Mengasah Nurani dengan Empati

"Orang mungkin lupa dengan apa yang Anda katakan, lupa apa yang Anda 
lakukan, tapi akan selalu terkenang dengan bagaimana Anda 
memperlakukan mereka." 
-- Bonnie Jean Wasmund

AKHIRNYA mereka bertemu. Pada 17 Agustus lalu, di Istana Negara, dua 
remaja dari dua negara, dua wilayah yang berjauhan jaraknya, saling 
bertatapan, berpelukan, menangis bersama, dan tentu saja, tersenyum 
bersama. Sebuah happy ending seperti layaknya film-film remaja saat 
ini. Siapakah mereka? Sebegitu dramatiskah kisah mereka?

Mari sejenak kita kembali pada waktu, sekitar empat tahun silam. 
Ketika itu, tanah Aceh di sebuah pagi di hari Ahad, digulung ombak 
besar yang datang dari laut. Gempa besar, sekitar 9 skala richter 
mengguncang Aceh, menyebabkan air bah raksasa menyapu kota itu. 

Nada Lutfiah, seorang gadis remaja hampir saja menjadi korban. 
Untung dia selamat, meski banyak anggota keluarganya ikut tergulung 
dalam ombak besar itu. Air matanya terus menggenang seiring dengan 
tanah Aceh yang bersimbah air mata.  

Nun jauh di tanah Amerika Serikat, tangis itu juga pecah. Air mata 
Maggie Hamilton, seorang anak berusia 9 tahun, menetes. Meski dia 
sama sekali tidak mengenal orang-orang yang menjadi korban bencana 
Tsunami itu, toh dia merasakan pedih yang tak terkira. 

Namun dia beruntung. Dia masih memiliki segalanya. Bersama dengan 
teman-teman sekolahnya dari Charlevoix Elementary School, menulis 
surat sebagai tanda keprihatinan mereka kepada korban Tsunami. Dia 
pun menggalang  dana. Caranya dengan menjual gelang persahabatan 
yang uangnya dikumpulkan untuk diberikan kepada para korban Tsunami. 
Hasilnya lumayan. Uang seribu dolar mereka kumpulkan.   

Karena tidak tahu kepada siapa surat itu akan dituju, sekolah asal 
Maggie, Charlevoix Elementary School menitipkan pada Gedung Putih 
untuk disampaikan pada Pemerintah Indonesia. Akhirnya melalui jalur 
diplomatik, surat tersebut tiba juga di Indonesia. Sesampainya di 
Indonesia, surat itu diserahkan kepada Kepala BRR Kuntoro 
Mangkusubroto yang akhirnya memberikan surat itu kepada murid 
sekolah dasar di Aceh.  

Surat Maggie yang disertai sebuah gelang tangan itu dibalas oleh 
seorang gadis korban Tsunami yang kehilangan orang tua serta sanak 
saudaranya, Nada Lutfiah, kini 12 tahun. Setelah empat tahun 
melakukan korespondensi, Pemerintah Indonesia akhirnya mengundang 
Maggie dan keluarganya datang ke Indonesia untuk dipertemukan dengan 
Nada Lutfiah. Mereka pun bertemu dalam acara perayaan ulang tahun 
kemerdekaan di Istana Negara, 17 Agustus lalu. 

Inilah sebuah kisah yang dramatis, mengharukan, dan paling penting: 
mengetuk nurani siapa saja yang menyimaknya. Tak urung, media lokal 
dan asing meliput berita yang mengharukan ini. Maggie yang tidak 
pernah tahu di mana letak Aceh yang sesungguhnya, kecuali melalui 
siaran televisi, langsung mencuat rasa kepeduliannya yang luar 
biasa. Hanya dengan gambar di televisi, dia sepenuhnya bisa 
merasakan seluruh penderitaan yang dialami rakyat Aceh ketika itu.  

Empati. Itulah yang ada dalam diri Maggie. Melakukan empati, pada 
dasarnya kita mencoba 'mendengarkan' seseorang hingga ke dasar 
terdalam cara berpikirnya. Kita pun mencoba mendalaminya, dan 
mencoba melihat dari sudut pandang pemahamannya. Seandainya kita 
bisa memahami apa yang ia lihat, mengerti paradigma yang 
mendasarinya, maka kemungkinan besar kita pun dapat memahami apa 
yang dirasakannya. Singkat kata, empati adalah bersatunya rasa. Apa 
yang dirasakan Nada, itu pula yang ada dalam lubuk hati Maggie. 
Namun persoalannya, tidak semua orang bisa melakukan hal itu. Hanya 
orang-orang terpilih, yang bisa memiliki perasaan yang kurang lebih 
sama dengan yang dialami orang lain. 

Pada saat epidemi HIV/AIDS terjadi. Isu yang diembuskan dalam 
menangani para pengidap virus mematikan itu adalah dengan jalan 
menumbuhkan empati. Siapa pun diharapkan bisa merasakan kesedihan 
yang dialami penderita HIV/AIDS, sehingga mereka tidak terkucilkan 
dalam pergaulan masyarakat. 

Kini, di saat negeri ini masih dilanda kesusahan, sebenarnya rasa 
empati itu dapat muncul dengan seketika, begitu melihat atau membaca 
koran tentang penderitaan yang dialami masyarakat yang kurang 
beruntung. Sejatinya bila hal itu sudah terwujud, rasanya mustahil 
berbagai kabar buruk mengenai kekurangan gizi dan kelaparan akan 
terus terjadi. 

Lantas, apa yang harus dilakukan agar empati itu dapat terus tumbuh 
dalam diri seseorang? Hal pertama, tentu saja kita harus mampu untuk 
berpikir positif terhadap segala sesuatu. Dengan berpikir positif, 
akan membuat langkah ke depan kita dalam melakukan sesuatu menjadi 
lebih ringan. Kita pun dapat terus berusaha mencapai tujuan-tujuan 
yang positif ketimbang memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja 
terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. 
 
Rasa empati dapat pula terus tumbuh bila kita senantiasa melakukan 
kontak sosial dengan sekitar kita. Melakukan kontak sosial tak harus 
kita mendatangi langsung ke lokasi. Hanya dengan melihat dan 
membaca, Maggie dapat merasakan kepedihan yang dirasakan oleh para 
korban. Ada baiknya, Anda tak melulu jalan-jalan ke pusat 
perbelanjaan, suatu tempat keramaian yang penuh dengan kegembiraan 
dan kemewahan. Cobalah lakukan sebaliknya. Anda bisa juga mendatangi 
tempat-tempat kumuh misalnya.  Dengan mengetahui kejadian secara 
langsung, hati akan selalu dituntun untuk melihat dengan mata hati, 
otak pun kemudian akan berpikir dan kemudian menimbangnya.  
 
Sebagai makhluk sosial, seorang manusia mustinya sadar bahwa ia 
hidup tak sendirian. Suatu saat, dan hal itu akan terus terjadi, ia 
akan selalu membutuhkan uluran tangan dari orang lain. Begitu pula, 
ketika kita melihat seseorang yang mengalami kesusahan. Hati nurani 
kita biasanya langsung iba. Empati pun timbul. Tapi iba saja 
belumlah cukup. Kita bisa menawarkan uluran bantuan tanpa diminta 
sekalipun. Contoh sederhana dalam melakukan empati misalnya ketika 
kita sedang makan siang di kantor. Kita pun menawarkan pada teman 
untuk berbagi, walau terkesan basa-basi. Seandainya teman  tersebut 
tiba-tiba menerima tawaran tersebut, kita pun harus siap. 

Dengan empati, tak hanya kita menolong orang, secara materil walau 
mungkin tak seberapa, tapi juga utamanya secara moral. Dan yang 
paling penting yang harus kita ingat: roda selalu berputar, kadang 
di atas kadang di bawah. Seandainya kita sendiri suatu saat nanti 
mengalami kesusahan, kita sudah siap dan ikhlas dalam menerima 
cobaan tersebut. Mengingat hal itu, suatu ketika bisa saja kita 
mengalaminya, akan semakin mengasah nurani kita. Semoga. (010908)

Sumber: Mengasah Nurani dengan Empati oleh Sonny Wibisono, penulis, 
tinggal di Jakarta


 


Kirim email ke