Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Saya mengira perdebatan itu sudah berakhir. Ternyata tidak. Padahal, 
objeknya sama sekali tidak terlampau esensial. Premis yang paling 
sering diucapkan adalah; "Anda tidak  akan pernah kaya jika menjadi 
pekerja. Jadilah pengusaha, maka anda akan kaya". Itu yang pertama. 
Yang kedua; "Anda tidak akan bisa memiliki waktu untuk keluarga jika 
jadi pekerja. Jadilah pengusaha, maka anda bisa mengatur waktu anda 
sendiri". Oleh karenanya, ada yang beranggapan bahwa; menjadi 
pengusaha itu lebih baik daripada menjadi pekerja. Sebaliknya, sang 
pekerja menentangnya mati-matian; terutama mereka yang bagus 
karirnya, tentu saja. Tetapi, sebagian besar karyawan yang biasa-
biasa saja hatinya deg-degan. Setiap kali ada pernyataan bahwa 
menjadi pengusaha itu lebih baik daripada menjadi pekerja; hatinya 
gundah gulana. Hingga tidurpun tidak nyenyak dibuatnya. Tetapi, 
manakah sesungguhnya yang lebih baik; menjadi pengusaha, atau 
pekerja?  

Bagaimanapun juga, perdebatan ini sering tidak seimbang. Mereka yang 
pengusaha nyaris selalu menjadi pemenangnya. Dan para pekerja yang 
memiliki emotional state kurang stabil, tidak bisa segera 
menetralisir pengaruh negatifnya. Setiap anggapan yang belum tentu 
benar itu sangat mempengaruhi dirinya. Dimasukan kedalam hati. 
Meresap. Menyerap. Dan akhirnya mereka menemukan dirinya 
terperangkap. Mereka bertanya-tanya; 'jangan-jangan, memang 
seharusnya aku menjadi pengusaha'. Lalu perhatiannya terkuras 
kesana. Pikirannya tidak fokus kepada pekerjaan.  Dan karena 
berlangsung terus-menerus, maka prestasi kerjanya merosot. Mereka 
hanya menjadi pekerja yang biasa-biasa saja. Dan karena prestasi 
kerjanya biasa-biasa saja, dia tidak dipromosi. Karena tidak 
dipromosi; dia tidak mendapatkan kenaikan gaji tinggi, apalagi 
fasilitas yang memuaskan. Dia tidak mendapatkan apa-apa selain 
penghasilan yang pas-pasan. 

Semakin yakinlah dia bahwa; menjadi pekerja berarti menanggung 
resiko untuk menjadi miskin. Maka, menjadi benarlah dimatanya bahwa 
kalau mau menjadi kaya, ya jangan jadi pekerja. Jadilah pengusaha. 
Satu kosong untuk mereka yang menganggap bahwa menjadi  pengusaha 
lebih baik dari pekerja.

Teman saya yang pengusaha, jam delapan pagi masih dirumah. Pergi ke 
kantornya jam setengah sembilan. Sebelum beduk magrib berbunyi dia 
sudah kembali dirumahnya. Teman saya yang lain, jam setengah enam 
pagi sudah membuka pintu rumahnya. Naik ojek. Menunggu bis. Dan 
sampai ke kantor jam delapan. Jam lima sore, dia keluar dari 
kantornya, dan tiba dirumah jam delapan malam. Dia teringat lagi; 
oh, memang nyaman menjadi pengusaha. Bisa enak leha-leha. Sementara 
sang pekerja seperti saya? Bekerja banting tulang untuk memuaskan 
nafsu kapitalisme mereka! Lalu, sikap negatif itu mempengaruhi 
dirinya. "Ngapain gue musti banting tulang begini? Kepala jadi kaki, 
kaki jadi kepala!" 

Dengan cara berpikir begitu, tidak mungkin dia bisa menjadi pekerja 
yang berhasil. Haha, makanya, kalau mau hidup enak; jangan jadi 
pekerja. Jadilah kamu pengusaha. Dua kosong.

Manusia-manusia bermental pekerja kalah telak. 'Manusia bermental 
pekerja?' Beberapa teman saya yang pekerja tulen tersinggung dengan 
sebutan itu. Saya sebaliknya. Bangga saja. Sebab, jika saya benar-
benar bermental pekerja, pasti saya bisa menjadi seorang pekerja 
yang sangat hebat. Ya, untuk berhasil ditempat kerja, saya harus 
memiliki mental pekerja. Mengapa saya harus tersinggung dengan 
sebutan itu? 

