________________________________
> Subject: [T Nashuha] Menyuap Malaikat, Membeli Surga!
> Date: Mon, 28 Apr 2008 08:38:13 +0700
> From: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Rabu, 19 April 2006
> 
> 
> Ada banyak koruptor yang rajin bersedekah dan menyantuni anak-anak yatim. Ada 
> artis-artis erotis yang berlomba membangun masjid dan pesantren. Inilah 
> fenomena 'membeli surga' menyuap malaikat…
> 
> Oleh: Nasrulloh Afandi *
> 
> 
> Membeli surga? Rasanya kok mengada-ada. Tapi fenomena seperti ini banyak kita 
> rasakan dan cukup “ngetrend” di negeri kita. Gelombang “simbolis religius” 
> akhir-akhir ini banyak terjadi, khususnya di kalangan artis, pejabat dan 
> orang-orang superkaya. Surga dan malaikat, seolah-olah bisa disuap dengan 
> uang dan harta kekayaan mereka.
> 
> Meski tak banyak, ada saja kalangan pejabat yang nampak alim ketika pulang 
> kampung. Bersedekah kemana-mana, membantu masjid dan royal pada anak yatim. 
> Sebaliknya, di luar rumah, dia justru di kenal sebagai pejabat paling korup 
> dan suka memarkup dana APBN/APBD atau di instansi perusahaan yg mereka kerja.
> 
> Pernah suatu kali, di sebuah surat pembaca konsultasi fikih di  majalah 
> Islam, seseorang pembaca bertanya, “Ustad, sebelum ramai-ramai istilah KKN 
> (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), saya bergelimang uang haram. Bisakah dosa 
> saja terhapus bila kami sumbangkan pada yayasan Yatim Piatu?’
> 
> Ini adalah fenomena nyata di masyarakat. Artis-artis kita, nampak sopan di 
> kala Ramadhan. Seorang penyanyi erotis, bahkan berjanji mengenakan jilbab 
> bila di panggung selama puasa. Artis-artis lain juga beramai-ramai 
> bersedekah. Meski selesai Ramadhan, kegiatannya mengundang syahwat kembali 
> lebih ‘gila’ dari bulan puasa.
> 
> Uang, seolah bisa “menyuap malaikat Rokib”, malaikan pencacat amal 
> ibadah.Inilah adalah fenomena “pragmatisme ibadah”, yang dilematis bagi 
> Muslimin.
> 
> Makelar Surga
> 
> Para artis dan para koruptor, yang mulutnya sering meletup-letup 
> memproklamirkan diri katanya “cinta agama”, mayoritas –mestik tidak untuk 
> dimaksud tidak semuanya-- mereka adalah para “makelar surga” paling 
> berpengaruh. Di depan publip, ia mempromosikan, bahwa surga adalah 
> “komoditas” yang bisa diraih dengan bermodal materi.
> 
> Kalaulah hal itu dianggap ibadah sampingan, tentu tidak masalah. Ironisnya 
> mengesampingkan esensialitas ibadah kepada Allah SWT. Memang, dalam hati 
> kecilnya, mereka pun mungkin takut atas dosa-dosanya. Namun magnet godaan 
> setan dengan umpan fatamorgana duniawi eksis lebih kuat mengalahkan 
> keimanannya.
> 
> Kroposnya akar-akar Islam “di lapangan Ibadah”, baik vertical (kepada Allah) 
> maupun horizontal (sesama ummat beragama), adalah resiko dominan dari 
> “komoditas surga”.
> 
> Faktor utamanya, mereka, umumnya berpikir pragmatis. Bahwa dalam konteks 
> ibadah cukup mengeluarkan sebagian duitnya saja. Naifnya lagi, sering tanpa 
> memperdulikan uang halal atau haram. Lebih menggelikan, ada yang berceletuk , 
> "Berbuat demikian itu lebih baik, daripada tidak sama sekali ".
> 
> Karena itu, para koruptor, yang tak malu mengeruk duit rakyat atau artis, tak 
> terkecuali artis bintang porno, yang mempublikasikan diri melalui berbagai 
> media massa secara gegap gempita menjadi “santri” dan sopan. Bergagah-gagahan 
> berebut membangun masjid-masjid dan menyantuni para yatim piatu dengan 
> mengundang wartawan.
> 
> Seolah-olah mereka adalah "teladan beribadah” bagi segenap Muslimin. Ia hanya 
> ingin menunjukkan pada public, sesungguhnya, surga masih bisa dibeli. 
> Fenomena tak menarik seperti ini jelas jauh dari autentisitas ibadah secara 
> syar’i.
> 
> Hak surga dan neraka adalah perogratif  Allah SWT sebagamana surat yang 
> berbunyi, “Dia (Allah) mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan 
> menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara 
> keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu." (QS 5:18).
> 
> Tapi merupakan kesalahan fatal, bila ada manusia  bermaksud "meng-kaveling 
> surga", hanya dengan mengandalkan seonggok harta. Apalagi, I’tikad dari 
> ibadahnya itu tetap tidak merubah kebiasaan buruknya sehari-hari.
> 
> Islam adalah agama yang tak bisa dipraktekkan seenaknya. Ada syarat dan rukun 
