*NLP Untuk Kebebasan dan Keserbamungkinan*

Read More? http://indonesianlpsociety.org

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

Upcoming Event? *NLP for **Teachers**, 15-16 November 2008*



Cukup lama saya ingin menulis artikel ini. Namun karena saya masih merasa
ada bangunan ide yang masih membutuhkan penggodokan, maka baru hari inilah
artikel ini selesai saya tulis.

Dan, apakah yang membuat artikel ini lengkap?

Sederhana. Yaitu sebuah pertanyaan yang diajukan oleh kawan baru saya, Pak
Dr. Gunawan, yang saya kenal secara resmi 3 hari lalu, ketika mendalami
hipnosis bersama Mbak Yu Issa Kumalasari.

Singkat cerita, ketika kami sedang *break*, forum diskusi utara-selatan pun
diadakan (baca: ngobrol ngalor ngidul). Dari pembicaraan yang asyik masyuk
tentang per-NLP-an itu, tibalah kami pada sebuah pertanyaan, "Apa ujung dari
semua per-NLP-an ini?"

Hmm...sebuah pertanyaan yang menarik. Ya, menarik karena saya sendiri sempat
mengalami fase naik dan turun selama 4 tahun mendalami NLP. Sebuah kalimat
yang sempat membuat saya ragu dan sering diucapkan oleh para pakar NLP
adalah, "You can be ANYTHING* *that you want to be!"

"Ah, benarkah demikian?" pikir saya ketika itu. Kalau benar kita bisa BEBAS
menjadi APAPUN yang kita inginkan, lalu mengapa kah saya tidak jadi
berangkat berguru pada Eyang Bandler bulan Juli lalu? Ups...kok jadi curhat.
He..he..

Dan, pertanyaan sederhana itu seolah menjadi tombol pemicu integrasi
berbagai pembelajaran yang telah saya lewati dalam pikiran-perasaan saya. Ia
seolah menyatukan rangkaian yang belum terangkai dari jutaan jaringan neuron
yang memegang informasi yang terpisah-pisah, menjadi sebuah jalinan yang
harmonis.

Seketika sebuah firman Tuhan menyeruak dalam benak saya: seorang manusia,
hakikatnya adalah rahmat bagi seluruh alam. Nah, kata 'seluruh' ini, jika
kita cermati dari sudut pandang NLP, jelas merupakan *unspecified verb* yang
butuh untuk dijelaskan. Ia segera akan mengajak kita untuk mengalami *trance
* dan menafsirkan dengan cara kita sendiri, berdasarkan *transderivational
search* yang kita alami. Ia adalah alam keserbamungkinan yang tak terbatas.

Namun, benarkah ia tak terbatas?

Hmmm...renung punya renung...sebuah suara pun berbisik di telinga saya:
Bukankah tak terbatas itu tidak sama dengan tak punya batasan?

Heh! Hah! Hoh! Hih! Huh!

Wow! Subhanallah...! Ini dia nih. Ini dia yang namanya hikmah. Datang dari
sumber yang tak diduga-duga, hanya ketika kita sudah dianggap siap untuk
menerimanya.

Tak terbatas, bukanlah tak punya batasan. Ya, ya, ya. Manusia memang punya
potensi tak terbatas, persis seperti yang digaungkan oleh NLP. Namun bukan
berarti ia tak punya batasan.

Loh, bagaimana bisa tak terbatas jika ia masih punya batasan?

Ya tentu bisa. Dan, apakah batasan itu?

Ia adalah rasa syukur yang kita haturkan atas apa yang sudah kita miliki.
Rasa syukur yang menimbulkan kepasrahan, hanya ketika langkah telah diambil
dan waktu telah terlewat. Bukan kepasrahan, jika ia terjadi sebelum kaki
diayun.

OK, mari kita agak membumi sekarang.

