Dalam banyak kesempatan; baik dalam seminar, pelatihan atau sesi coaching. Pertanyaan yang paling sering ditanyakan baik secara langsung ataupun via email adalah tentang bagaimana "mengatasi" anak (terutama balita. red.) yang sulit diatur. Bila orangtua sedang dalam kondisi senang mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Bagaimana jika ketika anak terus merengek, sedangkan orangtuanya sediri dalam keadaan lelah?
Jawaban klasik yang hampir selalu saya diberikan adalah : "Orangtua pernah memiliki pengalaman menjadi anak; sedangkan anak belum pernah memiliki pengalaman menjadi orangtua. Alangkah bijaknya jika orangtualah yang mengerti anaknya. Bukan sebaliknya, meminta anak mengerti orangtuanya." Saya mengetahui bahwa banyak penanya yang kurang puas dengan jawaban tersebut; sebagian besar mengharapkan diberikan sebuah teknik ataupun metode yang sifatnya praktis. Cukup lama saya berusaha mencari cara lain untuk menyampaikan pesan di atas. Hingga kemarin malam saya mendapatkan kiriman sebuah puisi karya Gabriela Mistral yang mendapatkan penghargaan Nobel untuk kategori puisi. Silahkan dinikmati. A Poem from Gabriela Mistral Untuk anakku Tanganku sibuk sepanjang hari, Aku tak punya banyak waktu luang Bila kau ajak aku bermain, Ku jawab," Ayah tak sempat, Nak". Aku bekerja keras semua untukmu, Tapi bila kau tunjukkan buku ceritamu Atau mengajakku berbagi canda, Ku jawab," Sebentar Sayang" Di malam hari, kutidurkan kamu. Kudengarkan doamu, kupadamkan lampumu. Lalu berjingkat meninggalkanmu Kalau saja aku tinggal barang satu menit lagi Sebab hidup itu singkat, tahun-tahun bagai berlari Bocah cilik tumbuh begitu cepat, kamu tak lagi berada di sisi ayah Membisikkan rahasia-rahasia kecilmu, buku dongengmu entah dimana Tak ada cium selamat malam, tak kudengar lagi doamu Semua itu milik masa lalu Tanganku dahulu sibuk, sekarang diam Hari-hari terasa panjang membentang Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu Menyambutmu hangat di sisiku Memberimu waktu dari hatiku Kita melakukan banyak kekeliruan dan kesalahan, tapi kelalaian kita yang utama Adalah mengabaikan anak, menyepelekan mata air kehidupan Banyak kebutuhan kita dapat ditunda, tapi anak tak dapat menunggu Kini saat tulang-tulangnya dibentuk, darahnya dibuat, dan nalurinya dikembangkan Padanya kita tak dapat menjawab "Besok", sebab ia dijuluki "Hari ini" (Gabriela Mistral ; Children Winner of Nobel Prize For Poetry) Adi Putera Widjaja ([EMAIL PROTECTED]) - Pemilik Leaders International Pre School