Memang, perkataan orang lain bisa membuat telinga kita terasa panas. 
Dan terpengaruh secara emosional.Tetapi, itu terjadi hanya jika 
mental kita lemah saja. Jika mental kita kuat, tidak jadi masalah. 
Lagi pula, manakah yang anda pilih; disebut 'manusia bermental 
pekerja' atau 'manusia bermental lemah'? Mental anda tidak lemah. 
Itulah faktanya. Jadi, santai saja. Sebaliknya, jika anda seorang 
pengusaha; anda juga tidak perlu membuang waktu berharga anda itu 
untuk memperdebatkannya. Tidak perlu lagi memperdebatkan; 'mana yang 
lebih baik bagi manusia – kita ini kan manusia – apakah menjadi 
pengusaha, atau pekerja?'   

Masih segar dalam ingatan saya saat dimana saya 
mengatakan; "Baiklah, anda menganggap bahwa menjadi pengusaha itu 
lebih baik daripada menjadi pekerja." Teman saya sumeringah:"Ya, 
tentu saja." katanya. 

"Hanya jika anda menjadi pengusaha yang sukses, bukan?" kata saya.
"Oooh, iya dong." Jawabnya. Semua temannya yang dalam komunitas 
pengusaha mendukungnya. Mereka membanggakan statusnya sebagai 
pengusaha. 

Mau tidak mau, saya harus mengatakan kepada teman saya ini bahwa; 
untuk menjadi pengusaha sukses itu, mereka tidak bisa mengerjakannya 
sendirian. Mereka tidak menyukai pernyataan saya. Tetapi, mereka 
tidak memiliki pilihan lain selain sependapat dengan saya. Harus ada 
orang lain yang bekerja untuk menjalankan usahanya. Jika seorang 
pengusaha ingin agar usahanya benar-benar sukses - bukan sekedar 
sukses-suksesan – harus ada orang yang bersedia mencurahkan segenap 
kemampuan yang dimilikinya untuk memastikan bahwa bisnis itu 
berjalan. Tanpa mereka itu, tidaklah mungkin perusahaan sang 
pengusaha itu bisa benar-benar berkembang dan membesar. Artinya, 
tanpa manusia-manusia yang dicap sebagai mereka yang bermental 
pekerja itu; bisnis sang pengusaha tidak akan pernah mencapai 
kesuksesan. Pendek kata, kesuksesan para pengusaha itu sangat 
ditentukan oleh kontribusi yang diberikan. Dedikasi yang dicurahkan. 
Serta kompetensi yang dikerahkan. Oleh manusia-manusia dari jenis 
yang bermental pekerja itu. "Tanpa mereka itu," begitu saya 
melanjutkan; "Apakah usaha anda bisa benar-benar berhasil?"  
Kemudian, saya mengakhiri semua pembicaraan itu dengan 
mengatakan; "Jika semua orang harus menjadi pengusaha, siapa yang 
akan menjadi pekerja untuk kita?" 

Pentingnya keberadaan seorang pengusaha, memang tidak terbantahkan. 
Namun, seperti apa yang kita pelajari dalam manajemen bisnis; 
karyawan, adalah aset terpenting dalam perusahaan. Tidak ada cara 
lain bagi sebuah organisasi bisnis untuk tumbuh dan berkembang; 
selain dengan mejadikan karyawan-karyawannya sebagai manusia-manusia 
pekerja yang hebat. Jika tidak, tak satupun pengusaha yang bisa 
mengembangkan bisnisnya. Sebab, begitulah adanya. Secara alamiah, 
manusia pengusaha dan manusia pekerja ada untuk saling 
berkontribusi. Seperti kanan dan kiri. Siang dan malam. Yin. Dan 
Yang.

Tidak ada gunanya bagi seorang pengusaha untuk membuang-buang 
waktunya membual bahwa menjadi pengusaha itu lebih baik. Tidak ada 
gunanya bagi seorang pekerja untuk membuang waktunya memikirkan 
dengan was-was apakah pilihannya untuk menjadi pekerja itu sudah 
benar atau tidak. Pengusaha, atau pekerja; memiliki perannya masing-
masing. Sama-sama penting. Sama-sama berharga. Sama-sama baik 
adanya. Jika anda pengusaha, pekerja-pekerja andalah yang akan 
menjadikan usaha anda berhasil. Jika anda pekerja, pilihannya hanya 
satu saja; menjadi pekerja yang hebat. Jika anda sungguh-sungguh 
berkarya melalui pekerjaan yang anda miliki; anda pasti mendapatkan 
semuanya itu. Jadi, tenang saja. Dan bekerja saja. Dengan segenap 
kemampuan anda yang sesungguhnya; Anda pasti bisa. 

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan kaki:
Bukanlah status yang menentukan nilai hidup kita, melainkan; 
kontribusi yang bisa kita berikan kepada dunia.

Buku "Belajar Sukses Kepada Alam" klik disini:
http://www.dadangkadarusman.com/books/belajar-sukses-kepada-alam/  

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email, 
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/ 


Kirim email ke