Ketika Ramadhan Datang….

 

Saudaraku, Ramadhan sebentar lagi tiba. Ada tiga kelompok muslimin dalam 
menyikapi kehadirannya. Sekelompok tidak perduli. Dingin-dingin saja. 
Sekelompok terkaget-kaget mendengar  kehadirannya. Dan sekelompok lagi 
menyiapkannya dengan suka hati. 

 

Yang tak peduli, menganggapnya biasa-biasa saja. Bahkan tak mau tahu ibadah apa 
yang patut dilaksanakannya di dalamnya. Yang terkaget-kaget, karena tak suka 
akan banyaknya aturan yang bakal membatasi tingkah lakunya. Bahkan tingkah laku 
yang tadinya halal sekalipun. Yang suka hati adalah yang merasakan 
kenikmatannya pada Ramadhan tahun lalu, dan berkeinginan mengulanginya. Bahkan 
memperbaiki kekurangsempurnaan amalnya tahun lalu. 

 

Semoga kita termasuk ke dalam kelompok yang menyambutnya dengan suka hati. Bagi 
yang tidak peduli dan terkaget-kaget terpaksa menerima kehadiran Ramadhan, mari 
kita pelajari mengapa sekelompok orang itu bersuka cita menyambutnya.

 

Bagi yang bergembira menyambutnyapun, tak ada salahnya kalau membaca kembali 
alasannya bersuka cita. Sebagai recharge  kesiapan ruhiyah dalam menjalaninya 
nanti. Dengan membacanya insya Allah terbayang kembali bagaimana Rasulullah 
mengajarkan persiapan matang. Karena bukankah kita telah bertekat: 
kekurangsempurnaan ibadah Ramadhan kita tahun lalu akan kita perbaiki pada 
tahun ini? Insya Allah. Atas izin-Nya kita bakal melaksanakan ibadah Ramadhan 
tahun ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya.

 

Saudaraku, ayo jadikan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik kita. Karena 
kita tidak tahu apakah tahun depan kita bisa menikmatinya kembali. Jangan tunda 
tahun depan. Karena pasti di antara kita tak ada yang siap untuk menyesal di 
akhirat nanti.  

 

Kita pasti tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan orang kafir yang 
menyesal di hari pembalasan nanti. Seperti yang digambarkan dalam firman Allah 
dalam surat An Naba’ ayat 40. Mari kita buka mushaf Al Quran yang telah lama 
kita miliki. Bacalah dan hayati maknanya: 

 

Sungguh Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) siksa yang dekat, pada 
hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang 
kafir berkata: ”Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.    

 

Saudaraku, tentu kita bukanlah orang kafir seperti yang disampaikan Allah dalam 
ayat di atas. Tapi, firman Allah ini tetap dapat menjadi cermin bagi kita. 
Bahwa kalau kita terlambat dalam merespon ajakan ajaran agama kita apa lagi 
sampai tak perduli dengan apa yang kita perbuat di dunia ini, bisa jadi kita 
akan menghadapi penyesalan yang sama. Lalu kita nyeletuk, ”aduuh... enakan kita 
jadi tanah saja....” Ya. Tanah adalah benda mati, yang tak akan dimintai 
pertanggungjawaban apapun di akhirat nanti.

 

Tetapi... kita ini manusia. Sebagai ciptaan terbaik. Diberi perangkat lengkap 
oleh Allah untuk menangkap dan berusaha maksimal melaksanakan semua 
perintah-Nya dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Diberi kitab suci dan 
kemampuan membacanya. Diberi penglihatan dan kemampuan mencermatinya. Diberi 
pendengaran dan kemampuan mendengar seruan-Nya. Dan diberi hati untuk 
menasihati diri kita sendiri.

   

Maka semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Ada konsekuensi 
dari setiap langkah yang kita pilih. Karena kita bukan tanah. Meskipun orang 
yang menyesal nanti sangat ingin menjadi tanah saja.

 

Ayo, mari kita sambut kedatangan Ramadhan dengan suka cita. Bentangkan spanduk: 
Marhaban Ya Ramadhan. 

 

Tapi yang lebih penting lagi: Bentangkan keihlasan hati menerimanya. Siapkan 
ilmunya. Sambut dengan kegembiraan seluas-luasnya. Lebih luas dari total 
seluruh spanduk yang dibentang di seluruh jalan raya... 

 

(Dikutip dari buku ”Rahasia Kenapa Harus Merindukan Ramadhan” oleh Choirul 
Asyhar, Sya’ban 1429H)


Choirul Asyhar
-Dengar kata hati, karena ia jujur
Asah ketajamannya, karena ia bisa tumpul
Jaga dengan dzikir, karena ia mudah tergelincir
http://lintasankatahati.blogspot.com/

Kirim email ke