--- On Thu, 6/19/08, Santoso Joseph <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: Santoso Joseph <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Fw: [MC-ers] OOT : Dikejar-kejar Polisi dari Blok M
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Thursday, June 19, 2008, 6:06 PM
> --- On Wed, 6/18/08, Budi Supriadi
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: Budi Supriadi <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [MC-ers] OOT : Dikejar-kejar Polisi dari Blok M
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Date: Wednesday, June 18, 2008, 10:57 PM
> 
> saya dapat forward email dr tmen saya di JKT. Semoga hal
> ini bermanfaat) Berikut
> isi email tsb…
>  
>  
> Teman-teman, semalam Rabu 18 Juni 2008 pk 21.30 wib saya
> mengalami kejadian
> yang semoga tidak akan pernah terjadi pada anda. Sepulang
> dari kantor pk 21.00
> wib saya memutuskan untuk mencari minum dan makanan kecil.
> Karena kantor di
> SCBD, saya memutuskan pergi ke Blok M di area sekitar
> gultik. Jalanan masih
> ramai dan seperti biasa, parkir padat. Mobil saya parkir di
> depan Grand Mahakam
> atau tepatnya di depan money changer di pojokan
> Barito-Mahakam.
> 
> Belum sempat saya turun karena harus mematikan ac mobil,
> cd, tiba-tiba dating
> seorang laki-laki yang meminta saya memperbolehkan dia
> memeriksa mobil saya.
> Saya segera teringat cerita adanya oknum petugas yang
> meletakkan narkoba di
> dalam mobil kita dan kemudian memeras kita dengan alasan
> menemukan barang
> bukti. Atas dasar hal tersebut, saya menolak permintaan
> orang yang bersangkutan
> dan memutuskan turun dari mobil dan segera mengunci pintu
> mobil. Di luar orang
> itu meminta KTP dan SIM saya serta STNK. Sara agak
> resistant karena menurut
> saya, tujuannya nggak jelas dan saya tidak melakukan
> pelanggaran apapun.
> Karenanya, saya berpikiran bahwa orang ini adalah preman,
> dan sayapun siap
> untuk melawan karena saya tahu pasti bahwa melakukan
> berbagai tindakan untuk
> membela diri adalah dibenarkan oleh KUHP. Saat itu saya
> telah siap dengan pisau
> lipat yang selalu saya bawa di kantong celana.
> 
> Saya memaksa orang itu untuk mengembalikan surat-surat
> saya, namun yang
> bersangkutan menunjukkan pistolnya, dan meminta saya
> melihat surat ID yang
> menunjukkn bahwa bersangkutan sebagai Polisi (tanpa pakaian
> dinas)dengan
> menutup bagian nama dengan ibu jarinya. Terlepas dari
> Polisi atau bukan, saya
> merasa saya akan berhadapa dengan orang bersenjata, dan
> akhirnya saya tawarkan
> satu-satunya duit yang tersisa di dompet sebesar Rp 100
> ribu. Dengan gaya
> preman orang yang mengaku Polisi ini menyatakan berbagai
> pasal yang menyatakan
> saya menyerang petugas, berbuat tidak sopan kepada petugas
> dan tidak kooperatif
> terhdap petugas yang sedang
> melakukan pemeriksaan. That's bullshit!
> 
> Sekali lagi saya berpikir kers bahwa tidak ada gunanya saya
> berdebat di area
> itu, karena in fact ada beberapa tukang parkir yang melihat
> saya bersitegang
> tapi tidak melakukan tindakan apapun. Saya pikir ini pasti
> praktek premanisme.
> Akhirnya saya bilang, dan meminta yang bersangkutan ikut
> saya ke ATM, saya akan
> beri dia uang sebesar yang dia minta. Saya menuju ke jalan
> Malewai degan harapan
> ada beberapa ATM di sana, namun saya tidak melihat ada satu
> polisi-pun yang
> biasanya berjaga di perempatan Malawai malam itu. Akhirnya
> saya pikir, lebih
> baik membuang SIM dan KTP, karena STNK mobil telah saya
> rebut, dan saya memacu
> mobil ke arah Senayan, dengan tujuan mencari Polisi (di
> Bunderan Senayan) atau
> kalau tidak ada Polisi saya akan masuk ke Tol.
> 
> Sayangnya di depan perematan Al-Azhar, lampu merah menyala
> dan tidak ada space
> untuk menerobos. Dengan terpaksa saya berhenti dan yang
> bersangkutan memberhentikan motornya di depan mobil sambil
> menodongkan pistol
> ke arah saya. Banyak mobil di belakang saya, tapi tak
> satupun bereaksi, dan
> yang bersangkutan meminta saya belok ke jalan gelap di
> sebelah kiri. Sebenarnya
> ada pikiran untuk menabrak yang bersangkutan beserta
> motornya, tapi saya
> berpikir bahwa hal tersebut akan berisiko, mengingat saya
> tidak memiliki saksi
> dan saya bisa didakwa menyerang petugas. Yang bersangkutan
> meminta saya menaiki
> motornya dan dia akan membawa mobil saya, namun saya
> menolak dan saya ingat
> betul bahwa surat-surat ID yang bersangkutan diletakkan di
> bawah jok motornya.
> Saya berpikir, setidaknya kalau dipaksa menaikin motor,
> saya punya ID yang bisa
> dijadikan alat bukti.
> 
> Akhirnya saya ikutin perintahnya untuk berhenti, dan yang
> bersangkutan
> mengambil STNK saya kembali. Untuk kunci mobil masih saya
> bawa. Yang
> bersangkutan memarkir motornya di depan mobil dan membuka
> pintu sebelah kiri
> depan dengan harapan bahwa saya tidak bisa kabur atau maju.
> Saat yang
> bersangkutan menelpon temannya, saya semakin merasa
> terancam. Dan saya pikir,
> mobilmemang tidak bisa maju, tapi bisa mundur. Dan dengan
> posisi dia berdiri di
> pintu, kalau mobil saya mundurkan, pintu akan menghajar dia
> dan tomtis menutup,
> sehingga saya bisa kabur. Akhirnya scenario itu saya
> jalankan, dan saya sempat
> mencoba menyerempet motornya untuk menghambat jalan orang
> itu jika dia
> mengejar. Si preman terjauh
> dan memukul kaca mobil (untung tidak pecah) dan saya kabur
> ke arah
> Markas Besar di jalan di depan Kejaksaan Agung. Lampu merah
> saya terobos dengan
> harapan saya bisa masuk ke Markas Besar, namun sayang jalan
> dan pintu tertutup.
> Akhirnya saya putuskan memacu mobil ke
>  arah bunderan Senayan (patung Pizza Man), dan kembal saya
> menerobos
> lampu merah kemudian memarkir mobil di pos polisi. Saya
> berteriak bahwa saya
> dirampok orang bermotor yang motornya di belakang saya.
> 
> Ternyata si Preman berani dan juga ikut berhenti di area
> pos Polisi
> bunderan Senayan dan dia menyatakan bahwa saya menyerang
> petugas. Saya
> sampaikan kepada petugas bahwa sya tidak melakukan tindakan
> apapun. Saya merasa
> terancm karena ada orang membawa pistol berusaha memeras
> saya dan membawa KTP,
> SIM dan STNK, bahkan berniat mengambil mobil saya. Beberapa
> menit kemudian,
> komandan Polisi yang melakukan patroli datang dan yang
> bersangkutan meminta
> surat-surat saya kepada si oknum dan mengembalikan kepada
> saya. Pak Komandan
> menyatakan bahwa orang itu dari kesatuan yang berbeda,
> berpangkat sersan dua
> dari kepolisian Jakarta Selatan. Pak Komandan juga sedang
> menghubungi
> atasannya. Pak Komandan meminta saya segera pulang dan
> menyatakan kalau ada
> apa-apa silakan hubungi polisi dan salah satu anak buahnya
> memberikan nomor
> hp-nya. Saya pikir, karena saya tidak memiliki saksi (saya
> berusaha menguhubngi
> beberapa teman untuk aya jadikan sebagai saksi tapi
> sayangnya nggak ada yang
> angkat panggilan hp saya. Saat itu waktu menunjukkan Pk
> 23.18).
> 
> Karena saya pikir situasi saya juga sulit (tanpa saksi) dan
> secara
> logika, melaporkan pelaku yang bukan Polisi kepada Polisi
> aja susah,
> apalagi melaporkan oknum Polisi kepada Polisi, saya
> putuskan untuk
> kembali pulang ke rumah. Satu hal yang saya sesalkan, saya
> memberikan
> kartu nama saya kepada 2 orang Polisi karena yang
> bersangkutan meminta.
> 
> Buat teman-teman yang semalam sekitar Pk 21.30 - 23.00
> melihat mobil
> hitam ngebut menerobos lampu2 merah di area Blok M dan
> mungkin melihat ada
> mobil hitam berhenti di depan Al Azhar dengan seorang
> berpistol menodongkan
> senjata ke arah mobil, itu adalah saya.
> 
> Seharusnya Pihak Kepolisian yang membaca e-mail saya ini
> dapat menindak petugas
> tersebut tanpa melalui prosedur laporan, dengan meminta
> keterangan Polisi-polisi
> yang pada jam tersebut bertugas di Bunderan Senayan,
> mengingat akan sangat
> berbahaya jika membiarkan seorang oknum berpangkat Sersan
> Dua melakukan
> tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh Petugas,
> mengancam, memeras
> seperti layaknya preman.
> 
> Buat teman-teman, saran saya kalau berkendaraan sendiri,
> sebaiknya
> jangan berhenti di area-area yang rawan pemanisme. Cepat
> pulang, anak
> istri menanti di rumah.
> 
> Thanks and Best Regards,
> Heryadi Indrakusuma
> PT ABN AMRO Manajemen Investasi | Compliance | +62-21
> 515-6356
> 
> ------------------------------------
> 
> Jangan Ngomong MARKETING kalau belum baca MAJALAH MARKETING
> !!!Yahoo! Groups
> Links
> 
> 
> 

      

Kirim email ke