---------- Forwarded message ----------
From: Lies Sudianti <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Feb 12, 2008 8:15 AM
Subject: [PROFEC] Duh Gusti.... Kenapa sich ujian ini belum juga berakhir?
To: [EMAIL PROTECTED]


Pagi ini tidak seperti biasanya aku bangun kesiangan itupun karena
suamiku membangunkan aku minta dibelikan rokok. Aku tersentak bangun
dengan terkejut dan kelabakan karena aku belum menyiapkan bekal buat
buat suamiku dan anakku Dimas. Dengan tergesa gesa aku menyalakan kompor
yang satu untuk merebus telur bekal suamiku dan satu lagi untuk
menggoreng kentang dan chicken nugget makanan siap saji tercepat maklum
udah engga sempat menyiapkan sayuran. Saat teringat akan mengambil uang
untuk beli rokok aku mulai panik karena tak sepeser pun uang ada di
dompetku yang menggeletak di meja kerjaku perasaanku sudah mulai engga
enak aduh jangan jangan....... seingatku dompetku itu harusnya ada di
tasku kok sekarang berantakan di meja kerjaku tanpa sepeser uang pun
tersisa di dalamnya termasuk uang receh ribuan selembar pun tak ada yang
tersisa. Aku langsung minta tolong anakku Dimas untuk meminjamkan
uangnya maklum dia kan semenjak berbisnis pulsa selalu punya uang , dia
pun panik karena uang di dompet dan di tasnya rahib semua padahal uang
itu adalah uang pembayaran pulsa yang akan diserahkan kepadaku untuk
disetor ke bank. Dengan setengah menangis dia mengadu kalau uangnya
hilang. Kepanikan memuncak ketika aku menyadari kedua hpku yang
menggeletak di meja depan teve pun lenyap.

Kemarahan pada diriku semakin memuncak karena tidak mengerti kok bisa
sich kejadian yang sama berulang untuk kesekian kalinya padahal aku
ingat betul sebelum tidur aku mengecek ulang semua pintu dan jendela dan
ternyata kali ini jendela kecil di kamar mandi anakku Aldy yang terbuka
tetapi jendela sebesar itu tidak mungkin bisa dilewati orang dewasa ...
aku memang belakangan ini merasa aneh karena sudah dua kali aku
memergoki kucing misterius warna putih masuk ke rumahku melalui jendela
itu dan berulang kali sudah aku rapatkan namun mungkin tanpa kuketahui
direnggangkan oleh Aldy yang kebetulan tadi malam tidak pulang menginap
di kost temannya soalnya pagi ini dia harus menemui dosennya untuk
urusan skripsinya.

Semua sudah terjadi dan bodohnya aku karena kejadian yang sama kembali
terulang padahal segala upaya sudah dilakukan namun aku merasa memang
masih ada yang kurang. Ini peringatan buatku untuk lebih mendekatkan
diri kepada Nya terlebih lagi belakangan ini sepertinya masalah yang
kuhadapi datang bertubi tubi. Aku sudah bosan melapor ke polisi toch
engga ada manfaatnya sepertinya belakangan ini memang di daerahku banyak
pencurian dan trend baru yang disasar maling adalah tanaman beberapa
rumah tetanggaku disatroni maling dan koleksi tanaman mereka yang
lumayan mahal rahib dicolong maling. Sesungguhnya justru aku was was
dengan koleksi tanamanku yang sudah cukup banyak dan lagi mikir gimana
mengamankannya eh malah penyakit lama terulang kembali.... lagi lagi
hpku yang ilang untung kameraku ada di kamar Aldy yang terkunci entah
apa jadinya kalau dia ikut ilang, sudah cukup banyak kejadian penting di
milis yang tidak terrekam saat kameraku yang terdahulu lenyap.

Sesungguhnya kejadian ini cukup memalukan untuk diceritakan karena sudah
yang kesekian kalinya tapi aku terpaksa cerita karena ini berarti aku
sudah tidak bisa dihubungi melalui telepon baik ke GSM maupun Esia ku
tinggal no telp rumahku 021-8762074 yang bisa menerima telepon itupun
kalau aku tidak sedang on line.

Kemarin ini gara gara hp ku hilang aku memasang pagar kawat di bagian
samping belakang rumahku yang jadi heboh di milis juga karena ada yang
berniat menggalang dana untuk membantu tapi bukannya uang yang datang
malah jadi heboh...... kejadian yang membuatku sedih dan marah namun mau
apa lagi semua sudah terjadi aku hanya bisa memetik hikmahnya, dan saat
aku mulai merasa lega bahwa sekarang sudah aman kejadian lama terulang
kembali. Sesungguhnya ini buah dari keserakahan.... bayangkan rumahku
yang cukup luas (ada 8 pintu akses keluar dan 20 jendela tanpa teralis
sama sekali) terletak di tengah area seluas hampir 4000 meter tanpa
pintu gerbang dan cuma dibatasi pagar tanaman yang juga sudah jarang
jarang tumbuhnya akibat galian pipa gas tahun lalu. Dulu saat ekonomi
tidak sesusah sekarang keadaan rumahku aman aman saja bahkan saat itu
tanpa pagar satu pun mengelilingi rumahku tetapi kini semakin banyak
orang susah dan meningkatnya gaya hidup membuat hidup semakin susah dan
barang seperti hp memang menjadi komoditi yang cukup laris karena siapa
sich yang engga pake hp saat ini?

Entah bagaimana caranya aku bisa mengganti hp hpku yang hilang belum
lagi harus mengurus nomor nomor yang sudah kadung aku sosialisasikan
kemana mana masa kudu ganti lagi. Padahal kemarin siang saat Cisca
menelpon dan menganjurkan agar jangan pake Simpati karena mahal ganti
aja ke XL aku ngotot engga mau karena sudah terlanjur disebar eh dia
masih ngotot mending ganti aja bu mumpung masih baru... apa gara gara
ini ya LOA negatip berjalan yang mau diganti no eh malah hpnya ikut
rahib.

Semoga ini yang terakhir ya Allah.... memang sich apa yang aku alami
tidak separah korban penggusuran di Rawasari atau korban banjir dimana
mana juga tidak separah korban tanah longsor ataupun gempa tapi tetap
aja yang namanya kehilangan selalu menyisakan penyesalan.... dan yang
lebih sedih kalau ada yang mengingatkan aku mungkin ibu kurang sedekah
sich...... ya Tuhan apa ini peringatan dari Mu karena nazarku untuk
memberi makan anak yatim kalau penyakitku sembuh belum juga kujalankan
padahal kondisiku sudah nyaris normal kembali? Padahal rencananya baru
hari Minggu besok sesudah acara Profec aku akan melaksanakan nazarku
itu.... rupanya nazar engga boleh ditunda.

Salam epos,

Lies Sudianti

Founder & Moderator the Profec

021-8702074 (rumah)


Kirim email ke