Hore,
Hari Baru!
Teman-teman. 

Jika anda tersesat disuatu tempat. Dimana disana tidak ada manusia 
lain selain anda. Siapa yang bisa anda andalkan untuk menolong diri 
anda? Mungkin, karena saya termasuk orang iseng saja, sehingga 
mengemukakan pertanyaan janggal macam itu. Seorang sahabat yang saleh 
berkata; "Saya masih memiliki Tuhan untuk menolong." Sungguh sebuah 
jawaban yang hebat. Lalu pertanyaan saya berikutnya; "Seandainya 
Tuhan bersabda; `wahai jiwa yang tengah tersesat, tidak bisakah kamu 
mencari pertolonganmu sendiri' apa yang akan anda katakan kepada 
Tuhan?"  Lalu, teman saya mengatakan bahwa Tuhan itu telah berjanji 
akan mengabulkan setiap permintaan. Jadi, tidaklah mungkin ketika 
kita memohon pertolongan, Dia malah menyuruh kita untuk mencari ke 
tempat lain. Saya mulai tersadar, bahwa mungkin memang Tuhan itu 
tidak iseng seperti saya. Apakah Anda juga berpikiran demikian?

Sesaat setelah saya memposting artikel itu, saya meminta istri saya 
untuk membacanya. Saya bilang padanya; "Aku menyebut-nyebut istriku 
diartikel kali ini. Jadi, kamu harus membacanya…" Seperti yang anda 
kira, dia sangat termotivasi sekali untuk membacanya dari awal sampai 
akhir. Maklum, dia perlu tahu apa yang dituliskan suaminya ini 
tentang dirinya diartikel itu. Ketika membaca tentang `motivator 
sejati itu adalah orang yang paling dekat dengan diri anda' dia 
berhenti, dan segera melompat kearah saya. Lalu berkata; "Tuch kan 
Yah, ada motivator yang seperti itu," katanya.  

"Siapa?" saya balik menantangnya.
"Ya tentu saja orang yang menikahinya…" balasnya dengan tanpa basi-
basi.
"Baiklah," saya bilang. "Sekarang, teruskan dulu membacanya."  Dia 
kembali kelayar monitor. Dan ketika dia menemukan bahwa `istri' 
atau `suami' bukanlah sumber motivasi utama yang saya sarankan, dia 
kembali membelalakan matanya. "Memangnya aku tidak bisa menjadi 
motivator buat kamu?" katanya. Anda tahu kan raut wajah seorang 
perempuan cantik kalau sedang kesal pada suaminya.

"Bisa iya." Saya santai saja. "Bisa juga tidak."
"Maksud eloooh?" Matanya sudah belo bahkan sebelum dipelototkan.
"Jika suamimu sedang bisa menyenangkan hatimu," kata saya, "maka dia 
akan menaikkan semangat hidupmu. Tapi," saya melanjutkan, "ketika 
kamu sedang kesal sama suamimu yang keren ini……." Saya tidak usah 
melanjutkannya. Dia sudah mengerti bagaimana rasanya ketika dia 
sedang sebel banget sama saya. "Anak-anak juga demikian." Itu saja 
yang saya tambahkan.

Saya mencoba mengajaknya untuk memahami bahwa sungguh sangat penting 
untuk bisa menjadi seorang self-reliant. Sebab, meskipun anda tidak 
akan pernah tersesat seperti orang malang yang saya ilustrasikan 
tadi; namun ada banyak situasi dimana kita sungguh-sungguh tidak bisa 
mengandalkan siapapun kecuali diri kita sendiri. Para atasan kapan 
pun bisa memecat kita. Meskipun pada saat itu sesungguhnya anda 
sedang sangat membutuhkan pembelaan darinya. Bawahan kita bisa kapan 
saja meninggalkan anda. Meskipun  ketika itu anda sedang sangat 
membutuhkan tenaganya. Dan seorang suami, bisa pergi meninggalkan 
sang istri tanpa sebab yang bisa dimengerti hati. Seperti halnya 
seorang istri bisa menyebabkan hati seorang suami hancur berkeping-
keping. Anak-anak juga begitu. Sehingga, guru saya sewaktu kecil dulu 
mengatakan bahwa; "anak dan istri/suami itu adalah salah satu bentuk 
batu ujian bagimu".

Sahabat saya bekata; "Kamu terlalu percaya diri."
Saya bilang; "Jika saya terlalu percaya diri, saya tidak akan pernah 
mau berteman denganmu. Karena saya tahu bahwa tanpa kamupun saya bisa 
mengerjakan semuanya. Tapi, coba kamu lihat," saya melanjutkan, "saya 
menjadikanmu sebagai partner seperti halnya kamu menjadikan saya 
pasangan kerja, bukan?"

Self-reliance sama sekali bukanlah kata ganti dari egocentric. Self-
reliance adalah gambaran tentang sejauh mana diri anda bisa 
diandalkan tidak peduli apakah anda sedang sendirian ataupun berada 
ditengah-tengah sekumpulan manusia yang saling bekerja sama. Self-
reliance, adalah. Bahan dasar dari terbentuknya kemampuan kita yang 
bisa diandalkan. Baik sebagai individu. Maupun. Bagian dari sebuah 
team. Mungkin anda mengira bahwa saat kita berada dalam sebuah 
kelompok, tidak memiliki sifat self-reliance pun tidak apa-apa. Jika 
demikian, anda sudah mesti segera mengubah paradigma itu. Sebab, 
sebuah team yang efektif hanya bisa terbangun jika SEMUA anggota team 
itu adalah orang-orang yang self-reliant. If not? Orang itu hanya 
akan menjadi benalu. Maaf, tapi anda boleh menggunakan sebutan lain 
jika ada yang bisa menggantikan kata benalu.

Seseorang datang kepada saya dan mengeluhkan tentang teman satu 
teamnya. Dia mengatakan bahwa semua aturan main dan tugas masing-
masing anggota team sudah dijelaskan. Ada juklaknya. Ada rule-nya. 
Ada reward-nya. Ada punishment-nya. Tapi, temannya yang satu itu 
tetap saja tidak bisa mengikuti juklak itu kecuali harus dituntun. 
Saya bilang; "Apa salahnya menuntun orang yang sedang melintasi 
proses pembelajaran?" 

"Aduuh, cape Dang!" sanggahnya. "Semakin hari, dia malah semakin 
menggelayuti orang-orang diteamku. Sekarang tak seorangpun mau 
menolongnya lagi" katanya. 

"Nape, emang?" saya menggodanya.
"Gila, apa? Emangnya orang-orang nggak ada kerjaan lagi, eh!?" 

Kedengarannya, ini merupakan cerita lama yang terjadi nyaris disemua 
organisasi ya? Tentu saja. Karena, kita kadang-kadang tidak 
mempercayai bahwa self-reliance itu harus dimiliki oleh setiap orang. 
Memang kita butuh pertolongan orang lain; tapi, pada saat kapan? Saat 
ini? Atau saat itu? Atau saat ini dan saat itu? Jika anda mengira 
bahwa orang-orang disekitar anda akan SELALU ada untuk anda; hati-
hatilah. Bisa jadi anda akan sampai kepada suatu situasi dimana orang 
lain itu tidak ada untuk anda. "Tapi, orang itu bilang akan selalu 
ada untuk saya!" mungkin anda berkilah begitu. Hey, anda terdengar 
seperti seorang gadis remaja yang terkena rayuan gombal monyet jantan 
usia belasan.  

Baiklah. Tapi, mungkin anda perlu menyepakati perkataan saya ini: 
Tidak ada ruginya jika kita bisa mengandalkan diri sendiri. 
Setidaknya, itulah yang saat ini tengah saya upayakan untuk diri saya 
sendiri. Sebab, saya masih teringat pelajaran berharga yang 
disampaikan oleh Master Oogway kepada Shifu. Ketika beliau hendak 
meleburkan diri dengan udara untuk selamanya menyatu dengan alam 
semesta, Shifu berusaha mencegahnya. Dan berkata; "Master, Bagaimana 
aku melakukannya jika engkau pergi?" 

Kemudian Master Oogway berkata; "Kamu tidak membutuhkan aku, Shifu. 
Karena kamu memiliki segala kemampuan itu....." katanya. "Ditahap 
ini, kamu hanya butuh memberi dirimu sendiri kepercayaan yang lebih 
besar." Lalu tubuh Master Oogway larut dalam partikel-partikel udara. 
Kemudian beterbangan menuju langit tinggi. Untuk menapaki singasana 
keabadian. 

Anda tentu masih ingat bahwa dihari sebelumnya Master Oogway 
menjelaskan bahwa `kerendahan hati adalah salah satu tanda dari 
seorang ksatria'. Sehingga, dengan nasihatnya dihari ini kepada 
Shifu, beliau menasihatkan dua hal yaitu; (1) Kerendahan hati, dan 
(2) Kepercayaan kepada diri sendiri. Mengapa Master Oogway 
menasihatkan kedua hal itu? Karena, keduanya berfungsi seperti kedua 
kaki bagi Pemberdayaan diri. Kerendahan hati itu seperti kaki kiri. 
Sedangkan kepercayaan bagaikan kaki sebelah kanan. Dengan 
kepercayaan, anda memberi diri anda sendiri kesempatan untuk 
menunjukkan siapa diri anda yang sesungguhnya. Mengijinkannya untuk 
menggapai derajat tertinggi dari setiap pencapaian yang mungkin 
diraihnya. Sedangkan, dengan kerendahan hati; anda menjaga kesucian 
pencapaian-pencapaian yang diraihnya. Agar anda. Tidak seperti balon 
gas. Yang terlepas dari genggaman. Melayang-layang tidak karuan. Dan 
terhanyutkan oleh perasaan lupa diri yang menyesatkan. 

Kita tidak dapat berdiri tegak. Berjalan. Kemudian berlari kencang 
jika kaki kita hanya sebelah. Apalagi jika kita tidak memiliki 
keduanya. Kita tidak bisa menjadi manusia yang terberdayakan jika 
tidak memiliki kerendahan hati. Sekalipun mempunyai kepercayaan 
kepada diri sendiri, tapi kita hanya akan menjadi manusia hebat yang 
lupa diri. Kita tidak bisa menjadi manusia yang terberdayakan jika 
tidak memiliki kepercayaan kepada diri sendiri. Sekalipun mempunyai 
kerendahan hati, tapi kita hanya akan menjadi manusia gemulai tanpa 
pencapaian yang berarti. Apalah lagi jika kita tidak memiliki 
keduanya?

Dengan berbekal kedua nasihat itu Shifu mulai menegakkan badannya 
untuk tetap berdiri tegak. Dan menguatkan hatinya untuk terus teguh 
bertekad. Yang meskipun susah payah. Akhirnya. Dia Berhasil. 
Melakukannya.  
Bisakah kita?

Hore, 
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Alasan terbesar mengapa kita sering tidak mendengar nasihat-nasihat 
dari dalam diri kita sendiri adalah karena; kita tidak memberi cukup 
kepercayaan kepadanya.  


Kirim email ke