Good article,
Tapi terlalu panjang untuk ukuran tulisan email
 

--- On Thu, 7/24/08, Made Teddy Artiana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Made Teddy Artiana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Bicara] Intermezo Jelang Weekend > Pak Sumendi..oh..Pak Sumendi
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, "KemahMarComm" <[EMAIL 
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [email protected], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "ieu2002" <[EMAIL 
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "Indah Kispurwandari" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, July 24, 2008, 8:25 AM








Pak Sumendi….oh… Pak Sumendi
By MTA (Made Teddy Artiana)
http://semarbagongp etrukgareng. blogspot. com/


Perawakannya tinggi semampai. Rambut bergelombang dan agak tipis dibagian 
depan. Berpakaian safari biru tua dengan celana bagian bawah ala Elvis. Ketat 
diatas, melebar dibawah. Jika ia berjalan maka bagian yang melebar itu tampak 
terkibas ke kanan dan kiri. Model sapu jagat, tempo doeloe. Made Sumendi, 
namanya. Kami memanggilnya Pak Sumendi.Beliau adalah wakil kepala sekolah kami 
saat itu. Mengharapkannya tersenyum sama susahnya seperti mengharapkan 
Westerling tersenyum. Apalagi tertawa. Sebenarnya ia adalah guru yang baik, 
tetapi entah mengapa ia tidak terlihat akrab dengan murid-muridnya. Sengaja 
menjaga jarak, bahkan cenderung agak berlebihan. Sok Cool. Sok berwibawa begitu 
kira-kira. Tapi seluruh usahanya itu dapat dipastikan sia-sia. Mengapa ? 
Setelah agak lama mengenal beliau, baru kami dapat menebak mengapa beliau 
mengambil pendekatan seperti itu. Apalagi tebakan itu dikuatkan dengan sebuah 
sentilan dari beberapa kalangan guru, yang sebenarnya
 juga iseng menebaknya. Intinya kami, guru dan murid sudah sepakat, bahwa 
ke-jaim-an nya itu berhubungan dengan wajah yang dimiliki Pak Sumendi. Ingat 
pelawak Ateng dan Iskak yang cukup ngetop dulu ? Nah Pak Sumendi, boleh percaya 
atau tidak, punya wajah yang sangat mirip dengan Iskak. Sangat-sangat mirip. 
Bagaikan kembar, tapi beda nasib. Nah kemiripannya dengan wajah pelawak Iskak 
inilah yang membuat Pak Sumendi tidak pernah berhasil membuat dirinya 
berwibawa. Mungkin bagi beliau itu berwibawa, tetapi bagi kami sebaliknya. 
Sangat mengelikan. 

Berkaitan dengan wajah beliau itu. Ada sebuah gejala yang sering kali berulang, 
yang kami sebut dengan Iskak's syndrome. Jadi begini, saking miripnya 
sampai-sampai membuat hampir semua orang yang melihat Pak Sumendi untuk pertama 
kali, pasti akan menoleh lagi. Hingga dua sampai tiga kali. Dan kemudian 
mengamati dengan seksama wajah itu. Kadang mengernyitkan dahi.Ujung-ujungnya 
tertawa. Dijamin. Keadaan ini kami sebut dengan syndrome mirip Iskak itu. Aku 
pribadi sempat berkali-kali memergoki kejadian tersebut. Waktu itu sekolah kami 
memanggil para orang tua siswa. Meeting perencanaan renovasi sekolah. Waktu 
itu, kebetulan Pak Sumendi, baru saja memarkir vespa putihnya. Membuka helm, 
lalu menyisir rambut sambil bercermin pada spion kiri nya. Seperti yang biasa 
beliau lakukan. Setelah menoleh, tampak oleh ku beberapa orang tua siswa yang 
waktu itu berada tidak jauh dari parkiran tampak agak terkejut. Lho kok ada 
Iskak !!, ini adalah tahapan pertama dari
 syndrome tersebut. Reaksi standar : mengernyitkan dahi, sebagian agak melotot, 
menjulurkan leher kedepan. Bagi mereka yang agak hyperbola alias overacting, 
reaksi barusan akan ditambah dengan ngucek-ngucek mata. Bener nggak sih?Kok 
bisa? Begitu kira-kira. Tahapan ini kami namakan dengan, periode memastikan. 
Pada tahapan ini bisa dipastikan Pak Guru kami itu akan tampak risih alias 
salah tingkah. Siapa juga yang nggak risih diliatin lama-lama ! Lanjut…tahap 
akhirnya adalah : sadar kalau itu bukan Iskak. Nah ini yang tampaknya agak 
menyakitkan buat Pak Sumendi. Tahapan akhir ini, pastinya membuat para audiens 
tertawa paling nggak tersenyum. Atau kalau yang ngeliat berjumlah lebih dari 
dua, biasanya mereka akan berbisik-bisik dulu, baru kemudian tertawa. Enak 
dimereka, nggak enak di objek penderitanya. Pak Sumendi tersenyum kecut. Pernah 
ketemu orang yang kita sangka nyapa kita eh taunya salah. Padahal kita sudah 
terlanjur ngasih senyum walau setengah,
 terus terpaksa mingkem,nggak jadi. Nah persis ! kaya gitu ekpresi Pak Sumendi. 

Syndrom ini mengingatkan kita pada semboyan "Vini, Vidi, Vici" nya Julius 
Caesar. Tetapi tentunya kasus Pak Sumendi, semboyan jadi agak berbeda, syndrom 
'mirip Iskak' akan berbunyi demikian, "aku dilihat, aku diperatiin, aku 
diketawain". Sebenarnya kasihan juga, kalau dipikir-pikir. Sangat logis 
kejadian ini akan selalu dialami Pak Sumendi berulang kali tak terhitung 
jumlahnya. Pastilah bukan sesuatu yang menggembirakan bagi seseorang yang 
begitu ingin terlihat berwibawa seperti beliau. Dan mungkin, ini lagi-lagi 
hanya sebuah tebakan, mungkin karena alasan itulah beliau satu-satunya guru 
yang mengenakan helm robot(helm yang menutupi wajah) waktu itu. Maklum, bagi 
kami orang bali waktu itu, memperlihatkan wajah adalah sebagian dari 'usaha' 
kami ketika berkendaraan bermotor. Apalagi udara di Bali, belasan tahun yang 
lalu masih sangat-sangat bersih. Jadi hanya orang-orang dengan alasan yang amat 
sangat kuatlah yang akan menggunakan helm robot. Oh iya asal
 tahu aja..kami punya sebutan khusus buat helm robot ini yaitu : helm congor 
atau helm monyet !! Percayalah, waktu itu helm model begini bukan keputusan 
yang tepat untuk tampil gaya.

Adalah sebuah acara bernama Ria Jenaka. Ria Jenaka itu adalah program TVRI yang 
berbau komedi, namun syarat dengan pelajaran hidup. Pemainnya itu adalah Semar 
sekeluarga. Ada bagong, yang diperankan oleh Ateng, terus gareng, kaya nya 
Timbul Srimulat, dan Petruk, yang ini diperankan oleh Iskak. Nah, hampir semua 
orang pasti tahu komedi ini. Maklum stasiun TV baru satu, dan yang namanya 
hiburan itu jarang banget. Paling top ya Aneka Ria Safari, terus Ria Jenaka dan 
terakhir Dunia Dalam Berita(yang jingle pembukanya dari dulu nggak berubah !! 
Hari itu hari Senin. Aku ingat betul, karena saat itu kita baru saja selesai 
upacara bendera. Hendra salah satu anggota gank kami, yang juga sahabat karib 
ku, kebablasan becanda. Entah karena salah makan di rumah atau apa, Hendra, 
pada saat kami melintas persis di depan Pak Sumendi, dengan bersungguh-sungguh 
dan "sangat menjiwai" memperagakan jalan ala Petruk dalam Ria Jenaka. Dengan 
tangan kanan dan kiri bergantian
 menunjuk keatas-kebawah dan leher yang menangguk-angguk, Hendra berjalan tanpa 
tersenyum sedikitpun di depan Pak Sumendi. Kontan kami bertujuh tertawa 
terbahak-bahak melihat aksi konyol Hendra. Ketika sadar, segalanya sudah 
terlambat, nasi sudah jadi kerak gosong. Sepasang mata Pak Sumendi yang memang 
sudah beloq itu tampak memelototi kami dengan wajah merah padam. Sejenak aku 
dan Pak Sumendi bertatapan. Senyum di bibirnya, yang lebih menyerupai seringai, 
mengisyaratkan sebuah ancaman. Wah ini bakal runyam…

