*NLP Approach to Teaching and Learning (Part 2)*

Read More? http://indonesianlpsociety.org

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

Upcoming Event? *NLP for Teachers, 13-14 Desember 2008*

"Anak saya itu lho, kalau disuruh belajar kok susaaaaaaahnya minta ampun.
Kerjaannya cuma main *game* terus seharian," keluh seorang ibu.

"Wah, ibu pasti senang banget ya?" ujar saya.

"Loh, gimana sih? Ya pusing lah. Seandainya saja dia bisa belajar seperti
main *game *itu, nggak usah disuruh-suruh. Seharian konsen terus."

"La itu, emang gimana dia bisa main *game *seperti itu?" tanya saya.

"Tahu deh."

Halo para pembaca! Bagaimana kabar Anda? Seberapa bahagia Anda hari ini?
Jika Anda ingin amat sangat bahagia, seperti apa kah rasanya itu?

Dalam perjalanan saya mengeksplorasi pembelajaran, saya merasa begitu
berhutang budi pada NLP, sebanyak NLP berhutang budi pada Milton Erickson.
Ya, Milton Erickson adalah *the master of utilization*, alias jagonya
pemanfaatan apapun yang terjadi pada diri klien sehingga menjadi solusi. *The
solution is in the problem itself*. Alih-alih meributkan soal mengapa
sesuatu menjadi "masalah", mendingan dijadikan dasar solusi deh. Begitu
kira-kira prinsip dasarnya.

Kok bisa?

Tentu bisa, jika meyakini asumsi dalam NLP yang mengatakan bahwa selalu ada
maksud baik di balik setiap perilaku, dan setiap perilaku pasti memiliki
manfaat di konteks tertentu.

Maksud loe Ted??

Ups, maaf kalau terlalu nge-NLP banget. OK, kita lebih membumi sekarang.
Silakan jawab pertanyaan saya. Apa menurut Anda manfaat dari sebuah
'masalah' yang  disebut dengan fobia?

"Ah, mana ada manfaatnya?" begitu barangkali reaksi Anda jika baru pertama
kali mendengarnya.

Memahami NLP, saya yakin Anda akan segera berubah pikiran dan dengan tegas
mengatakan: ADA!

Kok bisa?

Ya bisa. Fobia itu kan sebuah program otomatis yang membuat seseorang
memunculkan reaksi fobik akibat adanya stimulus tertentu yang spesifik. Saya
katakan otomatis, sebab saya yakin Anda tentu juga belum pernah menemukan
seseorang yang lupa kalau dia fobia, bukan? Setiap kali dia melihat kancing,
seketika itu pula ia pingsan. Tanpa jeda, tanpa berpikir. Otomatis. Padahal,
berapa banyak pengalaman yang diperlukan seseorang agar bisa fobia?

Tepat. Cukup sekali!

Nah, saya membayangkan, betapa enaknya kalau kita bisa memahami cara kerja
fobia, kemudian menerapkannya dalam proses belajar. Bukankah menyenangkan,
sekali membaca buku dan ingat seumur hidup secara otomatis?

OK, bagaimana dengan *procastination*, alias suka menunda-nunda? Apa
manfaatnya?

Aha, Anda sudah mulai menemukan kuncinya. Bukankah menarik jika seseorang
yang kencaduan merokok, kemudian bisa menunda-nunda keinginannya merokok?

Nah, logika yang sama saya pergunakan untuk membimbing sang ibu tadi. Sang
ibu sebenarnya sudah mulai menemukan kata kuncinya ketika ia berkata,
"...seandainya dia bisa belajar seperti main *game* itu...". Dengan
menunjukkan perilaku yang penuh konsentrasi ketika bermain *game*, sejatinya
kita bisa tahu bahwa sang anak sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengalami
*flow* dalam melakukan suatu kegiatan. Tinggal kita temukan saja deh
struktur bagaimana ia bisa mengalami kondisi *flow* tersebut, dan mengganti
isinya dengan kegiatan belajar.

"Anak ibu jago banget nggak sih kalau main *game*?" tanya saya.

"Ya iya lah. Dia ngerti betul setiap detil permainan itu, plus hafal
tokoh-tokohnya, juga karakter dari masing-masing tokoh," jawabnya.

Saya teringat sebuah cerita ketika Anthony Robbins (AR) membantu seseorang
yang mengalami disleksia. Ia menemukan bahwa orang tersebut rupanya banyak
menggunakan modalitas kinestetik dan hobi berselancar. Maka AR pun kemudian
meminta orang tersebut merasakan dirinya sedang asyik berselancar di antara
huruf-huruf yang dibacanya. Dan, BOOM! Tiba-tiba ia begitu lancar membaca!

Saya pun bertanya pada sang ibu, "Ibu tentu lebih tahu, bagaimana Ibu bisa
memasukkan pelajaran melalui *game* yang dimainkan oleh anak Ibu, bukan?"

Sempat saya kemudian menerima kabar, bahwa sang anak sekarang sudah belajar
dengan antusiasme yang sama dengan bermain *game*. Alih-alih menjadikan *game
*sebagai musuh, sang ibu malah menjadikannya sebagai sahabat yang memudahkan
proses belajar anaknya.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak, mengapa tidak bergabung dengan kelas NLP
for Teacher? Silakan klik di sini <http://indonesianlpsociety.org/> untuk
informasi registrasinya.


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke