Entah versi mana yang benar hanya Tuhan saja yang tahu. Tidak ada bukti sejarah 
SI ini benar. pun tidak ada bukti bahwa versi BO yang sekarang dikatakan 
sebagai "sejarah" lah yang benar
History written by the winner

sebagaimana kebenaran mitos jew holocaust yang patut diragukan. Siapa yang tahu 
bahwa mungkin sebenarnya PD I dimulai oleh pihak Allies (Inggris, perancis, 
Austria & sekutu2nya) yang menyerang Axis (jerman & sekutunya) dan yang 
melakukan pembantaian adalah pihak Allies. Karena sejarah sekarang ditulis oleh 
si pemenang perang.

 Mungkin puluhan tahun dari sekarang cucu kita duduk mendengarkan bahwa Amerika 
menyerang Irak karena Irak menyerang duluan 

History written by the winner


"Rahardi, Mohamad Rian" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                              
     
  Momentum Kebangkitan Nasional yang Memalukan!                                 
      
     
                     Di berbagai media, di tengah kesulitan hidup yang kian 
melilit rakyat, di tengah kemiskinan yang kian menjadi, di tengah keputus-asaan 
rakyat banyak yang kian membuncah, di tengah himpitan kemelaratan, di tengah 
pesta korupsi dan mark-up anggaran negara (baca: uang rakyat) yang dilakukan 
para pejabat negara, memasuki bulan Mei 2008 bangsa ini dicekoki dengan 
‘Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional’. Hal ini tentunya dikaitkan dengan 
berdirinya organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908.
  
    Jika salah satu syair dari Taufiq Ismail berjudul “Malu Aku Jadi Orang 
Indonesia’, maka sekarang ini judul syair tersebut bertambah relevan. Betapa 
memalukannya sebuah bangsa yang katanya besar ternyata masih saja salah 
menetapkan tonggak kebangkitannya sendiri. Dan parahnya, hal ini ternyata 
didukung oleh tokoh-tokoh dan partai Islam yang seharusnya menjadi agen 
pencerahan bangsa.
  
    Misal salah satunya, sebuah partai politik Islam besar akhir April lalu 
memasang sebuah iklan hitam putih seperempat halaman di sebuah harian ternama 
nasional. Dalam iklan tersebut, partai ini dengan tanpa malu memuat ‘Momentum 1 
Abad Kebangkitan Nasional: Harapan Itu Masih Ada”. Disadari atau tidak, iklan 
ini telah ikut meracuni pemikiran generasi muda bangsa dengan ikut-ikutan latah 
menyiarkan kedustaan dan kesalahan yang fatal. Padahal partai ini kebanyakan 
diisi oleh orang-orang muda yang katanya intelek. Namun kenyataan yang terjadi 
sungguh memalukan!
  
    Sayyid Quthb di dalam “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan 
orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama 
dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan 
profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) 
terhadap kejahiliyahan.
  
    Situs eramuslim.com sekurangnya sudah tiga kali memuat tentang organisasi 
Boedhi Oetomo (BO) dan memaparkan bahwa organisasi ini sama sekali tidak berhak 
dijadikan tongak kebangkitan nasional karena BO sama sekali tidak pernah 
mencita-citakan kemerdekaan, pro-penjajahan yang dilakukan Belanda, dan banyak 
tokohnya anggota aktif Freemasonry yang merupakan organisasi pendahulu dari 
Zionisme. Seharusnya, tonggak kebangkitan nasional disematkan pada momentum 
berdirinya organisasi Syarikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi 
Syarikat Islam (SI) pada tahun 1905, tiga tahun sebelum BO.
  
    Sebab itu, agar kita lagi-lagi tidak salah menganggap tahun 2008 ini 
sebagai Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional, maka Kami lagi-lagi menurunkan 
artikel terkait hal tersebut, agar kebenaran tetaplah kebenaran, dan sama 
sekali tidak akan goyah walau dengan alasan politis sekali pun. Sejarah adalah 
History, bukan His-Story!
  
    Penghinaan Terhadap Perjuangan Umat Islam
  
    Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya 
merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang 
diawali oleh tokoh-tokoh Islam. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang 
lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang 
jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan 
mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.
  
    Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung 
penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan 
Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan 
bangsa? Ini jelas kesalahan fatal.
  
    Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas 
meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro 
Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, 
tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan 
Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus 
AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, 
Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.
  
    KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun 
pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara 
penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadi. 
Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang berakibat 
dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya 
yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.
  
    “BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena 
mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan 
yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta 
mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada 
tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang 
Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak 
boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.
  
    BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa 
kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para 
ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial 
Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar 
kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh 
Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh 
Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.
  
    Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran 
dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak 
pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara 
yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup 
orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki 
nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai 
batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.
  
    Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk 
menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara 
harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan 
kebangsaan.
  
    Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang 
Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama 
Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal agama harus 
disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”
  
    Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan 
Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah 
“Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama 
daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” 
(M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.
  
    Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak 
ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah 
perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme 
sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh 
besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga 
keduanya hengkang dari BO.
  
    Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua 
pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah 
seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.
  
    Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan 
cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam 
buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 
1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya 
diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.
  
    Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo Kecewa dengan BO
  
    Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung 
penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya 
ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri 
yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya 
hengkang dari BO.
  
    Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan 
Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 
Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua 
umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus 
AN.
  
    Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan 
Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para 
pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih 
nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas 
Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku 
seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan 
Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari 
Maluku.
  
    Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan 
BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:
  
    Tujuan:
  
    - SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya, 
  
    - BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran 
Dasar BO Pasal 2).
  
    Sifat:
  
    - SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia, 
  
    - BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura, 
  
    Bahasa:
  
    - SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia, 
  
    - BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda
  
    Sikap Terhadap Belanda:
  
    - SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda, 
  
    - BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian 
besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial 
Belanda, 
  
    Sikap Terhadap Agama:
  
    - SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya, 
  
    - BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid 
Algadrie dan Dr. Radjiman)
  
    Perjuangan Kemerdekaan:
  
    - SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati 
pintu gerbang kemerdekaan, 
  
    - BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah 
membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati 
pintu gerbang kemerdekaan, 
  
    Korban Perjuangan:
  
    - Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, 
dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat, 
  
    - Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan 
dibuang ke Digul, 
  
    Kerakyatan:
  
    - SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan, 
  
    - BO bersifat feodal dan keningratan, 
  
    Melawan Arus:
  
    - SI berjuang melawan arus penjajahan, 
  
    - BO menurutkan kemauan arus penjajahan, 
  
    Kelahiran:
  
    - SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905, 
  
    - BO baru lahir pada 20 Mei 1908, 
  
    Seharusnya 16 Oktober
  
    Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap 
tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan 
tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional 
Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak 
ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.
  
    Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka 
saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga 
khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa 
ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.
  
    Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, 
maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga 
menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari 
besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari 
Kebangkitan Nasional”. (Rizki Ridyasmara)
  
  
      This email and any attachments are confidential and may also be 
privileged.  If you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or 
in any other way use or rely on the information contained in this email or any 
attachments.  If received in error, notify the sender immediately and delete 
this email and any attachments from your system.  Emails cannot be guaranteed 
to be secure or error free as the message and any attachments could be 
intercepted, corrupted, lost, delayed, incomplete or amended.  Standard 
Chartered PLC and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by 
this email or any attachments and may monitor email traffic.
 
  
 
 Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited liability under 
company number 966425 and has its registered office at 1 Aldermanbury Square, 
London, EC2V 7SB.
 
  
 
 Standard Chartered Bank ("SCB") is incorporated in England with limited 
liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18.  The Principal Office of 
SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the 
United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services 
Authority under FSA register number 114276.
 
  
 
 If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click 
http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the 
information on other jurisdictions.
 
     
                                       

       

Kirim email ke