> dalam ibadah. Dan itu tidaklah berdasarkan karangan akal-akalan.
> 
> Dalam perspektif hukum fiqih, empat madzahib fuqoha ahlissunnah waljama'ah 
> (Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i) ada kesepakatan, 
> bahwa generalitas dalam beribadah selain ada rukun yang dilaksanakan, juga 
> sebelum memulai ibadah terlebih dulu harus memperhatikan terhadap 
> syarat-syaratnya.
> 
> Selain ada syarat diwajibankannya (beribadah), utamanya harus memenuhi syarat 
> syah, agar sesuai prosedur (ibadah)nya menjadi syah.
> 
> Beragama jelas ada prosedurnya. Bolehkah membangun pesantren dengan uang 
> hasil memamerkan aurat badan di berbagai media massa? Misalnya hasil dari 
> goyang erotis?  Jelas tidak. Beribadah jelas ada ketentuannya. Misalnya, 
> Meskipun sama-sama air, tidak boleh mencuci lantai masjid dengan air kencing. 
> Ini sama halnya menyantuni anak yatim ataupun membangun masjid dengan uang 
> hasil korupsi.
> 
> Dalam Qawa’id al-Fiqh, dikenal “al-Ashlu baqou ma kana a’la makana” (hukum 
> sesuatu hal, itu sesuai dengan kondisi asalnya). Umpamanya, uang haram 
> dijariahkan ke masjid, maka tetap haramlah hukum menyalurkan duit (haram) itu.
> 
> Sedekah atau dermawan, memang dianjurkan. Namun dengan harta haram, dalam 
> konteks ibadah, hal itu hanya melaksanakan rukun, sedangkan  menafikan syarat 
> (ibadah) tentunya menyebabkan tidak syah.
> 
> Sebuah hadis mengatakan, “Dan memang, harta itu, hisabnya (pertanggung 
> jawaban di hadapan Allah) dua hal; dari mana (dengan cara apa) diperoleh, dan 
> untuk apa dipergunakan.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Barzah R.A.).
> 
> Karena itu, Nabi pernah menghancurkan masjid dhirar karena karena dianggap 
> dapat memecah belah umat dan menimbulkan keresahan. Jika hanya menggunakan 
> akal, penghancuran itu jelas perbuatan tidak waras. Bukankah masjid adalah 
> rumah Allah tempat orang bersujud?
> 
> Karenanya, tidaklah tepat, menjadikan hal haram atau subhat itu, sebagai 
> argumentasi "untuk mencari modal" beribadah. Bukankah sangat banyak jalan 
> untuk mencari rezeki  sekaligus tanpa mencampakkan konstitusi (syariat) Ilahi?
> 
> Bila beribadah orientasinya masuk surga-menjauhi neraka, otomatis signifikan 
> mengikis kualitas orisinilitas ibadah. Perspektif Tauhid adalah termasuk  
> asy-Syirku al-Asghar (bagian dari penyekutuan kepada Allah SWT).
> 
> Efek Samping
> 
> Kompfleksnya sistem media informasi, berperan aktif menularkan hedonisme. 
> Kenaifan itu pun telah kronis mewabah ke plosok-plosok. Kini di daerah-daerah 
> pun telah "ngetrend" terjangkit virus "Menyuap Malaikat-Membeli Surga". 
> Berujung semakin terpinggirkannya implementasi kualitas ibadah.
> 
> Fenomenanya, mereka mau menyumbangkan materi untuk pembangunan masjid, namun 
> berat untuk melangkahkan kaki shalat berjamaah ke masjid. Atau marak pula 
> (orang-orang daerah) gemar menyumbangkan duit untuk acara-acara 
> pengajian/majlis ta’lim, namun enggan mengikuti pengajian di majlis yang 
> didonasinya itu.
> 
> Inilah, kaum hedonis (pemuja harta) yang gede rasa (GR) bisa “membeli surga”. 
> Prinsipnya, “Boleh berpuas-puas berbuat dosa dengan kemewahan harta, termasuk 
> cara (haram) memperoleh hartanya. Toh, dengan harta itu, akan mampu ‘menyuap 
> malaikat sekaligus membeli surga!’ .”
> 
> Allah berfirman, “Akan datang suatu hari, yaitu pada hari di mana tidak 
> bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah 
> dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'araa': 88-89)
> 
> Melaksanakan perintah Alah dan menjauhi laranganNya sesuai orisinilitas 
> syariat itulah sesungguhnya esensi dari kehidupan manusia dan beribadah. 
> Karenanya, bagi mereka yang merasa bisa "menyuap malaikat dan membeli surga", 
> Anda jangan merasa GR!.  Wa Allohu A'lamu bi ash-Showab.
> 
> 
> *) Penulis adalah alumnus pesantren Lirboyo Kediri, aktivis muda NU, sedang 
> "mengasingkan diri" di universitas Karaouiyine Maroko
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Taubat Nashuha II" 
> Google Groups.
>  Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [EMAIL PROTECTED]
>  Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
>  Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
> http://groups.google.com/group/TNashuha-II?hl=id
> -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

