--- On Fri, 6/13/08, Vie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Vie <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: FW: Say NO to puyer!!!
To: "Merry Triwanti" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, June 13, 2008, 2:19 AM

 Hati2 ama puyer...

 






 












 
FYI...... 

Tahukah anda ? 

May 5, '08 10:20 AM 

Say NO to Puyer! 

Sabtu kemarin, tanggal 3 Mei 2008, aku ikut seminar kesehatan, dengan tema : 
Seminar dan Diskusi Pakar : Puyer, 
Quo Vadis? Sepintas, nggak ada yang aneh sama judulnya.. kelihatannya cuma 
'oohh tentang puyer'. Siapa sih nggak kenal puyer? Dari jaman kita 
masih kecil, sampe sekarang kita punya anak, dokter kan sering meresepkan puyer 
buat kita. Jadi, kenapa musti dibuat seminar khusus?? 

Menilik para pembicara... hmmm... 

1. Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK (Departemen Farmakologi FKUI) 

2. Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Departemen Farmasi FKUI) 

3. Dr. Moh Shahjahan (WHO) 

4. dr, Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (Yayasan Orang Tua Peduli)
 

Kemudian ada diskusi yang diikuti para panelis dari YLKI, IDI Jakarta, 
Pembicara, Majelis Kode Etik Kedokteran, Dirjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat 
Kesehatan Depkes. 

Jelas ini seminar penting. Pesertanya lumayan banyak, ada dari mahasiswa FKUI, 
dokter2, apoteker2, dan juga 
masyarakat awam. Pesertanya sekitar 300 orang. Makin penasaran, hal yang begitu 
biasa diseminarkan, dengan dihadiri para ahli pula?? 

Dari seminar ini, aku lumayan terhenyak dengan penjelasan dari Prof Rianto. 
Sebenernya aku udah tau sih, puyer itu polifarmasi, yang akan meningkatkan efek 
samping obat, yang dosisnya jadi nggak jelas, yang meningkatkan risiko 
interaksi obat, de el el. Tapi penjelasan Prof Rianto lebih membuka mata 
terhadap risiko puyer yang nggak main-main. Apa aja sih risiko pemberian puyer 
itu : 

1. Menurunnya kestabilan obat - kenapa? 
karena obat-obatan yang dicampur tersebut punya kemungkinan berinteraksi satu 
sama lain.
 

2. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai sasaran krn proses 
penggerusan. Ada obat yang sedemikian rupa dibuat, karena obat 
tersebut akan hancur oleh asam lambung. Karena misalnya, obat itu ditujukan 
untuk infeksi saluran pernapasan atas, maka obat tersebut harus dibuat sehingga 
terlindung dari asam lambung. Nah, kalo digerus jadi puyer, ya obat itu akan 
segera hancur kena asam lambung. Lebih buruk, obat itu bisa jadi malah akan 
melukai lambung. 

3. Dosis yang berlebihan - dokter kan nggak mungkin apal sama setiap merek 
obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter meresepkan 2 merek obat 
yang berbeda, namun kandungan aktifnya sama. 

4. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan efek samping - karena 
berbagai obat digerus jadi satu (Prof Rianto menyebutkan, ada dokter 
yang meresepkan sampai 57 obat dalam 1 puyer!!!), dan terjadi reaksi efek 
samping terhadap pasien, akan sulit untuk melacak obat mana yang
 
menimbulkan reaksi, lha wong obatnya dicampur semua... 

5. Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi tulisan dokter bisa jadi nggak 
kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat salah peracikan 
(Prof Rianto mencontohkan pasien asma diberi obat diabetes karena apoteker 
salah baca tulisan dokter. Alhasil pasien seketika pingsan, dan saat 
sadar, fungsi otaknya sudah tidak bisa kembali seperti semula). 

6. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau diblender, sehingga akan ada sisa 
obat yg menempel di alatnya. Berarti, puyer yang diberikan ke 
pasien, dosisnya sudah berubah - jadi.. kalo yang diresepin itu AB, tetep akan 
ada kemungkinan resistensi dong ya, kan dosisnya udah di bawah dari 
yang diresepin dokter? 

