Maafkan Saya, Tuhan...

Publikasi 04/07/2003 10:38 WIB

 

Seutama-utama amal, adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam sanubari
saudaranya, dengan membebaskannya dari kesulitan, ..... (sabda Nabi
al-Musthafa)

 

Sebuah masa, ketika saya duduk di bangku SMP.

 

"Mas Ento", biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda,
penjual bakso keliling di desa tempat saya tinggal. Keriput kulit begitu
nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Jarang sekali beliau
tersenyum, hanya sepatah kata khasnya yang sering singgah menyapa saya
"Ento", sebuah kata yang diucapkannya ketika saya meminta "Mas, jangan
pakai kecap yah!". Karena beliau orang jawa, "henteu" yang berarti
"tidak" dalam bahasa Sunda itu terucap "Ento".

 

Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah
mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Hanya karena rasa iba,
saya menjadi langganannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri
dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat banyak anak-anak bermain.
Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa
dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal
ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan
berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

 

Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Tidak perlu lagi saya
bersusah payah bertanya. Saya tahu kenapa senyumannya mahal terkembang.
Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya
datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan sebuah episode
kedzaliman. Rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya
fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan,
belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari
tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna
berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak
kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya "kurang ajar", tetapi melihat
sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut
tidak karuan. 

 

Sejak peristiwa tadi saya tidak pernah lagi mendengar kata "Ento"
terucap darinya, karena beliau tidak pernah lagi datang. Hanya sang
rival yang kerap menghadiahi tatapan tajam yang saya jumpai selanjutnya.


 

Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya
adopsi dari sebuah puisi "Maafkan saya tuhan, di depan saya ada orang
yang di zalimi tetapi saya tidak menolongnya".

 

***

Suatu saat menjelang siang,
Seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para
penumpang. Udara terik menyengat, matahari galak sekali. Suara paraunya
menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal leuwi panjang,
Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya
sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung
sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan
uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya
yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang
bocah yang mengaso dekat pintu. 

 

Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur
menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. "Sini!!" bentak lelaki
bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan
tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong
ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa atas
sebuah epsiode durjana. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak
karuan. Sebetulnya ingin sekali saya membelanya, namun melihat wajah
sangar berbadan kekar, keberanian saya surut. Saya menatap wajah pasrah
itu. "Ngga apa-apa mba, sudah biasa". Itu yang diucapkan si bocah
sebelum pergi.

 

Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah
doa ampunan, "Maafkan saya tuhan, di hadapan saya ada mahlukmu yang
dizalimi, tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa".

 

Jika kita renungkan saat ini, jari ditangan tak akan mampu membilang
episode-episode kezaliman. Amerika yang begitu pongah mengobrak-abrik
Afghanistan. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh
manusia. Ujudnya nyata kita saksikan di layar televisi. Mereka yang
direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah
Mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah yang maha Akbar, sama
sepert kita. 

 

Belum lagi Irak, yang oleh Amerika dimasuki jantung kotanya dengan
begitu mudah. Tak terhitung penduduknya harus rela dijemput maut oleh
rudal-rudal canggih berkedok pembebasan tirani Saddam. Kita pandang
mayat-mayat mereka yang sudah tidak lagi utuh. Kita sangat tahu, mereka
adalah saudara kita, bukankah nabi mereka sama dengan yang kita
junjung?. Dan tentu saja yang paling akrab dengan kedzaliman adalah
Palestina. Hanya batu yang para pemuda punya, sementara yahudi
berartileri hebat. Dan para ibunda di sana, harus siap kapan saja
menyongsong kabar indah kematian para putranya. Sekali lagi, yang diusir
hina dari negerinya yang sah oleh Israel, adalah saudara kita. Bukankah
sesama muslim adalah saudara?.

 

Kita saksikan banyak kedzaliman, kita menyantapnya setiap hari dari
berita-berita dunia. Apa kabar kita? Merasakan pedihnya jugakah? Mereka
adalah bagian anggota tubuh yang perih, seharusnya kita sebagai satu
tubuh juga demikian.Nabi bersabda, ketika kemungkaran berada dihadapan,
cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu,
sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah
dengan hatimu, berdoalah dan nabi melabelkan hal ini dengan iman yang
paling lemah.


Mungkin, keberanian yang saya punyai alakadarnya saja. Tetapi,
mudah-mudahan tidak dengan para sahabat sekalian. Jika kezaliman
terbentang dihadapanmu, jangan pernah seperti saya, yang hanya
menggumankannya dalam hati. Sebuah tanda nyata, tentang keimanan yang
paling lemah, tentu saja. 

 

 





NOTICE - This message and any attached files may contain information that is 
confidential and intended only for use by the intended recipient. If you are 
not the intended recipient or the person responsible for delivering the message 
to the intended recipient, be advised that you have received this message in 
error and that any dissemination, copying or use of this message or attachment 
is strictly forbidden, as is the disclosure of the information therein. If you 
have received this message in error please notify the sender immediately and 
delete the message.

Kirim email ke