Good as reference (for moslem)
..
Mengikuti orang-orang terdahulu (ibadah)
Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini.
Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai
sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan
paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
Orang-orang yang mengikuti hal ini biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah
dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di
atasnya.
Orang-orang yang mengikuti ini tidak dibatasi oleh organisasi tertentu, daerah
tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan
mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran
dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush
Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun
berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh
ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan para sahabatnya.
Allah telah berwasiat kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An
Nisa’: 59)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah
jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami
biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam
Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)
Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan
tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan
orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan
orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah
menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik
pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya
dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan
mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya,
menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar
mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan
kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi
pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga
yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah
kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan
jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata,
akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha
Allah dan jaminan surga seperti mereka.
Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai
berikut:
1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang
siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat
perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang
teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing,
berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…”
(Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari
sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).
2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada
sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak
akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang
keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari
dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits
no. 1920).
3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah
belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu
golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab:
golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi
dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat
Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti
jalan ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu
dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu
a’lamu bish shawaab.
(Sumber dari tulisan Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari, Lc,dengan edit)
Wassalam