Jalan Menuju Ke Langit..
Sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/09/jalan-menuju-ke-langit-mendekat-kepada.html Bahasa sehari-hari mengenal istilah; Alloh SWT yang di atas, atau Alloh SWT yang di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas pandangan mata. Dalam al Qur'an langit disebut dengan nama sama' atau samawat. Dalam bahasa Arab, sama' mengandung dua arti, pertama; ma `ala ka, apa yang di atasmu. Dari pengertian ini maka plafon di rumah kita di sebut langit-langit. Ke dua; langit adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia. Jika di sebut sorga berada di langit artinya akal manusia tidak akan mampu melacak keberadaannya. Sorga dapat dilacak dengan keyakinan atau iman, bukan dengan ratio. Bahasa sehari-hari juga suka menggunakan istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut kecantikan luar biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya selangit, kekayaan yang sangat banyak disebut kayanya selangit , dan ungkapan semisal lainnya. Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau `alam malakut satu "tempat" yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di `arasy Nya mengendalikan kekuasaanya melalui sistem sunnatulllah, dan Dia mengontrolnya secara detail hingga jatuhnya selembar daunpun berada dalam kontrol Nya. Di mana letak alam malakut dan dimana `arasy Alloh SWT, akal manusia tidak mungkin menjangkaunya, karena Alloh Maha Tinggi sedangkan manusia sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim Nya Alloh memberi infrastruktur kepada manusia untuk dapat mendekat kepada Nya. Allah menempatkan sifat ilahiah pada setiap manusia, apa yang dalam agama disebut nasut. Allah juga menempatkan cahaya (nur) Nya pada setiap hati (qalb) manusia, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala, oleh Al Qur'an disebut bashirah (Q/75:14-15). Jika sifat Alloh SWT al Bashir mengandung arti Alloh SWT mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah nya manusia atau hati nurani manusia juga dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, nurani dapat menerobos ke alam malakut bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Di alam malakut manusia bisa berjumpa dengan arwah manusia yang telah lama meninggal, dan jika beruntung bisa berjumpa dengan Nabi. Dengan sifat Nasut itulah manusia pada suatu ketika rindu kepada Alloh SWT. Sifat Nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Alloh SWT, maka pandangannya selalu ke "atas" mencari Dia Yang Maha Tinggi di "alam atas". Kerinduan kepada Alloh SWT itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma'innah, yakni jiwa yang tenang, atau ketika Alloh SWT berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya (Q/ 4:49) Di sisi lain, Alloh SWT memiliki sifat kemanusiaan (Lahut) yang selalu merindukan kehadiran manusia ke haribaan rahmat Nya. Alloh SWT sangat antausias menyongsong hambanya. Jika manusia mendekati Alloh SWT dengan jalan kaki, maka Alloh SWT akan menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang yang sudah sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi "mu'allaf" tetapi sudah mencapai pencerahan spiritualitas, karena ia disongsong oleh Alloh SWT. Di satu pihak, manusia memang memiliki bakat kerinduan kepada Alloh SWT dan untuk itu ia berusaha naik ke "atas" (taraqqi), di pihak lain, Alloh SWT yang merindukan kehadiran manusia berlari turun dari "atas" (tanazul) menyongsong setiap hambanya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang bisa ditempuh manusia mendekat kepada Nya. Pertama: Thariqah as Syar`iy, jalan syar'i. Siapa saja yang berusaha keras konsisten mengikuti syari'at, salatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, dan seluruh aspek hidupnya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus untuk orang-orang dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikti petunjuk Alloh SWT dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Alloh SWT tentang halal-haram, mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan Nya, maka ia berpeluang untuk menjadi orang dekat Nya. Kedua: Thariqah ahl az zikr, jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru interospeksi. Jika zikir itu dipelihara, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Alloh SWT yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas berzikir dengan hatinya. Keadaan apapun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat ke zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh d dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secara ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alampun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur `alam). Ketiga: Thariqah mujahidah as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur kepada Alloh SWT. Ia wajibkan dirinya mengerjakan yang sunnah, ia haramkan untuk dirinya apa yang sesungguhnya halal, semata-mata karena tahu diri. Ia lebih suka tidur di lantai, meski memiliki kasur, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, pokoknya semua yang sulit menjadi pilihannya. Baginya menempuh kesulitan dalam perjalanan mendekat kepada Alloh SWT itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan kepada Alloh SWT itu memalukan. Wallohu a`lam. Salam Cinta, agussyafii Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui [EMAIL PROTECTED] atau http://mubarok-institute.blogspot.com
