Dear Colleagues, Assalamualaikum wr. wb,
Saya yakin email ini menemui Anda dalam rasa syukur dan berkelimpahan. Ya, sebab hampir satu bulan pelatihan hidup yang bernama Ramadhan telah kita jalani, menunggu apakah hasilnya akan sesemarak ketika kita berada di dalamnya. Saya sendiri mempelajari suatu hal yang amat berharga di Ramadhan tahun ini. Begini ceritanya, Pertengahan Ramadhan, saya mengikuti buka puasa bersama di kantor tempat saya bekerja. Tanpa saya tahu menahu mengenai persiapan yang dilakukan oleh rekan-rekan, saya pun hadir ketika sang penceramah sudah memulai siraman rohani pengantar berbuka puasanya. Duduk di sebuah bangku, sebuah pertanyaan yang mengejutkan terdengar di telinga saya, "Coba, adakah di antara Bapak Ibu yang bisa menyebutkan satu ayat saja dalam Al Qur'an yang meminta manusia untuk *mencari* rezeki." Sang Ustadz pun mengeluarkan sebuah HP dari sakunya, dan berjanji memberikannya kepada siapa saja yang bisa menjawab. Beberapa orang mencoba, dan sampai pada kesimpulan bahwa paling banter adalah ayat yang memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi. Namun, tetap saja pertanyaan tersebut tidak terjawab. "Ya, tidak ada satu ayat pun yang meminta manusia untuk mencari rezeki. Allah itu Maha Kaya dan Maha Pemberi. Janjinya pasti, rezeki akan diberikannya untuk memenuhi kebutuhan kita," jelasnya. Saya pun termenung. Inilah jawaban dari pertanyaan yang beberapa lama saya ajukan. Saya termasuk orang yang tidak tertarik untuk mengejar karir begitu keras, sehingga terpaksa hanya memiliki waktu sedikit saja untuk kehidupan saya yang lain, utamanya keluarga. Namun saya masih sering bertanya-tanya, apakah cara saya bekerja ini akan mendatangkan rezeki yang cukup. Ya, sore itu sebuah jawaban dihadirkan kepada saya. Allah itu Maha Kaya, maka Ia tidak membutuhkan kerja keras kita untuk dapat memberi rezeki kepada kita. Allah itu bukan pedagang, yang perlu kita beri uang untuk bisa memberikan materi yang kita butuhkan. Tapi, bukankah itu akan membuat kita malas? Tentu tidak! Kita tetap harus bekerja dengan maksimal, seperti perintah untuk bertebaran di muka bumi tadi. Namun kita bekerja itu bukan untuk mendapatkan rezeki, melainkan untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita. Bukankah kita diberikan tubuh yang sehat, mental yang kuat, otak yang pandai, indera yang tajam, keterampilan dan pendidikan yang memadai? Gunakanlah itu untuk kemaslahatan banyak orang, maka kita telah bersyukur. Sisi lain, kerja keras adalah upaya Allah untuk menyiapkan kita guna mengelola rezeki yang lebih besar. Bukankah seorang yang begitu miskin tetap akan miskin ketika tiba-tiba diberikan uang sebesar 10 miliar, karena ia tidak tahu cara mengelolanya? Maka kerja keras akan menjadikan kita siap untuk mengelola rezeki sesuai dengan apasitas kapasitas yang kita miliki. Demikianlah, maka bekerja akan menjadikan manusia rahmat bagi seluruh alam, dan menghindarkan kita dari cara-cara yang merusak alam dan menyakiti orang lain. Sebab kita bekerja bukan untuk materi, melainkan untuk bekerja itu sendiri. Ya Allah, kami tidak peduli apakah kami akan sampai di Ramadhan tahun depan, asalkan tiap detik yang telah kami lewati telah engkau berikan berkah kepadanya. Namun jika ia belum cukup untuk menemui-Mu, maka berikanlah kami kesempatan lagi untuk meraih hikmah-Mu. Indonesia NLP Society mengucapkan, Taqabbalallahu minni wa minkum, semoga Allah menerima ibadah kita semua. Wassalamualaikum wr. wb. -- Salam Street Smart NLP! Teddi Prasetya Yuliawan Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>