7. Proses pembuatan obat itu kan harus steril, istilahnya harus dibuat dalam 
ruangan yang jumlah kumannya sudah disterilkan (istilah kerennya 
sterile room) - lha waktu proses pembuatan puyer di apotek... hmmm
 di dalem sterile room kah? Apotekernya pake sarung tangan kah? Sisa obat 
lain yang sebelumnya digerus, sudah dibersihkan dengan benarkah? Kalo itu semua 
jawabannya tidak (atau salah satu aja jawabannya tidak), means, obat 
yang digerus sudah tercemar. 

Yang paling mengerikan : ada obat yang sengaja dibuat slow release, artinya 
dalam 1 tablet yang diminum, itu akan larut sedikit demi 
sedikit di dalam tubuh. Kalo sudah digerus jadi puyer, obat itu akan seketika 
larut. Kebayang kan , berarti akan ada efek dumping... mampukah tubuh 
kita menahan efek itu? Sementara, yang biasa dikasih puyer kan bayi dan 
anak-anak... mampukah tubuh kecil mereka menahan efek ini..?? 

Lebih terhenyak lagi, saat Dr. Moh Shahjahan dari WHO menceritakan bawa untuk 
Asian Region, cuma Indonesia yang masih pake puyer. Even Bangladesh , yang 
miskin itu, sudah lama meninggalkan puyer, karena dinilai terlalu banyak risks 
nya ketimbang benefitnya.
 

Sayang, dari seminar tersebut, para dokter sendiri masih pro dan kontra 
mengenai puyer. Kebanyakan yang pro puyer, hanya menyoroti soal murah dan mudah 
( kan pasien kecil susah minum obat)... tapi kalo sudah membahayakan jiwa... 
masihkah bisa berlindung di balik alasan2 tersebut?? 

So far, yang bisa dilakukan hanyalah menyadari konsumen yang bijak. Bukan 
dokter yang akan menanggung efek sampingnya.. .tapi anak-anak kita.. jadi 
bijaklah dalam memutuskan apapun yang harus diminum oleh anak... 

dr. Purnamawati menyarankan: 

1. tanya diagnosa dalam bahasa medis, setiap kali kita berkunjung ke dokter 
(ternyata radang tenggorokan itu bukan diagnosa, tapi gejala... hiks..), supaya 
kita bisa browsing di internet mengenai penyakit tersebut 

2. tiap kali diberi obat (atau resep) 
tanyakan nama obatnya, kegunaan obat tersebut, dan efek sampingnya. Usahakan, 
sebelum ditebus, browsing dulu di internet, supaya kita 
benar2
 tahu apa kandungan aktif dari obat tersebut dan apa efek sampingnya. 

Selama kita masih bisa ke dokter, dan dokter masih sempet nulis resep, artinya 
keadaan belum emergency. Jadi sempatkan untuk browsing 
dan/atau cari 2nd opinion. Kalo keadaan emergency, pasti dokter gak akan nulis 
resep, tapi akan segera merujuk ke RS, bukan? 

Soal obat, aku punya pengalaman, dikasih obat penahan rasa sakit sama dokter 
(saat itu aku menderita abses peritonsillar 
- di dokter ke 3 baru berhasil dapetin diagnosa ini, 2 dokter sebelumnya cuma 
bilang radang tenggorokan) , yang ternyata efek 
sampingnya : penurunan kesadaran, halusinasi, pendarahan lambung... Jadi, ndak 
usah ditebus 
aja lah... masih bisa kok nahan sakit sebentar lagi. 

Semoga, berawal dari seminar ini, dunia kesehatan Indonesia bisa lebih berbenah 
diri, demi anak-anak Indonesia . 



       *****"This message is intended only for recipients 
who are authorized to receive it. It contains confidential and/ or legally 
priveleged information belong to PT INDOSAT Tbk ("INDOSAT"), therefore the 
authorized recipients shall  protect this confidential information 
disclosed pursuant to provisions of Indosat's
 policy.If you are not a valid recipient of this message, please delete it from 
your system and/ or destroy all of the tangible material produced from the 
information herein together with all copies or reproductions thereof and notify 
the sender immediately. Please also be notified that any disclosure, copying, 
distribution or taking any action based on the contents of this message is 
strictly prohibited and may be unlawful".*****
 














      


      

Kirim email ke