"Ah, sudah pagi rupanya. Saat'nya memulai aktifitas", begitulah yang ku hadapi setiap pagi. Ku tunai'kan shalat subuh'ku bersama istri dan putri'ku tercinta. Ku nikmati hidangan sarapan pagi dari istri'ku tercinta. Ku kenakan dasi dan Jas di badan'ku yang masih cukup tegap ini. Lalu ku biarkan putri'ku melangkah menuju sekolahnya di komplek perumahan ini.
Hingga tiba waktu ku melangkah menuju tempat ku mencari rezeki, ku pamit kepada seorang wanita mulia yang mengikat janji sehidup semati bersama'ku. Terasa hangat saat ia mencium tangan'ku, sebagai tanda restu dan hormat kepada'ku sebagai kepala keluarga yang akan mencari nafkah. Perkenalkan, nama'ku sebut saja Hanafi. Aku memiliki sebuah keluarga yang bahagia. Sangat bahagia. Anak'ku bersekolah di SD dalam komplek perumahan'ku, sudah kelas 5 SD dia. Aku berharap ia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, yang dapat menikmati dunia. Apapun akan ku lakukan demi memenuhi kebutuhan buah hati'ku. Tak ku izin'kan ia merasakan pahit'nya dunia di usia'nya yang belia. Istri'ku, seorang wanita shaleha, baik budinya. Sungguh, merupakan kebanggaan dapat hidup bersamanya. Paras dan budinya sungguh baik. Masakannya, sungguh dapat membawaku ke dalam nirwana dunia. Pengertiannya, sungguh tidak ada bandingnya. Akulah lelaki yang beruntung di dunia ini atas izin Allah SWT. Kepada teman-teman di sekolahnya, putriku sangat bangga akan diriku. Seorang ayah yang baik hati dan merupakan seorang Manager dari sebuah perusahaan besar di Indonesia, pengertian dan layaknya seorang sahabat baginya. Begitu juga istriku, tak hentinya dia membanggakan diriku di hadapan teman-teman dan keluarganya. Pun anak dan istriku adalah orang yang bersahaja, walau mereka tahu aku akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Alhamdulillah, mereka lebih mencintai kesederhanaan hidup. Setiap pagi, menjelang waktu berangkat kerja sebuah taxi menjemputku. Ya, supir tersebut adalah langgananku. Dialah yang selalu rajin menjemputku setiap pagi dan mengantarku pulang setiap larut malamnya. Pagi ini, tibalah kami di tempat kerjaku. Dan dimulailah aktifitas kehidupanku yang sesungguhnya, sebagai seorang kepala keluarga. Tibalah aku diruanganku. Ku buka jas'ku dan ku letakkan di dalam loker pakaian. Ku siapkan dokumen-dokumen penting yang akan menunjang aktifitasku setiap harinya. Kini, waktunya aku menanggalkan kemeja lengan panjangku untuk diganti dengan kemeja lengan pendek berwarna biru yang selalu ku sisipkan di dalam lokerku. Tak lupa ku ganti celana hitam mengkilat ini dengan celana biru yang senada dengan kemeja lengan pendekku. Tak lama, setelah seluruh proses administrasi selesai, ku ambil kunci kendaraan yang akan menemaniku beraktifitas setiap hari. Tidak lama setelah itu, seorang Dispatcher memanggilku untuk segera mengambil kendaraan yang sudah dipersiapkan bersih dan mengkilat, sebuah taxi berwarna biru dengan lambang burung di mahkotanya. Sebuah lambang kebesaran imperium industry taxi. Ya, sebuah taxi. Anda tidak salah membaca. Saya adalah seorang pengemudi taxi. Pengemudi taxi yang setiap harinya diuber setoran. Menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer jalanan ibukota Jakarta yang rawan ini. Mencari penumpang dari satu sudut ke sudut yang lain berlomba dengan taxi - taxi berlabel TARIF LAMA. Sungguh, bukan pekerjaan yang mudah. Alhamdulillah nama besar perusahaan taxi ini cukup menolongku karena penumpang lebih memilih menggunakan jasa dari kami. Selama 12 jam ku pertaruhkan kehidupanku di jalanan. Ku cari rezeki tiada henti demi buah hati dan istriku tercinta. Hingga kini tiadalah mereka tahu apa yang ku lakukan selepas meninggalkan pintu rumah. Aku adalah seorang Manager, itulah yang mereka tahu. Bukanlah aku berbohong kepada mereka namun seyogyanya aku pernah merasakan nikmatnya menjadi seorang Manager. Tahun 2002 adalah tahun dimana perusahaanku tervonis bangkrut. Posisiku sebagai Manager tidak lantas membuatku mudah berpindah ke perusahaan lainnya dikala perusahaan tempat ku bekerja jatuh bangkrut. Allah Maha Tahu dan aku sedang di uji. Aku memiliki sebuah keluarga yang bahagia maka dia berikan aku ketidak bahagiaan di sisi kehidupanku yang lain. Namun entah apa yang akan terjadi apabila suatu hari anak dan istriku mengetahui statusku yang sudah tidak menjadi Manager lagi. Apakah mereka akan meninggalkanku? Atau mereka tetap akan mencintaiku? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Jam sudah menunjukan saatnya kembali ke rumah. Kembali ku kenakan jas dan dasi di badanku yang letih ini. Ku kenakan kembali celana ku yang nyaris tiada kusut. Ku kembalikan dokumen - dokumen kendaraan yang telah ku pergunakan. Ku buka pintu taxi yang selalu setia menjemput dan mengantarku setiap pagi dan malam dan mulailah meluncur taxi tersebut mendekati kediamanku. Sang supir adalah sahabat yang ku kenal di perusahaan ini. Taxi yang ku tumpangi setiap pagi dan malam adalah kedok dari semua statusku. Sungguh tak ingin rasanya mengecewakan putri dan istriku, namun keadaanlah yang menentukan lain. Cerita ini bukanlah mangharap belas kasihan anda sang pembaca, namun renungkanlah. "Bilamana suatu hari nanti Allah yang Maha Kuasa mengambil sebagian dari nikmat hidup'mu, apakah kau siap dengannya?". Lalu, "Apakah kau akan bertahan sekuat tenaga untuk dapat tetap tegar sebagai tiang keluarga atau akan kau rubuhkan layarmu?". Regards, Pane - Terinspirasi dari sebuah kisah nyata.
