“You will never find time for anything. You must make it”.
(Charles Buxton)
~


Manusia – sehebat dan sekuat apapun ia – tetaplah makhluk yang lemah. Mereka 
tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menentukan takdir, mengetahui rahasia 
kehidupan dan mewujudkan semua keinginannya. Manusia adalah makhluk yang 
terbatas, karena ia tunduk di bawah aturan hukum alam yang tak mungkin dapat 
ditentangnya. Manusia tak dapat merubah hukum alam tersebut, mereka hanya dapat 
memanfaatkannya untuk mengelola kehidupannya.


Salah satu parameter kehidupan manusia yang sifatnya terbatas adalah usia/umur 
– kita dapat menyebutnya juga dengan istilah “waktu”. Semua manusia diberi 
jatah umur yang niscaya akan habis pada waktunya. Meskipun usia manusia 
tersebut bervariasi, terdapat kesamaan mengenai proses dan tahapan hidup yang 
dijalani oleh manusia dalam rentang waktunya. Semua manusia umumnya mengalami 
jenjang/fasa hidup yang serupa; lahir-muda-tua-mati. Sekilas hal ini membawa 
kita pada asumsi bahwa – jika demikian – maka keadaan manusia itupun sama saja 
pada akhirnya. Ternyata tidak demikian, justeru dari sini kita temui beragam 
perbedaan “kualitas” manusia yang menjalani kehidupannya.


Sesungguhnya hakekat umur tidaklah terletak pada panjang atau pendeknya usia 
seseorang. Akan tetapi, ia ditentukan dari seberapa berharga waktu itu 
dilaluinya. Usia hanyalah lembaran-lembaran dari “buku kehidupan”, amal 
perbuatanlah yang menjadi “goresan tinta”nya, yang mengukir sejarah. Kualitas 
dan derajat kemuliaan seseorang tidaklah ditentukan dari tebalnya “buku 
kehidupan” tersebut, namun dari seberapa berharganya “catatan” yang terdapat di 
dalamnya.


Itulah sebabnya salah satu ciri dari orang yang sukses adalah penghargaannya 
yang amat tinggi terhadap waktu. Mereka selalu tidak suka menghabiskan usianya 
dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan berguna. Mereka pun memandang detik, 
menit, jam, hingga tahun yang berganti adalah sangat berarti, karena ia tak 
akan pernah kembali lagi. 



Alhasil, mereka selalu bersemangat menjalani kehidupannya. Antusiasme mereka 
menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berdedikasi. Mereka tak pernah pasif 
menunggu, bahkan selalu aktif berusaha. Bagi mereka, waktu bukan hanya 
“bagaikan uang” (time is money), pun bukan hanya “bagaikan pedang” (al-waqtu ka 
as-saifun), tapi juga “modal pinjaman” (capital debt) yang harus dibayar dengan 
amalan kebaikan nan berharga... 


Kondisi orang-orang mulia di atas sangat berkebalikan dengan keadaan 
orang-orang yang lemah tak berdaya yang dicirikan dengan sifat kemalasannya. 
Mereka adalah orang yang jarang sekali menggoreskan “tinta emas” dalam lembaran 
“buku hidup”nya. Mereka tenggelam dalam lena dunia yang menghanyutkan. Mereka 
termakan angan-angan palsu, selalu meragu, dan suka menunda-nunda amal 
kebaikan. Mereka bukan tidak melihat keuntungan dan kemuliaan dari melakukan 
hal-hal yang bermanfaat untuk dirinya ataupun orang lain. Akan tetapi, ketika 
mereka dihadapkan pada itu semua, mereka hanya berkata: “Tunggulah... kelak aku 
akan melakukannya.. tapi tidak sekarang... sekarang aku hanya ingin 
beristirahat dan menikmati saat yang singkat ini...”. Itulah pendirian mereka.


Perumpaan orang-orang tersebut bagaikan seorang hamba sahaya yang diperintahkan 
oleh sang Raja untuk mengumpulkan kayu bakar dari hutan di luar kerajaan. Si 
hamba itupun pergi ke hutan tersebut, lalu ia terpesona dan terlena oleh 
keindahan pemandangan di tempat itu.. Lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon 
yang rindang, memakan buahnya, lalu tertidur beberapa lama... Ketika ia 
terbangun, hari sudah malam, dan ia harus kembali ke kerajaan... Ia pun kembali 
dengan tangan hampa sehingga mendatangkan kemarahan sang Raja. Ia pun dihukum 
dan disiksa akibat kelalaiannya sendiri… Bahkan ketika si hamba tadi memohon 
untuk diberi kesempatan kembali lagi ke hutan tersebut untuk menunaikan titah 
sang rajanya, dikatakan kepadanya: “Apakah jika engkau dikembalikan ke tempat 
itu engkau tidak akan terlena dan berleha-leha lagi? Celakalah engkau yang 
telah membuang kesempatanmu (dulu) yang berharga.”



Sincere Regards,

Ahmad Arafat
http://ahmadarafata.blogspot.com


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke