Hore, Hari Baru! Teman-teman. Sering kali kita menganggap bahwa krisis identitas diri hanya menjangkiti kaum remaja. Kita mengira usia remaja adalah masa-masa labil setiap jiwa. Sehingga begitu banyak pertanyaan yang membingungkan dibenak kaum muda. Sedangkan jawabannya tidak selalu bisa ditemukan dengan mudah. Apalagi ketika kebingungan itu sampai kepada pertanyaan tentang mengapa kita ini dilahirkan? Tetapi, apakah benar bahwa krisis identitas diri itu hanya menjangkiti mereka yang masih belia? Betulkah kita yang merasa diri sudah dewasa ini sudah tidak lagi digerayangi oleh krisis semacam itu? Atau, jangan-jangan; bagi orang-orang dewasa seperti kita, krisis itu sudah menjangkit secara kronik? Dan menjelma menjadi derita yang tiada kentara?
"Jadi kita mau nonton apa, nih?" Tanya saya. "Emh ." Istri saya masih menimbang-nimbang. "Kalau Ayah maunya apa?" katanya. Kami kurang antusias karena film baru yang ingin ditonton ternyata belum diputar dibioskop itu. Maklum, kami langsung menuju ketempat itu tanpa survey terlebih dahulu. Sayangnya, tak satupun dari sederet film yang sedang diputar menggugah selera saya. Biarpun begitu, akhirnya kami sepakat juga untuk memilih The Nanny Diaries. Tidak ada ruginya juga, kan? Kalau ternyata filmnya tidak menarik, ya tinggal keluar saja nantinya. Ternyata saya salah. Film itu sangat memikat sejak awal hingga akhir. Dan bagian paling mengesankan bagi saya adalah segmen awal ketika Annie Braddock yang baru menyelesaikan kuliah itu menjalani interview di sebuah perusahaan keuangan terkemuka di Amerika. Sang pewawancara membuka percakapan dengan mengatakan bahwa perusahaan menerima delapan ribu surat lamaran; padahal hanya ada sepuluh lowongan kerja yang tersedia. Jadi, pasti orang terbaik sajalah yang mendapatkan kesempatan itu. Dan perusahaan ingin mengetahui, siapakah orang terbaik itu. "Now," katanya, "Can you explain who Annie Braddock really is?" Jika anda sudah menonton film itu, anda tentu masih ingat bagaimana raut wajah Annie mendengar pertanyaan sederhana itu. Dia bilang; itu pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab. "I am Annie. Annie Braddock." Lanjutnya. Masih dengan percaya diri yang tinggi. Namun, pada detik berikutnya "I am ehm " dia mulai tergagap. "I h ". Sang pewawancara menatapnya sambil tersenyum. Dia tahu anak itu tidak akan bisa menjawab pertanyaannya. "I em, execuse me .." Annie bangkit dari kursi; lalu pergi meninggalkan sang pewawancara. Dalam perjalanan pulang Annie masih tidak mengerti; jawaban apa yang harus diberikan atas pertanyaan itu. Who Annie Braddock really is? Annie Braddock adalah potret kita dimasa lalu. Ketika baru lulus sekolah, kurang lebih seperti itulah diri kita. Polos. Lucu. Dan lugu. Mungkin juga agak dungu. Anehnya, meski itu sudah bertahun- tahun lamanya berlalu; ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa setelah dewasapun kita masih membawa-bawa krisis itu. Untuk mengujinya, mari kita bercermin barang sesaat. Jika kita masih mengharapkan pujian atas kebajikan-kebajikan yang kita lakukan; maka itu adalah salah satu indikasi bahwa kita masih terjangkiti krisis percaya diri. Berapa banyak orang yang merasa kesal hanya karena orang lain lupa memberi pujian? Betapa banyak orang baik yang kapok memberikan bantuan hanya gara-gara orang yang dibantunya tidak mengucapkan kata `terimakasih'. Betapa banyak dermawan yang mengharuskan namanya untuk disebutkan melalui pengeras suara atau dituliskan disurat kabar untuk sejumlah sumbangan yang diberikannya. Orang-orang yang tidak mengalami krisis identitas diri tidak mengkhawatirkan pujian orang lain. Mereka yang identitas dirinya sudah jelas, tidak silau dengan ucapan terimakasih. Dan mereka yang sudah menemukan identitas dirinya; bahkan tidak mengharapkan orang menyebut namanya ketika sejumlah sumbangan diberikan. Sebab, orang- orang seperti itu memahami benar bahwa identitas diri sama sekali bukanlah label yang diberikan oleh orang lain kepada dirinya; sehingga dia menjadi sosok yang begitu terkenal. Bagi mereka, identitas diri adalah atribut yang mereka tabungkan sehingga ketika suatu saat kelak sang pewawancara mengatakan; "Can you explain who Annie Braddock really is?" mereka bisa menjawabnya dengan baik. Dan, kali ini; wawancara itu bukan untuk mencari pekerjaan, melainkan mencari jalan untuk pulang. Sedangkan sang pewawancara itu tiada lain kecuali wakil yang ditunjuk oleh sang Tuhan. Bisakah anda membayangkan, seandainya kita datang menghadap sang khalik kelak? Dipintu gerbang rumahNya yang maha indah Dia mengirim utusan untuk bertanya kepada anda; `maaa anta?' Siapa sih loe? Lalu, seperti Annie Braddock, kita gelagapan untuk mencari jawaban. Seorang Annie Braddock, masih bisa pulang dan mencari pekerjaan lain meskipun itu berarti dia harus menjadi seorang nanny. Tetapi, adakah U-turn sesudah melewati pintu mati? Kita semuanya tahu bahwa disana, konon hanya ada dua pilihan tempat untuk bermukim. Yaitu; tempat yang sangat menyenangkan dan yang amat menyakitkan. Ketempat menyenangkan itulah kita hendak bermukim saat kembali pulang. Masalahnya, tempat itu diperuntukkan hanya bagi orang-orang yang memiliki identitas diri yang jelas. Yaitu, mereka yang memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Maka dari itu, orang-orang yang sadar akan hari setelah kematian sangat berhati-hati dengan setiap bisikan hati. Sebab, mereka tahu bahwa bisikan hatilah yang menentukan antara benar dan salah. Hitam dan putih. Rahmat dan siksa. Misalnya, ketika mereka hendak bersedekah, hatinya berkata; berikanlah hak mereka tanpa syarat. Tak lama kemudian hatinya kembali berbisik; eit, tunggu dulu. Ini kesempatan bagimu untuk dikenal orang sebagai sang dermawan. Hasil akhir kedua bisikan itu sama; tindakan memberikan derma. Namun, nilai keduanya berbeda. Jaman sekarang, krisis identitas diri itu sudah menjadi semakin aneh saja. Pada musim-musim terntentu; sering sekali muncul wajah-wajah, dan nama-nama pembawa kebajikan. Penyeru pebaharuan. Dan segala macam gerakan kemanusiaan lainnya. Tidak cukup sampai disitu, manusia dewasa seperti kita; sering merasa tidak puas dengan ketenaran yang kita miliki. Sehingga, saat menolong orang lainpun kita masih bisa sambil terkekeh-kekeh. Kita senang melihat orang- orang berlarian untuk berebut recehan yang kita lemparkan. Semakin itu heboh, semakin itu indah. Sekarang, untuk mendapatkan sedekah seribu rupiah saja orang harus saling menginjak. Berlari dari ujung lapangan yang satu keujung lapangan yang lainnya. Sementara sang penderma berada dikendaraan yang berputar-putar sambil terus menerus melemparkan lembaran demi lembaran uang untuk diperebutkan. Maka, acara berderma berubah menjadi iklan sekaligus tontonan. Ketika saya kecil dulu, guru ngaji saya pernah bilang; "Kalau berbuat kebajikan itu tidak perlu ribut-ribut. Bahkan, ketika tangan kanan engkau memberi sedekah, tangan kirimu tidak perlu tahu." Sekarang, banyak orang yang merasa dermanya kurang afdhal jika tidak disertai kehebohan, liputan media masa, atau upacara. Orang-orang yang mengharapkan pujian; pasti akan mendapatkan pujian. Jika mereka mengharapkan pujian dari sesama manusia; pasti akan mereka dapatkan. Memangnya siapa sih orang yang tidak bersedia memuji orang-orang dermawan yang sudah memberinya sejumlah sumbangan? Sedangkan orang-orang yang mengharapkan pujian Tuhan, pasti Tuhan tidak akan membiarkannya bertangan hampa. Dan itu, sudah cukup untuk mengumpulkan jawaban ketika Dia bertanya; `maaa anta?' Siapa sih loe? Hore, Hari Baru! Dadang Kadarusman http://dizhang.multiply.com/ http://www.dadangkadarusman.com/ Catatan Kaki: `Siape sih Loe?' bukanlah pertanyaan tentang data diri seperti yang tertera dalam akte kelahiran. Melainkan tentang atribut kepribadian sang pemilik nama; atas seberapa berkualitas, dan seberapa ikhlasnya dia.