Sejak saat itu, seolah balas dendam, nyaris seminggu sekali selalu saja ada 
sebuah kejadian yang membuat kami berada dalam posisi layak dihukum. Sebenarnya 
kalau boleh jujur, tidak perlu jebakan yang pinter-pinter amat untuk menemukan 
beragam pelanggaran yang kami lakukan. Karena memang kami bertujuh terkenal 
bandel. Tetapi yang membuat kami heran adalah kok bisa-bisanya Si Bapak 
mengetahui hampir setiap rencana kami. Pengkhianat ? Jelas tidak mungkin. Gank 
kami sangat solid. Kamera CCTV ? ini lebih mustahil lagi, karena waktu itu 
belum ada. Ruang gerak kami pun semakin terasa sempit. Kian hari, aura sentimen 
terasa semakin meningkat. Kali ini kami menilai Si Iskak Gadungan sudah sangat 
berlebihan. Ia tidak akan segan-segan mempermalukan kami sedemikian rupa, hanya 
karena sebuah persoalan sepele. Waktu itu Si Diro, salah satu anggota gank kami 
tidak sengaja salah memparkir sepedanya, kesempatan ini segera saja 
dimanfaatkan oleh Pak Sumendi dan kroninya
 dengan menggantung sepeda Diro pada sebuah pohon di halaman tengah. Belum lagi 
peristiwa ditahannya kami bertujuh hingga malam hari, hanya karena berada 
dibarisan kelas yang salah. Pak Sumendi mengharuskan kami dijemput oleh orang 
tua kami agar mereka mengetahui pelanggaran yang kami lakukan. Benar-benar 
sudah keterlaluan ! Kejadian ini membuat kami bertujuh naik pitam. Rupanya 
memang ada benarnya, ketertindasan dan keputusasaan akan melahirkan berbagai 
perlawanan. Aksi-aksi ala teroris Timur Tengah pun kami lancarkan. Gerilyawan 
versus mereka yang adi kuasa. Dari mulai menggembosi ban vespa Pak Sumendi, 
hingga mengoleskan balsem di tempat duduk nya pun kami lakoni. Benar-benar 
menggelikan. Pernah saking kesalnya kami nekad mengunci Pak Sumendi diruangan 
kantor guru. Satu sekolah gempar karena kejadian itu. Untungnya semua berjalan 
rapi, tanpa bukti maupun saksi. Kami lolos dari tiang gantungan. Tetapi 
ternyata perkiraan kami meleset. Insiden itu
 meninggalkan seorang saksi hidup. Ia adalah guru Bahasa Inggris kami, yang 
notabene adalah musuh bebuyutan Pak Sumendi, "Good works, guys…very nice !!", 
kata beliau sambil menepuk bahu kami, menoleh sambil berkedip sebelah mata 
kemudian berlalu sembari bersiul riang. Kami bertujuh hanya bisa ternganga 
saling berpandangan, kaget bercampur gembira. Guru…oh…guru… 

Sebenarnya kalau saja Pak Sumendi adalah seorang humoris, tentu segalanya agak 
berbeda. Pastilah seluruh murid di sekolah kami akan menyukai beliau. Tetapi 
temperamen beliau memang bertolak belakang dengan soulmate-nya Ateng itu. Dari 
berbagai gossip yang beredar dikalangan guru-guru (mereka juga suka gossip 
loh…), Pak Sumendi sangat bernafsu untuk menjadi seorang kepala sekolah. 
Menurut sebuah sumber terpercaya, Pak Sumendi dan pengikutnya juga sering 
melakukan manuver-manuver politik demi cita-cita tersebut. Lengkap sudah. 
Sambil menyelam ngopi-ngopi. Sambil menutupi kekurangan, menaiki tangga Kepsek. 
Tetapi semua urusan politik itu tentunya bukan porsi kami, anak-anak kelas 2 
SMP waktu itu.
Pernah ada sebuah kejadian yang mempermalukan beliau habis-habisan. Sekaligus 
awal dari sebuah sejarah baru. Waktu itu kami, satu sekolahan, diharuskan untuk 
menonton film dokumenter. Trendnya waktu itu emang gitu. Waktu itu judulnya 
kalau tidak salah, pemberontakan PKI di mana gitu. Pokoknya tentang PKI lah. 
Maklum, presidennya masih yang dulu. Jadwal pun diatur. Tiap tiga kelas 
digabung dalam satu ruangan bioskop. Ketika giliran kelas kami tiba, Pak 
Sumendi pun angkat bicara, pidato pembuka. Skenario awal sih nggak gitu. Tapi 
mungkin waktu itu Pak Sumendi lagi ingin bertuah-betuih kepada kami. Setelah 
pegel dengerin cerita ngalor-ngidul tentang PKI, akhirnya film beneran nya pun 
mulai juga. Ditengah-tengah cerita, lagi asyik-asyiknya, munculah adegan gila 
itu. Adegan itu tidak akan kami lupakan seumur hidup. Aku pribadi menganggapnya 
sebagai adegan yang setara dengan berdansanya Kevin Costner dengan srigala, di 
Dances With Wolf atau adegan Kate Winslet
 dan Leonardo diujung kapal Titanic. Adegannya begini. Ada seorang petani desa, 
bertopi caping menutup wajah distop oleh sepasukan tentara Kostrad. Seorang 
dari mereka tampil kedepan, sambil menodongkan bayonet kearah perut pria itu, 
sambil menanyakan nama nya. Dengan terbata-bata si petani tua itu menjawab,"Su. 
.su..sumendi Pak!!". Karuan, seperti mendengar petir dalam bioskop, kami semua 
kaget setengah mati. Apaaaa ??? Kok bisa namanya sama. Su-men-di. Gila..!!!! 
Belum lagi kelar kejutannya, sebuah adegan konyol lain nyusul. "Sumendi PKI 
!!!", teriak massa dengan histeris. Seorang ibu-ibu yang tengah menggendong 
anak kecil pun meneriakkan yang sama,"Benar Pak Tentara…Sumendi PKI !!!". 
Kontan bioskop itu pecah oleh gelak tawa. Tiba-tiba Diro, temanku yang meman 
memendam sejuta dendam terhadap Pak Sumendi, berteriak lantang "Tangkaaaap 
Sumendi PKI !!!!!!". Mendengar teriakan Diro, bioskop yang sudah ramai itu jadi 
semakin riuh rendah oleh tawa dan
 sorak sorai. Parahnya teriakan itu mendapat jawaban dari beberapa kawan dari 
kelas lain yang tak kalah iseng. "Berantas PKI !!! Jangan ada yang sisa !!!". 
"Siapa yang PKI keluar !!!", teriak yang lain. Disanalah, untuk pertama kalinya 
dalam hidupku, aku melihat Pak Sumendi tertawa nyengir sambil 
mengacung-acungkan tangan meminta penonton untuk tenang. Sejak saat itu Pak 
Sumendi benar-benar berubah. Beliau menjadi salah seorang Guru yang sangat 
murah senyum. Menyapa kami lebih dulu jika bertemu. Kebiasaan yang tidak pernah 
terpikir akan dilakukan oleh seorang Sumendi sebelumnya. Tak berapa lama 
kemudian, entah kebetulan atau apa. Pak Made Sumendi, diangkat menjadi Kepala 
Sekolah di sekolah kami. Penantian panjang yang diakhiri dengan happy ending. 
(***mta***)


-- 
om santi..santi. .santi..
MADE TEDDY ARTIANA
mobile. 0813 178 227 20 - 0815 740 900 80
email. teddyartiana_ photography@ yahoo.com

Kunjungi "Galery Photography Kami" dan kasih saran...doooong :-)

# COMMERCIAL Photography #  
http://companyprofi le.multiply. com
http://withbobsadin o.multiply. com 

# JURNALISM Photography #
http://fotojalanan. multiply. com

# WEDDING Photography #
http://prewedding3. multiply. com
http://prewedding2. multiply. com
http://prewedding. multiply. com
http://candidweddin g.multiply. com
http://weddingcerem ony.multiply. com

---ATENG BAWA KAYU : TENGKYU---  














      

Kirim email ke