Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pemimpin karbitan! Anda boleh menggunakan kalimat itu untuk
menumpahkan kekesalan pada orang-orang yang anda anggap tidak layak
diposisinya sekarang. Tenang saja, tidak hanya anda yang menggunakan
sumpah serapah itu. Banyak. Entah diucapkan secara langsung. Atau
hanya sekedar gerundelan dalam hati belaka. Kita melakukannya ketika
melihat orang yang lebih muda melesat naik mendahului kita. Juga
ketika melihat seseorang yang dianggap tidak becus melaksanakan
tugas-tugas kepemimpinan yang diembannya; kita kemudian - dalam
hati -  berbisik, 'itulah jadinya kalau pemimpin karbitan yang
dipilih'. Tetapi, bagaimana jika yang terpilih sebagai si pemimpin
karbitan itu adalah kita sendiri? Apakah kita punya cukup keberanian
untuk mengatakan kepada diri sendiri – akulah si pemimpin karbitan
itu?

Masa kecil saya dijalani didaerah pertanian. Selama masa itu pula
saya dekat dengan beragam macam tanaman, tetumbuhan, dan sayur-
sayuran. Yang selalu ada nyaris sepanjang tahun adalah buah tomat.
Ayah saya menanamnya dalam jumlah yang cukup banyak. Jika anda
penyuka tomat dan membeli tomat matang dipasar atau toko swalayan,
maka ketahuilah bahwa; tomat matang yang anda beli itu tidak matang
dipohonnya. Sebab, tomat yang matang dipohon tidak akan bisa
bertahan lama-lama ditempat penyimpanan. Pasti dia akan penyok dalam
satu atau dua hari kemudian. Dia segera menjadi tomat bonyok. Jadi,
mengirimkan tomat matang langsung dari kebun ke pasar adalah
tindakan yang tidak cukup cerdas untuk dilakukan. Kalau begitu,
tomat matang yang anda beli itu apa? Itu adalah tomat yang dipetik
dari pohonnya dalam keadaan mentah. Masih keras. Dan berkulit buah
warna hijau. Bukan merah seperti yang anda lihat sekarang. Lalu,
untuk menjadikannya matang; tomat itu diperam. Biasanya, dalam
proses memeram digunakan karbit. Itulah kenapa kita suka sekali
mengatakan; 'matang karbitan'! Seperti kepada para pemimpin itu.
Tidak ada yang perlu dipusingkan, bukan?

Jika seseorang menghardik dan mencap saya sebagai seorang pemimpin
karbitan – nanti kalau saya berkesempatan menjadi pemimpin – maka
saya akan mengatakan kepada orang itu: "Terimakasih. Saya tersanjung
karenanya...." Mengapa saya harus tersanjung? Bukankah harusnya saya
tersinggung? Saya tahu, biasanya orang marah kalau disebut pemimpin
karbitan. Saya ini juga pemarah, tapi tidak mau marah gara-gara
sebutan itu. Mengapa demikian? Ada dua hal. Pertama, tidak ada
dimuka bumi ini satu orang pun manusia yang langsung berhasil
menjadi pemimpin hebat. Sebut saja siapa. Semua pemimpin hebat itu
adalah mereka yang sebelumnya bukan pemimpin kemudian menjalani
proses penggemblengan yang luar biasa. Persis seperti buah tomat
mentah yang diperam menggunakan karbit. Semua pemimpin besar yang
kepemimpinannya lestari, pasti dikarbit terlebih dahulu.

Tahukah anda bagaimana rasanya berada dalam tempat pemeraman bersama
dengan batu karbit? Saya tahu. Sebab, dimasa kecil saya sering masuk
kedalam tempat pemeraman. Rasanya panas. Bau tidak karuan. Gatal.
Bikin sesak nafas. Dan jika kebetulan saja ada percikan api yang
melintas; anda bisa membayangkan bagaimana jadinya. Tapi, jika tidak
demikian, maka buah tomat kepemimpinan anda yang masih hijau itu
tidak akan pernah menjadi matang. Itu yang pertama.

Kedua. Saya tersanjung, sebab jika saya harus terlebih dahulu matang
sebelum mulai memimpin; maka sesungguhnya dengan segera saya akan
menjadi pemimpin bonyok. Kalau saya berkesempatan untuk menjadi
pemimpin ketika saya masih hijau, maka itulah saat terbaik untuk
memulainya. Saat itu, saya berkesempatan menjalani semua kesulitan
dalam proses memimpin. Diserang dan digoyang orang-orang. Diumpat
didepan dan digunjing  dibelakang. Diteriaki sebagai si pemimpin
karbitan. Semua itu akan menjadi karbitnya yang pertama. Kritikan
dari orang-orang yang tidak suka dan caci maki dari mereka yang iri
menjadi karbit yang kedua. Sedangkan kesempatan untuk melakukan
beragam eksperimen, belajar dari kesalahan, dan memupuk pengalaman
adalah karbit ketiga. Dan semuanya itu; menjadikan tingkat
kematangan kepemimpinan kita semakin menjulang tinggi.

Jadi, kita tidak usah marah kan, kalau digelari sebagai pemimpin
karbitan? Tapi hey, tunggu dulu. Saya tidak bermaksud mengatakan
kepada anda; jadilah tomat mentah dan harapkan seseorang
mengkarbitmu dilubang pemeraman. Saya tidak bermaksud demikian.
Memang sih, banyak orang yang mencela para pemimpin yang dianggap
karbitan. Tapi, dalam hati, mereka juga tidak keberatan untuk
dikarbit jadi pemimpin. Siapa sih yang tidak tergiur fasilitas yang
diberikan kepada seseorang yang menduduki posisi pimpinan?
Prinsipnya; daripada lawan gue yang dikarbit, ya mendingan gue dong?
Perkara gue ini juga pemimpin karbitan; peduli malaikat!

