It's a free time, let's have some rock!
Selamat pagi, HORAS! Kali ini bangun agak siang menjadi sah bagi semuanya, maklum capek banget, hehehe, capek ngorok juga. Ok jadwal hari ini, nyawah (ke sawah), ke Sipirok dan ngali (ke kali). Sekaligus saya ingin bercerita saat hari ke 3 kami ke Padang Sidempuan! Pagi ini kami turun ke sawah. Jangan bayangkan sawah yang bisa di pijak dengan mudah, turunnya saja harus melewati turunan terjal. Ibu-Ibu dan sepupu perempuan saya otomatis membutuhkan bantuan ekstra dari yang pria, semacam tim evakuasi. Baru ditengah jalan rombongan memutuskan kembali, maklum kalau dipaksakan bisa makan waktu dan tenaga. Bahkan beberapa "mengundurkan diri" sejak mendapati trek yang harus di lewati bukanlah jalan normal. Wah, andai saya bisa mendapat waktu lebih, maka saya akan keluyuran dengan leluasa di pematang sawah kami. Alhamdulillah 2005 pernah saya jalani, jadi masih bisa merasakan "kembali" pengalaman tersebut. Ok, saatnya ke Sipirok. Kabupaten desa kami tersebut terdapat pasar yang ramai. Apa saja yang ramai, silahkan lihat di cerita tentang Padang Sidempuan di bagian bawah. Berlajut.. Di pasar Sipirok (hari ke 4) tersebut kami hanya beberlanja keperluan makan, cemilan untuk perjalanan kembali ke Medan. Lanjut setelah itu, kami main di kali yang masih (semoga) jernih. Seru ya, main di kali yang air'nya jernih, segar dan cukup dingin. Andai di Jakarta ada yang seperti itu, maka berkuranglah orang stress (mungkin), hehehehehe. Satu kali saya kesandung batu kali se'gede Gaban, dan dua kali saya terpeleset. Sakit? Ngga tuh, saya nampaknya sudah trance dengan pengalaman bocah cilik petualang (Bolang) kampung saya. Baru sakit segitu aja masa ngeluh sih? Hikhikhik. Semoga kerikil kehidupan saya lainnya dapat saya lewati seceria itu ya, Amin. Saya pun dengan riang lompat dari satu batu kali ke batu kali lainnya. Wajar donk kalau kesandung atau terpeleset. Dari mulai Ayah sampai sepupu saya akhirnya memperingati, hingga akhirnya saya benar-benar jatuh! Hihihihihi, rupanya waktu saya lompat-lompat tidak terpikir bahwa saya akan jatuh/tersandung, tapi sejak ada yang memperingati, secara tidak sadar saya mendekati kejadiaan itu. Wah, padahal sebelumnya saya sudah akrab dengan batu kali tersebut sampai bisa lompat kesana kemari. Yang tahu LoA, pasti ngerti. Oh ya, sebelum ke Sipirok kami tunaikan dulu Shalat Jumat. Maaf agak lompat-lompat, waktu menulis'nya agak mepet-mepet. Nah, di momen shalat Jumat inilah pembuktian yang semalam saya cari muncul. Saat adzan belum berkumandang, warga (yang laki-laki) sudah berkumpul di depan masjid. Saat adzan berkumandang, tanpa komando mereka menempati barisan masing-masing hingga masjid penuh seketika. Ajaib bagi saya, setelah shalat Jumat usai tidak satu pun warga meninggalkan Masjid karena mereka mengikuti sang Imam merangkap Khatib berdo'a setelah shalat. Tidak percaya dengan pengalaman ini, saya abadikan dengan handphone yang kebetulan (selalu) saya bawa, hehehe. Hasilnya, terlihat jelas warga memang menghargai waktu mereka, termasuk waktu Shalat. Padahal banyak di antara mereka dengan berlama-lama di Masjid artinya ladang mereka terbengkalai sekian waktu. Lha kita orang kota, Imam selesai mengucap salam usai shalat diapastikan beberapa orang angkat kaki meninggalkan masjid, ngga usah jauh-jauh, saya pun sering begitu. Wah, jadi malu sendiri.. Berlanjut.. (Day 3) Mengenai perjalan ke Padang Sidempuan, saya mengkhusus'kan mencari oleh-oleh. Wah hebat, sama persis seperti di kampung saya buah-buah'an semua. Padahal Padang Sidempuan sudah beda kota. Alhasil tidak ada yang saya beli sebagai oleh-oleh selain cemilan khas, itu pun pilihannya sedikit sekali. Masa' saya harus bawa Salak dan setibanya di Jakarta sudah dipastikan membusuk. Maaf ya rekan-rekan, ini kampung, bukan kota besar. Balik dari sana saya mampir ke Sipirok. Di tengah para Ibu-ibu membeli keperluan dapur, saya berburu Sop Kaki Sapi dengan Oom saya, hasilnya NIHIL. Eh, di tengah pasar kok ada keramaian ya? Wah, ada tukang obat berteriak melalui pengeras suara. Ada dua spot, dua-dua'nya seru. Nah ini dia penjual obat asli dibandingkan yang di kota besar. Merka sangat terampil mengolah kata-kata. Seluruh kata-katanya di padu padan'kan dengan kata-kata hypnosis (entah mereka belajar dari mana?), hingga ada actor yang menjadi pembeli, dan semua menjadi begitu jelas bagi saya. Isu yang di angkat obat kuat, ya ya ya, apalagi kalau bukan yang itu?! Saya coba mengabadikan adegan itu, sayang ada seseorang (semacam body guard) yang tiba-tiba mendekati saya. Tidak pakai pikir dua kali, saya angkat kaki. Maklum kamera yang saya gunakan untuk mengabadikan adalah milik sepupu saya, Maro Pane. Hehehehe. Akhirnya saya hanya mendengarkan dari seberang sembari sesekali mencoba merapat kembali dan memotret lagi, dan langsung lari lagi. Dan kegiatan tukan obat itu saya dapat Insight dan pembuktian bahwa masyarakat kita kurang percaya diri. Diberi isu sensitive sedikit langsung goyah. Lha masa' si tukang obat bilang obat ini bagus untuk pria yang "lemah". Berkali-kali yang dia teriakan ya itu-itu juga, sampai sudah cukup induksi dia, lalu di rubah ke arah bahwa semua pria butuh obat itu agar tidak mudah lemah. Mulai dari situ sudah beberapa yang goyah untuk semakin mendekat. Hahaha, setelah di kalibarasi oleh si tukang obat, eksekusi terakhir adalah melayangnya kode untuk rekan-rekan dia yang berpura-pura sebagai pembeli maju dan membeli. Tidak sampai satu menit yang lainnya membeli. Lucu ya, ternyata yang membeli anak SMA lho, lengkap dengan seragamnya, disaksikan oleh teman-temannya dan di ikuti pula. Bukan Cuma bangsa tidak percaya diri, juga latahan lho. Sampe yang emang udah waktu'nya lemah dan kurang pantas "kuat kembali" ikut beli juga, hahahaha. Saya harap anda tidak pandang dari sisi keampuhan obat atau hal-hal konyol lainnya, tapi jelas kita sebagai bangsa besar tidak memiliki percaya diri yang besar. Saya jadi teringat pepatah sari salah seorang dosen saya di kuliah dulu, "Memiliki (membeli) sesuatu yang tidak perlu, untuk mengimpresi orang yang tidak terimpresi, dengan uang yang tidak kita miliki"! (Kalau urutannya salah mohon maaf ya Pak, hehehe). Sejatinya kita di kota sering sekali membeli atau ingin sesuatu barang untuk membuat orang lain terkagum-kagum dengan kita, padahal orang lain tersebut biasa saja lho.dan hebatnya kita membeli dengan berhutang (bagus kalau cash). Kalaupun cash, apa ada jaminan orang yang kita harapkan terimpresi akan pasti terimpresi? Wah, ngga heran praktisi iklan doyan bermain dengan kata-kata yang mengandung "makna", layaknya si tukang obat atau seperti iklan kecap semua nomer satu... Sekarang masih mau sebut orang-orang yg beli obat kuat itu kamoungan?! Hehehehe. jadi pembelajaran buat kita yuk. Oh ya, akhirmya saya dapat juga sop itu, dengan catatan bahwa saya memergoki Oom saya menghilang. Hahaha, setelah tertangkap berlima kami habiskan sop panas itu dalam waktu kurang dari lima menit plus bawa pulang. Ada kok fotonya, hehehe. Berlanjut.. Sampai kembali di rumah, setelah makan malam akhirnya saya menyempatkan diri bermain di hari terakhir bersama para Bolang kampung. Kali ini saya yang memimpin, hehehehe. saya tanya satu-satu apa cita-cita mereka?! Ada yang ingin jadi tentra (tentara), ada yang ingin jadi doktor (dokter), ada yang ingin jadi sulap (pesulap), ada yang ingin jadi penyanyi, dan ada yang ingin jadi kolor ijau (kolor hijau)-aneh ya? Hehehe. Namun Alhamdulillah tidak ada yang ingin menjadi Presiden lagi, at least mereka sudah ada pilihan lain. Besok-besok semoga ada yang mau jadi DJ atau apa kek gitu. Akhirnya daripada main dokter-dokteran apalagi bernyanyi bersama saya pilih bermain sulap (kartu). Ada beberapa trik yang saya berikan. Semua terkagum-kagm dan konyolnya mereka merujuk kepada satu nama, Demian. Oh my God, saya Cuma main trik paling simple. Okelah, tidak apa, saya pe-de'kan diri dan sukses "mengibur" Bolang-bolang'ku itu. Satu dari mereka tertarik sekali dari sorot matanya, namanya Kiki Hasibuan. Semoga ia menjadi seperti apa yang dia inginkan (ia yang ingin jadi pesulap). Kepadanya saya berikan dua buah trik tersebut, semoga ia berani tampil di depan teman-temannya. Kalau ada waktu dan Rezeki saya ingin sekali melihat ia menjadi seperti apa yang ia cita - cita'kan. Sungguh mata tidak dapat menipu, ia berhasrat sekali! Yuk do'a-kan Kiki Hasibuan dapat menjadi pesulap, Amin. Nah, datang lagi deh Ibu yang bawa-bawa sapu. Hahaha, sudah malam ternyata. Saya juga harus istirahat, besok perjalanan panjang kembali ke kota Medan, 9 jam perjalanan lagi. Dan tidak lupa, malam ini adalah paduan suara akbar terakhir lho, ngorok bersama, hehehehe. Nampaknya hari ini adalah proses pembelajaran dan koreksi (dari yang salah) bagi saya (dan semoga bermanfaat bagi anda). Entah kenapa saya belum menemukan Full Insight seorang Raja Batak (Sumatera) seperti yang saya cari (Alhamdulillah sebagian sudah dapat), namun saya merasa bahwa Allah mewajibkan saya untuk membenahi diri terlebih dahulu. Karena manjadi Raja bagi Masyarakat nampaknya butuh pembuktian dan pembelajaran sebagai Raja diri sendiri terlebih dahulu. Semoga saya dapat kesempatan tersebut. Amin. Selamat tidur semuanya. Salam Perbaikan nan positif! HORAS! Regards, Perdanawan P. Pane Head Operational TMI Trainer & LoA Achiever [EMAIL PROTECTED] PH: T/F: +62 817 8 13 7 82 (+62 21) 319 09 184 +62 21 9280 5275 [EMAIL PROTECTED] YM : danny.pane http://perdanawan.multiply.com P Please consider our environment before printing this email
