Dear bung Darma (moga moga bener ya), Terima kasih untuk artikelnya yang sangat informatif dan inspiratif dan saya sebagai founder & moderator milis the Profec (the Professional & Entrepreneur Club) saya sangat berterima kasih untuk artikel anda yang saya rasa bisa membantu mengingatkan rekan rekan Profecers dalam perjalanan menuju sukses.
Salam epos, Lies Sudianti Founder & Moderator the Profec 081318873480 [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] On 3/25/08, darmaactivation <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Kiat aman berwirausaha > > Bahwa profesi pengusaha (entrepreneur) menjanjikan peluang peningkatan > penghasilan yang berlipat? Yes, karena itulah banyak diantara kita ingin > jadi entrepreneur sukses. Bahwa profesi pengusaha memungkinkan kita bebas > finasial di hari tua karena tabungan cukup sehingga kita bisa pensiun lebih > tenang dan fokus untuk misi hidup yang lain? Betul demikian dan sudah banyak > yang membuktikan. Hanya saja memang tak mudah menjadi entrepreneur sukses, > terbukti banyak pula yang gagal. > > Selain itu, tak sedikit orang yang masuk ke dunia wirausaha dengan > terburu-buru dan emosi. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan matang ia > langsung tinggalkan pekerjaan sebelumnya yang notabene merupakan > andalan mata pencaharian keluarga. Angan-angannya langsung melambung, > membumbung, dan membayangkan hidup serba-enak bila menjadi pengusaha > sukses dengan penghasilan berlipat. Ia lupa bahwa berwirausaha juga punya > resiko, resiko gagal dan bangkrut. Ia lupa merencanakan > bagaimana seandainya ia gagal memulai. Harus diakui, banyak sekali > orang bertindak semacam ini, yang akhirnya bukannya makin bersemangat > berwirausaha namun justru menjadi antipati alias benci dan menyesal kenapa > melangkah jadi entrepreneur. Bahkan kadang jadi menyalahkan > orang lain. Apalagi kalau yang hingga cerai dengan istri atau dibenci > sanak keluarga. Cara pandang dan cara memulai entrepreneur 'yang asal > berani' seperti ini tentu saja kurang elegan. > > Disini saya ingin memberikan beberapa informasi alternatif cara aman masuk > menjadi entrepreneur sesuai yang saya tahu dari relasi-relasi saya pengusaha > yang sudah terbukti sukses. Kalau kita ingin mandiri > berwirausaha alias menjadi entrepreneur, kita tidak harus langsung cabut > dari profesi lama kita. Tidak perlu grusa-grusu. Kita harus dengan dingin > membedakan antara berani dan nekad. Apalagi kalau yang sudah punya > tanggungan keluarga, kita juga harus menimbang ada sekian jiwa yang ikut > dalam gerbong kita sehingga kalau kita salah kemudi mereka juga bisa > kejeblos. > > Berikut ini beberapa informasi cara yang lebih aman untuk pindah ke > kuadran entrepreneur. > > Pertama; kita bisa memulai berwirausaha dengan melakukan penyertaan > saham di bisnis teman kita sembari kita tetap kerja dulu di perusahaan > lama kita. Jadi kita setor modal ke kawan yang punya bisnis bagus dan > nanti bagi kita dapat bagi hasil. Dari sini kita juga sekalian mulai > belajar mengelola usaha. Pelan-pelan kita mulai aktif terjun di dalamnya dan > membantu kerja bareng dengan si teman itu. Kalau skala usaha joinan dengan > teman itu bagus dan penghasilan dari bagi hasil itu sudah bisa untuk menutup > kebutuhan hidup kita dan keluarga, barulah kita putuskan keluar. Jadi ketika > kita keluar dari perusahaan lama tidak kaget karena tetap ada penghasilan. > > Kedua, jurus menginjak dua kapal. Artinya, kita masih sebagai karyawan > di sebuah perushaaan mapan, namun di waktu yang sama juga merintis > usaha alias menjalankan usaha milik sendiri. Cara ini dimungkinkan > bagi mereka-mereka yang punya cukup waktu luang sehingga bisa nyambi. > Sebenarmnya cara ini sekarang lebih dimungkinkan karena adanya HP dan > telpon yang memudahkan koordinasi. Jadi, sementara kita di kantor kita > bisa sembari mengendalikan bisnis sendiri dari jarak jauh. Hingga skala > tertentu nyambi ini sangat dimungkinkan, namun kalau bisnisnya mulai > membesar kita pasti harus