*NLP and the Structure of Hypnosis (Part 1)*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.org

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *Mastering Fear** with NLP, 1 November 2008*



Ah, Anda masih ingat rupanya dengan nama Milton Erickson rupanya. Ya,
setelah merumuskan Meta Model, Bandler dan Grinder kemudian diperkenalkan
kepada Milton Erickson. Erickson adalah seorang psikiater dan psikoterapis
kenamaan yang pernah ada di dunia. Saya katakan demikian, karena memang ia
sangat fenomenal di jagat psikoterapi dan lebih khususnya hipnoterapi
klinis. Ia telah merevolusi jagat perhipnosisan menjadi sebuah ranah ilmu
yang saintifik dan bebas dari unsur mistik. Lebih dari itu, pendekatan *
indirect* yang ia kembangkan menjadikan hipnosis sebuah ilmu yang memiliki
efek terapi amat ampuh. Konon, Erickson hampir tidak pernah gagal dalam
menghipnosis orang. Wuih! Memang, ada beberapa kemungkinan akan hal yang
belakangan saya sebut ini. Bisa jadi karena ia pandai memilih pasien, atau
memang ia betul-betul jagoan hipnosis yang mumpuni.

Ups, bercanda. Erickson memang masuk yang amat mumpuni kok.

Nah, agar semakin memudahkan Anda dalam memahami paparan Milton Model dalam
seri *NLP and Hypnosis *ini nantinya, saya akan putarkan sekelimut latar
belakang keunikan pendekatan Milton Erickson terhadap hipnosis. Keunikan
inilah kemudian yang mengilhami Bandler dan Grinder untuk menyusun sebuah
model bahasa yang luar biasa ini. Dan, untuk dapat memahami keunikan
pendekatan tersebut, Anda tentu perlu pula memahami...



*Apa Itu Hipnosis?*

Sudah bertahun-tahun yang lalu sejak saya pertama kali mengenal istilah
hipnosis. Ketika itu, hipnosis masih begitu kabur dalam bayangan saya,
apalagi kaitannya dengan sebuah teknologi perubahan diri. Yang saya tahu,
hipnosis adalah salah satu alat yang banyak digunakan oleh penipu dalam
tindak kejahatan.

Beberapa tahun kemudian, saya pun menemukan kegunaan lain dari hipnosis:
pertunjukan! Ya, sempat saya melihat bagaimana hipnosis digunakan oleh
orang-orang bule di Amerika sana untuk melakukan berbagai macam 'manipulasi'
kepada para subyeknya di atas panggung. Sampai, akhirnya, saya pun menemukan
acara serupa di salah satu televisi swasta di negeri ini. Seorang hipnotis
seolah mampu menghipnosis seseorang hanya dengan mengajaknya bersalaman,
untuk kemudian memberinya sugesti agar mau melakukan berbagai hal konyol.

Demikianlah, stigma hipnosis pada waktu itu tidak terlalu baik dalam benak
saya, sampai saya akhirnya menemukan kembali ranah ilmu luar biasa ini
ketika mendalami NLP. Hipnosis yang dikenalkan NLP ternyata adalah sebuah
ilmu yang ampuh untuk mem-*by pass* pikiran sadar yang seringkali terlalu
kritis dan menolak perubahan. Dengan berasumsi bahwa perubahan yang
sesungguhnya justru terletak di pikiran bawah sadar, maka hipnosis menjadi
begitu penting untuk digunakan dalam jagat ilmu transformasi diri.

Secara harfiah, kata hipnosis bermakna tidur. Memang, setelah melalui
perkembangan riset hingga saat ini, rupa-rupanya istilah ini memang kurang
tepat untuk menggambarkan fenomena yang satu ini. Kurang tepat, karna ketika
kita mendalami hipnosis, yang terjadi justru adalah sebaliknya: seseorang
yang berada dalam kondisi hipnosis justru lebih sadar dan lebih memiliki
kontrol terhadap apa yang terjadi dalam dirinya. Namun, karena sudah
terlanjur populer, maka kata hipnosis terus digunakan hingga saat ini.

Sementara itu, secara istilah, hipnosis dapat didefinisikan sebagai sebuah
kondisi amat terfokus ke dalam diri yang dialami oleh seseorang. Kondisi
fokus ini dapat berupa fokus terhadap ingatan, ide, pikiran, representasi
internal, perasaan, dll.  Oleh sebab itulah, istilah *trance* sebenarnya
lebih tepat untuk menggambarkan kondisi ini, sebab ia menjelaskan adanya
proses transisi dari sebuah bentuk kesadaran menjadi bentuk kesadaran yang
lain. Dengan demikian, maka begitu banyak fenomena sehari-hari sebenarnya
dapat dikategorikan sebagai kondisi terhipnosis. Sebutlah ketika Anda sedang
menonton sebuah film sampai begitu larut di dalamnya, terhanyut dalam
emosinya, dan tidak mendengar ketika ada seseorang memanggil Anda. Atau,
Anda sedang asyik menjalani hobi Anda, sehingga tidak menandai bahwa Anda
sudah melakukannya selama seharian. Atau, Anda sedang mendengarkan sebuah
alunan musik melalui *ear phone* sampai-sampai tidak menyadari kalau sudah
berjalan ke arah yang salah. Atau juga, Anda sedang menjalankan sebuah
ibadah (shalat, dzikir, dsb) sehingga mencapai sebuah kondisi khusyuk yang
dalam. Itulah yang saya alami ketika pertama kali membaca novel-novel karya
Pramoedya Anata Toer, yang pada mulanya saya agak alergi karena begitu
tebal, namun malah menjadi sulit berhenti ketika sudah mulai membacanya.

Anda masih ingat dengan istilah TDS, kan? Itu lho, *trans-derivational
search. *Nah, sejatinya, TDS itulah yang menjadi isu sentral dalam hipnosis.
Begini penjelasannya. Secara alamiah, manusia akan mengakses segala
pembelajaran dan pengalaman yang pernah ia alami ketika ia mendengar sebuah
kalimat. Dengan kata lain, Anda dan saya sebenarnya akan selalu "masuk ke
dalam"  dan mengakses gudang memori pikiran dan perasaan untuk dapat
memahami sesuatu.

Dan, hey, bukankah ini definisi hipnosis yang baru saja kita bahas dalam
paragraf sebelumnya? Sebuah kondisi ketika kita terfokus ke dalam diri.
Kalau demikian halnya, maka tidak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa
hipnosis adalah proses yang berlawanan dengan kondisi sadar, sebab justru
dalam kondisi hipnosis seseorang menjadi begitu sadar akan berbagai hal yang
secara sadar tidak ia sadari.

Ya! Ketika Anda nanti mempelajari hipnosis secara khusus, Anda akan
mendapati bahwa ada banyak hal-hal yang semula sulit Anda ingat menjadi
begitu jelas dalam ingatan Anda. Anda menjadi memiliki kontrol terhadap
ingatan Anda yang terpendam, bahkan mampu mengolahnya sehingga menjadi
ingatan yang lebih berkualitas (misal: menghilangkan trauma, dll).

Sisi lain, kita dapat menggunakan hipnosis untuk mengaktualisasikan
kemampuan terpendam yang dimiliki oleh pikiran-perasaan dan tubuh kita.
Karena prosesnya yang dapat menciptakan sebuah kondisi dengan konsentrasi
tinggi, maka kita dengan mudah dapat mengakses segala sumber daya internal
yang ada dalam diri kita. Melakukan hal ini, Anda dan saya bisa mengakses
kemampuan penyembuhan yang ada di dalam tubuh, melalui pengaturan pola
nafas, detak jantung, aliran darah, mengurangi rasa sakit, dan berbagai hal
lain yang dalam kondisi terjaga akan sulit kita lakukan. Tidak ada yang
mistik nan ajaib, hanya sebuah pertunjukan potensi pikiran-perasaan manusia
yang luar biasa.

Lalu, bagaimana dengan fenomena hipnosis panggung ketika seseorang mau
melakukan berbagai hal yang ia biasanya malu untuk melakukannya?

Sederhana saja: orang tersebut sebenarnya memang mau melakukan hal itu. Ia
hanya malu mengungkapkannya. Sebuah prinsip dasar hipnosis mengatakan bahwa
Anda tidak akan pernah bisa menghipnosis seseorang dan mensugestinya untuk
melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan *belief* dan *value
system*yang ia miliki.

Tapi, bagaimana dengan penipuan dengan menggunakan hipnosis?

*Well*, saya harus jujur mengatakan bahwa para penipu itu tidak menggunakan
hipnosis. Sang korban lah yang memang menyediakan diri untuk ditipu. Sebab
berbagai kasus penipuan seperti itu ternyata memunculkan fakta bahwa sang
korban rupa-rupanya memang tidak berada dalam kondisi waspada atau tergiur
oleh sebuah tawaran yang menarik seperti undian untuk mendapatkan hadiah
dalam jumlah yang besar. Barangkali karena mengatakan, "Saya ditipu,"
mengindikasikan citra kebodohan, maka lebih mudah untuk mengatakan, "Saya
dihipnotis".

Tidak percaya? Coba saja menggunakan hipnosis untuk melakukan pelecehan
seksual, saya berani jamin Anda akan mendapatkan sebuah tamparan dan pukulan
yang mematikan dari sang korban. Kalau ia ternyata mau dengan suka rela,
berarti bukan hipnosis yang bekerja, melainkan memang *belief system*-nya
yang menyetujui hal itu.

