Dear My Life,

 

Hari ini adalah hari pertama trip MARTABE (Kembali ke kampung untuk
membangun tanah leluhur, dalam artian sekarang bisa dikatakan silahturahmi
dengan kerabat atau kata lainnya napak tilas) ke Lancat Julu, Sipirok,
Sumatera Utara.

 

Starting from Jakarta, saya menuju Bandara Polonia Medan, Sumatera Utara.
Dua jam (kurang lebih) perjalanan di udara bersama Maskapai Indonesia Air
Asia. Sungguh pengalaman pertama melakukan "Amazing Race" hanya untuk
mendapatkan "kursi panas' di pesawat udara. Lucu juga lari - lari
kebirit-birit.

 

Sedari awal akan melakukan MARTABE saya sudah sempat di coach oleh salah
satu Mindset Motivator Terbaik di Indonesia bernama Krishnamurti untuk
mendaptkan Insight dalam perjalanan saya. Beliau meminta saya untuk membuka
diri dan mengizinkan Allah SWT dan alam bawah sadar saya untuk "menunjukan"
Insight yang bisa saya dapatkan. Pada awalnya saya ragu, darimana saya bisa
dapatkan Insight tersebut, biasalah Limiting Belief.

 

Di perjalanan menuju Bandara International Sukarno Hatta, saya menetapkan
untuk membuka diri, meminta kepada Allah SWT dan alam bawah sadar saya untuk
memberikan Insight selama perjalanan MARTABE saya. Dengan menggunakan
pendekatan spiritual, LoA <http://lingkarloa.com/>  dan lain-lain maka saya
memulai perjalanan dengan senang, suka cita dan percaya bahwa MARTABE kali
ini bermanfaat.

 

Batak Leadership! Ya, Insight itulah yang saya cari. Filosofi kepemimpinan
ala Batak. Saya memimpikan akan memiliki National Leadership. Salah satu
tokoh yang saya kagumi akan kecintaannya teradap bumi pertiwi ini selain Mas
Krishnamurti adalah Dorce Gamalama, sang entertainer sejati di Indonesia,
multi talenta dan multi kultur yang beliau kuasai.

 

Melanjutkan urutan perjalanan saya, setelah tiba di Bandara polonia Medan
segera saya bersama keluarga Kunjung Ziarah ke makam Opung Buyut saya, Muh.
Rail. Sebuah awal perjalanan yang menyenangkan, betapa tidak?! Saya dapat
merasakan vibrasi positif kisah hidup almarhum Opung saya yang diceritakan
Oom saya. Walau saya napak tilas dengan berbagai fasilitas yang ada, namun
saya ingin merasakan kegigihannya beliau semasa hidupnya.

 

Ziarah kubur kami haturkan sebagai bentuk penghormatan kepada Almarhum.
Melanjutkan perjalanan kami menyempatkan santap siang di Restoran Padang
Sidempuan. Disana saya menyempatkan berfoto dengan salah satu tukang parkir
dengan seragam Dinas Perparkiran Kota Medan, entah untuk apa, yang jelas
saya dan bapak tua itu sama-sama tersenyum bahagia.

 

Perjalanan kami lanjutkan menuju Masjid Raya Al- Mashun, Medan. Shalat
Dzuhur kami tunaikan, setelah itu saya sempatkan mendokumentasikan sudut -
sudut dari Masjid tersebut. Jujur saya hanya terkesima atas ke'indahan rumah
Allah tersebut, hingga akhirnya dalam sedetik saya terfikir, andaikan ada
seseorang yang dapat menceritakan mengenai Masjid tersebut maka tidak
percuma saya mendokumentasikannya.

 

Dan sedetik itu pula seseorang menghampiri saya dan berkata, "Masjid ini
masih orisinil Bang. Belum ada yang berubah dan semua masih berfunsi dengan
baik". Terhenyak saya mendengar ucapan lembut seseorang disaat saya asik
mengabadikan sudut Masjid. Subahanallah, Engkau jawab keingintahuanku. Maha
Besar Allah. Saya tidak tahu siapa nama orang tersebut, namun nampaknya ia
sangat mengenal Masjid tersebut.

 

Dari mulai hal tentang lampu, langit-langit Masjid, ukirannya, marble di
dinding, hingga ukiran-jenis kayu-bobot serta proses pembuatan pintu Masjid.
Yang terakhir ini saya mendapatkan Insight. Ukiran di pintu Masjid rupanya
adalah Blue Print dari Masjid itu sendiri. Berbentuk belah ketupat ukiran
tersebut, sama seperti landscape ruangan dalam Masjid itu. Di ujungnya yang
sempit, terletak sebuah kubah untuk sang Imam, semakin kebelakang semakin
melebar, hingga setalah mencapai tengahnya kembali mengecil dan menyudut
kembali, serta terdapat  pintu keluar masuk di 3 sudut lainnya.

