Barangkali, Kitalah Penyebabnya
 
Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS kepada saya. Dia seorang
aktivis yang amat banyak menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan.
Bila berbicara dengannya, kesan yang tampak adalah semangat yang besar di
dadannya untuk melakukan perbaikan. Kalau saat ini yang mampu dilakukan
masih amat kecil, tak apa-apa. Sebab perubahan yang besar takkan terjadi
bila kita tidak mau memulai dari yang kecil. Tetapi kali ini, ia berkirim
SMS bukan untuk berbagi semangat. Ia kirimkan SMS karena ingin meringankan
beban yang hampir ada kerinduan yang semakin berambah untuk memiliki
pendamping yang dapat menyayanginya sepenuh hati.
 
SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya. Usia sudah melewati
tiga puluh, tetapi belum juga ada tempat untuk menambatkan rindu. Seorang
pria usia sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses, merasakan
betapa sepinya hidup tanpa istri. Ingin menikah, tapi takut ! tak bisa
mempergauli istrinya dengan baik. Sementara terus melajang merupakan siksaan
yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin menikah, ketika keriernya belum
seberapa. Tetapi niatitu dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia
harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak agar bisa menyenangkan istri.
Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang
tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika
ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya
adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila
engkau ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, tak bisa engkau
meraihnya dengan, 'Hai, cowok... Godain kita, dong.' Saya teringat dengan
sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan tentang nikah). Beliau berkata, 'Ruh itu
seperti pasukan tentara yang berbaris.' Bila bertemu dengan yang serupa
dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu. Ia tak
bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana, sementara
engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin
engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin
engkau mendapatkan suami yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di
hatinya kecuali kepadamu; sementara engkau berusaha meraihnya dengan
menawarkan kencan sebelum terikat oleh pernikahan? Bagaimana mungkin engkau
mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan menggoda? 
Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan
yang diridhai tak jarang kerana kita sendiri mempersulitnya. Suatu saat
seorang perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang seorang suami, ia
tidak mendapatkannya. Di saat ia merindukan hadirnya seorang anak yang ia
kandung sendiri dengan rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya. Padahal
kecantikan telah ia miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang
 Begitupun uang, tak ada lagi kekhawatiran pada dirinya. Jabatannya yang
cukup mapan di perusahaan memungkinkan ia untuk membeli apa saja, kecuali
kasih-sayang suami. Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa
kali ada yang mau serius dengannya, tetapi demi karir yang diimpikan, ia
menolak semua ajakan serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan
seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih. Sampai karier yang diimpikan
tercapai; sampai ia tiba-tiba tersadar bahwa usianya sudah tidak terlalu
muda lagi; sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami, sementara
orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi
anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau
serius dengannya sangat sulit. Sama sulitnya menaklukkan hatinya ketika ia
muda dulu. Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka menunda
pernikahan di saat Allah memberi kemudahan. Mereka enggan melaksanakannya
ketika Allah masih memberinya kesempatan karena alasan belum bisa
menyelenggarakan walimah yang 'wah'. Mereka tetap mengelak, meski terus ada
yang mendesak; baik lewat sindiran maupun dorongan yang terang-terangan.
Meski ada kerinduan yang tak dapat diingkari, tetapi mereka menundanya
karena masih ingin mengumpulkan biaya atau mengejar karier. Ada yang
menampik 'alasan karier' walau sebenarnya tak jauh berbeda. Seorang akhwat
menunda nikah mesti ada yang mengkhitbah karena ingin meraih kesempatan
kuliah S-2 ('Tahun depan kan belum tentu ada beasiswa'). Ia mendahulukan
pra-sangka bahwa kesempatan kuliah S-2 tak akan datang dua kali, lalu
mengorbankan pernikahan yang Rasullah Saw. Telah memperingatkan: "Apabila
datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha
terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau
lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan
yang merata di muka bumi." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).  
 
Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan oleh
Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, mereka
akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan
jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada alasan syar'i,
dan akhirnya mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat
menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah, tetapi tak kunjung
ada yang mau serius dengannya. Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus
belanjut. Bila di usia-usia dua puluh tahunan mereka menunda nikah karena
takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh
hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering
mengalami sindrom kemapanan (meski wanita juga banyak yang demikian,
terutama mendekati usia 30 tahun). Mereka menginginkan pendamping dengan
kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak
kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula dengan kriteria
tentang jodoh, ketika kita menetapkan kriteria yang terlalu banyak, akhirnya
bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang
sudah berusia sekitar 35 tahun, masalah mereka bukan soal kriteria, tetapi
soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia 40-an,
ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi
mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya, banyak kriteria yang
dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi istri
dengan baik. Lebih lebih ketika usia sudah beranjak mendekati 50 tahun, ada
ketakutan lain yang mencekam. Ada kekhawatiran jangan-jangan di saat anak
masih kecil, ia sudah tak sanggup lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah
nafkah tak merisaukan (karena tabungan yang melimpah), jangan-jangan ia
sudah mati ketika anak-anak masih perlu banyak dinasehati. Bila tak ada iman
di hati, ketakutan ini akhirnya melahirkan keputus-asaan. Wallahu A'lam
bishawab.
 