Mengenai hal ini, Milton Erickson sendiri pernah mengatakan bahwa jika kita
bisa mengontrol seseorang dengan hipnosis, maka seharusnya jumlah
orang-orang yang sakit fisik dan psikologis akan jauh berkurang, bahkan
menghilang sama sekali! Hipnosis hanya sebuah cara untuk memfasilitasi
seseorang untuk fokus pada hal-hal yang ia anggap penting dan mengabaikan
yang lainnya.

Ah, sudah cukup rasanya cerita tentang miskonsepsi hipnosis ini. Mari kita
lanjutkan ke pembahasan yang lebih bermanfaat.



*Hipnosis dan Gelombang Otak*

Dalam dunia medis, hipnosis dianggap sebagai sebuah kondisi ketika gelombang
otak kita berada dalam kondisi *alpha* hingga *theta*. Dalam kondisi seperti
ini, kita cenderung untuk lebih memperhatikan informasi internal yang sudah
terlebih dulu ada di dalam otak dalam bentuk memori. Mereka yang mengalami
kondisi ini seringkali mengungkapkan kalau gambaran visual dalam pikiran
mereka tampak lebih hidup, kesulitan untuk mengarahkan perhatian ke luar,
seperti seolah-olah sedang bermimpi.

Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa hipnosis sebenarnya hanyalah
sebuah proses kesadaran alamiah yang sering sekali terjadi dalam kehidupan
sehari-hari. Hanya saja, kondisi *trance *yang kita alami ketika menonton
film secara serius, misalnya, menempatkan kita dalam gelombang *alpha*,
sementara ketika sedang dihipnosis secara formal kita berada dalam gelombang
*theta*. Dan, kondisi seperti ini sebenarnya sudah sering kita sadari dengan
menggunakan istilah seperti "berkonsentrasi penuh", "mengendurkan pikiran",
meditasi, berdoa, mimpi di siang bolong, dll. Begitu juga ketika Anda sedang
memikirkan impian yang ingin Anda capai di masa depan.

Apakah dalam kondisi-kondisi tersebut Anda berada dalam kontrol orang lain?
Jelas tidak, bukan? Begitu pula yang saya alami ketika pertama kali
menjalani proses hipnosis dalam sebuah pelatihan *Ericksonian Hypnosis*.
Jangankan dikontrol, saya bahkan masih ingat betul setiap langkah yang saya
alami ketika sedang *trance*. Bahkan, saya bisa menandai jika ada kata-kata
dari hipnotis yang kurang sesuai dengan kondisi diri saya. Saya bisa keluar
dan masuk *trance *sesuai dengan keinginan saya. Saya bisa menerima dan
menolak induksi yang disampaikan dan memilih untuk tetap sadar. Inilah yang
disebutkan oleh Bandler dan Grinder dengan, *every hypnosis is self hypnosis
*. Setiap proses hipnosis sejatinya adalah proses si klien menghipnosis
dirinya sendiri. Silakan saja mencoba untuk menghipnosis seseorang yang
jelas-jelas tidak percaya kepada Anda, saya jamin ia tidak akan *trance*!

Ah, saya tiba-tiba teringat mengapa dalam komunikasi sehari-hari pun, yang
sebenarnya banyak melibatkan kondisi *trance*, kita bisa fokus pada satu
saat dan tidak fokus pada saat lain. Sebab komunikasi sehari-hari adalah
juga bentuk hipnosis, hanya saja dengan kualitas yang buruk. Pelajarannya,
sebagai seorang hipnotis dan komunikator, Anda selayaknya senantiasa
memperhatikan setiap kata dan cara penyampaian yang Anda keluarkan sehingga
dapat mempertahankan kondisi yang dialami oleh audiens Anda. Sekali Anda
melanggar prinsip, keyakinan, dan tata nilai yang mereka miliki, maka
selesai lah proses komunikasi Anda.

Jadi, kita sampai pada kesimpulan bahwa hipnosis mampu membuat kita dengan
lebih mudah mengelola kesadaran yang kita miliki.

Lalu, apa manfaatnya?

Jelas banyak sekali. Semisal, Anda dalam kondisi stres, maka
*trance*memungkinkan Anda untuk rileks dan membuka pintu pembelajaran
baru untuk
mengatasi permasalahan yang Anda alami. Dan omong-omong, bukankah ini
membuat Anda bisa keluar dari batasan-batasan yang Anda miliki? Anda bisa
mengolah keyakinan lama yang menghambat, menyesuaikannya, dan menjadikan
diri Anda lebih memiliki kontrol atas hidup Anda sendiri. Bukankah Anda
sudah belajar tentang *people have the internal resources they need to
succeed*?

Aha, Anda semakin penasaran dengan bahasan ini? Tunggu dulu. Jangan
buru-buru penasaran sekarang, sebab pembahasan ini baru dimulai. Bahkan,
belum mencapai 'hidangan utama'-nya. Jadi, tunggu artikel berikutnya ya!

Kirim email ke