 

Sekilas tidak ada yang spesial dalam landscape tersebut, bila tidak
diperhatiakan dengan seksama. Hingga akhirnya saya di dorong oleh alam bawah
sadar saya untuk mencari tahu, apa yang mendasari sang arsitektur membuat
layout ruangan seperti itu?! Ternyata ada sebuah menara sebagai acuan Kiblat
Shalat, yang secara tidak langsung pula mengarah ke Baitullah. Menara
tersebut tepat di depan sudut Imam.

 

Lalu, apa hebatnya? Ya, dalam sekejap saya mendapati Insight itu mengalir di
dalam alam sadar saya. Bahwa benar Masjid tersebut tidak diketahui dibangun
oleh Muslim ataupun Non Muslim, dibangun tanpa kaligrafi tulisan Arab
satupun, memiliki arsitektur yang sangat Eropa sekali bahkan bahan - bahan
ornamennya berasal dari eropa banget's (kecuali pintu dari Kayu Nomer 1 di
Indonesia, selain Jati) serta mampu menampung hingga 700 Jamaah di area
dalam, namun terdapat filosofi "lain" di dalamnya (bagi saya).

 

Apa filosofinya? Seorang pemimpin (Imam) memiliki pengikut (Jamaah)
pastinya. Dengan pola seperti itu sang 'Imam' secara memiliki 'Jamaah' yang
awalnya sedikit, lalu bertambah banyak semakin ke tengah dan kembali
berkurang di sudut seberang sang Imam berdiri. Lalu apa? Lalu ada tiga buah
pintu di sudut kanan-kiri dan sebarang sang Imam, dan dari sanalah
kepemimpinan sang Imam mengalir keluar dari ruang tersebut.

 

Lantas, apa bedanya dengan Masjid lainnya yang memiliki lebih banyak pintu
sekalipun?! Saya mendapatkan Insight ke arah hubungan Manusia kepada Allah
SWT, hubungan Manusia ke Manusia dan hubungan Manusia ke Alam Semesta yang
harus seimbang, dan pintu itu adalah simbolisasinya. Bukan tanpa sebab saya
muncul Insight seperti itu, ada "perjalanannya" tersendiri hingga saya sadar
sebagai pemimpin seseorang perlu memahami tiga komponen hungan tadi.

 

Bayangkan seorang Sumatera (yang notabene keras, atau kasar) menjadi
pemimpin. Seramkah bayangan anda? Lalu bayangkan kembali bila si Sumatera
itu memiliki kepemimpinan yang berkiblat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
berorientasi bagi kebaikan sesama dan menjaga energi kepada semesta! Masih
seramkah bayangannya bagi anda? Saya rasa tidak, namun pada akhirnya anda
malah memiliki seorang Pemimpin yang Tegas nan Bijaksana.

 

Perihal Insight tersebut segera saya ceritakan kepada Oom saya yang lebih
berpengalaman di Sumatera, bahkan beliau belum pernah kepikiran seperti itu
sebelumnya. Alhamdulillah, keingintahuan saya terpenuhi. Segala puji bagi
Allah SWT. Sayang sekali, saya tidak sempat ke Istana Maimun karena alasan
waktu..

 

Berlanjut..

 

Setelah mendapatkan Insight tersebut, kami lanjutkan menuju salah satu makam
Opung lainnya. Disana saya karena haus menyempatkan membeli minuman ringan,
teh botol aja kok, harganya "hanya" Rp. 2.500,- dan tidak lebih mahal dari
harga ritel di Jakarta. Namun apa yang terjadi saya mendapatkan sebuah teh
botol yang bawahnya di beri alas piring kecil untuk disajikan kepada saya,
padahal saya minumnya saja sambil berdiri.

 

Pikir saya aneh sekali, minuman sekelas itu mendapat perlakuan istimewa. Oh,
rupanya saya sadar setelah di ajak ngobrol oleh si penjual bahwa ia
menempatkan persepsinya dia kepada saya (serta rombongan) bahwa kami adalah
'tamu' khusus yang ingin Ziarah. Bukan tamu dalam arti kata penting
berkonotasi seperti kedatangan pejabat, namun tamu dari luar kota (Jakarta)
yang jauh - jauh ke Medan untuk Ziarah (atau alasan apapun nampaknya) yang
sudah sepatutnya dilayani dengan baik. Lalu, kenapa dengan teh botol? Ya
karena saya memang hanya pesan itu!

 

Saya sadar, sering kali sebagai orang kota, kita menghindari kedatangan
tamu. Kayanya bikin repot aja ya dateng tamu. Eh, ternyata orang-orang di
daerah lebih menjunjung nilai kemanusiaan jauh lebih tinggi! Padahal hanya
cukup tanya, mau minum apa? Kalo emang ngga ada apa-apa ya bilang aja, "mau
minum apa? Tapi adanya hanya air putih saja". Bukankah dengan berlaku sopan
namun jujur di sisi kita tidak merepotkan dan sisi tamu kita juga ngga
masalah banget? Bersilahturahmi dan berlaku sopan plus jujur, 3 hal
sekaligus yang saya pelajari dari perjalanan tersebut.

