*Karena Kamu Istriku, Maka Aku Boleh Berkata Kasar Padamu*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.com

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *NLP Talks with Krishnamurti, 6 April 2008*



Sebuah pelajaran menarik baru saja saya temukan dalam sebuah buku karya
Richard Bandler. Saya tidak ingat persis bagaimana kalimatnya, namun kurang
lebih isinya adalah seperti ini.

*"Anda bisa tersenyum jika ada seseorang yang tidak Anda kenal melakukan
kesalahan kecil kepada Anda, seperti menyenggol atau menumpahkan sesuatu.
Tapi entah mengapa, jika hal itu dilakukan oleh istri Anda, maka ia akan
menjadi sebuah permasalahan besar. Anda juga hanya akan akan komplain ringan
jika ada seorang pelayan lupa membawakan pesanan Anda, namun akan marah
besar jika suami Anda pulang tanpa membawakan apa yang Anda pesan."*

Satu lagi bukti bagi saya, bahwa untuk sebuah perilaku yang sama, kita
seringkali—disadari ataupun tidak—memberikan makna yang berbeda-beda sesuai
dengan keinginan kita.

Pertama kali belajar NLP, saya belum terlalu paham mengapa ilmu ini diberi
nama neuro-linguistik. Baru belakangan, saya menyadari bahwa ini adalah
sesuatu yang besar. Apa yang kita ucapkan, akan menjadi perintah bagi
sel-sel saraf di tubuh kita, untuk membentuk suatu susunan tertentu yang
berakibat munculnya pikiran dan perasaan tertentu pula. Karena itulah, dalam
berbagai kesempatan pelatihan, saya seringkali menanyakan sesuatu yang
sederhana, "Kata-kata apa yang biasa Anda ucapkan: ketika bangun tidur,
tentang pekerjaan, tentang keluarga, dan tentang pertemanan?" Dan sadarilah,
apa yang Anda alami saat ini tentang kesemuanya akan berujung pada kata-kata
tersebut.

Kita belajar berkata-kata tanpa pernah kita sadari ketika kecil, karenanya
ia menjadi sebuah aktivitas yang rutin dan seringkali terabaikan
kepentingannya. Padahal, begitu banyak hal yang kita perbuat, hanya karena
kita telah mengatakan sesuatu kepada diri kita sendiri.

Dan, Anda juga tentu tahu bahwa tidak hanya kata-kata yang punya efek
penting. Kualitas suara dan gerakan tubuh ketika mengucapkannya jauh lebih
penting untuk memunculkan makna tertentu dari kata-kata yang kita ucapkan.
Sayangnya, dan syukurnya, kita juga hampir-hampir tidak pernah memperhatikan
aspek non verbal ini. Setidaknya, sebelum kita belajar NLP.

Nah, saya tidak tahu apa yang telah Anda sama dengan saya dalam hal
keinginan untuk menjadikan sebuah keluarga sebagai tempat penuh cinta.
Karena bagi saya, cinta lah energi terbesar untuk hidup, yang akan menarik
energi-energi lainnya kemudian. Sisi lain, saya juga tidak tahu, apakah ada
tempat lain yang bisa memberikan cinta begitu besar selain keluarga?

Hmmm...sudah kah Anda pernah mendengar kisah tentang keluarga yang begitu
bahagia?

Jika kita memang sama dalam hal ini, apa menurut Anda yang akan Anda ucapkan
kepada diri Anda sendiri tentang keluarga? Suami, istri, anak, orang tua,
kakak, adik, dan seterusnya. Jika Anda bisa berkata baik, sopan, santun, dan
penuh perasaan layaknya seorang profesional di dalam kantor, apa yang akan
katakan pada keluarga Anda di rumah?




-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://idnlpsociety.wordpress.com>

Kirim email ke