*Apa Sih NLP Itu?*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.org

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *NLP for Teachers, 13-14 Desember 2008*



Demikian pertanyaan yang masih sering saya dengar dari teman-teman yang
membaca artikel saya, melihat buku di tangan saya, mendengar cerita tentang
saya, ataupun menerima kartu nama saya. Sebuah pertanyaan yang mendasar,
sebab nama ilmu yang 'aneh' ini memang seringkali membuat para pendengarnya
bertanya-tanya apa sebenarnya makhluk bernama NLP ini.

Well, sudah sejak beberapa lama saya sering menggunakan sebuah latihan
sederhana yang akan saya ceritakan sebentar lagi untuk menjelaskan NLP.
Bersiap-siaplah!

Meskipun latihan ini bisa dilakukan dengan mata terbuka, namun bagi beberapa
orang menutup mata akan memberikan hasil yang lebih mengesankan.

OK, dengan membuka atau menutup mata, sekarang, dengarkan kalimat berikut
ini diucapkan dari kedua telinga Anda, "Anda adalah orang paling baik yang
pernah saya kenal."

Sudah? Ulangi hingga 3 kali.

Nah, apa gambaran atau perasaan yang muncul dalam diri Anda demi mendengar
kalimat tersebut?

OK, mari kita lanjutkan. Membuka atau menutup mata, sekarang, dengarkan
kalimat, "Saya adalah orang paliiiiiiiiiing bahagia di dunia ini."

Ho ho, apa lagi yang muncul kali ini?

Hmm...bagaimana dengan kata-kata ini, "Rasakan makanan termanis yang pernah
Anda rasakan."

Ups, maaf, kalau kalimat terakhir ini membuat air liur Anda menetes.

Sebuah pengalaman yang umum, bukan? Hanya sebuah kalimat sederhana,
ternyata, tidak bisa tidak, pasti memicu respon dalam pikiran-perasaan-tubuh
Anda tanpa bisa dilawan. Tidak percaya? Teruslah membaca artikel ini, dan
tandai apakah Anda *bisa tidak memunculkan respon apapun*.

Ah, agak sulit ya? Cobalah lebih keras. Saya tahu Anda bisa.

Nah, dari latihan sederhana ini saya biasanya melanjutkan ke pembahasan
tentang definisi NLP ditilik dari kepanjangannya, Neuro-Linguistic
Programming. Ya, kata neuro dan linguistic memang disambungkan dengan "-"
dengan maksud tertentu. Apa kah itu? Sebentar lagi ya.

Secara harfiah dan mudahnya, NLP dapat diterjemahkan sebagai melakukan
pemrograman neuro (saraf) menggunakan keahlian berbahasa (linguistik).
Menjadi nyambung dengan latihan yang baru saja kita lalui, sebab memang
latihan tersebut dirancang untuk menghasilkan fenomena NLP ini. Bagaimana
tidak? Anda hanya membaca kalimat sederhana, dan respon tertentu muncul.
Nah, respon itu sebenarnya apa sih? Ya susuran saraf.

Loh, kok?

Ya, karena baik respon itu berupa gambaran, suara, atau perasaan, ia
hakikatnya terbentuk akibat adanya susunan saraf tertentu di dalam tubuh
kita. Bagi mereka yang belum yakin, saya seringkali menanyakan, "Jika saya
belah kepala Anda dan berusaha mencari gambaran yang muncul karena mendengar
kalimat saya, kira-kira di bagian mana ya saya akan menemukannya?"

Meskipun saya bukan ahli anatomi, saya amat yakin bahwa saya tidak akan
pernah menemukannya, selain bahwa ia hanyalah output dari susunan saraf
tertentu yang berjalin kelindan dengan begitu indahnya.

Di titik inilah, biasanya teman-teman saya mulai menemukan titik terang akan
makna neuro-linguistic, plus mengapa keduanya dihubungkan dengan "-". Sebab
memang terdapat hubungan istimewa antara saraf dengan kata-kata, sebuah
hubungan yang begitu erat sehingga tidak satu pun kata yang tidak
memunculkan respon pada saraf, kecuali kata tersebut begitu teramat sangat
asing bagi si pendengar. Sebuah kejadian yang teramat sangat langka, bukan?

Lalu, bagaimana dengan 'programming'? Sederhana saja. Jalinan saraf yang
terbentuk, begitu ia semakin kompleks, maka ia menjadi semacam program
layaknya sebuah program komputer. Bahkan, kalau dipikir-pikir, para ahli
bisa menemukan program komputer seperti juga karena menggunakan logika yang
sama dengan pikiran manusia. Mereka barangkali hanya belum menyadarinya.

Program-program inilah yang dalam berbagai bentuknya kemudian menjadi yang
dinamakan sebagai *behavior *(perilaku), *capability *(kemampuan),
*belief*(keyakinan),
*value* (nilai-nilai), dst. Dalam bahasa lain, berbagai hal tersebut sering
juga disebut dengan *mindset*.

Nah, metafora program ini menjadi menarik, karena ia memiliki asumsi bahwa
sebuah program tentu dapat diinstal, diuninstal, dikode ulang, dan
direinstal. Asumsii ini lah yang kemudian menjadi pendukung berbagai asumsi
lain dalam NLP yang mengajarkan kita untuk bisa menjadi tuan bagi diri kita
sendiri. Dengan kata lain, berbagai perilaku, kemampuan, keyakinan,
nilai-nilai, dll yang kita miliki bisa kita ubah sesuai dengan manfaat yang
diberikannya kepada kita. Ketika, misalnya, sebuah keyakinan sudah
kadaluarsa, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tetap mempertahankannya.
Ketika kita membutuhkan kemampuan baru, maka tidak ada alasan untuk tidak
segera menginstal kemampuan yang baru. Dan seterusnya.

Demikianlah, maka mempelajari NLP akan membuat kita sadar betul mengapa kita
menjadi seperti sekarang, dan bagaimana kita bisa menjadi seperti apa yang
kita inginkan. Telusurilah kata-kata yang pernah diinstal ke dalam
pikiran-perasaan Anda, dan dengan mudah ia akan membukakan fakta
*blueprint*dari model dunia Anda saat ini. Sementara itu, menjadi
lebih mudah bagi Anda
dan saya untuk menjadi tuan bagi diri sendiri, yakni dengan menggunakan
bahasa yang sesuai dengan respon yang kita inginkan.  Maka berhati-hatilah
dalam berkata-kata, sebab ia akan menjadi program dalam pikiran-perasaan
Anda.


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke