*NLP and The Structure of Hypnosis*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.org

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *NLP for **Teachers**, 15-16 November 2008***



"Bagaimana seorang hipnotis bekerja?" tanya seorang kawan.

"Dengan mengucapkan kata-kata," jawab saya.

"Hanya itu? Bagaimana dengan bandul, kursi malas, dll?" tanyanya penasaran.

"Ya, cuma itu, tanpa bandul dan kursi khusus. Hanya memang kata-katanya itu
ada rahasianya," sambung saya.

"Rahasia? Apa tuh?"

Seorang hipnotis adalah pakar dalam menggunakan kata-kata yang mampu
mengarahkan pikiran-perasaan seseorang untuk "masuk ke dalam" dan mencari
maknanya sendiri. Kata-kata inilah yang kemudian disebut sebagai *hypnotic
language pattern* dalam NLP. *Hypnotic language* adalah jenis kata-kata dan
susunan kata yang mampu membuat pendengarnya mengalami *trance*. Nah, jika
Anda buka kembali bab mengenai Meta Model, maka pelanggaran-pelanggaran Meta
Model itulah beberapa jenis susunan kata yang memiliki efek seperti ini.
Kata "motivasi", contohnya. Ia adalah sebuah nominalisasi, yang untuk
memahaminya, kita harus mengalami TDS dan mencari sendiri makna yang kita
miliki terhadap kata tersebut.

Hampir semua kata-kata yang merupakan hasil evaluasi dari sesuatu memiliki
efek hipnotik. Dalam NLP, kata-kata yang demikian disebut dengan *evaluative
words*, sementara kata-kata yang memiliki efek sebaliknya disebut
dengan *sensory-based
words*.

Dan, bagaimana persisnya kita bisa memainkan *hypnotic language* dalam
komunikasi kita? Mari kita mulai petualangan kita di...



*Milton Model: The Reverse Meta Model*

Setelah melakukan *modeling*, John Grinder pernah mengungkapkan bahwa Milton
Erickson telah menyediakan sebuah model komunikasi yang paling ampuh yang
pernah ia gunakan. Betapa tidak? Erickson telah merevolusi cara kerja
hipnosis—dan juga komunikasi—sehingga menjadi begitu fleksibel dalam
mengatasi berbagai persoalan. Itu baru soal pola bahasa. Erickson juga
mengajarkan hal penting lain yang menjadikannya seorang hipnoterapis yang
tidak pernah gagal: *behavioral flexibility*.

Loh, itu kan salah satu pilar NLP?

Memang, sebab kebanyakan prinsip-prinsip dan presuposisi NLP sebenarnya
diadaptasi dari prinsip yang diajarkan oleh Erickson. Ia mengajarkan kita
untuk menghargai *unconscious mind* seseorang, meyakini bahwa setiap
perilaku selalu memiliki maksud baik, bahwa setiap orang mengambil keputusan
berdasarkan pilihan terbaik yang ia miliki saat itu, bahwa setiap orang
memiliki segala sumber daya yang dibutuhkan untuk mengubah dirinya, begitu
juga dengan teknik-teknik membangun keakraban seperti *pacing-leading*.

Nah, kebalikan dari Meta Model yang melakukan proses pencacahan (*chunk down
*) terhadap berbagai distorsi, generalisasi, dan delesi dari informasi,
Milton Model justru melakukan ketiga proses tersebut secara brilian.
Bukannya menggunakan kata-kata yang semakin spesifik, Milton Model malah
menghaturkan informasi yang semakin umum (*chunk up*). Mengingat-ingat
pelajaran Bahasa Indonesia SMP dulu, Meta Model adalah kata-kata dalam
kelompok *hiponim*, sedangkan Milton Model adalah kata-kata dalam kelompok *
hipernim.* Inilah sebabnya, Milton Model seringkali disebut dengan "*the
precise use of vague words*".

Menggunakan Milton Model, kita memfungsikan distorsi, generalisasi, dan
delesi dengan tujuan yang presisi. Kita memberi ruang terbuka untuk diisi
oleh pendengar dengan melakukan pencarian ke dalam. Oleh sebab itu, Milton
Model dasar adalah menggunakan pelanggaran Meta Model yang bertujuan. Mari
kita bahas kembali Meta Model satu per satu, namun kali ini dengan sudut
pandang yang berbeda.



*Distortion*

*Nominalization*.

Menggunakan nominalisasi, kita menghentikan sebuah proses yang berubah-ubah
menjadi sesuatu yang statis, sehingga dapat bertahan secara permanen dalam
diri seseorang. Kata-kata yang bercetak tebal berikut ini adalah
nominalisasi yang disengaha.

*Anda tahu bahwa Anda sudah memiliki kemampuan dan keterampilan yang
dibutuhkan untuk melakukan perubahan, karenanya Anda pasti dapat
melakukannya dengan mudah.*



*Mind Reading*.

