*The Map is not the Territory, So What?*

Read More? http://indonesianlpsociety.org

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

Upcoming Event? *NLP for Teachers, 15-16 November 2008
*



*The map is not the territory*. Peta bukanlah wilayah yang sebenarnya.

Presuposisi yang satu ini adalah senjata ampuh bagi praktisi NLP terutama
untuk menerangkan bagaimana setiap manusia memiliki keunikan tersendiri
karena setiap manusia menggunakan model dunianya masing-masing.

Saya sendiri berpikir presuposisi ini adalah titik kunci pembeda NLP dengan
yang lain. Karena itulah yang mendasari proses *modeling* yang adalah
merupakan jantung dari NLP.

Berdasarkan ide ini, saya pun mulai memahami keunikan NLP sebagai sebuah
disiplin ilmu. NLP adalah modeling. Kata modeling, dapat diartikan sebagai
proses memodel. Maka ia bukanlah benda mati, ia justru suatu proses yang
dinamis.

Modeling? Masak sih? Bukannya pakai beberapa teknik saja sudah cukup untuk
membantu orang?

Nah, disitu masalahnya. Saya menemukan NLP jadi agak mandul ketika hanya
dipandang sebagai teknik. Ada trauma atau fobia, pakai *phobia cure*. Ada
kebiasaan yang tidak diinginkan, pakai *six steps*. Ada emosi negatif, pakai
*timeline*. Dan seterusnya.

Percayalah kepada saya. Gunakan NLP dengan cara seperti itu, maka tingkat
keberhasilan Anda akan kecil sekali.

Lalu, bagaimana donk?

Ya modeling itu tadi. Awalilah sebuah proses intervensi dengan memodel model
dunia yang ingin kita intervensi. Bagaimana ia bekerja? Bagaimana
strateginya? Apa yang ia yakini? Bagaimana sistem yang berjalan? Dan, ini
berlaku baik untuk individu maupun organisasi, lho.

Dari sinilah, kita memiliki 2 pilihan: menggunakan teknik yang sudah ada di
katalog kita atau menyusun teknik baru yang lebih pas. Keduanya bisa
digabung kok. Karena Bandler dan Grinder pernah mengatakan bahwa mereka
menciptakan teknik dalam bentuk *step by step* sebenarnya hanya untuk
keperluan seminar sehingga mudah mengajarkannya. Namun di lapangan, semuanya
sangat tergantung pada situasi dan kondisi. Bukankah kita menggunakan NLP
bukan untuk membuktikan ia benar atau salah, melainkan untuk melakukan
perubahan yang efektif?

Menggunakan model ini, kita akan diajak untuk menyelami model dunia orang
lain, dan karenanya kemungkinan untuk gagal pun mengecil.

Di titik ini, saya kemudian teringat beberapa kejadian lain yang saya amati
terjadi pada teman-teman yang mempelajari NLP. *The map is not the territory
* seringkali justru dijadikan sebagai pembenaran tentang model dunia mereka,
alih-alih sebuah dasar untuk memahami model dunia orang lain. Maka ketika
orang lain tidak mampu menjalani proses intervensi yang ia tawarkan, jadilah
orang tersebut yang disalahkan karena begitu kaku dengan model dunianya.

*Well*, namun pada akhirnya, saya merasa itu semua adalah umpan balik bagi
saya dan kita semua, para praktisi NLP. Tidak bisa tidak, NLP adalah sebuah
metode yang baru bisa jalan ketika kita praktikkan kepada diri sendiri dulu.
Anda akan bisa membantu seseorang berubah ketika Anda bantu ia untuk
mengubah model dunianya. Anda baru bisa membantu ia mengubah model dunianya
hanya ketika Anda memahami model dunianya. Dan Anda baru bisa memahami model
dunianya ketika Anda simpan untuk sementara model dunia Anda.
Hmm...saya masih yakin akan ciri-ciri yang menurut saya tepat untuk
dijadikan patokan apakah seseorang adalah Praktisi NLP. Sederhana saja, apa
yang orang lain rasakan ketika mereka berbicara dengan sang Praktisi NLP?
Karena semestinya, Praktisi NLP adalah orang yang paling membuat orang lain
merasa begitu dipahami.

---
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke