Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Salah satu alasan mengapa kita memiliki frase `kalah sebelum 
bertanding' adalah karena pada kenyataannya begitu banyak orang yang 
enggan untuk ikut dalam pertandingan menyusuri hidup. Hanya karena 
mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjadi pemenang. Jika 
hidup kita adalah soal kalah dan menang, mungkin cara berpikir itu 
bisa diterapkan. Namun, pada kenyataannya hidup kita tidak selamanya 
tentang kalah dan menang. Memang, ada kalanya kita harus terlibat 
dalam permainan seperti itu. Jika kita tidak mengalahkan orang lain, 
maka orang lain akan mengalahkan kita; dan kita menjadi pecundang. 
Namun, sebagian besar kegiatan dalam hidup kita bukan soal itu. 
Melainkan soal; bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri.  Oleh 
karena itu, dalam banyak situasi; `menjalani' hidup itu lebih 
penting daripada hasil akhirnya.  

Anda tentu masih ingat sebuah kisah klasik tentang seorang lelaki 
lugu yang tengah duduk diteras sebuah kedai dipinggir jalan. Ketika 
mendekatkan cangkir kopi ke bibirnya, dia terperangah, karena tiba-
biba saja ada segerombolan orang yang berlarian. Ia lalu bertanya 
kepada pelayan;"Kenapa sih orang-orang itu pada berlarian begitu?" 
Sang pelayan menjawab:"Ini perlombaan lari marathon, Tuan." Ia 
tersenyum dengan ramah, kemudian melanjutkan:"Pemenangnya akan 
mendapatkan sebuah piala." Katanya. Lalu lelaki itu berkata;"Kalau 
hanya pemenangnya yang mendapatkan piala, kenapa orang-orang yang 
lainnya juga pada ikut berlari...?" 

Kemungkinan besar, didunia nyata tidak ada manusia yang cukup lugu 
untuk melakukan dialog seperti itu. Setidak-tidaknya dalam 
konteks `lomba lari marathon'. Kita semua tahu bahwa pemenang lomba 
lari marathon hanya satu orang. Atau paling banyak 3 orang. Jika 
panitia berbaik hati menyediakan hadiah sampai juara harapan ketiga 
seperti ketika kita sekolah di TK dulu, maka jumlah pemenangnya 
paling banyak ada 6 orang. Tetapi, kita tidak cukup bodoh untuk 
mempertanyakan;"Mengapa ratusan orang lainnya ikut berlari juga?" 
Tetapi, mari cermati kehidupan sehari-hari kita. Secara tidak 
langsung kita sering mengajukan pertanyaan naif seperti itu. Kita 
begitu seringnya bertanya; kenapa orang kecil seperti kita mesti 
kerja habis-habisan? Paling hasilnya cuma segitu-gitu juga. 

Ketika masih disekolah menengah dulu, saya beberapa kali mengikuti 
10K Marathon Competition. Dalam perlombaan itu, selalu saja ada 
atlet profesional dari pelatda yang ikut serta. Tapi, jumlah mereka 
tidak banyak. Sedangkan, ratusan peserta lainnya adalah mereka yang 
paling banter hanya berolah raga seminggu sekali saja, termasuk saya 
dengan tubuh kerempeng dan napas yang pas-pasan ini. Bahkan ada juga 
peserta yang sudah lanjut usia. Nyaris tidak mungkin kami bisa 
menang. Kami semua mengetahui hal itu. Tapi, mengapa kami tetap ikut 
perlombaan itu? "Ya, kenapa Kakek mengikuti perlombaan ini?" Anda 
boleh bertanya begitu kepada si Kakek veteran perang kemerdekaan 
yang ngotot mau ikut perlombaan. Dan dia akan menjawab: "Kakek mah, 
yang penting sehat, cucu. Tidak apa-apa menang juga. Yang penting 
sehat...." Alah, yang penting sehat, kata si Kakek.

Kalau anda tanyakan itu kepada orang dewasa lainnya, mereka akan 
menjawab: "Demi kesehatan, Mas. Kita perlu berolah raga. Kalau 
menang syukur. Tidak juga yah, tidak apa-apalah. Yang penting 
sehat." Sedangkan, gadis-gadis remaja berusia belasan tahun akan 
menjawab:"Tau deh, Mas. Pokoknya seru ajjah. Bisa ketemuan sama 
teman-teman."  Dan dari para lelaki kecil yang sedang puber seperti 
saya waktu itu, mungkin anda akan mendengar:"Asyik Mas. Banyak cewek 
kece yang ikutan...." Pendek kata, ada begitu banyak alasan mengapa 
orang ikut serta dalam perlombaan lari marathon itu; meskipun mereka 
tahu tidak akan menang. Dan diakhir pertandingan, kita selalu bisa 
menemukan senyum kepuasan disetiap wajah yang mengikuti perlombaan. 
Ketika sang atlet pelatnas naik pentas untuk menerima tabanas; 
setiap orang ikut merasa puas. Tidak ada iri dihati ini. Sebab, dari 
awal pun kita sudah tahu bahwa hadiah tabanas dan piala itu bukan 
untuk kita. 

Kita mempunyai bagian masing-masing dalam perlombaan itu. Sang 
Kakek, mendapatkan kesempatan untuk berolah raga dengan gembira demi 
kesehatannya. Para pemuda senang dengan keringat yang membasahi 
seluruh tubuhnya. Para remaja gembira karena bertemu dengan rekan-
rekan seusianya. Sambil ngeceng satu sama lain. Dan tampaknya, semua 
orang mendapatkan kemenangannya masing-masing. Kecuali orang-orang 
yang memilih tidur dibawah selimut. Dan mereka yang hanya nongkrong 
dipinggir jalan yang dilewati para pelari.

Lomba lari marathon mungkin sudah bukan olah raga populer lagi 
dijaman ini. Tetapi, esensinya masih tetap ada hingga kini. 
Kehidupan kita, tidak ubahnya seperti perlombaan lari marathon itu. 
Ada sejumlah hadiah disediakan bagi mereka yang berkoneksi sangat 
kuat. Bermodal teramat besar. Dan berkedudukan begitu tinggi. Namun, 
jika saja orang-orang yang tidak memiliki semua keistimewaan itu 
memilih untuk berhenti sebelum bertanding; kehidupan kita mungkin 
akan berubah wajah. Menjadi sebuah ironi ketidakberdayaan. 
Untungnya, sebagian besar manusia sederhana yang kita lihat adalah 
orang-orang tangguh. Mereka adalah pejuang hebat yang tidak mudah 
menyerah.  Tengoklah mereka yang tidak pernah lelah untuk terus 
merengkuh hidup. Mengagumkan sekali. Meskipun mereka tahu bahwa 
tidak mungkin untuk mendapatkan pendapatan sejumlah miliaran atau 
sekedar ratusan ribu rupiah saja; namun mereka tetap melangkah, ikut 
terlarut dalam geliat hidup. Mereka tidak hendak berhenti. Sebab, 
sekalipun tahu bahwa uang besar adalah jatah orang-orang besar, 
namun ikut terlibat dalam permainan keseharian adalah pilihan yang 
paling bijaksana. 

Jika kita berkesempatan untuk menyasar ke pasar-pasar pada pukul dua 
pagi, kita akan menemukan orang-orang dari jenis ini. Tukang 
gorengan. Para penyapu jalan. Para petugas pembersih toilet digedung-
gedung perkantoran. Para buruh tani. Ibu-ibu tukang cuci pakaian. 
Para hansip dan petugas keamanan. Para guru bantu disekolah-sekolah 
reyot . Aih, betapa banyaknya orang yang ikut dalam lari marathon 
kehidupan ini. Apakah mereka akan mendapatkan piala? Tidak. Lantas, 
mengapa mereka ikut berlari? Karena, mereka ingin mengajari kita 
tentang hidup. Mengajari kita? Ya. Mengajari kita. Karena kita yang 
lebih beruntung ini sering sekali menyia-nyiakan hidup. Kita 
terlampau mudah untuk berkeluh kesah. Ketika kita tahu akan kalah, 
kita langsung  menyerah. "Untuk apa kita bekerja jika dibayar dengan 
upah murah? Cuma membuat kaya para pengusaha saja!" Begitu kita 
sering berkilah. "Ngapain susah-susah begitu jika hasilnya cuma 
segini?" Kemudian kita memilih untuk tidur lagi. "Kalau begini 
caranya, aku berhenti saja!" Lalu kita keluar dari arena. Malu kita 
oleh orang-orang sederhana itu. 

Padahal, Ayah dan Ibu sudah menyekolahkan kita dengan bersusah 
payah. Mereka mengumpulkan rupiah, demi rupiah. Dengan terengah-
engah. Supaya kita bisa kuliah. Setelah kita lulus sekolah? Kita 
menjadi orang-orang yang begitu mudahnya untuk menyerah kalah. 
Setiap kali dihadapkan pada jalan yang menanjak sedikit saja, kita 
sudah cepat merasa lelah. Ketika tersandung dengan kerikil kecil 
saja, kita sudah mengeluh seolah kehilangan kaki sebelah. Bukan 
peristiwanya yang menjadi musibah. Melainkan sikap kita untuk 
memilih menjadi manusia bermental lemah.

Malu kita oleh orang-orang sederhana itu. Meskipun mungkin mereka 
tidak sepintar kita. Tidak sekolah setinggi kita. Tidak berkulit 
semulus kita. Namun, semangat mereka dalam menjalani hidup, bukanlah 
tandingan bagi kita. Cobalah sesekali tengok garis-garis wajah 
mereka. Disana kita akan menemukan sebuah gambaran tentang hidup 
semacam apa yang mereka jalani setiap hari. Tidak lebih mudah dari 
kita. Sekalipun begitu; mereka enggan untuk berhenti. Mereka terus 
berlari. Untuk berlomba dalam marathon ini. Perlombaan yang 
hadiahnya mereka definisikan sendiri. Yaitu; menunaikan panggilan 
hidup. Dan, apakah sesungguhnya panggilan hidup itu? Untuk menjalani 
kehidupan itu sendiri. Dengan segenap bekal yang telah Tuhan berikan 
didalam diri kita masing-masing. Bersediakah kita mendayagunakannya? 

Hore, 
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dizhang.multiply.com/
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki:
Hidup tidak selamanya tentang kalah dan menang. Melainkan tentang 
bagaimana kita menjalaninya dengan tindakan-tindakan yang memberi 
makna positif. 


Kirim email ke