Apakah saya bisa jadi presiden? Apakah saya bisa jadi pengusaha dengan omset
1 miliar per minggu? Apakah saya bisa menjadi presiden direktur dalam waktu
5 bulan? Apakah saya bisa memiliki rumah senilai 2 miliar? Dan seterusnya...

Apa jawabannya?

Yak, tepat. Bisa!

Tapi...apakah ia akan benar-benar terjadi?

Tergantung.

Kok tergantung?

Ya, tergantung pada apakah langkah untuk meraihnya telah diayun, apakah
sumber dayanya telah dimaksimalkan, dan apakah setiap pembelajaran yang
diperoleh telah diaplikasikan lagi.

Nah..nah..nah..di sini lah menariknya. Kok, mesti menunggu ketika langkah
telah diayun, memaksimalkan sumber daya, dan mengambil pembelajaran? Kan
potensi kita tidak terbatas.

Aha! Ya, begitulah. Dia Yang Maha Menghendaki itu lebih tahu apa yang kita
butuhkan, jauh lebih dari diri kita sendiri. Bukankah sebuah mobil tidak
bisa tahu untuk apa ia bisa bermanfaat, manusia pembuatnya lah yang
tahu?  Sebab
tugas sebuah mobil adalah melaju kemana pun ia bisa, semaksimal yang ia
mampu.

Maka, di luar keserbamungkinan yang mungkin bisa dimiliki manusia, masih ada
Yang Maha Menciptakan keserbamungkinan itu. Koneksikanlah *outcome *yang
kita buat dengan-Nya, jalinlah *rapport* dengan-Nya, pekalah terhadap
ayat-ayat-Nya, dan luweslah memaknai keputusan-Nya, maka segalanya dijamin
pasti ekologis.

Sebab, *the map is not the territory*. Dan, bukankah kesuksesan, kekayaan,
kebahagiaan, adalah peta yang kita ciptakan sendiri? Kalau kesemuanya
hanyalah peta, apalagi syarat untuk mencapai peta-peta tersebut? Saya akan
bahagia kalau punya uang banyak. Saya sukses kalau punya rumah besar. Saya
kaya kalau bisa menyumbang sekian miliar. Dan seterusnya.

Hmm...tidakkah semua itu hanyalah sebuah peta dari peta? Bisakah kita sukses
tanpa uang? Bisakah kita kaya tanpa harta? Bisakah kita bahagia tanpa
materi?

Anda tentu sepakat untuk menjawab "Bisa", bukan?

Ya, karena tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang benar-benar nyata,
selain ia nyata di dalam pikiran-perasaan kita sendiri.

Dan, di sinilah letak kebebasan dan ketidak terbatasannya. Ketika saya
menggunakan NLP hanya untuk meraih apa yang tampak kasat mata, maka sebatas
itulah kebebasan yang kita dapatkan. Namun ketika saya menggunakan NLP untuk
mendapatkan apa yang tidak ada dalam peta saya, itu baru tak terbatas. Itu
baru kebebasan.

Aha, bukankah kita sudah sering mendengarnya dalam ajaran agama: bebaskan
lah dirimu dari belenggu materi dan keduniawian? Maka NLP adalah salah satu
caranya. Bongkar peta-peta kuno dengan Meta Model. Mainkan kenyataan dengan
submodalitas. Kreasikan dan instal peta yang kita inginkan dengan Milton
Model. Buat ia menjadi otomatis dengan Anchor. Dan seterusnya.

Untuk tujuan apa?

Untuk menghadap pada Yang Maha Menciptakan kebebasan itu. Dan, ketika Anda
menghadap-Nya, dekat dengan-Nya, maka ciptaan-Nya akan tunduk pada Anda,
sebagaimana mereka tunduk kepada-Nya.

Di sinilah titik pencerahan yang saya dapatkan. Belum tentu ia sesuai dengan
Anda. Maka saya hanya bisa menyarankan Anda untuk melanjutkan perjalanan,
dan menemukan pencarian Anda sendiri.


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke