Lancat Julu, Kecamatan Arse, Sipirok, Tapanuli Selatan, Indonesia!

6:30am waktu setempat.

 

Selamat pagi dunia, HORAS!!!

 

Hari akan di adakannya kenduri akan dimulai. Saya beserta keluarga berjalan
bersama menyusuri seluruh desa untuk bersilahturahmi dari satu rumah ke
rumah lainnya. Bersalaman, berfoto bersama dan bagi Oom dan tante saya
mereka menyempatkan waktu bernostalgia dengan teman sepermainannya dahulu.
Wah, seru-seru ceritanya. Kepada beberapa Opung yang sudah cukup berumur,
kami kembali memperkenalkan diri.

 

Lucu-lucu reaksinya. Ada yang kebingungan, ada yang hanya senyam senyum.
Relative bingung karena segerombolan orang datang tiba-tiba ke rumah mereka.
pertanyaannya sama dari Opung ke opung, "ise guarmu?" (siapa namamu?). Dan
disebutlah satu persatu nama kami. Hebat, mereka tetap bingung, padahal
mungkin dulu Oom dan Tante saya kenal dekat sama mereka. ah, ternyata ada
satu nama kuncian, STB Pane atau Nurdin Pane!

 

Ya, Opung Laki'ku yang satu itu adalah kata ajaib yang dapat membongkar
kepikunan seorang Opung sekalipun. Opung STB, begitu biasa disebut, adalah
seorang yang begitu disayang dan disegani oleh rekan-rekannya di kampung.
Penuh kelembutan ia selalu menegur warga desa Lancat Julu. Konon kebaikannya
sangat dikenang, hanya Allah yang tahu. Namun akhirnya efek itu sangat
berasa di generasi kami, generasi ketiga STB Pane!

 

Bagaimana tidak, tanpa perlu menghiraukan tatanan pangkat di adat, keturunan
STB Pane sudah mendapat cukup tempat di masyarakat. Kebaikan Opung yang
ditebar dahulu kala kini dapat dipetik dengan nikmat oleh kami generasi
kedua dan generasi ketiganya. Ia sungguh disegani. Kami begitu mudah dibantu
mendapat penginapan dadakan di rumah tetangga karena rumah induk Opung saya
tidak dapat menampung 20 orang sekaligus, hehehe.

 

Benar kata orang dulu, berbuat baiklah, maka kelak anak'mu akan menerima
kebaikan'mu. Dan hal tersebut ternyata abadi, bukan hanya ke anak'nya saja.
Saya tersadar, bahwa berbuat baik dalam hidup tidak hanya mempermudah hidup
kita sendiri, namun juga kehidupan generasi penerus kita. Semoga saya dapat
mengambil hikmah dari pengalaman dan tindakan Opung saya.

 

Berlanjut..

 

Dan tibalah pada waktu kenduri. Para ibu-ibu setelah shalat Azhar mulai
mempersipakan diri mengkonsumsi hidangan yang disajikan. Disusul oleh
bapak-bapak setelah shalat Isya berkumpul di Masjid menyantap makan malam
dan di lanjutkan dengan MARKOBAR-KOBAR! Ya, prosesi BICARA dari satu ke
lainnya, dari hati ke hati, saling memperkenalkan diri, saling menuangkan
isi hati. Jangan ditanya berapa orang yang MARKOBAR-KOBAR, banyak dan lama,
hahaha.

 

Itulah adat, tidak ada yang salah. Disini adat membenarkan bagi orang yang
sudah cukup "dewasa" dalam tatarannya dapat berbicara di forum tersebut. Ada
beberapa syarat untuk dapat berBICARA dalam forum tersbut, salah satunyaia
haruslah berada di atas tataran kahanggi (adik, yang paling kecil/rendah)
dan wajib sudah (pernah) berkeluarga. Mengenai lengkapanya sususan tersebut
akan saya jelaskan di "Journey To Sumatera, The Review", maklum yang ini
saya lupa urutannya, hehehe."

 

Nah jadilah lebih dari 10 orang berBICARA bergantian, dan semua bersemangat!
Wah, hanya kami yang menggunakan bahasa Indonesia yang dapat dimengerti,
sisanya, bahasa Batak lho. Tapi tak apa, kami berusaha keras mengerti,
begitu juga mereka, hehehe.. Ok, kenapa MARKOBAR-KOBAR begitu penting?
Karena dalam tataran adat setiap orang adalah sama kedudukannya bila telah
memenuhi prasyarat tertentu. Bagi kita orang kota, mungkin tidak adil.
Apalagi dengan gencarnya edukasi bahwa anak pun bisa BICARA terbuka!

 

Saya mendukung hal tersebut, maklum saya bukan anak yang bebas bicara
terhadap orang tua, hihihihi. Namun akhirnya saya sadar, adat menjaga
kebebasan tersebut dengan benar. Tidak perlu saya jabarkan lebih lanjut,
rasanya kita tahu tidak sopan bila kita terlalu BICARA kepada orang tua yang
lebih berpengalaman, walau tidak semua orang tua berkata benar atau sesuai
zaman. Namun tetapi, ada batasan etika yang perlu di jaga, toh adat
membenarkan anak berbicara dalam forumnya sendiri, malah saya melihat segala
sesuatu dalam adat dapat dibahas lebih focus, karena waktu dibagi dengan
baik. Wah, pelajaran bagi saya nih yang Time Managementn'ya kurang baik,
hihihihihi.

 

Berlanjut..

 

Tiba saatnya tahlilan untuk mendoa'kan para Nabi, leluhur kami, kerabat yang
telah mendahului kami  dan bagi kami semua yang masih hidup. Alhamdulillah
tahlilan tersebut berjalan dengan baik diiringi nyala-mati'nya listrik
berkali-kali yang dipasok PLN ke desa kami. Setelah tahlilan, snack kecil
pun dibagi, dan di tutup dengan kata penutup dari Uztad (Guru Agama) kami,
Uwa Wahab. Ow, tunggu ada yang berbeda dengan tahlilan di kota. Mereka para
warga desa tidak ada yang beranjak sedikit pun dari Masjid sejak awal hingga
akhir acara, begitu juga dengan Ibu-Ibu'nya yang sedari Azhar menunggu masuk
Masjid.

 

Hingga akhir acara mereka tetap setia duduk di Masjid. Bukan pemandangan
yang biasa lho bagi saya! coba kita lihat di kota, tahlilan yang makannya
lebih dahulu keluar berpotensi "kehilangan" para undangan dibandingkan bila
makannya diakhir tahlilan. Oh, saya pikir ini berkaitan dengan "amplop". Lho
kok tidak ada amplop-amplop'an? Ya, mereka ikut tahlilan memang untuk
memenuhi undangan tahlilan, tidak lebih. Mau makan dapat sedikit atau
banyak, mau dapat amplop atau tidak, bukan masalah. Niat mereka satu,
memenuhi undangan tersebut. Ok, saya masih ragu.. saya ingin pembuktian
lebih lanjut.

 

Berlanjut.

 

Tiba saat'nya istirahat. Tidak terasa waktu sudah pukul 1:00 pagi. Dinginnya
malam disertai lolongan anjing kampung membuat suasana sungguh berbeda
(bukan serem lho)! Saya merasa seru saja sendiri, hampir beberapa hari saya
putus hubungan dengan dunia luar. Hanya alam teman saya! Televisi nyaris
hanya jadi pajangan. Saya sibuk sendiri dengan anak-anak kampung sekitar,
seru-seru. Selain harus mengerti bahasa mereka, saya harus tahan dengan
wewangian mereka, hahahaha.

 

Dan atas semua ketenangan semua tersebut, setiap malam saya selalu mendengar
paduan suara ngorok dari Oom dan sepupu saya, mungkin bagi mereka juga sama,
lha wong saya ngorok juga. Tapi semuanya menjadi hal yang seru, kenangan
indah yang tidak terbayar. Satu hal yang pasti, ngorok pertanda kelelahan
yang amat sangat (ngoroknya menimbulkan getaran tingkat tinggi, hehehe) dan
kelelahan menandakan aktifitas tinggi seharian, dan artinya apa yang kami
kerjakan satu hari tersebut sangat berarti. Cingcai'lah! :D

 

Akhirul kata, izin'kan saya beristirahat mala mini ya.. Groooooook
groooooook grooooook..

 

 

Regards,

 

Perdanawan P. Pane

Head Operational TMI

Trainer & LoA Achiever

[EMAIL PROTECTED]

 

PH:                               T/F:

+62 817 8 13 7 82             (+62 21) 319 09 184

+62 21 9280 5275

 

[EMAIL PROTECTED]

YM  : danny.pane

http://perdanawan.multiply.com

P  Please consider our environment before printing this email

 

Kirim email ke