* Ini adalah kelanjutan dari
serial 23 Rahasia Keberhasilan Michael Jordan
 

  
 

Rahasia #6 : Penyebab banyak orang tidak berhasil, karena mereka tidak
punya cukup sarana dan disiplin diri untuk berusaha mencapai cita-cita itu.
 

  
 

Disiplin
diri adalah melakukan apa yang harus dilakukan, melakukannya pada saat memang
harus dilakukan. Melakukannya sebaik mungkin, dan melakukannya dengan cara
demikian setiap waktu. MJ identik dengan disiplin diri, bukan
kadang-kadang, bukan sering tapi setiap waktu.
 

  
 

Tahun 1988 untuk pertama kalinya MJ terpilih sebagai MVP
All-Star. Dan MJ telah naik status menuju mega bintang. Tetapi riwayatnya masih
kekurangan satu keberhasilan, seperti para legenda NBA lainnya. Dia belum
membuat timnya menjadi juara.
 

  
 

Komentar MJ setelah mendapat gelar MVP: 
 

Apa yang dulu memisahkan aku dari Larry Bird dan Magic
Johnson, adalah mereka memiliki gelar juara dan gelar pribadi. Jadi itu
mendorongku berbuat lebih dari yang lain. 
 

  
 

Berkat disiplin
diri meraih gelar juara & Bintang NBA
 

Walau dengan kehebatan individunya, MJ belum bisa
membuktikan bahwa MJ bisa membawa timnya meraih gelar NBA. Dan saat MJ mencoba
menanjak menuju puncak NBA, MJ menemukan satu rintangan yang selalu
menghalanginya. Betapa sulitnya bagi MJ bila berhadapan dengan Pistons. 
 

  
 

Selama 3 tahun berturut-turut, Bulls bertemu Piston di
babak Playoff. Dan selama 3 tahun beruntun itu, MJ dan Bulls kalah dengan
menyakitkan. MJ hampir dibuat frustasi dengan kekalahan itu. 
 

  
 

Dan saat itu, Piston memasuki final, untuk ketiga kalinya
secara berturut-turut. Setiap tahu rasa frustasi MJ semakin mendalam, apalagi
ada kabar semakin merebak bahwa MJ hanya bermain sendiri, dan tidak bisa
mengangkat penampilan timnya. MJ saat itu dijuluki sebagai pemain pencetak
angka tapi tidak bisa juara. 
 

  
 

”Aku merasa begitu kecewa setiap kali, setiap kali
menghadapi rintangan ini dan kami tidak bisa melewatinya.”, komentar singkat
MJ. 
 

  
 

Saat musim 1991 dimulai, MJ tahu saatnya perubahan
diperlukan, jika Bulls akhirnya ingin memenuhi takdir mereka. MJ mulai berbuat
sesuatu, dia membantu mengembangkan kemampuan rekan-rekannya. MJ dan 
rekan-rekannya
semakin keras dan disiplin dalam berlatih mengasah keahlian. Dan kepemimpinan
MJ mulai bertumbuh. 
 

  
 

MJ siap melakukan apapun agar Bulls meraih gelar juara.
Akhirnya MJ fokus agar rekan timnya lebih terlibat dan memaksimalkan
bakat-bakat mereka. Ibaratnya semua yang Bulls butuhkan, MJ akan
menyediakannya. Itulah tantangan yang diambil oleh MJ. 
 

Dan kembali ke final wilayah, mereka menemukan Pistons
menjadi lawan mereka. Tapi kali ini keadaannya berbeda. MJ akhirnya membalas
kritik para penonton dan media massa di lapangan basket. Bulls berhasil menyapu
bersih 4-0. 
 

  
 

Dan akhirnya Chicago Bulls maju ke babak final kejuaraan
NBA.  
 

Saat MJ tiba di Final NBA, pemilihan waktu MJ sempurna. MJ akan
menghadapi Magic Johnson dan LA Lakers, dalam perjalanan terakhir Magic di
babak final. Bertemunya MJ vs Magic yang ditunggu-tunggu penonton dan media
massa. Mereka mengibaratkan Air Jordan melawan Magic Man. 
 

  
Sekedar diketahui Magic Johnson memimpin Lakers ke-8
gelar juara di tahun sebelumnya. Jika MJ ingin mewarisi takhta Magic sebagai
mega bintang NBA, sekaranglah waktunya dan semua dunia akan melihatnya.  

  
 

Komentar MJ: Aku merasa ada satu tekanan tersendiri, aku
akan melawan salah satu pemain terhebat di bola basket, dan aku ingin
mengalahkan dia. 
 

  
 

Dengan kesempatan ada di depannya saat itu, MJ siap
menghadapi tantangan tsb. 
 

Hasilnya, MJ mengangkat prestasi rekan timnya dan Chicago
berhasil mendominasi Lakers. MJ dan Bulls akhirnya berhasil meraih gelar juara
pertama mereka di tahun 1991. Dan obor supremasi NBA telah dioperkan dari
Johnson kepada Jordan. 
 

Selama 7 tahun yang panjang (1985-1991) MJ telah mengejar
gelar NBA, dan sekarang MJ akhirnya mencapai tujuannya. MJ dan Bulls akhirnya
mengangkat bendera juara.
 

  
 

Point penting untuk topik ini:
 

MJ gagal
beberapa kali saat mencoba meraih gelar, membuat banyak orang bisa memahaminya,
yang berarti MJ bukan sebagai mesin. Semua orang pernah gagal, dan
melihat MJ gagal, dan merasakannya begitu dalam, menimbulkan simpati bagi para
penonton. Uniknya hal tsb. malah menaikkan citranya di benak banyak orang. 
Dengan
penuh disiplin diri, MJ terus mengasah kekuatannya, hanya karena tidak mau 
pengalaman
kegagalan tsb terulang lagi. Dan disaat kemenangannya ini, semua orang larut
menikmati kemenangan MJ. Saat MJ berhasil mewujudkan kemenangan di NBA, MJ naik
ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. 

 

  
 

[bersambung]
 


 
 


 
 


Salam
Focus,
 


 
 


Markus Tan
 


>
Licensed Practitioner of NLP (The Society of NLP) 
 


> Master
Trainer Bestcamp – To Be Number One
 


> www.best-camp.com


      

Kirim email ke