Dalam kehidupan kita sering mendapati kenyataan tidak sesuai dengan 
harapan.Sebagaimana Minggu lalu saya menjumpai seorang kawan lama yang 
sekarang telah sukses sebagai pengusaha bisnis snack cemilan dan makanan 
ringan.

Secara kasat mata saya melihat symbol kesuksesan telah berada dalam 
genggaman.Rumah yang relative mewah, kendaraan mobil pribadi keluaran 
terbaru, beberapa mobil operational dengan beberapa motor terjajar rapi 
didalam garasi.Istri dan beberapa anak sebagai pelengkap kebahagiaan pun 
telah hadir mneyemarakkan rumah yang asri dan berada di tepi sebuah 
perumahan terkenal di kota saya.

Sebagai seorang pengusaha muda yang belum lagi genap berumur empatpuluh 
tahunan tentu semua orang telah menganggap dia sebagai seorang yang telah 
mencapai kebahagiaan dan kesempuranaan hidup.

Tetapi sore itu setelah saya dan dia berbasa-basi saling bercerita kondisi 
dan keadaan, maklum lebih sepuluh tahun tidak bertemu.Terlontarlah 
pernyataan yang menandakan rasa tidak puas atas apa yang telah dia raih.Ada 
beberapa obsesi yang ternyata belum dia sempat rasakan.Ya disatu sisi memang 
kegemilangan karir bisnis telah bisa diraih, tetapi karena sang teman 
memulai bisnis sedari muda ,bahkan saat dia berada di kelas 2 SMU dengan 
membantu orang tua.

Belum hadirnya anak laki-laki ternyata dianggap sebagai kekurangan yang 
harus juga didapatkan.Ya ternyata anak laki-laki oleh teman saya dianggap 
sebagai pelengkap dan kesempurnaan hidup.Dia beranggapan beberapa anak 
perempuan tidak akan mampu meneruskan tongkat bisnis yang telah dibangun 
dengan susah payah..

Memang Allah SWT tidak memberikan segala-galanya pada setiap orang. Tentu 
apapun yang oleh orang lain dianggap sebagai bentuk kesempurnaan. Tetap saja 
oleh yang bersangkutan masih dinilai sebagai kekurangan.Rumput tetangga 
selalu nampak lebih hijau dari rumput sendiri ...Ada yang mendapatkan 
kemudahan di bidang harta, jabatan tetapi tidak memiliki anak.Ada yang 
memiliki kesehatan yang prima, anak-anak yang dilahirkan sesuai dengan 
harapan tetapi berkekurangan secara materi.Ada yang pandai di sekolah, 
berprestasi di karier tetapi gagal membina kehidupan keluarga dan 
seterusnya.

Dalam lingkup keseharian kita juga sering merasa tidak puas dengan apa yang 
kita dapatkan.Apabila kita mendapatkan dua maka kita merasa kecewa karena 
tidak mendapat lima. Kalaupun kita telah mendapatkan tujuh maka kita kurang 
berbahagia karena belum mendapatkan sepuluh dan seterusnya.

Sebetulnya apabila kita tidak puas atas apa yang tidak kita dapatkan atau 
kita menginginkan sesuatu yang kita tidak mampu mencapainya sebagai sebuah 
bentuk keluhan(complaint).

Saat kita mengeluh rasa syukur dalam diri kita akan hilang dan tergantikan 
oleh "negative perspective thingking".Sehingga rasa ini akan menggerogoti 
kenikmatan atas apa yang berada didalam genggaman dan sebaliknya justru akan 
mengabaikan begitu banyak kesenangan yang telah kita peroleh.Sebagaimana 
dalam sebuah hadits Qudsi yang masyhur yang mahfumnya berbunyi “Seandainya 
seluruh Pohon didunia ini digunakan sebagai pena, dan seluruh Lautan 
digunakan sebagai tintanya maka tidak akan pernah habis ditulis oleh anak 
Adam kenikmatan Allah SWT yang telah didapatkan”

Kita menginginkan kemudahan, Allah SWT turunkan kesulitan sebagai 
pembelajaran untuk mendapatkan hikmah atas segala ujian.
 
......................selangkapnya bisa dilanjutkan di:
www.lukman-setiawan.blogspot.com

Kirim email ke