_________________________________________________________________
Edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://www.get.live.com/wl/all

------------------------------------

POWER WORKSHOP E.D.A.N.

"POWER COMMUNICATION & SELF CONFIDENCE WORKSHOP"

Info: http://milis-bicara.blogspot.com

BANDUNG, 12 April 2008, Auditorium Barat ITB, Hub: Okti, 0817-2372541, [EMAIL 
PROTECTED]

MALANG, 19 April 2008, Hotel Gajahmada Malang, Hub: Moch Slamet Supriyanto, 
0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]

SURABAYA, 20 April 2008, Hotel Sahid Surabaya, Hub: Moch Slamet Supriyanto, 
0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]

BATAM, 3-4 Mei 2008, Hub: Purwadi, 0811-773163, [EMAIL PROTECTED]

MALANG, 10-11 Mei 2008, Universitas Brawijaya Malang, Hub: Moch Slamet 
Supriyanto, 0816-54905350, [EMAIL PROTECTED]

JAKARTA, 17-18 Mei 2008, Hub: Hasan Basri, 0811-826362, [EMAIL PROTECTED]

YOGYAKARTA, 24-25 Mei 2008, Hub: Yetti, 0813-82608229, [EMAIL PROTECTED], Lusy, 
0811255971, [EMAIL PROTECTED]

IKLAN: Iklan diperkenankan hanya hari Jumat, awali subject dengan "Iklan 
Jumat:" Iklan MLM, Forex, Affiliate, Referral dan sebagainya hanya satu bulan 
sekali pada hari Jumat MINGGU KEDUA.

CATATAN PENTING: Pastikan bahwa Anda mencerna semua hal di atas dengan 
penyesuaian kepada sistem tata nilai yang Anda anut. Beberapa hal mungkin tidak 
sesuai dengan tata nilai Anda, beberapa lainnya akan universal sifatnya. Tugas 
kami hanya mengingatkan Anda. Mohon dimaklumi, ada file-file yang secara rutin 
dikirim berulang 1 bulan sekali.

http://milis-bicara.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bicara/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bicara/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke