Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Mungkin anda pernah mendengar ungkapan berikut ini: "If you are not 
in the table, you will be in the menu." Jika anda tidak duduk dimeja 
makan, maka anda akan menjadi menunya. Tentu kita sepakat bahwa 
lebih baik duduk dimeja makan daripada menjadi menunya, bukan? 
Namun, namanya juga ungkapan; tentu bukan pesan harfiahnya yang 
perlu kita perhatikan. Melainkan `makna sesungguhnya' dari pesan 
itu. Jadi, apa sih sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan 
ungkapan itu? Kira-kira demikian; didalam dunia yang penuh 
persaingan ini, kita tidak bisa tinggal diam - menunggu seseorang 
melakukan sesuatu untuk kita. Kita sendirilah yang harus mengambil 
tanggungjawab itu. Karena, jika kita diam saja; maka kita ini tidak 
ubahnya seperti menu makanan yang terbaring pasrah dimeja makan. 
Ingat nasib menu dimeja makan? Tentu. Sebentar lagi dia akan 
dikunyah. Ditelan. Dan dua belas jam kemudian akan dibuang dalam 
bentuk yang anda tidak ingin melihatnya. Dengan kata lain, jika kita 
berdiam diri saja; pihak lain akan mengambil manfaat yang bertebaran 
disekitar kita. Sementara mereka menjadi sejahtera; kita hanya bisa 
menjadi objeknya saja. Kita tidak ingin mengalami hal sedemikian, 
bukan?

Pagi itu saya bermaksud untuk menikmati sarapan. Saya memilih untuk 
menyantap soup berisi sayuran. Asyiknya, saya boleh memilih jenis 
sayuran apa yang hendak diramu dalam soup itu. Meletakkannya dalam 
mangkuk. Lalu menyerahkannya kepada sang koki yang dengan sigap akan 
memasakkan soup itu hanya dalam 3 menit saja. Pagi itu, gerakan saya 
agak terhenti, karena sayur favorit saya tidak ada. Lalu, saya 
bertanya; "Wah, tauge-nya tidak ada ya Pak?" Si koki tersenyum lalu 
menjawab:"Maaf Pak, taugenya sedang kosong…." katanya. Tanpa sayuran 
yang banyak mengandung vitamin E itu, saya merasa soup itu kurang 
lengkap. Tapi, mau bagaimana lagi? Akhirnya saya menerima saja 
keadaan itu.

Sesaat setelah saya menyerahkan mangkuk berisi sayuran pilihan itu, 
sang koki berkata. "Sebenarnya ada sih taugenya Pak…," katanya. Dahi 
saya mengerut. Sambil berbisik didalam hati; `maksud elo….?' "Tapi," 
koki tersebut meneruskan "hanya tauge lokal, Pak.." katanya.

"Tauge lokal bagaimana?" saya bertanya.
"Iya, Pak, lokal. Bukan tauge import." 

Bisakah anda membayangkan itu? Seorang koki berkebangsaan Indonesia. 
Bekerja di hotel berbintang lima yang berlokasi di Indonesia. 
Melayani klien yang berbahasa Indonesia. Merasa menyesal untuk 
memberikan tauge hasil kerja keras petani Indonesia. 

Bagi saya, kenyataan ini cukup memilukan. Karena, ini menunjukkan 
bahwa sikap inferioritas kita sudah sedemikian kronisnya sehingga 
untuk urusan barang senilai tauge pun kita tidak memiliki 
kepercayaan diri yang cukup. Dengan ungkapan diatas itu, 
sesungguhnya saya ingin menekankan kepada diri saya sendiri tentang 
betapa pentingnya untuk bersikap proaktif, dan berani mengambil 
resiko untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri. Bukan berdiam diri 
saja sambil menyerah pasrah atas tindakan apa saja yang akan orang 
lain timpakan pada diri saya. Jadi, lebih baik duduk dimeja makan 
daripada menjadi menu yang tersaji diatas meja makan itu. Tetapi, 
kejadian dipagi itu, menjadikan mata saya terbuka lebar, bahwa; 
bangsa ini sedang mengalami krisis yang begitu kritis dimana 
jangankan untuk duduk dimeja makan, bahkan untuk 'menjadi menu 
diatas meja makan itu pun' ternyata tidak memiliki cukup nyali.

Jujur saja. Saya sedih. Sedih sebagai anak bangsa. Sedih sebagai 
anak petani. Dan sedih sebagai anak manusia yang sangat menyukai 
tauge. Tetapi, kesedihan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, 
katanya bukan? Baiklah. Jika demikian, hikmah apa yang bisa kita 
bawa pulang? Mari kita camkan hal berikut ini: 'Jangankan untuk 
duduk dimeja makan, untuk menjadi menu yang tersaji dimeja makan pun 
dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan'. Sehingga, kita tidak 
mempunyai pilihan lain, selain menjadi yang terbaik dikelasnya. Jika 
kita ini adalah seorang tauge, maka menjadi tauge yang terbaik 
dibandingkan dengan para tauge lainnya adalah satu-satunya kondisi 
yang bisa menjadikan kita terpilih sebagai tauge pertama yang diberi 
kesempatan untuk menghiasi meja makan. Sebab, jika kualitas kita 
tidak cukup bagus – apakah itu karena persepsi orang lain, atau 
memang kenyataannya kita ini tauge jelek; maka tidaklah ada gunanya 
kita berharap bahwa seseorang akan memilih tauge dari jenis diri 
kita untuk menjadi bagian dari masakan prestisius yang disajikan 
seorang koki restoran.

Jadi? Jadi, ini bukan saatnya bagi kita untuk bermanja-manja, ya? 
Bahkan, bekerja dan berusaha saja tidaklah cukup rupanya. Jaman 
dahulu kala; mungkin kita bisa bilang 'sudah saya kerjakan'. Tapi 
sekarang, itu tidak lagi cukup. Anda bekerja. Saya bekerja. Mereka 
bekerja. Siapa yang pekerjaannya lebih baik? Dialah yang mendapatkan 
kesempatan. Sedangkan yang lain? Maaf, anda harus mengantri dalam 
waiting list. Jika orang lain masih ada; maka anda tidak akan kami 
pakai. Jika orang lain selamanya ada, maka anda selamanya akan 
terbengkalai. Jika orang lain terus menerus lebih baik dari anda, 
maka anda akan terus menerus pula terlunta-lunta. 

Oleh karena itu, sekarang kita mesti lebih sadar bahwa merasa 
berpuas diri itu bisa membahayakan. Ini sama sekali tidak 
berhubungan dengan keserakahan. Karena, konteks yang tengah kita 
bahas adalah tentang mengimbangi dunia yang penuh persaingan. Jika 
kompetitor kita lebih baik; mengapa kita masih merasa yakin bahwa 
seseorang masih akan mempertahankan kita? Jika ada pekerja yang 
lebih baik dari kita, mengapa kita masih mengira bahwa perusahaan 
akan terus mempekerjakan kita? Padahal, kita semua sudah tahu bahwa 
perusahaan manapun tidak ada yang mau berkompromi dengan pegawai 
yang tidak memiliki daya saing. Bahkan, kenyataannya sekalipun orang-
orang itu berkualitas tinggi; tidak jarang kena pengurangan juga. 

Coba saja perhatikan; banyak perusahaan besar yang akhir-akhir ini 
mengurangi jumlah karyawannya. Dan banyak petunjuk yang membuktikan 
bahwa itu tidak semata-mata dilakukan karena karyawannya kurang 
berkualitas. Memang, ada diantara mereka yang kurang bagus; tetapi, 
pengurangan karyawan secara masal lebih banyak disebabkan karena 
perusahaan itu sudah tidak lagi sanggup untuk mempertahankan 
semuanya. Jadi, suka atau tidak, mereka melakukannya. Jika sudah 
demikian; apa yang bisa kita lakukan? Demo? Boleh saja. Tetapi, jika 
perusahaan sudah menunjukan itikad baik dengan melakukan semua 
kewajibannya sesuai dengan undang-undang; apakah kita masih memiliki 
alasan untuk melawan?

Hey, ternyata masalahnya menjadi semakin kompleks. Bahkan, menjadi 
orang yang bagus pun tidak dijamin terus dipekerjakan. Jadi, apa 
gunanya punya kualifikasi bagus jika demikian? Bukankah lebih baik 
santai-santai saja? Toh, sudah kerja keraspun akhirnya terhempas 
juga. Sungguh sebuah pemikiran yang menggoda. Tapi hey, lihat. 
Berusaha untuk menjadikan diri kita memiliki daya saing itu masih 
jauh lebih menguntungkan. Jika perusahaan kita baik-baik saja; 
mungkin kita bisa mendapatkan bonus yang menggiurkan. Mungkin kita 
akan dipromosikan. Atau, setidaknya; kita bisa diandalkan. Jika 
perusahaan kita terpaksa harus melakukan penghematan; mungkin kita 
bisa dipilih untuk tetap dipertahankan. Jika itu pun tidak bisa, 
mungkin perusahaan lain akan menyukai kualifikasi yang kita miliki. 
Tidak rugi bukan? Kalau tidak ada yang mau juga? Mungkin apa yang 
kita bangun dan kembangkan selama ini bisa menjadi bekal bagi kita 
untuk hidup mandiri. Apa bedanya?

Jadi, bagaimana pun juga. Membangun kompetensi dan kualitas tinggi 
itu tetap lebih menguntungkan. Bukan hanya untuk meningkatkan daya 
saing kita. Atau berjaga-jaga jika situasi sulit menerpa kita. 
Tetapi yang lebih penting lagi adalah, kita bisa menunjukkan kepada 
sang pemilik jiwa bahwa; kita sudah mengoptimalkan semua yang 
diamanahkan-Nya kepada kita.

Hore, 
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Tidak soal apakah kita duduk dimeja makan, atau menjadi menu 
makanan. Sebab, keduanya membuktikan bahwa kita memiliki arti. Dan 
itu lebih baik daripada keadaan dimana  kita kehilangan peran bagi 
dunia yang kita huni. 


Kirim email ke