Memanfaatkan *mind-reading* secara tepat akan memunculkan semacam keyakinan
dalam diri rekan bicara terhadap keahlian Anda.

*Anda tentu bertanya-tanya tentang manfaat yang bisa Anda dapatkan dalam
jangka panjang, bukan?*



*Cause**-Effect**.*

Guna menciptakan sebuah keterkaitan antara berbagai kondisi yang sudah
diciptakan, Anda dapat menggunakan kata-kata kunci hubungan sebab-akibat
untuk mengaplikasikan model ini.

*Jika** Anda mau melakukan latihan ini dengan serius, maka hasil yang akan
Anda dapatkan pun menjadi semakin luar biasa. *

*Yakinlah, setiap ujian yang telah Anda lewati akan membuat Anda semakin
matang dari waktu ke waktu. *



*Complex Equivalence**.*

Menggunakan model ini, kita dapat menciptakan tautan antara sebuah perilaku
yang diinginkan dengan suatu kondisi tertentu yang diharapkan.

*Mengeluarkan sedakah berarti menunjukkan kepedulian Anda terhadap
keberlangsungan kehidupan orang lain.*



*Presuppositions**. *

Setiap kalimat selalu mengandung asumsi. Maka tantangannya bukan apakah kita
akan memasukkan sebuah asumsi atau tidak, melainkan bagaimana kita memasang
sebuah asumsi yang tepat untuk mengarahkan rekan bicara kepada perilaku dan
kondisi yang diinginkan. Model ini sangat mungkin untuk dapat dikombinasikan
model-model lain.

*Ketika Anda selesai melakukan latihan nanti, Anda saya minta untuk
menuliskan insight yang Anda dapatkan. *

Dalam kalimat ini, kita berasumsi bahwa para pendengar pasti akan melakukan
latihan sekaligus mendapatkan *insight* dari latihan tersebut.

*Jika Anda mau menggali makna dari kejadian itu, Anda akan merasakan sebuah
ketenangan yang luar biasa. *

Asumsinya, si pendengar saat ini belum menggali dari kejadian yang dialami,
dan karenanya masih belum merasakan ketenangan.



*Generalization*

*Universal Quantifiers*.

Memaksimalkan penggunaan model ini akan membuat proses pembelajaran yang
sudah dilalui menjadi seolah ditempeli dengan sebuah *seal* sehingga
memiliki efek permanen.

*Setiap** hal yang Anda temui besok pasti akan memberikan Anda
pengalaman-pemgalaman baru.*

*Mulailah perubahan, dan Anda akan mendapati semua orang memunculkan respon
yang berbeda kepada Anda.*

* *

*Modal Operators**. *

Penggunaan modal operator akan menciptakan sebuah kondisi urgensi untuk
melakukan/tidak melakukan perilaku yang diinginkan.

*Sembari Anda mendengar suara-suara yang Anda dengar di ruangan ini, Anda
boleh mulai merasa rileks dan nyaman.*

*Anda bisa melakukan hal itu dengan mudah, ketika Anda memutuskannya
sekarang.*



*Lost Performer*.

Anda sebenarnya sudah sering menggunakan model ini, ketika Anda mengatakan
kalimat-kalimat yang berasal dari keyakinan, adat istiadat, dll. Rasakan
saja bagaimana kalimat-kaliatm di bawah ini menimbulkan efek tertentu pada
diri Anda.

*Di balik setiap kesulitan selalu ada kemudahan.*

*Orang sabar disayang Tuhan.*



*Deletion*

*Simple Deletion*.

Menggunakan penghapusan secara sengaja akan menciptakan efek generalisasi
bagi rekan bicara akan kondisi yang diharapkan.

*Anda merasa nyaman.*

*Anda merasa bahagia.*

*Anda tahu, bahwa Anda tahu.*

* *

*Comparative Deletion*.

Menggunakan model perbandingan tanpa menyebutkan pembanding juga akan
memunculkan efek generalisasi terhadap kondisi positif yang Anda inginkan.

*Anda merasa lebih bahagia.*

*Bukankah Anda lebih tahu tentang diri Anda sendiri?*

* *

*Unspecified Noun or Verbs*.

Model ini mensyaratkan kita untuk menggunakan kata benda dan kata kerja yang
bersifat umum untuk memunculkan efek distribusi kondisi yang diharapkan ke
seluruh konteks yang mungkin.

*Anda akan mendapati bahwa orang-orang akan memandang Anda dengan cara yang
berbeda mulai dari sekarang.*

*Jika Anda tidak memperhatikan kepentingan rakyat, maka tunggu saja
kehancurannya. *

* *

Mudah, bukan?

Nah, selain melakukan 'pelanggaran' Meta Model, Bandler dan Grinder rupanya
juga menemukan model-model lain dalam *hypnotic language* yang digunakan
oleh Milton Erickson. Dan, menggunakannya secara kombinasi akan menjadikan
efek hipnotiknya semakin kuat.

Apakah model-model itu? Anda akan temui di artikel selanjutnya...


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke