Jakarta, 09 April 2008

  *


  Hari sudah berganti malam, hujan pun mengguyur jalan - di kota Jakarta yang 
selalu penuh keramaian. Seorang pemuda berjalan gontai keluar dari gedung 
bertingkat 12 yang berada di bilangan Harmoni itu, bermaksud pulang setelah 
seharian bekerja. Gerimis yang menitis seakan kompak dengan suasana hatinya 
yang miris. Ia, seorang pemuda, yang baru saja - untuk kali ke sekiannya - 
merasakan lagi yang namanya patah hati.

Ia biarkan tetes demi tetes gerimis menerpa wajahnya, jatuh di atas rambutnya. 
Ia jadikan dinginnya hawa sebagai teman perjalanan, dalam cerita tanpa 
kata-kata. Ia terus berjalan, sendirian... Hatinya gundah, jiwanya penat, dan 
rasanya resah, tiada bergairah - tidak seperti mana ia biasanya. "Life must go 
on", batinnya. Ia tak mau terjebak dalam keadaan yang tak menentu - meski 
perasaannya kini begitu mengganggu.

Kakinya baru melangkah beberapa meter dari tempat kerjanya, ketika ia melihat 
sesosok manusia berjalan di sampingnya. Manusia itu hanyalah seorang bocah, 
yang badannya basah kuyup disembur hujan, di tangannya tertenteng sebuah benda: 
payung. Entah dari mana bocah itu berasal, dan entah mau kemana pula bocah itu 
berjalan, pemuda yang kini memerhatikan anak kecil itu bertanya-tanya. Ia 
mafhum, anak itu - sebagaimana pemandangan yang biasa ditemuinya - adalah 
pengojek payung ketika hujan tiba. Di saat orang-orang menggerutu tak bisa 
pulang cepat karena terjebak hujan, di saat mereka sebal karena mereka harus 
naik taksi demi sampai ke rumah, di saat itu pula bocah-bocah itu berkesempatan 
mengais sebentuk rezeki yang ada....


"Dek, ojek payung ya..?", lelaki itu bertanya ke arah sang bocah. "Iya, om", 
jawabnya datar. "Berapa?", tanyanya membuka percakapan. "Terserah om saja", 
jawabnya pasrah. Lelaki itu tertegun, terkesan dengan sikap si anak. "Antar 
saya ke situ yuuk?", ajaknya. Tak lama kemudian, dirangkulnya anak kecil itu, 
sembari merapatkan dirinya bersama sang bocah, di bawah satu payung. Mereka pun 
berjalan beriringan...

"Kamu gak sekolah?"... 
"Sekolah". 
"Kelas berapa?"....
"Kelas Satu". 
"SD?"...
"SMP".
"Tinggal di mana dek?"...
"Di belakang, di Petojo".

"Ooo....", sahut sang pemuda yang kian penasaran..
"Kok ngojek [payung], emang siapa yang nyuruh? Orang tua?", tanyanya...
"Pengen aja", jawabnya kalem.

Pertanyaan demi pertanyaan pun meluncur dari pemuda itu, yang perhatiannya kini 
tertuju pada seorang bocah kecil disampingnya. Entah apa yang membuat pemuda 
itu begitu perhatian pada sang bocah. Mungkin karena di mata pemuda, bocah itu 
dianggap seperti adiknya sendiri yang masih kecil, yang berada bermil-mil 
jauhnya di seberang pulau sana. Mungkin karena rasa iba. Mungkin karena ia 
hanya sekadar ingin berbicara. Atau, mungkin juga, karena ia ingin mencari 
'pelampiasan' atas rasa yang dari tadi memenuhi rongga dadanya - rasa yang 
sedikit menyiksa.

Setelah mengobrol beberapa lamanya dalam perjalanan, sang pemuda mengajak 
Fadhli -nama anak itu- untuk singgah makan bersama-sama di sebuah warung tegal 
di samping suatu Plaza. Anak itu menolak, enggan. "Entar aja, om.. di 
rumah...", alasannya. "Gak pa pa, ayuuk, temenin oom makan. Om belum makan 
nih...", bujuk sang lelaki tak mau kalah. Beberapa kali dicoba dibujuk, anak 
itu tetap tak mau diajak makan.

Pemuda itu kian terkesan. Anak itu, masih kecil, namun telah paham akan arti 
kesederhanaan dan kehormatan (harga diri). Rasanya baru kali ini ia menemukan 
seorang bocah pengojek payung yang ketika ditanya soal tarif, hanya berkata 
"terserah om saja". Hal ini menunjukkan bahwa sang anak itu adalah orang yang 
mau menerima apa adanya (qonaah), khususnya yang berkaitan dengan pemberian 
orang lain. Ia tidak mematok standar harga, juga seolah tiada beban masalah 
uang balas-jasa. Suatu sikap yang rasa-rasanya makin langka ditemui di kota 
besar macam Jakarta - terlebih lagi dalam era kehidupan materialis dewasa ini.

Pemuda itupun terkesan dengan keteguhan anak kecil itu menjaga harga dirinya. 
Ia tidak bersikap seperti pengemis yang menjadikan rasa kasihan orang lain 
sebagai "bahan bakar" untuk mengeruk keuntungan. Ia tidak serta merta menerima 
tawaran - dari orang asing - meski tawaran itu tidak ada maksud [buruk] 
apa-apa. Sikap ini pun rasa-rasanya jarang kita dapati pada pribadi 
"orang-orang tinggi" itu...

Pemuda itu telah memasuki warung tenda itu. Hujan gerimis sudah tak lagi 
menitis. Tapi malam masih kelam, seperti hatinya yang kusam. Sang anak, dengan 
sopan berdiri menunggu di luar tenda. Ajakan lelaki itu untuk masuk makan 
bersamanya tidak digubrisnya. Lelaki itupun hampir putus asa untuk membujuknya, 
namun ia belum menyerah. Diajaknya lagi sang bocah, dibujuknya ia, diyakinkan 
kepadanya bahwa tidak apa-apa... tiada udang di balik tembok atas ajakannya 
tersebut, dan itu semua baginya adalah "gratis". Walhasil, anak santun itu 
luluh juga. Dengan malu-malu, ia pun duduk di samping pemuda yang sudah tak 
sabar ingin meredam perutnya yang keroncongan. Pemuda itu segera memesan nasi 
dan lauk pauk sekedarnya, sebagai makan malam, ditemani anak malam.

Adapun anak itu, masih terdiam malu, terduduk di samping lelaki itu... Badannya 
masih basah. Sesekali ia menyeka wajahnya yang polos dan lugu, cermin pribadi 
yang masih belum ternoda. Tangan kirinya menggenggam payungnya yang besar itu. 
Makanan pesanannya - dengan menu sederhana - itu telah diletakkan di 
hadapannya. Ia pun ikut makan, dengan satu tangan, sementara tangan yang lain 
tetap menggenggam erat payung yang dibawanya. Pemuda di sampingnya tersenyum 
simpul melihat tingkah 'adik' barunya itu.

Acara makan pun selesai. Dan, karena hujan sudah berhenti, pemuda itu menyangka 
bahwa mereka akan berpisah tak lama lagi. Sambil tetap berjalan mengarah ke 
kostannya, pemuda itu melanjutkan cengkramanya bersama sang anak. Di tengah 
perjalanan, sang pemuda bermaksud memberikan imbalan atas jasa ojek payung sang 
anak. Dia menolak. Setelah sebelumnya berterima kasih atas traktiran makan 
tadi, anak itu rupanya merasa tidak pantas lagi menerima imbalan apapun. Ia 
mungkin merasa apa yang diberikannya tidak sebanding dengan apa yang telah 
diterimanya. Ia mungkin tidak sadar, bahwa makan malam gratis itu adalah 
rezekinya, dan lembaran rupiah yang kini dipegangnya itu adalah haknya. Anak 
itu mungkin tahu diri, tapi pemuda itu juga tak mau setengah hati dalam 
memberi. Pemuda itu tulus ingin memberi, sebagaimana pemuda itu juga rela 
mengasihi... Dan, anak itu, hanya butuh membuka hati untuk menerima semua 
pemberian tanpa harus pusing dengan balas-jasa apapun.

Suasana pun telah mencair, dan kedua insan yang menuju pulang itu, kini masih 
berjalan bersama menyusuri perjalanan...

"Di sekolah pernah dapat rangking [kelas], gak?", selidiknya.
"Pernah, tapi nggak lagi...", jawab sang anak...
Sang pemuda pun berusaha memberinya semangat agar ia rajin belajar demi masa 
depannya. Ia pun bertutur tentang sedikit masa lalunya, latar belakang 
kehidupannya, hingga ia bisa menjadi seperti ia adanya kini.

"Fadhli muslim kan?", pancing si pemuda...
"Iya", tukasnya.
"Udah bisa mengaji (baca) Al Qur'an, beluum?", tanyanya lagi.
"belumm...
tapi udah [nyampe] Iqra' 6", sambungnya...
"ooh, bentar lagi dah baca Qur'an besar dong ya?"... 
Sekali lagi pemuda itu mencoba menyuntiknya dengan 'serum' motivasi agar 
masa-masa mudanya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat - dan kalau bisa 
berpahala.

Tak lama berselang, setelah pertemuan singkat itu, setelah perkenalan sesaat 
itu, setelah pengalaman yang berkesan itu.. mereka pun berpisah. Uniknya, 
mereka telah begitu jauhnya menempuh perjalanan bersama-sama - mengingat fakta 
bahwa tujuan pemuda dan anak itu tidaklah berlawanan arah (sebuah kebetulan 
yang tentu bukan 'kebetulan' belaka)...

Di benak pemuda itu lalu terbayang potret anak-anak maupun remaja masa kini 
dengan sejuta masalah yang menghantuinya: tawuran, kemiskinan, pendidikan, 
kejahatan, obat-obatan terlarang (narkoba), hingga seks-bebas yang kian rawan. 
Pemuda itu tidak ingin anak-anak yang masih "hijau" itu terbelit dengan 
berbagai problema. Alangkah buruknya masa depan mereka, jika kompleks-masalah 
itu terus membelilit mereka yang kian tak berdaya. Yaah, itu semua lah gambaran 
yang akan terjadi, ketika semua orang tak mau lagi peduli.. Peduli pada 
lingkungan sekitarnya, peduli pada orang-orang sekelilingnya, bahkan, peduli 
pada [keadaan] dirinya sendiri. Setidaknya, inilah langkah kecil yang bisa 
dilakukan oleh pemuda itu untuk ikut berusaha meminimalisir dampak negatif yang 
mungkin terjadi. Minimal, pemuda itu ingin menunjukkan kepada si anak tadi, 
bahwa selalu akan ada orang yang peduli - sehingga sang anak tak perlu berkecil 
hati, sang bocah tak pernah sendiri. Dan semoga, sekelumit spektrum
 kisah seperti itu, akan membesarkan hati sang anak, sehingga ia mau menatap 
dan menata kehidupannya dengan lebih baik - hingga akhirnya ia bisa memainkan 
peran sebagaimana sang pemuda menjalankan aksinya saat ini - suatu mata rantai 
kebaikan kolektif yang terus terjalin.

"Ahh... Tuhan begitu baik padaku.. Ia masih mengirimkan seseorang yang bisa 
menjadi 'sasaran' penyaluran rasa sayang itu...", fikir sang pemuda menerawang 
rasa...

Sesaat kemudian ia teringat lagi pada suasana hatinya, pada romansa jiwanya, 
pada perasaannya yang haru-biru... Tentang seseorang, tentang dia yang 
membuatnya gundah gulana...

Sejurus kemudian ia menemukan analogi, adanya kemiripan antara kejadian yang 
baru saja terlewati dan hakikat 'ikatan' dua-hati. Pemuda itu - lelaki yang 
sedang patah hati - sejatinya menawarkan hal yang sama yang telah diberikannya 
kepada anak tadi: ketulusan dan kasih-sayang. Karena ia ingin memberi dengan 
tulus, ia pun tak ambil peduli ketika apa yang diberinya tidak sepadan dengan 
apa yang diterimanya. Dan, karena ia hanya ingin mengasihi-menyayangi, ia pun 
tak begitu peduli apakah yang dikasihi-disayanginya itu memberinya kasih-sayang 
kembali atau tidak...

Meskipun begitu, patut diingat, bahwa ketika ketulusan yang kita berikan 
diterima dengan tulus pula - dan di saat kasih-sayang yang kita tawarkan 
dibalas dengan kasih-sayang yang serupa; di saat itu lah tercapai keseimbangan. 
Dan, bukankah keseimbangan, adalah asas paling kokoh demi terjaganya segala 
sesuatu dengan lestari..?

"Sayangilah [apa yang ada di bumi] - maka engkau akan disayangi [oleh apa yang 
ada di langit]"...



  taken from : http://ahmadarafata.blogspot.com
   


        

Kirim email ke