Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kedengarannya begitu sederhana; "Bekerjalah sesuai dengan 
kemampuan". Namun, dibalik kesederhanaannya, kalimat itu mengandung 
makna yang sangat dalam.  Bagaimanapun juga, itu bukanlah cara lain 
untuk mengatakan; "Bekerja secara alakadarnya." Sama sekali bukan. 
Sebab, bekerja sesuai dengan kemampuan menyiratkan kesediaan untuk 
mencurahkan segenap kemampuan yang kita miliki dalam menjalani 
pekerjaan yang kita geluti. Begitu banyak orang yang berpotensi 
tinggi, namun bekerja alakadarnya. Sehingga, mereka tidak sampai 
kepada puncak prestasinya. Sebab, jika saja mereka bersedia bekerja 
sesuai dengan kemampuannya, maka pastilah mereka sudah bisa mencapai 
ketinggian nilai kemanusiaan dirinya. Alih-alih demikian, mereka 
membiarkan sebagian besar potensi dirinya tersia-siakan.

Salah satu tanda seseorang tidak bekerja sesuai kemampuan adalah 
ketika dia sekedar memenuhi job descripton yang diterima dari 
atasannya. Padahal, jobdes hanyalah sebuah alat untuk 
mendeskripsikan pekerjaan standard yang harus dilakukan seseorang. 
Sedangkan, kemampuan diri kita yang sesungguhnya seringkali jauh 
lebih tinggi dibandingkan jobdes itu. Sebentar, apakah anda yakin 
bahwa kemampuan anda yang sesungguhnya jauh lebih tinggi 
dibandingkan dengan jobdes itu? Tentu saja, sebab anda pasti 
keberatan jika ada orang yang mengatakan bahwa kemampuan anda 
hanyalah pas-pasan saja, bukan? Harga diri anda menyebabkan anda 
begitu yakin bahwa kemampuan diri anda lebih tinggi dari jobdes itu. 
Pertanyaannya sekarang adalah; apakah anda bekerja berdasarkan 
jobdes, atau berdasarkan kemampuan yang anda miliki? 

Jika seseorang bekerja berdasarkan kemampuannya – yang sudah pasti 
lebih tinggi dari jobdes itu – siapa yang diuntungkan? Perusahaan, 
tentu saja. Perusahaan untung karena orang itu bekerja melampaui 
harapan minimalnya. Tetapi, sesungguhnya bukan perusahaan yang 
paling diuntungkan, melainkan orang itu sendiri. Bayangkan saja, 
ketika dia bekerja melampaui jobdes-nya, atasannya senang. 
Perusahaannya senang. Lalu dia mendapatkan reward yang lebih baik 
daripada karyawan lainnya. Bahkan, jika keadaan memungkinkan, bisa 
jadi dia dipromosikan. Itu sudah menjadi hukum alami. Namun, mengapa 
begitu banyak orang yang enggan untuk bekerja melampaui jobdes-nya? 
Ini masih merupakan teka-teki.

Dibanyak lingkungan kerja, begitu banyak orang yang merasa puas 
dengan memenuhi tuntutan yang tertera dalam jobdes-nya. Padahal, 
bekerja sekedar memenuhi jobdes mengandung dua resiko besar. 
Pertama, resiko bahwa orang-orang lain yang lebih rajin akan 
mendapatkan prestasi kerja yang lebih baik dari kita. Sehingga 
mereka mendapatkan reward yang lebih baik. Mungkin mereka 
mendapatkan promosi hingga meninggalkan kita jauh dibelakang. Kedua, 
resiko bahwa Tuhan tidak terlalu menyukai kita. Sebab, Tuhan sudah 
menciptakan kita dengan sejumlah potensi diri yang begitu tinggi. 
Dan, orang yang bertanggungjawab kepada Tuhan memahami benar bahwa 
Tuhan mungkin kurang senang jika kita tidak memanfaatkan semua 
potensi diri itu. Oleh karenanya, misi hidup ini bukanlah sekedar 
memenuhi kewajiban melalui jobdes belaka. Melainkan 
mengaktualisasikan diri kita hingga bisa mencapai nilai paling luhur 
dari kualitas diri sebagai seorang manusia. Dengan cara itu, kita 
bisa mempersembahkan sebuah pencapaian yang outstanding. Berbeda 
jauh dibadingkan dengan kebanyakan orang lainnya.

Sayangnya, kita masih sering hitung-hitungan. Kontribusi kerja yang 
kita berikan kepada perusahaan dihitung sebatas sejumlah bayaran 
yang kita dapatkan. Lebih dari itu? No way. Perusahaan tidak 
memberikan posisi atau kompensasi yang cukup tinggi. Jadi, kenapa 
kita mesti berprestasi tinggi?  Kita yang merasa punya potensi 
tinggi ini juga berpikir bahwa seharusnya perusahaan mempromosikan 
kita terlebih dahulu, supaya kita bekerja secara extra ordinary. 
Kita mempunyai kemampuan yang memadai untuk menyelesaikan suatu 
masalah. Dan menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik lagi. Tetapi, 
karena perusahaan belum mempromosikan kita pada posisi itu, maka 
kita tunggu saja sampai perusahaan mempromosikan kita. Setelah itu, 
barulah kita melakukannya. Dan karena selama hidup kita tidak pernah 
dipromosikan kepada posisi yang kita inginkan itu, maka selama hidup 
itu pula kita tidak pernah benar-benar mengaktualisasikan potensi 
diri kita yang sesungguhnya. 

Sekarang, mari kita cermati situasi dilingkungan kerja kita. Cukup 
banyak orang berpotensi yang membunuh karakter hebatnya sendiri. 
Mereka tidak puas dengan keputusan-keputusan perusahaan. Lalu mereka 
bekerja alakadarnya. Daripada menjadi pegawai yang tangguh dan tahan 
banting, mereka memilih untuk menjadi karyawan Teng-Go. Begitu bel 
jam kerja berbunyi, mereka langsung cabut. Padahal, mereka masuk 
kerja pun datang terlambat. Mereka pikir, tak apa-apa karena jaman 
ini jalanan serba macet. Terlambat setiap hari bukan lagi soal 
penting. Pulang kerumah cepat-cepatlah yang paling penting. Makanya, 
datang terlambat – pulang cepat menjadi budaya baru dunia kerja kita 
saat ini. Pendek kata, boro-boro memasuki tatanan extra ordinary 
work, sekedar memenuhi standar minimal saja kadang-kadang kita 
kedodoran. 

Mari kita bayangkan sebuah situasi dimana perusahaan harus memilih 
sebagian karyawan untuk dipertahankan, dan mendepak sebagian yang 
lainnya. Sekalipun membayangkan ini tidak menyenangkan, namun orang 
yang memilih untuk menjadi karyawan perlu bersiap-siap untuk 
kemungkinan seperti itu. Betapa banyak orang yang terlampau percaya 
bahwa hubungan kerjanya akan berjalan lancar-lancar saja. Sehingga, 
ketika berita buruk itu datang; mereka menjadi syok. Padahal, jika 
hal itu sudah diperkirakannya jauh-jauh hari, mungkin dampaknya 
tidak akan seburuk itu. Setidaknya mereka sudah mempunyai sekoci 
yang bisa digunakan sebagai alat penyelamat darurat. Namun, orang-
orang yang bekerja sebatas memenuhi jobdes, tidak akan pernah 
memiliki kesiapan itu. Sedangkan mereka yang bekerja sesuai dengan 
kemampuan dirinya, akan mempunyai peluang lebih besar untuk 
dipertahankan oleh perusahaan. Sekalipun pada akhirnya perusahaan 
tidak lagi mampu mempertahankan mereka, namun setidak-tidaknya, 
mereka sudah berjuang hingga titik darah penghabisan. 

Bahkan, mereka yang selama kehidupan kerjanya bersedia memeras 
segenap kemampuan diri yang dimilikinya, adalah orang-orang yang 
sudah teruji. Dan itu menjadi bekal alam bawah sadar yang sangat 
berguna baginya, jika suatu saat dihadapkan kepada situasi yang 
sulit. Sebab, orang-orang yang seperti itu, selalu bisa diadalkan. 
Baik oleh perusahaan, maupun oleh dirinya sendiri. Dan ternyata, 
untuk menjadi manusia yang mempunyai kualifikasi tinggi seperti itu; 
kita tidak harus bekerja mati-matian. Kita, hanya perlu bekerja 
sesuai dengan kemampuan. Sebab, bekerja sesuai dengan kemampuan bagi 
kita berarti; mempersembahkan pencapaian kerja yang berkualitas 
tinggi. Melalui seluruh potensi unggul yang telah Tuhan anugerahkan 
kepada kita.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki:
Perusahaan hanya mempromosikan orang-orang yang sudah terbukti 
mempunyai pencapaian tinggi. Dan sesuatu disebut sebagai bukti, 
hanya jika sudah terlebih dahulu terjadi. Tunjukkan prestasi 
terlebih dahulu, baru dipromosi - bukan sebaliknya. Begitulah hukum 
yang berlaku dalam dunia kerja kita. 

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email, 
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/ 


Kirim email ke