Jujur saja, banyak orang yang mengharapkan untuk dipromosikan. Kalau
dipromosikan, biasanya identik dengan jabatan yang lebih tinggi
dong, ya kan? Ya, lumayanlah; jadi pemimpin kecil-kecilan. Salahkah
jika kita memiliki keinginan macam itu? Tidak salah sih... Tapi kan
sebenarnya kalau jujur kita katakan kepada diri sendiri; kita ini
tidak hebat-hebat amat. Jujur saja, seringkali ambisi kita lebih
besar daripada kualitas diri kita sendiri. Bagus jika anda tidak
setuju dengan saya; sehingga saya menjadi lebih tenang karena kita
punya orang-orang yang beneran hebat seperti anda. Tapi jika anda
tidak demikian, ijinkan saya meneruskan pembicaraan ini.

Saya mengatakan bahwa pemimpin hebat itu memang lahir dari proses
pengkarbitan. Bukan dimatangkan dulu baru didudukkan menjadi
pemimpin. Tetapi, jangan sembarangan menggunakan perkataan saya
untuk melegalisasikan ambisi-ambisi anda. Mengapa demikian? Sebab
ternyata; tidak semua tomat mentah bisa dikarbit menjadi matang.
Saya ulangi kata-kata saya; tidak semua tomat mentah bisa dikarbit
menjadi matang.

Ayah saya, seorang guru SD dan petani yang hebat. Dia mengatakan:
Dadang, jangan dipetik buah tomat itu! Ketika itu tangan saya
menyelosor untuk memetik buah tomat yang masih hijau. "Kenapa?" saya
balik bertanya. "Belum waktunya," begitu ayah saya bilang. "Lho,
bukankah buah tomat ini bisa diperam?" sanggah saya. "Baiklah, kalau
begitu," balasnya. "Ambillah, dan peramlah." saya menang. Saya
memetiknya. Dan kemudian memeramnya.

Tiga hari kemudian, saya membongkar pemeraman. Dan saya menemukan
tomat itu; membusuk. Tahukah anda mengapa? Benar, karena tomat itu
dipetik terlampau dini. Belum saatnya bagi tomat itu untuk diperam.
Sehingga bukannya dia menjadi matang; melainkan membusuk ditempat
pemeraman. Untuk bisa berhasil diperam, buah tomat harus memiliki
standar kondisi tertentu. Jika tidak, dia akan membusuk.

Manusia juga begitu. Boleh saja sekarang anda percaya bahwa proses
pengkarbitan bisa menjadikan anda pemimpin yang hebat. Tetapi,
sebelum memasuki proses pengkarbitan itu; anda harus mencapai tarap
kualitas diri tertentu terlebih dahulu. Sebab, jika anda masih hijau
sehijau-hijaunya, maka proses pengkarbitan itu justru akan sangat
membahayakan diri anda sendiri. Anda akan membusuk seperti tomat
hijau tadi.

Mari kita lihat sekali lagi disini tentang dua hal. Satu. Kita tidak
perlu lagi menyalahartikan proses pengkarbitan jiwa kepemimpinan
seseorang. Apakah itu orang lain, ataupun diri kita sendiri. Memang
kita harus mengkarbitnya. Karbitlah jiwa kepemimpinan itu hingga
matang. Dan biarkan suara-suara miring melintas dibawa angin hingga
menghilang. Sebab, jika anda berhasil menjalani proses pengkarbitan
kepemimpinan itu; cepat atau lambat, mereka yang mengkritik anda
akan mengerti juga pada akhirnya. Mereka akan berbalik menghormati
anda. Karena, dengan kematangan yang anda miliki setelah menjalani
proses pengkarbitan itu; anda menjadi pemimpin yang hebat bagi
mereka.

Dua. Untuk bisa matang dalam proses pengkarbitan; kita harus
mempunyai modal dasar yang benar-benar kuat dan baik. Sikap kita.
Perilaku kita. Kemampuan intelektual kita. Kemampuan konseptual
kita. Kemampuan operasional kita. Semuanya. Itulah prasyarat bagi
kita untuk bisa matang setelah dikarbit. Dan jadilah kita; pemimpin
masa depan yang tangguh dan dapat diandalkan. Pemimpin yang
memancarkan kemilau indah warna kepemimpinan kita yang menggemaskan.
Sehingga setiap orang ingin merasakan nikmatnya berada dibawah
kepemimpinan kita.

Hey, tapi kan sekarang kita belum memasuki masa pengkarbitan itu.
Biar saja. Cepat atau lambat, kita akan sampai kepada proses itu.
Selama kita terus-menerus meningkatkan kualitas diri kita hingga
mencapai standard yang diperlukan untuk menjadikan diri kita layak
mendapatkan kesempatan itu. Setelah itu; bersiap siagalah. Anda akan
dikarbit. Dan Anda. Akan. Menjadi. Pemimpin. Karbitan!

Hore,
Hari baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan kaki:
Untuk bisa dikarbit, buah tomat mentah harus memliki standard
kematangan tertentu. Dan untuk bisa dikarbit, kita harus memiliki
standard kualitas pribadi tertentu. Jika tidak, proses pengkarbitan
tidak akan bisa menjadikan kita pemimpin yang matang.

Kirim email ke