Mas Adib yang baik,

Suara anak anak adalah suara malaikat yang mengungkapkan kejujuran, namun
kita juga harus mengajarkan kepada anak anak bahwa kadang kadang sebagai
orang tua pun kita punya impian....... karena tidak semua orang yang bisa ke
luar negeri dalam berkarir jadi bisa ke China mungkin membuat orang lain
juga iri lho mas karena di kantor pun hanya orang orang atau jabatan
tertentu yang bisa bepergian kemana mana. Lagi pula kan tidak  cuma uang
yang kita kejar dalam hidup tapi juga aktualisasi diri, dan mungkin juga
impian yang kita miliki dari kecil dan baru terwujud sesudah dewasa yaitu
bisa menjadi seorang profesional yang punya jabatan manager atau direktur
dan bisa keluar negeri di kelas executive (karena pendidikan kita banyak
yang diarahkan menjadi pekerja bukan pengusaha).

Saya sendiri punya pengalaman sebagai seorang ibu sekaligus wanita karir
yang super sibuk dimana waktu buat anak anak nyaris tidak ada bahkan kalau
saya boleh jujur mungkin sama sekali tidak ada. Ada rasa bersalah karena
telah mengingkari tugas sebagai seorang ibu secara fisik namun saya tidak
ingin terjebak dalam perasaan bersalah itu karena sebagai manusia kita juga
punya hak untuk beraktualisasi diri,  oleh karena itu  saya selalu sharing
sama mereka kenapa saya harus bekerja, saya sharing sama mereka kebanggaan
saya karena bisa mencapai kedudukan manager walau pendidikan formal sama
cuma D3, saya sering mengajak mereka ke kantor saya duduk di kursi saya dan
melihat dengan bangga karena di meja kerja saya terpajang foto ke tiga anak
saya, saya memperkenalkan mereka dengan bos bos di kantor saya. Saya juga
cerita kalau mobil yang kita miliki yaitu Nissan Terrano Spirit bisa kami
miliki karena mama bekerja sebagai seorang manager. Saya selalu menekankan
bahwa semua ini bisa tercapai karena dukungan seluruh keluarga baik papah
maupun mereka oleh karena itu anak anak saya bangga punya mama yang hebat
dan mereka juga bangga karena merasa punya andil dalam mendukung karir mama
mereka. Oleh karena itu mereka tidak pernah complaint karena mamanya tidak
selalu bersama mereka, bahkan mereka selalu bercita cita ingin sukses
seperti mama.
Memang kesalahan dari awal karena anak anak tidak dikenalkan pada dunia
wirausaha maka yang ada di otak mereka mencari uang itu harus bekerja kantor
seperti mama dan papanya.

Namun setelah saya membangun milis the Profec (the Professional &
Entrepreneur Club) sedikit demi sedikit saya sendiri menyadari bahwa
berprofesi sebagai karyawan setinggi apapun pangkatnya akan ada life timenya
dimana kita harus menerima kenyataan bahwa setelah usia tertentu kita akan
pensiun dan jika saat itu tiba suka atau tidak kita harus belajar mencari
uang melalui sumber lain, bekerja lagi tidak mungkin karena usia,  jadi satu
satunya cara ya menjadi wira usaha. Kenyataan ini pun saya sharing sama anak
anak saya agar mereka selain sekolah yang baik mereka harus punya
ketrampilan lain yang bisa memberi nilai tambah pada diri mereka agar bisa
memenangkan persaingan dan selain itu saya juga mulai mengenalkan dunia
usaha pada mereka, mereka selalu saya ajak jika Profec mengadakan seminar
atau workshop baik kewirausahaan maupun topik lainnya dan ternyata bekal ini
telah mendewasakan anak anak saya, mereka tidak lagi hanya bisa bermain atau
bergantung pada orang tuanya, dua anak saya sekarang sudah menekuni bisnis
pulsa elektrik isi ulang.  sementara anak saya terkecil pun sudah memiliki
grup band dimana mereka sudah sering manggung demikian juga kakak tertuanya
yang sedang menyelesaikan skripsinya juga memiliki grup band dan sedang
proses pembuatan album. anak saya yang kedua dan terkecil juga menjadikan
hobby basket untuk mencari uang dimana mereka berusaha menjadi pemain basket
profesional dan karena kepiawaian mereka berbasket mereka sudah menjadi tim
inti pemain basket kecamatan.

