua...amien. Sumber : Anonymous Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di : http://www.beraniegagal.com Salam Sukses, M. Rian Rahardi # BeraniBisnis.Com <http://www.beranibisnis.com/?id=inaya> # KeuanganPribadi.Com <http://www.keuanganpribadi.com/?id=misterryan> P Please consider the environment before printing this email This email and any attachments are confidential and may also be privileged. If you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or in any other way use or rely on the information contained in this email or any attachments. If received in error, notify the sender immediately and delete this email and any attachments from your system. Emails cannot be guaranteed to be secure or error free as the message and any attachments could be intercepted, corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. Standard Chartered PLC and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by this email or any attachments and may monitor email traffic. Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited liability under company number 966425 and has its registered office at 1 Aldermanbury Square, London, EC2V 7SB. Standard Chartered Bank ("SCB") is incorporated in England with limited liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18. The Principal Office of SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services Authority under FSA register number 114276. If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the information on other jurisdictions.