Ya... ya... ya..., kadang kita sendirilah penyebabnya, kita mempersulit apa
yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak
terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit
oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada
dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh-kesah yang
berkepanjangan. Maka, kalau kesulitan itu kita sendiri penyebabnya,
beristighfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan
urusan kita. 
Laa ilaaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin. Berkenaan dengan
sikap mempersulit, ada tingkat-tingkatannya. Seorang menolak untuk menikah
boleh jadi karena matanya disilaukan oleh dunia, sementara agama ia tak
mengerti. Belum sampai kepadanya pemahaman agama. Boleh jadi seorang
menunda-nunda nikah karena yang datang kepadanya beda harakah, meskipun tak
ada yang patut dicela dari agama dan akhlaknya. Boleh jadi ada di antara
kita yang belum bisa meresapi keutamaan menyegerakan nikah, sehingga ia tak
kunjung melakukannya. Boleh jadi pula ia sangat memahami benar pentingnya
bersegera menikah, sudah ada kesiapan psikis maupun ilmu, telah datang
kesempatan dari Allah, tetapi... sukunya berbeda, atau sebab-sebab lain yang
sama sepelenya.
 
Ada Yang Tak Bisa Kita Ingkari Kadang ada perasaan kepada seseorang. Seperti
Mughits --seorang sahabat Nabi Saw-- kita selalu menguntit kemana pun
Barirah melangkah. Mata kita mengawasi,hati kita mencari-cari dan telinga
kita merasa indah setiap kali mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat
bersemayan di dada. Bukan karena kita menenggelamkan diri dalam lautan
perasaan, tetapi seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari Al-Madaa
iny, "Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan
memilih jatuh cinta." Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak
sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga
mengabaikan setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti --kadang
sampai membuat badan kita kurus kering-- sampai batas waktu yang kita
sendiri tak berani menentukan. Kita merasa yakin bahwa dia jodoh kita, atau
merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tak ada langkah-langkah pasti yang
kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan. Persoalannya,
apakah yang mesti kita perbuat ketika rasa sayang itu ada? Inilah yang
insya-Allah kita perbincangkan lebih mendalam pada makalah Masih Ada Tempat
untuk Cinta. Selebihnya, kita cukupkan dulu pembicaraan itu sampai di sini.
 
Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri
Di atas semua itu, Allah bukakan pintu-pintu-Nya untuk kita. Ketuklah
pertolongan-Nya dengan do'a. Di saat engkau merasa tak sanggup menanggung
kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan, 'Tuhanku, jangan
biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits.' (QS. Al-Abiya
: 89). Rabbi, laa tadzarni fardan wa Anta khairul waritsin. Ini sesungguhnya
adalah do'a yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya untuk memohon keturunan
kepada Allah Ta'ala. Ia memohon kepada Allah untuk menghapus kesendiriannya
karena tak ada putra yang bisa menyejukkan mata. Sebagaimana Nabi Zakariya,
rasa sepi itu kita adukkan kepada Allah 'Azza wa Jalla semoga Ia hadirkan
bagi kita seorang pendamping yang menenteramkan jiwa dan membahagiakan hati.
Kita memohon kepada-Nya pendamping yang baik dari sisi-Nya. Kita memasrahkan
kepada-Nya apa yang terbaik untuk kita. Kapan do'a itu kita panjatkan? Kapan
saja kita merasa gelisah oleh rasa sepi yang mencekam. Panjatkan do'a itu di
saat kita merasa amat membutuhkan hadirnya seorang pendamping; saat hati
kita dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika
jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula
do'a saat hati merasa dekat dengan-Nya; saat dalam perjalan ketika Allah
jadikan do'a mustajabah; dan saat-saat mustajabah lainnya.
 
Seminar "Mengetuk Gerbang Pernikahan Barakah" Kuala
Lumpur, Ahad 20 Februari 2005
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

<<33311.jpg>>

Kirim email ke