Pak Sutha, guru kami yang ANEH !!! By MTA (Made Teddy Artiana) *Tulisan berikut didasarkan atas kisah nyata. Sama sekali tidak ada maksud buruk apalagi dengan sengaja melecehkan siapapun dan golongan manapun. Semata-mata hanya berusaha mengangkat kenyataan yang ada dalam suatu lapisan masyarakat. Kesamaan tempat, peristiwa dan nama adalah kebetulan belaka, karena semuanya itu adalah rekaan penulis.*
Perawakannya tinggi besar. Sering mengenakan kancing baju yang sengaja terbuka bagian atasnya, sehingga dadanya yang bidang tak tersembunyikan. Untuk ukuran seorang lelaki, ia sangat atletis. Walaupun rambut dikepalanya agak tipis, tapi itu tidak mengurangi ketampanan beliau. Humoris, masih bujangan dan punya status ekonomi yang mapan. Satu lagi, guruku yang satu ini punya sederet gigi yang putih bersih dan rapi, sehingga senyumannya otomatis sangat-sangat memukau. Tetapi sayang ia *gay*. Disini persoalannya. Dan ini sudah menjadi rahasia umum. Walaupun demikian, Pak Sutha tampak tenang-tenang saja dan sangat menikmati kehidupannya. Banyak cerita-cerita 'horor' yang menegakkan bulu kuduk, maupun cerita 'sendu' patah hati yang kami dengar tentang Pak Sutha. Cerita yang 'horor' datang dari beberapa senior kami yang sempat atau nyaris jadi korban nya. Sedangkan cerita 'sendu' kami dengar dari kawan-kawan sejawatnya, yang naksir berat tetapi kemudian patah hati setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Bahkan konon katanya, ada seorang guru wanita yang sempat stres berat karena memendam rasa sekian lama, dan kemudian merasa kaget setengah mampus, begitu tahu selera seksual Pak Sutha. Walaupun banyak kabar miring tentang beliau, tetapi kami murid-murid beliau cukup dekat dengan nya, karena memang ia adalah guru yang baik dan sangat pintar. Tak jarang dalam interaksi di kelas, gurauan-gurauan berbau gay pun nyeruak dan memancing tawa kami. Pernah waktu itu seorang teman lelaki yang bertubuh montok, kesulitan menjawab pertanyaan beliau. Reaksi sponton dari Pak Sutha adalah mencubit kedua pipi teman kami itu dengan gemas, sambil berkata, "Untung kamu lucu..kallo nggak …", konton seisi kelas pecah oleh tawa. Belum lagi cewek-cewek sekelas yang iseng nyeletuk , "Yah Si Arie udah nggak perjaka deh sekarang…..!", membuat suasana kelas semakin ramai. Sementara teman kami yang dicubit hanya bisa mengusap-ngusap kedua pipinya, sambil tersenyum kecut, bak habis diperkosa kecil-kecilan. Lain cerita Si Arie, lain pula dengan Jafar. Pernah suatu ketika teman kami yang bernama Jafar, yang memang terkenal super badung, dalam suatu kesempatan disuruh maju kedepan oleh Pak Sutha. Karena tidak dapat mengerjakan soal, Pak Sutha, yang kebetulan posisinya berada dibelakang, berjalan mendekat kearah teman kami tersebut, belum lagi ia mendekat, Jafar dengan segera menggerakkan kedua tangannya menutupi bokongnya, sambil bergurau, "Bapak, awas ya..jangan disini ahh..maluuu".. Karuan saja, kami sekelas tertawa terbahak-bahak, menyaksikan reaksi edan Jafar. "Ihh..sebel deh..kok gitu sihh kamu, nakal", kata Pak Sutha dengan tersipu malu dan wajah memerah. Kejadian-kejadian lucu seperti itu memang cukup sering terjadi di kelas, bisa dibilang hampir setiap mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa alias PSPB berlangsung, hal-hal seperti itu pasti ikutan nyelip didalamnya. Hebatnya, Pak Sutha tidak pernah sedikitpun mengisyaratkan ketersinggungan, menghadapi kebengalan-kebengalan kami anak didik nya. Paling banter reaksinya membalikkan badan, sambil tersipu malu atau melengos 'dengan manis' membuang muka kearah jendela. Pengalaman paling unik pernah kami alami ketika Ujian Tahap Akhir berlangsung. Teman kami bernama Krisna waktu itu dipanggil ke kantor guru oleh Pak Sutha. Hanya sekitar lima belas menit Krisna tampak ngeloyor lemas dari ruangan guru. Ada yang aneh. Sebenarnya kami sudah dapat menduga, mengapa ia dipanggil ke kantor guru. Memang ini bukan pertama kalinya Krisna dipanggil menghadap guru. Sudah tak terhitung jumlah bolak-baliknya Krisna melewati pintu kayu berwarna coklat itu. Mudah ditebak. Persoalan nilai, nggak jauh. Usut punya usut rupanya menurut Pak Sutha, nilai Krisna jauh dari persyaratan kelulusan. Entah ini sebuah muslihat atau memang keadaan yang sebenarnya sangat susah untuk membedakan. Memang sih Si Krisna ini terkenal rada bolot, dan hampir disetiap mata pelajaran, nilai yang ia peroleh pasti paling jeblok. Tetapi…ini persoalannya…Krisna sangat match dengan selera Pak Sutha. Mungil, putih, kecil..dan terutama..laki-laki ! Kabar yang seperti ini sebenarnya sudah menjadi makanan setiap enam bulan buat Krisna, tetapi jika itu keluar dari bibir Pak Sutha, ditambah lagi dengan himbauan "maen ke rumah Bapak", nah ini yang membuat otak Krisna yang tidak terbiasa berpikir itu, terpaksa bekerja lebih keras. Dulu, kalau mendengar peringatan ini dari guru-guru yang lain, ia biasanya keluar dari pintu itu dengan gaya petantang-petenteng ala raper negro, menghampiri kami sambil nyengir…"Biasaaaa Bosss…!". Tetapi kali ini, Krisna menampilkan ekspresi begitu memelas. Wajah putihnya, semakin terlihat putih, bahkan sudah keputihan, alias pucat pasi. Tangannya menjadi dingin, nyaris seperti mayat. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dengan bibir bergetar dan suara serak ia menghiba, "Ttt..tolo..ngin aku ya..". Kami semua terdiam membisu. Satu kaliat itu cukup bagi kami untuk mengerti kesulitan yang ia hadapi. Untuk mendaki Gunung Agung yang berpasir dengan udara sedingin es, kami tidak pernah gentar. Tersesat dalam lebatnya hutan baturpun pernah kami alami. Bahkan dalam sebuah pendakian di gunung Pangrango sana, kami sempat berhadapan dengan seekor macan kumbang, bahkan yang satu ini pun tidak membuat kami gemetar. Tetapi ke rumah Pak Sutha malam hari…oh noooo. Ini persoalan yang jauh lebih mengerikan dari kegiatan pencinta alam. Terlalu beresiko !!! Berbagai pikiran burukpun melintas di kepala. Bahkan cenderung berlebihan. Bagaimana jika kami berempat dijebak. Datang kerumah Pak Sutha berempat, sementara di dalam rumah sudah menunggu sepuluh orang berbadan kekar seperti Pak Sutha. Pagar terkunci. Lampu dimatikan. Dibius dan kemudian ….hiiiiiiii seraamm…. Rupanya Krisna sedikit banyak mengetahui apa yang kami pikirkan, pastilah tidak jauh dengan bayangan-bayangan miliknya. Karena itu ia terlihat semakin putus asa. Tangan kecil dan mulus, yang lebih mirip perempuan itu terlihat mengacak-ngacak rambut yang sudah acak-acakan. Kesal tidak mendapat jawaban, ia bangkit berdiri ingin meninggalkan kami. "Payah nggak setia kawan..cemen !!!", serunya jengkel. Mendengar umpatan Krisna kami segera tersadar, salah seorang temanku menarik tangannya dan menenangkan Krisna. Akhirnya kami memutuskan untuk menghadapi itu semua bersama-sama Sialnya, kami tidak sempat berpikir lebih jauh, karena batas waktu yang ditetapkan Pak Sutha adalah sekitar jam enaman. Strategi sebisanyapun kami siapkan. Plan A, kemudian Plan B..hingga kemungkinan siaga I bahkan tahap evakuasi alias melarikan diri. Batasan-batasanpun ditentukan, pegang pipi dan peluk-peluk, masih bisa ditolerir. Remas-remas tangan, masuk hitungan waspada. Pangku-memangku dan pegang-pegang paha, masuk area siaga I. Buka baju atau celana, berarti evakuasi alias kabuuuurrr !! Tetapi kami tetap harus tampil wajar, hingga tidak memancing kecurigaan. Akhirnya The Dream Team kami pun siap sudah. Aku dan seorang teman yang notabene adalah atlet taekwondoin pelatda bertugas.sebagai bodyquard. Seorang teman lagi yang jago nyetir bertugas untuk mengevakuasi kami secepat-cepatnya. Seorang lagi yang bertugas sebagai mata-mata, pengawas dipintu gerbang rumah Pak Sutha. Dan Krisna sebagai pemeran utama aatau lebih tepatnya objek penderita..alias..korban. Pada waktu yang ditentukan kamipun datang kerumah Pak Sutha. On time. Terus terang suasana waktu itu demikian tegang, saking tegangnya sampai-sampai kaki tangan kamipun terasa berkeringat. Pak Sutha menyambut kami dengan ramah. Tetapi itu semua tidak membuat kami lengah. Skenario awal dijalankan. Seorang stand by di mobil, seorang diteras depan, dan kami berdua mengawal Krisna. "Kris", panggil Pak Sutha,"sini dong deket Bapak, khan kamu yang mau belajar". Yang dipanggil, walaupun tersenyum kecut, terpaksa mendekat. Satu jam pertama belum terjadi apa-apa. "Pokoknya kamu semua tenang aja",rayu Pak Sutha,"karena kamu sudah mau nganterin Krisna ke sini, kalian pokoknya dapat nilau bagus deh, asal pegang rahasia". APAAAAAA ???!!! Wah kami agak terkejut. Pucuk dicinta ulam tiba. Tawaran yang amat sangat menggiurkan. "Beres Boss…cingcay lah..", sahut kami sambil menyeringai berpandangan satu sama lain,"Kita jaga rahasia kok Pak. Krisna nggak bakal bilang-bilang kok..iya khan Kris ?". Sementara Krisna hanya bisa melotot, sadar jika akan terjadi pergeseran skenario besar-besaran. Kini teman-temannya yang bertugas menjaga keselamatan dirinya, berbalik menjual dirinya untuk sebuah nilai. Ketika waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan malam, keadaanpun kian memanas. Lampu di ruang tamu kian temaram. Disela-sela privat pelajaran PSPB, kegiatan elus pipi, remas tangan, paha bahkan peluk-pelukan, sudah terlewati. Tetapi evakuasi belum dilakukan, segalanya masih kami golongkan ke area wajar. "Cuman gitu mah wajar, anggap aja adek ama kakak !!" Kata salah seorang dari teman kami menggampangkan. Akhirnya kami semua lebih memilih bersantai-santai, makan dan minum sepuasnya, sambil sesekali menenangkan Krisna yang tampak putus asa, bahkan sesekali melotot, atau mengacungkan kepalannya kearah kami. "Tenang Kris..gak apa-apa kok..ya khan Pak..inget loh…nilai PSPB Pak..", kata seorang teman kepadanya. Disambut gelak-tawa oleh kami semua. Pak Sutha berkedip sebelah mata kearah kami, sementara Krisna dengan wajah merah padam menggerutu tidak karuan. Pembagian tugas sudah terlupakan. Tidak ada bodyquard, pengintai di teras depan, maupun sopir yang stand by untuk evakuasi, semua numplek di ruang tamu. Sementara Krisna 'belajar', kami semua sibuk nguyah dan maen videogame. Kapan lagi. ?!! Tiba-tiba kami dikejutkan oleh dering telepon, Pak Sutha beranjak ke arah ruang tengah, mengangkat telepon dan berbicara beberapa saat. "Eh,,anak-anak..teman spesial Bapak mau dateng nih..kalian pulang yah..", kata Pak Sutha agak tergesa-gesa pada kami. "Begini doang Pak ?", tanya kami menggoda."Ah kalian bisa aja…kasihan tuh dia..", sambung Pak Sutha sambil mencubit pipi Krisna. Akhirnya penderitaan teman kami pun usai sudah. Saved by the bell. Tanpa babibu Krisna segera berpamitan, tidak menyia-nyiakan waktu sedikitpun. Setelah bersalaman, kami segera meninggalkan kediaman Pak Sutha, sambil sekali lagi mengingatkan soal nilai EBTA kami. Meskipun sepanjang perjalanan kami terpaksa mendengar caci-maki dan sumpah serapah Krisna, itu semua bisa kami terima. Karena akhirnya untuk pelajaran PSPB kami semua mendapat nilai sembilan. Dan untuk Krisna, ini adalah satu-satunya nilai spektakuler yang pernah diperolehnya, selama tiga tahun bersekolah dibangku SMA. Dan bagi kami, pengalaman tak terlupakan sampai kapanpun, karena lewat pengalaman itu, kami kira-kira dapat mengerti betapa susahnya profesi GERMO itu untuk bertobat. Untunglah keisengan kami ini berhenti sampai disini dan tidak pernah berlanjut lagi (***mta***)