cabut. Yang jelas, strategi menginjak dua kapal > ini merupakan pilihan aman agar kita dalam melangkah jadi entreprenur. Jadi > sementara satu kaki kita masih ada di kapal milik perusahaan lain, satu kaki > kita melakukan test market untuk membangun bisnis sendiri. Cara ini paling > umum dijalankan oleh para perintid usaha. > > Ketiga, kalau anda tidak mau joinan dengan orang lain dan tidak bisa > berdiri di dua kapal, kita bisa berdayakan pasangan kita (istri/suami). > Jadi, sementara kita masih kerja di perusahaan lama, pasangan kita (istri > atau suami) yang mengurusi bisnis sendiri untuk masa-masa perintisan ini. > Artinya sekoci pendapatan keluarga masih ada yang bisa diandalkan, baik buat > beli beras atau susu anak-anak. Kalau usaha sendiri ini sudah jalan, > silahkan saja keluar dari kerja di perusahaan orang lain itu. > > Soal tip ini saya juga punya contoh kasus riel. Ada pengusaha sukses > kawan baik saya, Pak Budiyanto Darmasatono yang beliau pengusaha kurir > ekspress yang sudah kaeryawan 2.700 orang padahal waktu awal-awal di > jakarta selulus D3 UGM juga gelantungan naik bis kota. Waktu beliau > memulai usaha dia tidak langsung keluar dari pekerjaan lamanya sebagai > supervisor di Dinners Club, namun istrinya dulu yang menjalan usaha. > Tapi kalau ide dan konsep-konsep bisnisnya tetap Pak Budiyanto yang > memotori. Istrinya yang melakukan eksekusi. Kalau ada meeting2 yang > penting, beliau juga cuti dari kantornya dan ikut istri melakukan > presentasi ke calon klien. Jadi dia tidak gegabah langsung cabut dari > kerjaan kantor lamanya. Nah, ketika usahanya sudah berjalan baik dan > pendapatannya sudah mulai bisa diandalkan, barulah ia keluar secara > baik-baik dari perusahaan lamanya, berpamitan dengan sopan untuk usaha > sendiri. Bisnis sendiri itupun langsung ia komandani dan menjadi > dirut-nya. Bisnisnya pun kemudian makin berkembang dan pengusaha yang > rajin berbagi ke yatim dan fakir-miskin ini sekarang sudah punya 2.700 > karyawan dengan kantor operasional sudah ada di semua propinsi di > Indonesia. Yang pasti, tip ketiga ini tentu saja berlaku untuk yang > ketika akan mulai mandiri berwirausaha sudah berkeluarga, kalau yang > masih single, tentu saja pasangan Anda ini bisa kakak atau Adik anda. > Ini cara sukses dan aman untuk masuk ke kuadran entrepreneur namun > tidak mengganggu keamanan sumber penghasilan keluarga. > > Keempat, kalau Anda sudah ngebet sekali untuk menjadi entrepreneur dan > yakin bakal sukses merasa tak perlu pakai ban serep seperti itu, > setidaknya Anda tetap bisa melakukan pengamanan lain, yakni dana > pendidikan anak. Cara ini juga dilakukan salah satu pengusaha kawan > saya, Pak Harijanto, pengusaha sepatu produsen Nike dan Piero yang > punya karyawan 9.000 orang. Ketika beliau akan menjadi entrepreneur > dengan membeli saham perusahaan dimana ia bekerja ia juga > mempertaruhkan masa depannya: bisa sangat sukses namun juga bisa > menjadi miskin kalau gagal. Nah, untuk mengamankan proses untuk > menjadi entrepreneur ini, beliau dan istri mufakat. Diputuhkan, maju > menjadi entrepreneur dengan membeli perusahaaan dimana ia bekerja > namun sebelumnya tabungan pendidikan untuk anak tidak boleh > diotak-atik. Tabungan anak harus tetap ada dan disendirikan. Jadi > katakanlah proses dia menjadi entrepreneur itu gagal, dana pendidikan > anak tetap aman. > > Jadi itu beberapa kiat aman pindah ke kuadran entrepreneur. Semoga > dengan cara itu proses transisi menjadi pengusaha sukses menjadi > melegakan semua pihak, tidak ada penyesalan-penyesalan. Silahkan > kawan2 yang ingin memulai usaha memilih jalan yang terbaik. > Kawan-kawan semua bisa meyimak lebih dalam tentang kiat-kiat menjadi > entrepreneur ini (termasuk kisah Pak Budianto Darmastono dan Pak > Harijanto) di buku erbitan Gramedia, "10 Pengusaha Yang Sukses > Membangun Bisnis dari 0" disusun Sudarmadi yang baru saja dicetak ulang. > > Semoga informasi ini bermanfaat dan saya ikut berdoa semoga sukses > buat kawan2 semua. > > Wassalam > > >