Saya selalu mengajarkan anak anak saya agar menjadi orang yang keras pada
diri sendiri, mandiri  dan tidak cengeng selain saya selalu menanamkan jiwa
kesatria dan sportif serta harus punya semangat juang yang tinggi, saya
tidak ingin anak anak saya tumbuh melankolis dan mudah mengeluh karena hal
hal yang sepele, anak anak saya bahkan sekarang justru menjadi partner saya
yang menghibur saya saat saya mengalami down karena saya kan satu satunya
perempuan di rumah kami jadi mereka justru bersikap jadi pahlawan yang
selalu ingin membahagiakan ibunya.

Saya bersyukur walau secara kuantitas saya tidak selalu bersama mereka saat
mereka kecil namun dengan memberikan pengertian kepada mereka kenapa kita
harus jauh dari mereka ternyata  mereka bisa memahami bahkan selalu
mendukung. Saya tidak ingin setelah tua menyesal karena banyak impian kita
yang dikorbankan demi keluarga dan setelah tua kita sudah tidak punya
kesempatan untuk meraihnya dan alhamdulilah selama ini saya bisa meraih
semua impian saya kecuali bisa menyanyi dan main gitar he he he

Semoga Mas Adib tidak terlalu tenggelam dalam penyesalah atas kondisi saat
ini,  TDB dan TDA dua duanya ada plus minusnya,  TDB yang diartikan bagi
orang yang menerima gaji aku pikir sah sah saja karena mereka dibayar
sebagai imbalan untuk pikiran dan tenaganya cuma kita harus hidup dalam
koridor yang dibuat orang lain, namun dalam ruang lingkup pekerjaan ini kita
punya peluang untuk belajar bagaimana mengelola perusahaan besar bahkan
multi national yang nantinya bisa dijadikan referensi saat kita mulai
berusaha. Cuma jangan jadikan TDB sebagai satu satunya cara untuk memperoleh
penghasilan, kita tetap harus berjaga jaga untuk menghadapi kemungkinan yang
buruk jadi mulailah berTDA saat kita masih ber TDB agar saat kita sudah kuat
kita dengan mudah bisa memutuskan untuk memilih, tetap ber TDB , menjalankan
keduanya bareng atau memilih TDA. Banyak jalan ke ROMA semuanya akan
mencapai tujuan tinggal kita memilih mau pake jalan yang mana.

Sorry ya kalau tulisan saya tidak berkenan karena saya memang rada ekstreem
dalam membesarkan ketiga anak anak saya.

Salam epos,

Lies Sudianti
Founder & Moderator the Profec
0813-18873480
[EMAIL PROTECTED]


On 2/26/08, Adib M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Keberangkatan ke China kali ini bagi saya benar-benar suatu hal yang
> membuat saya benar-benar harus berintrospeksi diri secara mendalam, anak
> kedua saya yang bernama Aldi (berumur 3 tahun) benar-benar sudah
> menghujamkan panah ke dalam hati saya yang paling dalam, sehingga omongan
> anak saya berumur 3 tahun tersebut benar-benar harus saya renungkan.
>
> Tidak seperti Ibu dan kakaknya Ayu (5 tahun) yang menangis melepas
> keberangkatan saya ke China, Aldi justru tersenyum lebar, dia malah
> menyampaikan dua hal, "Ayah kalau Aldi besar nanti nggak ingin kerja
> jauh-jauh dan Aldi ingin dagang saja seperti ibu punya duit tapi nggak
> jauh-jauh". Saya jadi tertegun, saya punya duit tapi tidak punya waktu buat
> mereka.
>
> Akhirnya saya peluk anak istri saya dan terakhir saya Tos dengan Aldi, "ok
> Aldi kalau gitu besar nanti Aldi jadi pengusaha saja yah", dengan tersenyum
> Aldi mengangguk. Dalam instrospeksi yang mendalam saya harus bisa
> merenungkan lebih dalam lagi apa kata-kata Aldi yang masih polos,
> mudah-mudahan mimpi Ayu dan Aldi mempunyai rumah idaman dan mobil idaman
> bisa terwujud, sampai jumpa istriku, sampai jumpa anak-anakku. Amin
>
> Salam,
>
> Adib M
>
> www.adibm.com
>
> Kisah semacam ini pernah saya dengar juga dari pak Harmanto dan mas Bams,
> sehingga beliau-beliau memutuskan untuk menjadi TDA.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

Kirim email ke