The art of Money
 
Ada kisah nyata di masa lampau seorang tua sebut saja tuan Ahmad, beliau 
seorang yang baik dan bijak. Pada suatu ketika tuan Ahmad mendengar ada seorang 
gadis yang shaleha dan ia pun ingin menyuntingnya karena tuan ahmad yakin 
dengan kuat bahwasanya ia mampu untuk itu,.
Pada saat yang bersamaan rupanya di rumah sang gadis tersebut pun kedatangan 
seorang pemuda yang bujang, gagah dengan niat yang sama.
 
Sejak awal kedatangan rupanya sang gadis tersebut hanya mendengarkan seorang 
muda itu, setiap pembicaraan seolah-olah tuan Ahmad hanya jadi pelengkap saja, 
mata sang gadis tersebut hanya melihat kepada pemuda dan hanya sesekali melihat 
ke tuan Ahmad.
 
Tiba saatnya topik pembicaraan ke soal uang. si pemuda kebenaran bekerja 
sebagai bendahara negara dan dia katakan tidak pernah lepas satu sen pun dari 
hitungannya dan selalu dengan hitungan yang tepat, dia berkeyakinan tentang 
uang seperti ini harus selalu dihitung dengan tepat setiap sen nya secara 
implisit kepada siapa pun si pemuda itu akan memperlakukan uang seperti ini. 
Tuan Ahmad mengatakan soal uang dengan lugu bahwasanya beliau hanya memberikan 
sekantong uang kepada isterinya dan tanpa pernah menanyakan untuk apa uang 
tersebut dan ia hanya percaya dengan isterinya.
 
Rupanya karena ini sang gadis jadi berbalik hatinya dan akhirnya menerima 
khitbah dari tuan ahmad, sang gadis menyatakan bahwa tuan Ahmad lebih dermawan 
dan ini yang ia sukai.
 
Ada seorang perempuan meminta nasehat Rasullullah Saw karena dia telah dipinta 
oleh dua orang yakni si A dan si B untuk menjadi isteri.    kemudian Rasullulah 
Saw menasehati agar tidak menikah dengan si A karena tongkatnya tidak pernah 
lepas dari isterinya (seseorang yang kasar) dan jangan juga dengan si B karena 
ia sangat fakir dan Rasullulah Saw menilai si wanita tadi tidak mampu bersabar 
dengan kefakiran si B ini.
 
tentang masalah keuangan ini ada sebuah riwayat bahwasanya Rasullulah Saw 
mengatakan agar tidak terlalu melepaskannya (boros) dan tidak terlalu 
menahannya (pelit).
 
Ada keluarga dimana suaminya bekerja dan uang selalu habis pada tanggal 5 
setiap bulannya. bukan karena gaji suami tidak cukup untuk hidup satu bulan 
namun karena sangat boros uang tersebut digunakan. kemudian lari lah ke kartu 
kredit yang akhirnya akan selalu dalam lingkaran hutang dan riba.
 
Islam tidak mengajarkan agar umatnya hanya makan nasi dan garam saja karena 
saking hati-hatinya menggunakan uang. perlu lah makan yang bergizi baik dan 
perlulah untuk ber rehat/ rekreasi jalan-jalan karena kalau bukan keluarga 
(anak isteri) untuk siapa lagi uang digunakan. di sinilah seninya.
 
Wallahu A'lam 
*Sumber penggalan ceramah di Radio Rodja AM 756 khz


Wassalam

 


      

Kirim email ke