Hore,
Hari Baru!
Teman-teman. 

Bukalah pintu hatimu. Begitu anda mengatakan jika menginginkan 
seseorang menerima kehadiran diri anda. Ini benar bukan hanya dalam 
konteks membangun sebuah hubungan. Juga benar dalam konteks 
bagaimana kita bersedia membuka hati kepada sebuah nasihat, 
masukkan, dan kritikan yang ditujukan kepada kita. Jujur saja, kita 
tidak terlalu suka mendengar nasihat. Sehingga kita kehilangan 
pelajaran yang dikandungnya. Kita enggan mendengarkan masukan. 
Sehingga kita tidak melakukan perbaikan. Kita juga alergi dengan 
kritikan. Sehingga kita terkungkung oleh kepicikan. Pendek kata, 
kita menutup diri dengan cara menutup pintu hati kita dari semua 
yang datang dari luar.

Beberapa waktu yang lalu, saya meminta tolong tukang bangunan 
memperbaiki bagian rumah yang bocor. Lalu, jadilah pasir, semen dan 
kerikil diaduk-aduk sang tukang diatas sebidang tanah. Sejak saat 
itu, sisa-sisa adukan mengeras dan melapisi tanah itu. Dimusim 
hujan, tanah itu digenangi air. Dan dimusim kemarau, tanah itu 
menjadi bagian yang paling kerontang. Ketika hujan turun, tanah itu 
tidak bisa ditembus air. Sehingga air meluber kesekelilingnya. 
Permukaan tanah terbuka disampingnyalah yang menampung dan menyerap 
air itu; masuk meresap kedalamnya. Beberapa bulan kemudian, tanah 
disekitarnya ditumbuhi rerumputan. Semakin lama, semakin menghijau. 
Bahkan bunga warna-warni bermunculan. Sedangkan ditanah yang 
tertutupi sisa adukan itu, tidak tumbuh apapun. Meski yang lainnya 
tumbuh hijau dan hidup, bagian tanah yang satu itu tetap seakan tak 
bernyawa. Dibagian itu, yang ada hanyalah kebekuan yang membisu. 

Hati kita. Kira-kira seperti tanah. Dan air hujan adalah hikmah. 
Tidak peduli seberapa banyak kalimat-kalimat kebijaksanaan 
diperdengarkan. Tak jadi soal seberapa sering orang-orang 
menasihatkan. Dengan hati yang membatu seperti itu; kita tetap saja 
tidak dapat menerimanya. Sebab, kita lebih suka menolaknya. 
Mendebatnya. Dan menyangkalnya. Hati kita kering kerontang dan 
gersang. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kita lebih suka 
bertindak sesuka hati saja. Menutup diri dari kemungkinan bahwa 
diluar sana, ada cara hidup lain yang lebih baik dari yang selama 
ini kita anut. Kadang-kadang, logika kita sependapat dengan masukan 
dari luar. Kita mengerti secara intelektual. Tetapi, karena hati 
kita ditutup rapat-rapat, kita tetap saja tidak bisa menerimanya. 
Makanya, tidak heran kalau kita sering mengatakan; "Iya sih, 
tapi...." Logika kita menerima konsepsinya. Tetapi, hati kita 
menolak maknanya. 

Kadang, penolakan itu terjadi hanya karena nasihat itu datang bukan 
dari orang yang kita anggap pantas. Kita menganggap diri ini lebih 
tahu dari si penyampai berita. Kadang, juga karena kita iri kepada 
orang itu. Dan kadang, kita memang terlampau egois untuk bisa 
menerima nasihat apapun. Seakan diri ini sudah terlampau sempurna 
untuk sekedar berubah. "Inilah gue apa adanya. Kalau enggak suka, ya 
pergi saja!"

Kita sering menemukan orang yang begitu kebal terhadap masukan. 
Sehingga apapun yang dikatakan kepadanya; tidak membekas. Teman 
saya, seorang eksekutif muda. Ketika ia menyampaikan sebuah masukan 
kepada staf yang merasa dirinya sangat hebat, orang itu 
berkata; "Memangnya kamu tahu apa tentang pekerjaan ini? Saya sudah 
belasan tahun mengerjakannya. Sedangkan kamu? Tiba-tiba saja menjadi 
atasan saya. Saya menuruti kamu hanya karena perusahaan telah salah 
memilihmu menjadi atasan saya!"

Mungkin anda juga pernah menemukan orang yang menyangkal saat diajak 
melakukan perbaikan. Mereka bilang; "Saya tidak mengerti, kenapa sih 
orang-orang itu mau mengatur hidup saya? Hidup saya ya milik saya. 
Mereka tidak berhak mengaturnya!" Ada juga yang berkata;"Maunya 
orang-orang itu apa? Saya tidak mengganggu mereka. Kenapa mereka 
begitu usil pada apa yang saya lakukan?" 

Ternyata, orang-orang seperti itu banyak jumlahnya. Hanya cara dan 
gayanya saja yang berbeda. Tetapi intinya sama. Dan jangan-
jangan...., kita juga demikian. Kita tidak sungguh-sungguh membuka 
hati untuk nasihat-nasihat yang baik. Kita tidak suka orang 
mengatakannya kepada kita. Dianggap angin lalu saja. Ketika kabar 
positif tiada henti terlontar mengisi seantero udara yang kita 
hirup. Seharusnya itu bisa membuat kita berpikir positif. Bersikap 
optimistik. Dan berubah menjadi lebih baik. Tetapi, hati kita yang 
terlanjur kaku ini tidak dapat menerima nasihat itu. Jadi, sebaik 
apapun kata-kata bijak yang sampai ketelinga kita; pasti akan 
tertolak. Persis seperti air hujan yang menimpa tanah berlapis semen 
sisa adukan dihalaman belakang rumah saya. Tak setetes pun yang bisa 
meresap. Nasihat itu sekedar lewat. Tiada terserap. Meluber kesana 
kemari. Jika hujan lebat memaksa turun terus-menerus, dia tetap 
tidak mau menyerapnya; mendingan banjir saja. Maka, hujan hikmah 
itupun tergenang sia-sia. Dia tidak dapat menyuburkan hati yang 
gersang itu. Hati yang kering kerontang ditengah guyuran kalimat-
kalimat hikmah.... 

Tanah gembur disekitarnyalah yang dapat menerima air itu sehingga 
dia menjadi semakin subur. Hati orang-orang disekitar kita yang 
terbukalah yang akan mendengarkan nasihat-nasihat itu. Hingga mereka 
menjadi manusia-manusia yang semakin hari semakin membaik. Sedangkan 
kita dengan hati yang kaku, membeku dan tertutup ini; tidak 
mendapatkan apapun selain kepicikan pikiran dan perasaan saja.

Beberapa bulan setelah tukang bangunan selesai mengaduk semen. 
Halaman belakang rumah saya yang luasnya hanya beberapa meter 
persegi itu, telah kembali hijau. Beberapa jenis tanaman berbunga 
disana. Rumput halus datar terhampar seperti karpet. Semuanya 
terlihat hijau. Kecuali dibagian yang tertutup bekas adukan itu. Dia 
tetap botak. Sungguh, tidak elok dia punya tampak. Air yang 
disiramkan diatasnya telah dia tolak. Hingga tanaman liarpun tak 
sudi untuk tumbuh menetap.  

Sebuah cangkul kecil saya ayunkan berulang-ulang. Mencongkel dan 
mendongkel. Hingga akhirnya, seluruh lapisan sisa semen yang 
menutupi tanah itu terangkat. Sekarang, tampaklah permukaan tanah 
itu berwarna kecoklatan. Merana setelah sekian lama dia terkucilkan. 
Terisolasi dari air hujan yang menyuburkan. Tak tersentuh oleh 
cacing tanah menggemburkan. Tertutupi dari cahaya matahari yang 
mestinya menjadikan dia penuh berisi nutrisi. Kasihan. Sungguh 
seonggok tanah yang merana. Namun, ketika lapisan semen itu 
terangkat seluruhnya; seolah hidup, tanah itu memancarkan gairah 
dalam tatap penuh harap. Saat air tersiram diatasnya, dia menggeliat 
kegirangan. Lalu dengan segera air itu diserapnya hingga tak lama 
kemudian tak terlihat apapun lagi kecuali kelembaban. Sekarang, 
tanah itu telah kembali kepada fitrahnya. Menyerap air yang mengalir 
diatasnya. Dan dia berubah menjadi tanah yang basah. Namun ramah. 
Sekarang, ditangan saya ada sejumput bibit rumput. Lalu saya tanam 
rumput itu diatasnya. Dan dengan sepenuh penerimaan; tanah itu 
memeluk akar rumput, hingga rumput itu terlihat nyaman berada dalam 
dekapannya. Setiap kali kami menyiraminya, tanah itu menyambut tetes 
demi tetesnya. Dan hari ini, kami nyaris tidak ingat lagi, dibagian 
manakah tukang bangunan itu mengaduk semen. Semuanya tampak sama. 
Kembali tertutupi oleh rumput yang menghijau.

Hati kita. Kita perlu menolongnya juga. Kita harus mengelupaskan 
lapisan egoisme yang menutupi seluruh permukaannya. Mumpung dia 
belum mati kekeringan.  Sebab hati yang terlanjur mati, tidaklah 
mungkin untuk dihidupkan kembali. Hati kita masih hidup. Hanya saja, 
dia kini tengah menanti kita untuk segera membuka pintunya. Dan 
mengijinkan  nilai-nilai kebajikan memasukinya. Memenuhi setiap 
relung lorongnya. Dan menggeser kekusutan yang selama ini 
menguasainya. Membiarkan bisikan-bisikan buruk terusir keluar. 
Mengelupaskan setiap noda hitam yang menempel disel-selnya. Dan 
merestui, agar kelapangan mengambil alih kendali didalam hati itu. 

Sesaat sejak pintu hati kita kembali terbuka. Kita dengan mudah 
menerima setiap pesan kebajikan. Dan setelah hati kita terbuka, diri 
kita juga ikut terbuka. Seperti pada tanah yang kembali terbuka itu, 
setiap tetumbuhan yang kita tanam dapat hidup dengan subur. Dan 
seperti itulah pula adanya dengan hati kita. Segalanya akan tumbuh 
subur, tepat ketika kita bersedia membukanya. Membuka hati. Dan 
membuka diri.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan kaki: 
Bukan kurangnya nasihat yang menjadikan hidup kita kacau; melainkan 
tertutupnya hati atas nasihat-nasihat itu.

Buku "Belajar Sukses Kepada Alam" klik disini:
http://www.dadangkadarusman.com/books/belajar-sukses-kepada-alam/  

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email, 
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/ 


Kirim email ke