Hore,
Hari Baru!
Teman-teman. 

Dalam hal mendengar, Anda pasti masih ingat ungkapan itu. "Masuk 
telinga kiri, keluar telinga kanan". Dari segi tata bahasa, mungkin 
kalimat itu agak janggal. Namun, sangat ampuh untuk menggambarkan 
orang-orang yang `ndableg!', alias tidak mau mendengar nasihat orang 
lain. Memang ada begitu banyak orang yang tidak membuka diri 
terhadap nasihat. Namun, ada saatnya dimana kita perlu menerapkan 
ungkapan itu untuk diri kita sendiri. Yaitu, saat dimana kita 
mendengar komentar negatif dan cemoohan dari lingkungan kita. Sebab, 
pada kenyataannya, tidak semua yang kita dengar adalah benar. Dan 
terutama lagi, tidak semuanya memberikan energi positif bagi diri 
dan jiwa kita. Ada banyak komentar miring tentang kita. Kadang itu 
benar. Kadang sekedar omong kosong belaka. 

Saya sedang menyiram tanaman ketika tukang pos berhenti didepan 
rumah. "Pooos," katanya. Ketika saya menoleh, Pak Pos menyerahkan 
sebuah amplop berwarna coklat dengan logo kantor pajak. Seperti 
kebanyakan orang lainnya, saya tidak terlalu tertarik dengan surat 
tagihan pajak untuk dua alasan. Pertama, pajak penghasilan saya 
sudah di-potong langsung oleh kantor, bahkan sebelum saya sendiri 
menerima bayarannya. Dan ketika membelanjakan uang yang sudah 
dipotong pajak itu pun saya kembali membayar pajak pertambahan nilai 
alias ppn. Dan alasan kedua adalah; meskipun saya sudah membayar 
pajak yang bertubi-tubi itu, jalan menuju kerumah kami yang bolong-
bolong mesti kami juga yang membiayai perbaikannya lewat swadaya 
masyarakat. Jadi, surat semacam itu tidak terlalu ditunggu-tunggu. 
Tetapi, ini sudah untuk yang kesekian kalinya hanya dalam waktu 
beberapa bulan sejak saya menempati rumah itu.  

Ini adalah kali pertama saya bertemu langsung dengan Pak Pos. Sebab, 
biasanya saya mendapati surat-surat itu tergeletak diteras depan. 
Suatu saat, surat itu terkena hujan, dan amplopnya menjadi 
berantakan. Sehingga secara tidak disengaja saya bisa melihat 
isinya; "Perihal: Tunggakan pembayaran pajak". Selama ini saya tidak 
membacanya bukan karena hendak membangkang, namun karena surat itu 
bukan ditujukan atas nama saya; melainkan nama orang lain, meskipun 
alamatnya cocok. Pada saat bertemu dengan Pak Pos itulah saya 
menjelaskan bahwa; orang itu tidak tinggal dirumah ini. Ndilalahnya, 
Pak Pos itu masih berkewajiban untuk mengantarkan surat itu terus-
menerus. Jadi, beliau datang beberapa kali lagi untuk tugas yang 
sama. Akhirnya, saya mengatakan kepadanya; "Bapak, nama saya Dadang 
Kadarusman. Saya pemilik rumah ini. Jadi surat ini tidak seharusnya 
dikirimkan kesini."

Ini adalah sebuah ilustrasi sederhana, tentang sesuatu yang kita 
sebut sebagai `salah alamat'. Karena kita ini mahluk sosial, maka 
pastilah kita selalu berhubungan dengan orang lain. Dan dalam 
hubungan itu sering kita dengar perkataan-perkataan negatif yang 
diucapkan orang tentang kita. Apakah itu berupa hinaan, caci maki, 
atau perkataan yang menjatuhkan lainnya. Bagaimana sikap anda 
menghadapi situasi seperti itu? Anda tonjok saja orang itu? Mungkin, 
jika badannya lebih kecil dari anda. Tapi, bagaimana kalau orang itu 
jago karate? Anda simpan saja dendam itu didalam `hate'. Kita tahu 
bahwa dalam bahasa Inggris, `hate' bermakna `tidak suka yang sangat 
mendalam', alias `extreme dislike'. Sedangkan dalam bahasa Sunda, 
hate berarti hati. `Disimpen dina jero hate', bermakna `disimpan 
didalam hati'. Ketika mendengar perkataan yang menjatuhkan biasanya 
kita kesel banget. Sebel sama orang yang mengatakannya (extreme 
dislike), lalu disimpen dina jero hate. Nyambung yah? Jangan-jangan 
orang Inggris belajar kepada orang Sunda untuk menemukan kata `hate' 
itu. Hebat. 

Menyimpan extreme dislike didalam hate itu sangat berbahaya. Bukan 
bahaya pada orang yang menghina kita, melainkan bagi diri kita 
sendiri. Selama dia berada dalam hate kita, selama itu pula kita 
menanggung beban perasaaan. Dua tahun lalu, kita dihina orang. 
Sampai sekarang kita dendam. Setiap kali mengingat nama orang itu, 
setiap kali pula sakit hati itu kita rasakan kembali. Padahal, orang 
itu santai-santai saja. Bahkan dia sudah melupakan semuanya. Yang 
rugi siapa? Ya kita-kita jugalah. Nah, pada situasi-situasi semacam 
inilah prinsip "Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan"  itu bisa 
menjaga kualitas hidup kita. 

Salah satu kalimat penghiburan favorit saya adalah bait pertama Sang 
Penghibur-nya Padi; Setiap perkataan yang menjatuhkan;Tak lagi 
kudengar dengan sungguh;Juga tutur kata yang mencela;Tak lagi 
kucerna dalam jiwa. Namun demikian, sifat negatif atau positif dari 
sebuah perkataan tidak selalu harus terkandung langsung dalam kata-
kata itu sendiri. Sebab, banyak perkataan halus yang menyakitkan, 
dan sebaliknya banyak pula perkataan keras yang memang menyembuhkan. 
Jadi, apakah suatu perkataan itu bersifat negatif atau positif 
tidaklah semata-mata dari `bunyi' perkataan itu sendiri, melainkan 
kepada `intensi' dari sang pengucap kata. Perkataan lembut yang 
dicampur dengan sikap sinis jelas bermuatan negatif. Sebaliknya, 
perkataan yang keras dan tegas dari sang pengucap yang tulus 
bersifat seperti obat; biar pahit tapi menyembuhkan. Banyak orang 
yang secara sinis menjatuhkan orang lain melalui kata-kata manis. 
Dan banyak orang yang berpembawaan lugas menyampaikan kritikan 
secara blak-blakan. Mungkin kita tidak menyukai keduanya; tetapi 
muatannya berbeda. Namun, jangan sampai rasa tidak suka menjadikan 
kita kehilangan esensi masukan positif hanya gara-gara cara orang 
itu menyampaikannya tidak seperti yang kita inginkan.

Kita sering mendengar kalimat ini; "Emang sih, yang elo bilang itu 
bener. Tapi ya jangan terlalu keras gitu dong kalau negor gue...." 
Kita cenderung enggan mendengarkan koreksi yang terus terang dan 
blak-blakan. Kita bilang; "Silakan mengkritik, tapi dengan kritikan 
yang sopan dong". Haha, mana ada kritikan sopan! Kritik ya kritik. 
Lagipula, manfaat kritik itu untuk kita yang diberi kritik, bukan 
untuk mereka yang mengkritik. Yang diuntungkan itu kita. Bukan 
mereka. Lha, kita kok menuntut mereka yang memberi manfaat itu 
agar `mengikuti cara kita'. Kita menuntut mereka secara berlebihan. 
Mengapa berlebihan? Karena tidak semua orang memiliki kemampuan atau 
karakter seperti yang kita inginkan. Padahal, mereka melakukannya 
secara tulus untuk kita. Jika seseorang mengkritik kita, dan 
kritikan itu benar adanya; maka kita pantas menerimanya. Artinya, 
frase "Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan" tidak berlaku 
didalam situasi seperti ini.  Kita bodoh jika begitu. Tidak tahu 
diri, kita ini.

Sebaliknya, jika berhadapan dengan orang-orang sinis atau mereka 
yang memang ingin menjatuhkan; maka kita harus menerapkan 
prinsip "Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan" itu. 
Pertanyaannya adalah; apakah kita bisa membedakan antara masukan 
yang tulus dengan kesinisan? Antara kritik membangun dengan cemoohan 
dan kalimat menjatuhkan? Pada dasarnya kita mempunyai kemampuan 
alamiah untuk itu. Namun, jika kemampuan itu belum terasah; kita 
bisa menerapkan sebuah cara sederhana berikut ini: pahami muatan 
dari perkataan yang disampaikan. Apakah mengandung unsur kebenaran 
atau tidak. Jika kita tidak seperti yang mereka katakan; maka itu 
berarti bahwa perkataan itu BUKAN untuk kita. Jadi mengapa mesti 
kita pikirkan? Hha! Mengapa mesti kita pikirkan? Ya. Mengapa mesti 
kita pikirkan. Jika kita tidak seperti yang mereka katakan; maka 
kita tidak perlu memikirkannya. Lupakan saja. Karena perkataan itu 
bukan untuk kita. Dan jangan dimasukkan kedalam hate. 

"Tunggu dulu. Hate gue bete sekalee gara-gara kata-kata yang nggak 
bener itu. Mereka memfitnah gue. Gak bisa begitu saja gue lupakan!" 
Baiklah, jika anda menganggap itu cara yang paling baik. Tetapi, 
bagaimana seandainya tukang Pos yang membawa surat teguran 
pembayaran pajak itu datang kerumah anda. Lalu dia memberikan surat 
itu kepada anda. Surat itu anda buka, dan anda membaca sebuah 
kalimat disana: "Harap segera datang kekantor pelayanan pajak untuk 
menyelesaikan tunggakan pajak anda selama ini." Namun, nama 
addressee tertuju surat itu adalah orang lain. Bukan anda. Bukankah 
anda akan berkata kepada Pak Pos:"Maaf Pak, surat ini salah alamat." 
Jika anda berkata demikian kepada Pak Pos untuk surat peringatan 
pembayaran pajak yang salah alamat; apakah anda juga bisa bersikap 
sama untuk perkataan-perkataan yang menjatuhkan? Tentu anda bisa. 
Karena, jika anda tidak seperti yang mereka katakan, berarti kata-
kata mereka salah alamat. Kita tidak perlu ambil pusing. Biarkan 
saja bualan mereka itu "Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan".  
Dan hidup kita akan tetap tenteram dan nyaman.....

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki:
Kita sendirilah yang menjadikan diri kita senang atau susah. Jadi, 
apapun yang dikatakan oleh orang lain selalu bisa kita jadikan 
sebagai sumber rasa senang, kalau kita mau. Jika perkataan mereka 
benar tentang kekurangan diri kita; kita senang karena sudah ada 
yang mengingatkan. Berterimakasihlah kepada mereka. Dan jika mereka 
salah, kita senang karena kita tidak seburuk yang mereka kira. Maka 
maafkanlah mereka. 

Permohonan maaf: Karena adanya sedikit gangguan di 
www.dadangkadarusman.com dalam beberapa hari terakhir, sehingga ada 
beberapa pages yang tidak bisa diakses. Mohon maaf atas 
ketidaknyamanan yang ditimbulkannya. 


Kirim email ke