 

Selama seminggu rencana berada di Sumatera, awalnya saya berorientasi
mencari Insight kepemimpinan dari raja-raja besar di jamannya. Nampaknya
Allah lebih tahu apa yang saya perlukan, yakni belajar (lagi) dari bawah.
Saking senangnya mendapat Insight baru dari teh botol, saya sampai
ketinggalan bus rombongan. Pun sebenarnya karena saya dengan tanpa sadar
bertanya kepada tim promo sebuah brand rokok apakah ada varian yang saya
cari. Eh ada, plus hadiah lagi.jadilah saya (nyaris) di tinggal bus. Seru
yach..

 

Perjalanan dilanjutkan langsung ke arah Danau Toba. Saat melintasi
perkebunan Kelapa Sawit dan Karet saya melihat hamparan warna hijau di
kanan-kiri jalan. Nyaris warna itu yang mendominasi pemandangan kami. Bagus
sih, di Jakarta jaang - jarang lihat hijau (tetumbuhan, bukan warna partai,
hehehe) yang terbentang lebih dari 5 hektar sekaligus! Ugh, 30 menit
perjalanan tiba - tiba saya merasa bosan dengan warna hijau tersebut. Lalu
secara tidak sengaja saya memperhatikan jauh di depan bus garis merah putus
- putus di sisi kiri jalan, lalu ada garis kuning putus - putus..

 

"Apa ya?", pikir saya. Oh itu.., rupanya ada sederet (putus - putus) bunga
entah siapa yang menanamnya di pinggir jalan. Indah sekali, lumayan
menghilangkan bosen saya terhadap warna hijau.. Lho, saya pikir kok bisa -
bisanya saya memperhatiakn hal kecil seperti itu? Ow, rupanya benar. dengan
menjadi sedikit berbeda dari (orang) yang lainnya, maka si warna - warna itu
akan mudah di kenali. Sekali lagi saya mendapat metaphor untuk Workshop yang
akan saya gelar. Walau konsep Workshop itu sudah ada, namun kali ini saya
mendapat "contoh" langsung dari alam sekitar yang diberikan Allah SWT.

 

Berlanjut..

 

Tibalah di Toba. (kok ngga saya sebut Danau Toba?) karena saya menyakini
bahwa danau Toba saat ini adalah hasil dari letusan Super Volcano Toba, yang
seharusnya di sebut KALDERA TOBA. Saya bukan ahlinya, saya hanya pengagum
keindahan Allah SWT. Saya melihat hamparan air sebegitu luasnya yang
menandakan pernah terjadi letusan maha dahsyat di zamannya. Bayangkan bila
itu terjadi di zaman kita hidup saat ini, runyam nampaknya! Malah saya
melihat Allah SWT maha tahu apa yang baik.

 

Lihatlah tanah di Sumatera..Subur bukan? Sangat subur malah.. Konon satu
hektar Kelapa Sawit menghasilkan Rp. 35 Juta per kali panen. Subhanallah.
proses letusan itu membawa dampak hingga saat ini bagi alam. Lalu bayangakn
bila ada seorang pemimpin yang dapat seperti Toba? Luas sekali
Toba.Tenang.Indah..dan berguna bagi masyarakat sekitar. Bagaimana bila ada
pemimpin yang berwawasan luas seluas Toba atau semesta (Kesempurnaan hanya
milik Allah), pebawaannya tenang dan menenangkan melalui keindahan
perilakunya..dan membawa kebaikan bagi masyarakat dunia?! Siapakah dia?!
Hanya Allah yang Maha Tahu..

 

Akhirul kata, tiba saatnya saya beristirahat untuk persiapan subuh ini
melakukan trip ke Pulau Samosir dan dilanjutkan kea rah Sipirok, Lancat Julu
untuk benar - benar pulang kampung.. Hehehe. saya jadi tidak sabar nih untuk
Insight berikutnya..

 

Terima kasih Allah SWT, Alam Bawah Sadar & Sadar Perdanawan P. Pane,
Orang-tua'ku, Keluarga'ku, Leluhur'ku, Henny Budi Hastuti, Ronny FR., Mas
Krishnamurti, Bobby M., Trainers TMI, Aji Sudewo, Indonesia Air Asia dan
seluruh pihak yang mensupport perjalan saya ini tanpa bisa saya sebut satu
persatu. TERIMA KASIH.

 

Begitu banyak kemudahan dengan berfikir positif. Saya percaya apa yang saya
minta Kepada Allah SWT akan dikabulkan oleh'Nya bila baik bagi saya
menurut'Nya, dan saya sudah mengalaminya.

 

Regards,

 

Perdanawan P. Pane

Head Operational TMI

Trainer & LoA Achiever

[EMAIL PROTECTED]

 

PH:                               T/F:

+62 817 8 13 7 82             (+62 21) 319 09 184

+62 21 9280 5275

 

[EMAIL PROTECTED]

YM  : danny.pane

http://perdanawan.multiply.com

P  Please consider our environment before printing this email

 

Kirim email ke