Aji Mumpung Yuk!

"Mumpung berkuasa, berbaktilah kepada rakyat." 
-- Evita Peron, Mantan Ibu Negara Argentina, 1919-1952
 
MUMPUNG dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti `kebetulan'. 
Atau bila kita telaah lagi, bisa juga berarti 'saat masih ada 
kesempatan'. Mumpung ada uang bisa berarti 'kebetulan ada uang' 
atau 'saat masih ada kesempatan memiliki uang'. Mumpung masih muda? 
Ya, saat masih berusia muda. Begitu sajalah gampangnya.

Lalu kemudian berkembang kata 'aji mumpung' yang selalu saja 
konotasinya negatif. Mumpung masih jadi pejabat, bikinlah keputusan 
yang menguntungkan kolega, sanak famili, atau malah untuk diri 
sendiri. Contoh untuk yang satu ini bejibun. Di koran, radio, 
apalagi di televisi hampir tiap hari muncul si penganut aji mumpung.

Di televisi juga kita lihat wanita muda yang cantik luar biasa 
terlihat pontang-panting mencari sumber pemasukan. Bermain sinetron 
dia hayuh aja, menjadi presenter juga siapa takut. Eh, sampai-sampai 
menyanyi, meski suaranya kurang merdu, juga dijabanin. Yang 
terakhir, banyak pula artis yang mencoba peruntungan di dunia 
politik. Tak sedikit politisi yang kebakaran jenggot, karena 
lahannya ikut-ikutan diserobot. Banyak memang yang meragukan 
kemampuan si artis. Tanpa pengalaman apa-apa, mereka kemudian masuk 
daftar calon bupati. Wah, keren banget.

Apakah salah hal itu? Tentu saja tidak. Namun seperti kebanyakan 
orang, kadang pula kita jatuh kecewa dengan tindakan dan perilaku 
mereka. Aya naon? Karena kita tahu kapasitas mereka untuk itu 
belumlah cukup. Kalaulah mereka dicomot masuk dalam politik, semata 
karena mereka hanyalah dijadikan penarik suara alias vote getter 
yang umum terjadi di mana-mana.

Nah, sekarang marilah kita lihat diri kita sendiri. Apakah tubuh 
kita masih tegap? Apakah kaki dan tangan kita masih mampu berlari 
mengejar bus atau bergelantungan di kereta listrik yang selalu 
sesak? Lalu bagaimana dengan semangat kita? Masih banyakkah stoknya? 

Setelah mendapatkan jawaban itu semua, yang hanya kita sendiri yang 
tahu jawabannya, segeralah dan ayo kita ber-aji mumpung persis 
seperti pejabat yang koruptor atau selebriti yang menyikat apa saja 
pekerjaan yang datang padanya.

Mumpung kita masih memiliki penghasilan, sisihkanlah paling tidak 
untuk masa depan nanti kelak. Atau bila berlebih, segera cari mereka 
yang membutuhkan untuk kita bantu. Di negeri yang makin semrawut 
ini, tentulah tidak sulit untuk mendapatkan mereka yang memang 
membutuhkan bantuan. 

Mumpung kita masih muda, perbanyaklah kesempatan untuk mengejar cita-
cita yang sudah lama mengendap dalam diri kita. Segeralah mengusir 
kemalasan yang ada. Karena pada intinya, waktu tidak pernah 
berhenti. Orang yang lengah, selalu menyadari saat dirinya belum 
banyak mengalami kemajuan dibandingkan dengan teman-temannya.

Mumpung masih ada umur, banyak-banyaklah berbuat amal. Mumpung 
orangtua masih hidup, bahagiakanlah mereka, walau hal itu mungkin 
menunda kesenangan kita. Mumpung uang masih berkecukupan, berilah 
pendidikan yang terbaik untuk anak. Mumpung menjadi Ketua RT, 
layanilah warganya dengan baik, walau tidak digaji sekalipun. 
Mumpung kita mempunyai kelebihan, berbagilah terhadap sesama. Dan 
tentu saja, mumpung kita masih hidup, berbuatlah sesuatu yang 
bermakna untuk lingkungan dan orang-orang sekitar kita. 

Semua adalah aji mumpung, dan siapapun tentu sepakat bahwa untuk aji 
mumpung yang seperti ini, tak ada satu orang yang akan 
menghalanginya. Semakin lekas kita berbuat sesuatu, agar kesempatan 
itu tidak segera berlalu, kian beruntunglah kita dalam mengisi hidup 
ini. 

Nah, sekarang, setelah membaca tulisan ini, bila Anda berada di 
depan monitor, segeralah selesaikan pekerjaan, mumpung bos belum 
datang. Jangan ditunda ya. Bila jam istirahat telah tiba, segera 
telpon suami, isteri, atau anak, walau hanya sekedar mengatakan 'i 
love you' saja. Yah, mumpung jam istirahat kan. Setelah semua urusan 
selesai, Anda pun bisa melakukan kegiatan lain yang tentu saja Anda 
senangi dan bermanfaat bagi Anda di masa nanti. Buruan, mumpung 
masih ada waktu. (040808)

Sumber: Aji Mumpung Yuk! oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di 
Jakarta


Kirim email ke